KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiPernyataan "Orang Tua yang Terlalu Over-Protektif Hasilkan Anak Pandai Berbohong" oleh : Felita Budiman
18-Jan-2017, 15:23 WIB


 
 
Pernyataan
KabarIndonesia - Setiap orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maka, wajar saja bila orangtua memberikan perlindungan yang maksimal kepada anaknya. Untuk memberikan perlindungan kepada anak adalah hal yang sah- sah saja, mengingat banyaknya pelaku kejahatan di luar sana. 
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Desain Grafis Freelance 11 Jul 2016 15:53 WIB

 

 
Yang Maha Mendengar 17 Jan 2017 15:26 WIB

Senyuman Sedu Dibalik Hujan 16 Jan 2017 19:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Resep Bakso Ikan Tenggiri 27 Des 2016 13:53 WIB

 
 
OPINI

Sandiwara Politik
Oleh : Siful Arifin | 23-Feb-2013, 00:12:02 WIB

KabarIndonesia - Kisruh politik yang dialami partai demokrat mulai mereda. Setidaknya, di internal partai berlambang mercy ini. Sebagaimana dimafhumi, konflik internal antar kader demokrat berjalan sengit selama beberapa bulan ini. Saling serang antar kader sudah menjadi tontonan umum. Hingga akhirnya konflik itu bisa diatasi dengan turun tangannya "ratu adil" Sang Dewan Pembina, Susilo Bambang Yudhoyono.

Mengacu pada beberapa hasil survei, elektabilitas partai demokrat terus merosot. Hasil survey terakhir yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menempatkan demokrat pada posisi ketiga dengan mendapat 8,3 % suara, setelah Golkar dan PDI-P.

Hasil survei ini membuat beberapa kader dan petinggi demokrat geram sehingga meminta yang mulia Dewan Pembina turun tangan. Bak gayung bersambut, desakan para kader ini ditanggapi secara cepat dan tegas oleh Dewan Pembina dengan mengumpulkan seluruh anggota DPD di Cikeas. Pertemuan ini menghasilkan delapan fakta integritas yang ditandatangani oleh seluruh DPD yang hadir. Salah satu isi yang paling penting dari fakta integritas itu adalah diambilalihnya semua urusan partai oleh Dewan Pembina.

Beberapa hari kemudian, setelah ditandatanganinya pakta integritas, barisan Dewan Pembina langsung mengagendakan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS). Berbagai isu pun muncul mengiringi hari-H dilaksanakannya Rapimpnas ini. Di antaranya, adanya isu hidden agenda Rapimnas yang akan menyingkirkan Anas dari kursi ketua umum. Isu ini muncul seiring tidak adanya tanda tangan sang ketua umum dalam undangan yang disebar.

Konsolidasi Semu

Secara kasat mata, Rapimpnas partai Demokrat yang dipimpin langsung oleh SBY berhasil meredam gejolak yang terjadi di partai tersebut. Pro-kontra antar DPD tidak lagi tampak di pasca Rapimnas. Pertanyaannya, benarkah apa yang tampak di luar itu sama dengan apa yang ada di dalamnya. Mungkin publik akan terus bertanya dan terheran-heran. Kok bisa, kisruh poltik internal yang sudah terjadi berbulan-bulan tersebut bisa reda hanya dalam hitungan jam atau bahkan hitungan detik dengan latar utama Rapimnas?

Benarkah konsolidasi tersebut tidak direkayasa? Hanya Tuhan dan partai Demokratlah yang tahu. Namun demikian, penulis tidak yakin bahwa para kader partai Demokrat sudah berdamai. Masih banyak fraksi di partai demokrat yang tetap menginginkan Anas Urbaningrum dilengserkan dari jabatannya. Termasuk dari pengurus DPP partai Demokrat. Ulil Absar Abdalla, salah satu pengurus DPP dengan tegas dan jelas beberapa hari menjelang kongres menyatakan bahwa partai Demokrat harus mempunyai nahkoda baru untuk menyelamatkan nasib partai ini di Pemilu yang akan datang.

Untuk menganalisis apa yang terjadi dengan demokrat pasca Rapimnas, penulis ingin meminjam teorinya Erving Goffman (1922- 1982), seorang sosiolog interaksionis dalam bukunya, The Presentation of Self in Everyday Life. Goffman mengajukan teori dramaturgi. Dalam bukunya ini, Goffman melukiskan kehidupan sosial dengan metafora teater yang terdiri dari front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang). Inti proposisi Goffman, apa yang tampak di panggung depan (publik) tidaklah sama dengan apa yang terjadi di panggung belakang.

Jadi, Dalam pandangan penulis, partai Demokrat dan para kadernya saat ini sedang melakukan dramaturgi politik ala Erving Goffman ini. Tak ada konflik antara SBY dan Anas, dan tak ada perbedaan pandangan antar kader.  Itulah yang tampak di luar, namun seyogyanya yang terjadi di dalam adalah sebaliknya.

Asumsi ini bukanlah bagian dari berburuk sangka tapi sebagai rangkaian analisis penulis terhadap gejala yang ada. Siapa yang benar? Waktu yang akan membuktikannya. (*)

Penulis: alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016oleh : Eliyah Acantha Manapa
08-Jan-2017, 13:46 WIB


 
  Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016 Seekor Kerbau yang badannya dilukis pada Toraja National Art Festival 2016. Kegiatan Toraja National Art Festival ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2016 hingga 3 Januari 2017.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Natal Pemuda Kristen Bandung Raya 19 Jan 2017 11:35 WIB


 

 

 

 

 
 

 
 
 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia