KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PemiluPasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014 oleh : Badiyo
26-Jul-2014, 23:44 WIB


 
 
Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014
KabarIndonesia – Jakarta, Dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara nasional Pemilihan Presiden (Pilpres), yang berlangsung hari Selasa (22/7) mulai pukul 10.00 hingga pukul 22.00 WIB, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Poling LSI, Mahfud dan Capres 2014

 
OPINI

Poling LSI, Mahfud dan Capres 2014
Oleh : Berthy B Rahawarin | 04-Des-2012, 22:18:00 WIB

KabarIndonesia - Antusiasme masyarakat pada poling ‘elitis' Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menempatkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD sebagai kandidat presiden berkualitas tertinggi, memberi godaan politis. Pertanyaannya, tentu, apakah dengan nomor paling wahid tersebut Mahfud segera akan menjawabnya atau pun memberikan sikap politiknya (langsung maupun tak langsung) terhadap pilihan politiknya, khususnya maju Capres 2014?  

Sebagai Ketua MK, pertanyaan selanjutnya, bolehkah Mahfud ‘menyambar' peluang tersebut setelah pelbagai pertimbangan rtika politiknya? Tiga hal mendorong catatan dan pertimbangan kepada Mahfud bila tergoda untuk mengambil putusan poltitik: pertama, apresiasi kepada Mahfud sebagai sosok bangsa yang makin sulit ditemukan; kedua, terjun dalam politik mengurangi jumlah orang ‘kritis dan independen' dalam percaturan dan kompetisi politik yang sehat di Indonesia saat ini; ketiga, menghindari salah sangka masyarakat tentang pertimbangan-pertimbangan fundamental-konstitusional terhadap perubahan Konstitusi menjadi pragmatisme politik, bahkan tiada intensionalitas ketika menyusunnya. 

Betapa pun tidak dapat disamakan begitu saja dengan tokoh legenda NU, Gus Dur atau KH Abdurahman Wahid, dalam pandangan sebagian masyarakat, termasuk saya, Mahfud seperti Gus Dur pada saat didesak untuk tidak masuk jabatan politik tetapi tetap menjadi figur pengayom semua kalangan. Sejumlah masyarakat ketika itu (sebelum akhirnya Gus Dur terima), mendorong Gus Dur untuk menghindari menerima pencalonan dirinya menduduki takhta Presiden RI. Pertimbangan umum kepada Gus Dur mutatis mutandis dikenakan pada Mahfud.   

Dari sejumlah kutipan media, terbaca Mahfud menyatakan ‘senang' dan ‘bangga' dengan ekspektasi masyarakat atas dirinya. Itu tercermin dari urutan dirinya sebagai 10 besar dalam banyak poling. Mahfud juga secara eksplisit menyatakan belum ada niatnya untuk maju Capres 2014. Artinya, dapat diterjemahkan secara politik, kira-kira sikap Mahfud adalah ‘wait and see'

Tetapi, Mahfud tetap secara normatif menyampaikan hak-hak politik dari semua warga negara, termasuk dirinya, apabila tidak lagi menjabat Ketua MK atau karena pencalonannya dan harus mundur dari Ketua MK. Mahfud menegaskan perihal adanya tiga hak politik, yaitu untuk memilih atau dipilih, serta mengajukan diri atau diajukan sebagai Calon Presiden RI. 

Pertanyaan terutama sebenarnya, "Bolehkah atau - tegasnya lagi - etiskah Ketua MK (atau Ketua Lembaga Tinggi Negara lain) boleh menjadi Capres/Cawapres?" Jawabannya, pasti "Tidak". Tetapi, persoalannya adalah "Apakah keputusan-keputusan MK selama menjabat, pernah dapat digunakan sebagai ‘memberi ruang' pada jalan ‘ke depan'?" 

Karena, dekatnya waktu menjabat sebagai ketua MK dan pencapresan, misalnya, dapat membuka ruang pertanyaan pada adanya conflict of interest sebuah produk hukum MK dan putusan politik Mahfud untuk menjadi Capres 2014. Sedikit saja publik yang menyadari ‘revolusi' putusan MK, No 52/PUU-X/2012, yang mewajibkan semua Partai Politik, termasuk ‘Partai Senayan' untuk melakukan Verifikasi Faktual. 

Artinya, Mahfud MD sebagai Ketua MK, bersama timnya, tidak ingin melihat ‘ketidakadilan' partai peserta pemilu memulai pemenangan pemilu dari ‘garis start' diskriminatif. Bahwa, capaian pemilu legislatif masih sangat menentukan bursa Capres, keputusan Mahfud dan rekan Hakim Konstitusi melakukan egaliterisasi kompetisi parpol dalam pemilu legislatif dan presiden 2014. Setidaknya, nafsu politisi dan partai lama tidak melenggang bebas ketika harus menentukan (kandidat) Pemimpin Nasional, hanya dari partai yang itu-itu juga. Pada saat yang sama, kompetitor politik dapat menggunakannya untuk mengkritisinya.

Nah, ketulusan para Hakim MK dalam kasus ini, salah satunya diukur dengan integritas untuk berada dalam koridor wewenang judikatif, dan tidak tergoda menapaki jalan menuju kursi eksekutif, atau jabatan politis, termasuk takhta Presiden. Memang, sempat beredar selentingan bahwa Partai tertentu akan mendukung Ketua MK Mahfud MD untuk maju sebagai Capres 2014. 

Karena itu, lumrah perjalanannya putusan MK yang revolusioner itu lalu dapat menggoda para pemerhati partai politik untuk berspekulasi, di luar yang diniatkan (secara tulus suci) oleh Hakim Konstitusi. 

Hasil ekspektasi kemenangan partai tersebut dalam pemilu legislatif 2014 pun tentu belum dapat dipersoalkan dan juga seluruh praduga politik ini pun boleh tidak amat dianggap. Tetapi, sebagai salah satu tokoh berintegritas, godaan masuk jalur eksekutif politik dari jabatan tertinggi pengawas Konstitusi, pada hemat pribadi saya, Mahfud MD amat makin diapresiasi bila tetap menjadi figur negarawan pengayom sahaja, daripada terjebak kepentingan politik sesaat. 

Tetapi, pun kalau Mahfud memutuskan untuk ‘rela dicalonkan' masuk bursa Capres 2014, tetap diapresiasi. Bahkan termasuk kalau ia dipaksa sedemikian rupa oleh sejumlah kalangan untuk mencalonkan diri. Keputusan dan segala pertimbangan, baik buruknya, tetap ada dalam pertimbangan dan putusan terakhir pribadi Mahfud MD. Apa pun keputusannya, secara pribadi saya tetap mengapresiasi. 

Hanya kebanggaan dan hormat kepada Mahfud, saya bertekad untuk berkata sesuatu dilema etis sebuah etika politik yang masuk dalam pergumulan privat Mahfud. (*)


*) Penulis, pemerhati etika politik



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia