KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilDian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia oleh : Robert - Hoki
15-Sep-2014, 11:02 WIB


 
 
Dian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia
KabarIndonesia - Belanda, Kompetisi bisnis antar maskapai penerbangan di Indonesia tergolong tinggi. Pasalnya banyak perusahaan swasta, asing dan milik negara yang memperebutkan pelanggan.
Kesuksesan Garuda Indonesia, sebagai salah satu perusahaan berpelat merah (milik negara) yang bergerak dalam dunia penerbangan dalam negeri
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Mengaduk Rasa 15 Sep 2014 10:45 WIB

Pergi 12 Sep 2014 12:44 WIB

 
Sumut Gelar Festival Budaya 03 Sep 2014 12:58 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 
 
OPINI

Sandiwara Politik
Oleh : Siful Arifin | 23-Feb-2013, 00:12:02 WIB

KabarIndonesia - Kisruh politik yang dialami partai demokrat mulai mereda. Setidaknya, di internal partai berlambang mercy ini. Sebagaimana dimafhumi, konflik internal antar kader demokrat berjalan sengit selama beberapa bulan ini. Saling serang antar kader sudah menjadi tontonan umum. Hingga akhirnya konflik itu bisa diatasi dengan turun tangannya "ratu adil" Sang Dewan Pembina, Susilo Bambang Yudhoyono.

Mengacu pada beberapa hasil survei, elektabilitas partai demokrat terus merosot. Hasil survey terakhir yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menempatkan demokrat pada posisi ketiga dengan mendapat 8,3 % suara, setelah Golkar dan PDI-P.

Hasil survei ini membuat beberapa kader dan petinggi demokrat geram sehingga meminta yang mulia Dewan Pembina turun tangan. Bak gayung bersambut, desakan para kader ini ditanggapi secara cepat dan tegas oleh Dewan Pembina dengan mengumpulkan seluruh anggota DPD di Cikeas. Pertemuan ini menghasilkan delapan fakta integritas yang ditandatangani oleh seluruh DPD yang hadir. Salah satu isi yang paling penting dari fakta integritas itu adalah diambilalihnya semua urusan partai oleh Dewan Pembina.

Beberapa hari kemudian, setelah ditandatanganinya pakta integritas, barisan Dewan Pembina langsung mengagendakan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS). Berbagai isu pun muncul mengiringi hari-H dilaksanakannya Rapimpnas ini. Di antaranya, adanya isu hidden agenda Rapimnas yang akan menyingkirkan Anas dari kursi ketua umum. Isu ini muncul seiring tidak adanya tanda tangan sang ketua umum dalam undangan yang disebar.

Konsolidasi Semu

Secara kasat mata, Rapimpnas partai Demokrat yang dipimpin langsung oleh SBY berhasil meredam gejolak yang terjadi di partai tersebut. Pro-kontra antar DPD tidak lagi tampak di pasca Rapimnas. Pertanyaannya, benarkah apa yang tampak di luar itu sama dengan apa yang ada di dalamnya. Mungkin publik akan terus bertanya dan terheran-heran. Kok bisa, kisruh poltik internal yang sudah terjadi berbulan-bulan tersebut bisa reda hanya dalam hitungan jam atau bahkan hitungan detik dengan latar utama Rapimnas?

Benarkah konsolidasi tersebut tidak direkayasa? Hanya Tuhan dan partai Demokratlah yang tahu. Namun demikian, penulis tidak yakin bahwa para kader partai Demokrat sudah berdamai. Masih banyak fraksi di partai demokrat yang tetap menginginkan Anas Urbaningrum dilengserkan dari jabatannya. Termasuk dari pengurus DPP partai Demokrat. Ulil Absar Abdalla, salah satu pengurus DPP dengan tegas dan jelas beberapa hari menjelang kongres menyatakan bahwa partai Demokrat harus mempunyai nahkoda baru untuk menyelamatkan nasib partai ini di Pemilu yang akan datang.

Untuk menganalisis apa yang terjadi dengan demokrat pasca Rapimnas, penulis ingin meminjam teorinya Erving Goffman (1922- 1982), seorang sosiolog interaksionis dalam bukunya, The Presentation of Self in Everyday Life. Goffman mengajukan teori dramaturgi. Dalam bukunya ini, Goffman melukiskan kehidupan sosial dengan metafora teater yang terdiri dari front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang). Inti proposisi Goffman, apa yang tampak di panggung depan (publik) tidaklah sama dengan apa yang terjadi di panggung belakang.

Jadi, Dalam pandangan penulis, partai Demokrat dan para kadernya saat ini sedang melakukan dramaturgi politik ala Erving Goffman ini. Tak ada konflik antara SBY dan Anas, dan tak ada perbedaan pandangan antar kader.  Itulah yang tampak di luar, namun seyogyanya yang terjadi di dalam adalah sebaliknya.

Asumsi ini bukanlah bagian dari berburuk sangka tapi sebagai rangkaian analisis penulis terhadap gejala yang ada. Siapa yang benar? Waktu yang akan membuktikannya. (*)

Penulis: alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Bisnis Fotocopy Semakin Kreatifoleh : Jumari Haryadi
11-Sep-2014, 11:53 WIB


 
  Bisnis Fotocopy Semakin Kreatif Jika ingin sukses berbisnis, diperlukan ide-ide kreatif dan inovatif agar bisa memenangkan persaingan pasar yang semakin kompetitif. Tampak sebuah usaha jasa fotocopy di Jalan Cihanjuang, Cimahi (10/09) yang memiliki cara kreatif dalam menarik calon konsumennya yaitu dengan berjualan Alat Tulis
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 
Desa di Sumut Butuh Dokter 15 Sep 2014 10:43 WIB

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia