KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalDensus 88 Amankan Tersangka Teroris Poso oleh : Burhan
18-Okt-2014, 22:41 WIB


 
  KabarIndonesia - Makassar, Tim Densus 88 bekerjasama dengan Polda Sulsel dan Resmob Polres Bulukumba menangkap Firdaus alias Daus Bin Faisal (25), pemuda asal Salebba desa Salemba, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba yang diduga sebagai salah satu pelaku teror bom di
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 
Polsek Rappocini Tangkap Buronan 19 Okt 2014 00:16 WIB

 
Karyawan (Tak) Setia 16 Okt 2014 17:37 WIB

PerlindunganNya di Bebas Hambatan 16 Okt 2014 17:30 WIB

 
Tigi Menuju Perubahan! 25 Sep 2014 13:11 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Pilkades Ponorogo Sarat Politik Uang

 
OPINI

Pilkades Ponorogo Sarat Politik Uang
Oleh : Muh Nurcholis | 05-Mei-2013, 11:38:04 WIB

KabarIndonesia - Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa atau  Pilkades di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur diprediksi akan makin memanas. Bahkan perhelatan akbar tersebut dilaksanakan di 199 desa yang berada pada 20 Kecamatan yang ada di Kabupaten Ponorogo, kecuali Kecamatan Ponorogo.

Pilkades di Bumi Reyog digelar dalam 4 tahap. Tahap I sudah dilaksanakan 24 April 2013 di 20 Desa, Tahap II dilaksanakan 7 Mei 2013 di 51 Desa, Tahap III dilaksanakan 15 Mei 2013 di 59 Desa serta Tahap IV dilaksanakan 3 Juni 2013 di 69 Desa.

Masyarakat Ponorogo berharap semua pelaksanaan Pilkades berjalan lancar dan kondusif sehingga Kamtibmas akan tetap terjaga di Bumi Reyog. Selain itu semangat pragmatisme dan materialisme tidak menjadi penyakit kronis dalam pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Ponorogo yang akan dihelat beberapa hari lagi. Selain itu adanya praktek "money politic" bisa ditekan atau jika mungkin dihilangkan dalam setiap Pilkades. Praktik politik uang selama ini seperti kentut yang ada baunya tapi tidak bisa atau susah dibuktikan.

Memang diakui atau tidak adanya jor-joran bantuan agar mendapat simpati masyarakat, perjudian para botoh yang merusak citra Pilkades untuk memilih pemimpin yang amanah, hingga ‘serangan fajar' tim sukses yang ditujukan untuk mengubah suara pemilih nyaris tak bisa dihindarkan dalam setiap perhelatan Pilkades. Seyogyanya masyarakat harus pandai dan cerdas dalam menentukan pilihannya.

Tujuannya agar Kades terpilih benar-benar seorang pemimpin yang mampu "ngemong" dan melayani masyarakat. Kades sebagai seorang pemimpin dipilih karena sikap amanah dan integritas. Sikap amanah bisa berarti seorang yang jujur dan bisa dipercaya untuk mengemban aspirasi rakyat. Sedangkan integritas adalah sikap seorang pemimpin yang bisa mengakomodir keragaman masyarakat sebagai modal pembangunan. Ketika kampanye berlangsung, nyaris tak ada kandidat yang mencoba memperlihatkan itikad baik tersebut. 

Sepintas hanya mengoarkan janji-janji belaka, yang konon akan dipenuhi ketika sudah terpilih. Artinya, sengaja atau tidak sengaja, si kandidat tersebut sudah mempunyai iktikad tidak baik menggantung janji-janjinya, lain tidak. Kita bisa menilai sendiri tipe kandidat semacam ini.

Malah, beberapa kandidat membuat ‘serangan fajar' yang licik untuk merubah opini publik. Namun ironisnya, banyak masyarakat bersikap oportunis dan aji mumpung, bersedia merubah suara dan pilihan mereka sekedar mendapatkan sejumlah rupiah.

Bukan hanya itu saja kebobrokan pesta demokrasi di tingkat desa. Masyarakat berharap Pilkades yang akan dilaksanakan bisa terhindar campur tangan para penjudi. Para botoh merajalela sedangkan aparat keamanan selalu kalah sigap.

Lalu ketika Pilkades telah selesai, kita hanya bisa terheran-heran betapa sebuah Pilkades bisa sekejap mengubah wajah sebuah desa yang mulanya rukun dan damai berubah menjadi mengerikan.

Nilai dan kualitas moral dibanting dengan harga murah. Kepercayaan masyarakat dipolitisir oleh para kader semata untuk nominal rupiah. Praktek perjudian merajelala. Dosa komunal yang telah dilakukan ini saya yakin akan menentukan bagaimana wajah desa kita tercinta selanjutnya, terutama sesudah dipimpin kandidat terpilih.

Apakah ia akan menjadi desa unggulan yang ramah dan bersih. Ataukah menjadi desa yang coreng moreng dan bobrok birokrasinya. Padahal kita juga meyakini setiap hasil akhir yang baik itu diawali dengan proses yang baik.

Namun jika kita mengawali sebuah Pilkades ini dengan cara dan proses yang buruk dan hancur-hancuran, apa yang mau diperoleh dari Pilkades yang merupakan buah dari pohon demokrasi yang makin kelihatan centang perenang, cacat dan celahnya ini.

Oleh karenya kita harus menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin itu bukan karena dijago-jagokan untuk bertarung dengan kandidat lain. Juga bukan karena prestise alias gengsi, atau bukan karena mencoblos itu lebih baik daripada golput, melainkan prosesi memilih pemimpin adalah sebuah pertanggungjawaban secara moral kepada masyarakat dan kepada Allah SWT untuk memilih pemimpin terbaik dan menaatinya.Memilih pemimpin adalah kemestian dan tidak bisa dihindarkan, sekaligus hal terakhir inilah yang lebih hakiki untuk dilaksanakan.  Niscaya jika hal itu dilakukan, akan tercipta dengan sendirinya pemerintahan yang bersih dan disiplin yang sangat menunjang pembangunan baik di tingkat desa maupun pusat.

Dalam falsafah Jawa menuturkan kita sebagai manusia itu "ojo nggumunan lan aja kagetan". Dalam konteks Pilkades, "ojo nggumunan" berarti maknanya kita jangan silau oleh materi yang diiming-imingkan oleh calon oportunis seperti ini, entah itu berupa janji-janji kampanye dan praktek "money politic". Kita harus tetap memegang nilai obyektifitas dalam memilih, yang kita dasari pada moral dan melihat dengan jeli siapa calon yang berkampanye.

Jangan salah memilih ‘penjahat yang ingin jadi pahlawan' dan jangan pula salah memilih pemimpin yang tidak punya kapabilitas dan integritas. Sedangkan istilah "ojo kagetan" bisa dimaknai untuk tidak bersikap kaget atau mudah tercengang dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Memahami peristiwa dengan memakai nalar yang cerdas dan bijak. Tidak menjadi orang yang reaktif, yang mudah termakan oleh isu atau pencitraan palsu yang kini marak terjadi ketika musim kampanye.

Menjadi orang reaktif pada akhirnya hanya akan menjadikan kita buta hati. Tetapi kita harus menjadi orang yang responsif dan tanggap akan hal-hal yang berlangsung di sekitar kita. 
Tak kalah pentingnya adalah menata hati kita dengan landasan iman yang kuat agar segala peristiwa yang terjadi tidak menggoncang iman kita dan menjadikan kita lemah dalam berpikir.

Dalam kosmologi Jawa, sikap ini digambarkan dengan dua istilah "ojo rumangsa bisa nanging biso rumangso". Kedua hal ini tentu saja berbeda jauh. "Ojo rumangsa" bisa berarti jangan menjadi orang sok yang hobi memakai pencitraan publik.

Tetapi "biso rumangso", yaitu seseorang yang bisa menakar diri sendiri di hadapan orang lain, mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi, dan merasa bertanggung jawab tidak hanya kepada diri sendiri, masyarakat, tetapi juga kepada Sang Maha Pencipta.

Ya, takdir manusia adalah menjadi pemimpin atau khalifah di bumi. Artinya segala macam sumber daya manusia maupun sumber daya energi yang kita miliki adalah bertujuan untuk membentuk masyarakat yang "gemah ripah loh jinawi" dan "memayu hayuning bawono", bukan menjadi manusia adigang, adigung lan adiguna di muka bumi ini. "Sing Menang Ojo Umuk, Sing Kalah Ojo Ngamuk". Selamat Berpesta Demokrasi, Pilkades. (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mungkinkah Suami Mengasuh Anak?oleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:18 WIB


 
  Mungkinkah Suami Mengasuh Anak? Tugas istri adalah mengasuh anak, namun peluang kerja untuk pria terbatas, terkadang posisinya terbalik. Justru istri bekerja menjadi TKI di luar negeri, sementara suami mengasuh anak di rumah. Pasangan suami istri sebaiknya berbagi peran mengasuh anaknya. Misalnya ketika
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 
PNPM Desa Tulangan Rawan Gesekan 20 Okt 2014 12:52 WIB

 

 
Valentino Rossi Puji Marc Marquez 18 Okt 2014 23:59 WIB


 

 
Memimpin dengan Kepala dan Hati 20 Okt 2014 12:40 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia