KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
BudayaUndang-Undang Cagar Budaya Disosialisasikan oleh : Ki Agus N. Fattah
27-Aug-2014, 10:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Bandung, Dalam sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung (Disdikbud Kab. Bandung), Drs. H. Agus Firman Zaini, M. Si., Juli 2014 lalu, pada Kegiatan Sosialisasi Undang-Undang Cagar Budays Tingkat Kabupaten Bandung tahun 2014, dituturkan, Pemerintah melalui misinya,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 
 
OPINI

Mengapa Budaya Wajib Dilestarikan?
Oleh : Mutia Zata Yumni | 17-Nov-2012, 09:47:54 WIB

KabarIndonesia - Bicara tentang budaya tidak akan ada habis-habisnya. Selama subjek kebudayaan yaitu manusia masih ada, tentu budaya pun tidak akan pernah lepas. Budaya itu bersifat fleksibel, bukan hanya sekedar warisan tradisional yang harus kita pertahankan, namun lebih dari itu.

Budaya adalah apa yang kita lakukan saat ini. Seperti yang kerap kali kita dengar, kata ‘budaya’ umumnya dikaitkan dengan aktivitas rutin atau kebiasaan yang sering orang-orang lakukan. Contoh, bila orang-orang gemar membaca, kita akan menyebutnya budaya membaca, bila orang-orang senang menulis kita akan menyebutnya budaya menulis, dan bila orang-orang banyak yang melakukan korupsi dan plagiasi kita pun akan menyebut itu budaya korupsi dan budaya plagiasi. Tentu hal tersebut tidak terdengar asing bukan?

Akan tetapi, apakah konotasi-konotasi negatif seperti korupsi dan plagiasi pantas disebut budaya yang merupakan warisan leluhur? Memangnya nenek moyang kita mengajarkan cara menggelapkan uang atau cara menyontek? Sudah jelas tidak. Namun mengapa kata-kata tesebut masih saja digunakan? Hal itu tidak lain menunjukkan bahwa budaya adalah suatu perilaku yang melekat pada diri seseorang, sekelompok masyarakat, bahkan suatu bangsa.

Budaya dalam suatu bangsa merupakan suatu pola tingkah laku yang merepresentasikan bagaimana masyarakatnya dan menunjukkan seperti apa nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat tersebut. Dengan kata lain, budaya dapat dikatakan sebagai sebuah identitas. Identitas tersebut kemudian akan dijadikan acuan, apakah bangsa tersebut akan diakui dengan baik atau buruk oleh bangsa lain.

Seharusnya, budaya itu dikaitkan dengan nilai-nilai yang bersifat luhur. Perlu kita ketahui kata budaya berasal dari Bahasa Sansekerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal budaya, yang mana menghasilkan cipta, karsa, dan rasa. Ketiga hal tersebut bisa dilihat dari produk kesenian dan sastra, tradisi, gaya hidup, sistem nilai, dan sistem kepercayaan. Setiap bangsa memiliki apa-apa yang disebut budaya (luhur) ini.

Tapi saya yakin tidak ada yang bisa mengalahkan budaya milik Indonesia baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Negara kita terbagi atas 33 provinsi dimana dalam tiap provinsi terdapat dua atau lebih suku yang menempati daerahnya masing-masing. Tiap suku memiliki budaya tersendiri yang biasa kita sebut kebudayaan daerah. Kebudayaan di tiap daerah tersebut membentuk keanekaragaman yang terbingkai dalam suatu wadah yang kita sebut kebudayaan nasional.

Sebelum diamandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli sebagai puncak-puncak yang terdapat di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan daerah yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia.

Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari bangsa Indonesia yang sudah sadar dan mengalami penyebaran secara nasional. Di dalam kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional ini terdapat unsur kebudayaan daerah/lokal, unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional, bahkan sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Kebudayaan nasional ini memiliki fungsi sebagai unsur pemersatu selain unsur identitas bangsa.

Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, kebudayaan nasional adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Hasilnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Di sisi lain, Koentjaraningrat menyebutkan fungsi identitas dengan menyatakan “… yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”.

Jadi, kebudayaan apapun bentuknya merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa bangga. Sesuatu yang negatif seperti korupsi atau plagiasi tidak patut disebut sebagai budaya, apalagi disebut budaya milik Indonesia. Walaupun marak terjadi di Indonesia, namun alangkah lebih baik bila hal tersebut disebut sebagai suatu tindakan saja, misalnya tindak korupsi, bukannya budaya korupsi.

Indonesia sangat kaya akan budaya; 300 tarian, 485 lagu daerah, 615 bahasa daerah dan 10.068 suku, yang tersebar di 17.504 pulau (Kompas, 2010), fakta ini tidak bisa disangkal lagi oleh siapapun. Sungguh sebuah kekayaan intelektual milik budaya Indonesia yang tak ternilai harganya. Namun dibalik kekayaan tersebut justru pemerintah dan bangsa Indonesia sangat lemah mematenkan apa yang seharusnya menjadi hak bangsa Indonesia. Beberapa tahun belakangan Bangsa Indonesia dikagetkan dengan pengklaiman budaya yang dilakukan oleh Negeri Jiran.

Dari data yang dikumpul situs http://budaya-indonesia.org setidaknya terdapat 32 daftar artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan, diklaim, dan atau dieksploitasi secara komersial baik oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain, diantaranya oleh perusahaan Adidas, perusahaan Jepang, Pemerintah Malaysia, oknum Warga Negara Belanda, Perancis, Amerika, dan Inggris.

Pengklaiman tersebut terjadi hampir di semua ranah budaya, antara lain berupa beberapa motif batik, naskah kuno dari daerah Sumatera dan Sulawesi, kuliner (sambal, tempe dan rendang), beberapa jenis kopi, lagu, tarian, alat musik, serta seni kerajinan tangan. Meskipun kemudian wayang, keris, batik, dan angklung terdaftar sebagai ‘Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia Indonesia’ dari UNESCO pada November 2010, masih banyak lagi hasil kebudayaan kita yang terancam dicuri contohnya seperti alat musik tradisional; Bonang, Calempong, Gambang, Kenong, Saron, yang dengan terang-terangan sudah dipublikasikan oleh negeri tetangga kita di suatu website.

Lantas, apa yang harus kita lakukan setelah mengetahui fakta-fakta tersebut? Pelestarian budaya? Untuk apa? Toh hanya sedikit orang yang peduli. Kebanyakan orang justru lebih bangga dengan budaya asing, baik itu dari barat maupun dari asia (khususnya korea) yang mulai mendunia. Mereka lebih bangga memakai pakaian atau setelan mahal dari Perancis, menggunakan tas, sepatu dan aksesoris dari Itali, menyanyikan lagu-lagu pop atau rock berbahasa Inggris, makan makanan fast food asal Amerika, menari tarian modern ala suffle atau gangnam style, membeli rumah-rumah bergaya Eropa klasik, dan memilih berwisata ke luar negeri daripada negeri sendiri.

Tak jarang mereka lebih bangga berfoto di depan menara Eiffel dari pada di depan Candi Borobudur. Bahkan banyak anak muda yang karena merasa gengsi, merasa lebih bangga belajar bahasa dan budaya asing dibandingkan dengan belajar bahasa dan budaya daerah. Namun yang lebih parah dari semuanya itu adalah perubahan sikap dimana mereka lebih bangga bersikap dingin dan cuek daripada menjaga budaya sopan santun dan ramah tamah, serta lebih senang melakukan semua hal sendiri (individualis) secara instan dibandingkan dengan kerja keras dan gotong-royong.
Tengoklah akibatnya, budaya tradisional perlahan tersisih, tertinggalkan, dan terlupakan sehingga mudah diklaim oleh negara lain.

Barulah setelah itu kita marah mati-matian. Padahal kenapa harus marah? Seharusnya kita merasa menyesal dan berintrospeksi, sewaktu budaya itu menjadi milik kita, kita kemana? Mengapa kita mengacuhkannya? Sementara itu, produsen dalam negeri banyak yang gulung tikar, berbagai perusahaan asing mulai dari tekstil, mebel, manufaktur, dan makanan mulai bercokol di negeri ini dan melebarkan sayapnya dengan membuka cabang di seluruh penjuru.

Hal yang serupa terjadi pada jenis musik, musik keroncong dan musik melayu mulai tergeser dengan manjamurnya kehadiran musik pop atau rock bergaya monoton, dengan lirik eksplisit tanpa makna yang dalam. Sanggar-sanggar kesenian banyak yang tutup atau berganti aliran menjadi modern. Rumah-rumah adat kalah saing dengan apartemen mewah. Makanan serba cepat menggusur cita rasa makanan tradisional yang kaya akan gizi dan seni kulinernya. Terlihat jelas bahwa di sini, budaya dapat dikalahkan dengan bisnis. Sungguh negeri yang penuh dengan ironi. Tentu kita tidak ingin ironi demi ironi ini berjalan terus di negeri kita bukan? Lalu apa yang harus kita lakukan?

Untuk itulah diperlukan pelestarian budaya. Kita dapat memulainya dengan cara merealisasikan tiga wujud kebudayaan; wujud pikiran, aktifitas manusia dan wujud fisik. Di dalam wujud pikiran yang bersifat abstrak ini, kita perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya budaya, sehingga mampu menghasilkan gagasan ataupun ide-ide.

Lalu hasil pemikiran tersebut kita aplikasikan dengan aktifitas pembelajaran yang konkret. Perlu disadari, belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan manusia yang berkebudayaan karena budaya itu sendiri terlahir dari proses belajar. Dari hasil pembelajaran tersebut, muncul suatu inovasi dan interaksi antar satu sama lain sehingga kemudian menghasilkan suatu karya yang nyata. Contohnya, ide pembuatan batik bola yang digagas oleh seorang pengusaha batik asal Solo.

Di sisi lain, sebagai masyarakat umum kita pun dapat membantu dengan cara-cara yang sederhana terlebih dahulu seperti menggunakan produk-produk dalam negeri, mengapresiasi acara-acara bertajuk kebudayaan serta belajar dan mengajarkan kebudayaan Indonesia, minimal dari kebudayaan asal daerah sendiri mulai ke orang-orang terdekat hingga masyarakat luas.
Selanjutnya, pemerintah harus mengambil tindakan tegas, terhadap perlindungan budaya karena dalam hal ini, Indonesia masih banyak tertinggal dari Negara lain seperti India.

Salah satu indikatornya adalah jumlah warisan budaya yang diakui oleh UNESCO. Indonesia mempunyai 14 warisan dunia yang diakui UNESCO sedangkan India sudah punya 48. Jumlah warisan budaya yang sudah diakui tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan total kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Maka dari itu, pemerintah perlu berupaya mendaftarkan lebih banyak lagi kekayaan Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

Saat ini, Kemendiknas telah membentuk divisi warisan budaya nasional yang menangani pencatatan warisan budaya yang dimiliki tanah air. Menurut Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, “Warisan budaya yang sudah tercatat, untuk benda itu ada 65.178, termasuk candi, istana dan kota lama. Sementara untuk yang nonbenda baru 2100”. (Kompas.com, 17/9/2012)
Yang terpenting, pemerintah perlu lebih menggencarkan publikasi, bisa dengan mendorong media massa untuk membuat propaganda tentang budaya dan menghimbau masyarakat untuk tidak meninggalkan penampilan-penampilan budaya di tiap-tiap event, baik lokal maupun nasional.

Pemerintah juga dapat mendorong lembaga kependidikan untuk menerapkan dan meningkatkan kualitas program muatan lokal bahasa daerah di tiap sekolah dan program studi ilmu sastra daerah di perguruan tinggi agar pengetahuan akan budaya lebih dipahami dan dikembangkan oleh para pemuda. Pertukaran pelajar dengan misi budaya juga perlu ditingkatkan sehingga budaya kita lebih dilihat dan dikenal oleh dunia.

Semoga langkah-langkah tersebut mampu meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan masyarakat Indonesia akan khasanah budayanya sendiri serta mencegah terjadinya kembali klaim produk budaya dari pihak asing. (*)




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Upacara Bendera HUT RI-69oleh : Gholib
22-Aug-2014, 08:56 WIB


 
  Upacara Bendera HUT RI-69 Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69, 17 Agustus 2014, puluhan anggota pecinta kereta api dan pegawai PT. KAI melakukan upacara bendera di pelataran gedung Lawang Sewu Semarang, Jateng, dengan memakai baju dan atribut pejuang tempo dulu.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Satukan Dukungan Bagi Timnas 15 Aug 2014 05:15 WIB

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia