KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanDesain dan Industri Kreatif Indonesia Berpotensi Saingi Korea Selatan oleh : Rio Anggoro
20-Aug-2014, 05:18 WIB


 
  KabarIndonesia - Jakarta, Belajar desain di Australia dapat membuka pintu ke banyak pilihan karir yang bergaji tinggi dan menarik bagi orang Indonesia, menurut para ahli dari University of Technology Sidney (UTS). Desain telah menjadi sebuah pilihan karir yang paling dicari
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 
 
OPINI

PREDIKSI PEMENANG PILGUB JATENG 2013: Mengapa Mereka Layak Menang?
Oleh : Supadiyanto S.sos.i. M.i.kom. | 25-Mei-2013, 15:22:48 WIB

KabarIndonesia - Saya menulis analisis tentang peta politik Pilgub Jateng 2013 berjudul: Pilgub Jateng dan Pertarungan Elite Politik yang termuat di KORAN SINDO edisi Jumat, 24 Mei 2013. Bagi Anda yang sudah membacanya, tentu Anda boleh berkomentar apa saja terkait analisis tersebut. Bagi Anda yang belum sempat membacanya (dipersilakan Anda bisa membacanya di sini sekarang: http://www.koran-sindo.com/node/316753), saya menyatakan bahwa Pilgub Jateng 2013 merupakan salah satu barometer politik menjelang Pemilu 2014; di mana dua Pilgub sebelumnya yakni Pilgub DKI Jakarta 2012 dan Pilgub Jabar 2013 sudah diketahui hasilnya. Di mana PDI Perjuangan dan Partai Gerindra dalam Pilgub DKI Jakarta 2012 menjadi "rajanya". Sedangkan dalam Pilgub Jabar 2013; PKS, PPP, PBB dan Partai Hanura menjadi "dewanya". Tetapi jujur saja, judul analisis saya yang termuat di Koran Sindo di atas judulnya bukan itu. Itu versi editornya. Aslinya adalah Injure Time dan Kunci Kemenangan Kampanye Pilgub Jateng. Anda pasti bertanya, apakah rahasia kemenangan untuk menjawarai Pilgub Jateng 2013? Apakah dengan bermodalkan dana kampanye yang tak terbatas menjadi garansi bagi kemenangan kandidat Gubernur-Wakil Gubernur Jateng? Kunci kesuksesan kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2013 ini justru terletak pada masa-masa akhir kampanye "injure time". Sebab masa itu menjadi "orgasmus" perilaku politik. Tahukah Anda fakta ini, bahwa peta politik nasional maupun peta politik lokal sangat ditentukan oleh kondisi keluarga. Di mana peluang terjadinya kesamaan pilihan politik dalam satu keluarga antara orangtua-anak-kerabat itu sangat dominan. Amat jarang terjadi di antara satu keluarga memiliki perbedaan sikap atau pilihan dalam politik? Bersandarkan pada hasil penelitian tentang Studi Perilaku Memilih pada Pilgub Jateng 2008 yang pernah dilakukan oleh tim peneliti center for Social and Political Studies (CSPS) FISIP Universitas Diponegoro (2008). Salah satu hasil yang menarik dari kajian tersebut; yang meneliti sebanyak 2400 responden yang tersebar di 6 kabupaten/kota (Rembang, Surakarta, Semarang, Purworejo, Pekalongan dan Banyumas) yakni menyatakan bahwa pihak luar yang memengaruhi keputusan memilih para responden adalah: keluarga (46 persen), partai politik (10,4 persen), teman (8,1 persen), tokoh panutan (7,1 persen), tetangga (5,7 persen), organisasi (4,3 persen), kampanye (3,8 persen, iklan media (1,4 persen), polling (0,5 persen), lainnya (12,8 persen). Dan yang lebih menarik lagi, profesi Cagub Jateng yang paling cocok adalah Cagub yang berasal dari TNI/Polri (24,3 persen), kemudian disusul oleh Cagub yang berasal dari birokrat/PNS (13 persen), ulama (9,8 persen) dan akademisi (9,7 persen) (Susilo Utomo dkk, 2008: 98-99). Dari data di atas dapat diinterpretasikan bahwa penduduk Jateng yang jumlah penduduk miskinnya terbesar kedua se-Indonesia setelah Propinsi Jatim; memiliki kecenderungan khas. Yakni perilaku sekaligus sikap politik mereka cukup dominan dipengaruhi oleh keluarga. Khususnya perilaku dan sikap politik yang dimiliki oleh orang tua (ayah-ibu) akan mendekte perilaku maupun sikap politik anak-anak mereka yang sudah memiliki hak memilih. Atau sebaliknya; keputusan politik dari anak-anak mereka (bisa jadi karena pendidikannya lebih tinggi daripada orang tuanya yang berpendidikan rendah) bisa mendekte keputusan politik dari orang tua mereka. Jadi sesungguhnya pengaruh kampanye dan iklan politik melalui media massa sangat kecil sekali.


Sedangkan penduduk Jateng masih terkena sindrom "rezim militer", di mana menjadikan sosok Cagub-Cawagub Jateng yang pernah memiliki jejak rekam sebagai anggota militer atau kepolisian menjadi pilihan favorit mereka. Terbukti dalam Pilgub Jateng 2008; membuktikan seratus persen bahwa pilihan jutaan penduduk Jateng masih promiliter ketimbang proulama, atau probirokrat. Apakah dalam Pilgub Jateng 2013 masyarakat Jateng akan lebih probirokrat ketimbang promiliter?

Sulit untuk memutarbalikkan fakta-fakta penelitian tersebut dan interpretasi atas berbagai kecenderungan perilaku politik masyarakat Jawa Tengah. Apakah dengan bermodalkan dua data hasil penelitian yang dilakukan tahun 2008 silam di atas, masih cukup relevan untuk memprediksikan hasil akhir Pilgub Jateng 2013? Menurut saya, masih sangat relevan dan amat tepat bisa dijadikan bahan sandaran untuk memprediksikan siapakah pemenang Pilgub Jateng 2013? Dan mengapa mereka yang menang, bukan pasangan kandidat yang lain.
Siapakah yang akan memenangkan Pilgub Jateng 2013 yang siap dihelat besok pagi (baca: Ahad, 26 Mei 2013)? Apakah Hadi Prabowo-Don Murdono yang diusung kongsi PKS, PKB, Partai Gerindra, PPP, PKNU, Partai Hanura? Ataukah Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmojo yang dijagokan koalisi tripartit: Partai Demokrat, PAN, Partai Golkar? Ataukah justru Ganjar Pranowo-Heru Sujatmoko yang difanatiki oleh PDI Perjuangan?  
Pertanyaan yang paling menarik, bukanlah siapa pemenang Pilgub Jateng 2013? Tetapi mengapakah mereka mampu memenangkannya; atau mengapa juga dua pasang kandidat lain bisa keok? Mari kita kupas tuntas; menurut kalkulasi matematika politik masa kini. Inilah kecerobohan tiga pasang kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2013. Pertama, duet Hadi Prabowo-Don Murdono.  Apa yang teledor dari mereka? Tagline yang didengungkan oleh pasangan ini atau tim suksesnya adalah HP-Don. Slogan yang menarik, tetapi juga sangat berbahaya secara politik. HP, anasir kita langsung tertuju pada pesawat telpon genggam kita. Siapapun yang memiliki Handphone, pasti pernah minimal mengetahui makna HP itu. Sehingga menurut saya, slogan ini sangat tepat dan populer. Akan tetapi "DON", menjadi slogan sambungan yang langsung menghancurkan kepopularitasan slogan "HP"-nya? Mengapa demikian? Sebab dalam kamus bahasa Inggris, Anda pasti pernah mendengar seseorang mengucapkan kata "do not", atau sering ditulis "don't"; dan diucapkan dengan lafal "don"; persis slogannya "DON". Maksudnya "jangan". HP-DON, dapat diinterpretasikan sebagai HP-Jangan Dipilih! Memang dalam bahasa Inggris ada istilah "done" juga, yang artinya "bekerja atau melakukan". Akan tetapi, mata banderol persepsi masyarakat lebih familier kata "don" sebagai "jangan dipilih". Kedua, pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmojo. Mengapa kok sampai teledor menggunakan slogan BISSA. Tagline tersebut sangat berpotensi menjadi bumerang bagi mereka. Sebab BISSA, dalam bahasa Indonesia yang di-EYD-kan sama dengan "bisa". Coba bukalah kamus Anda, apakah artinya. Bisa itu sepadan dengan makna kata dapat, mampu, kuasa. Namun sekaligus racun ular. Artinya slogan BISSA itu ambigus dan bersayap. Lima puluh persen positif, namun separuhnya negatif. Racun ular, memang dalam konteks tertentu sangat positif; sebab bisa menjadi obat penyakit tertentu; sehingga sampai-sampai Ikatan Dokter Indonesia menjadikan artefak "ular dan bisanya" sebagai logo kebanggaan organisasi tersebut. Tetapi dalam masyarakat Jawa, "bisa" yang artinya racun ular; pasti sangat dianggap berbahaya dan negatif. Itulah ketelodoran slogan kampanye Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmojo.  
Pada aspek lain etika politik yang dimainkan oleh Bibit Waluyo juga sudah menabrak pakem etika dalam berpolitik. Dalam Pilgub Jateng 2008, mantan Pangkostrad yang pernah menyandang bintang tiga itu menggunakan PDI Perjuangan sebagai kendaraan politik. Sedangkan sekarang, dalam Pilgub Jateng 2013 ini; ia menyewa "kereta politik" Partai Demokrat-Partai Golkar-PAN. Tak ada unsur PDI Perjuangan di sana. Artinya, Bibit Waluyo "sudah melompat benteng politik". Ia tidak konsisten dalam berpartai politik. Kalau hal tersebut terjadi di Amerika Serikat; Bibit Waluyo sudah tamat karier politiknya. Sebab siapapun yang berpindah-pindah haluan partai politik sudah langsung dicap hitam sebagai munafik atau pengkhianat nasional. Syukurlah, di Indonesia khususnya di Jateng hal tersebut belum terjadi.

Namun bagi para pemilih yang memiliki kecerdasan politik; tentulah mereka tidak akan menjatuhkan pilihan mereka pada kandidat yang pernah menabrak pakem politik. Etika politik, dengan berpindah-pindah partai politik memang bukan menjadi dosa secara religius. Akan tetapi hanya sebagai dosa politik; yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan tak memiliki konsistensi pada pilihan politik yang pertamanya. Ibarat percintaan; model politisi atau pejabat negara semacam ini adalah orang yang suka bergonta-ganti pasangan hidup atau istri/suami. Apakah Anda pernah mengecek KTP yang dimiliki oleh Don Murdono? Apakah ia merepresentasikan warga Jateng? Kalau KTP beliau bukan warga Jateng, melainkan warga Jabar; bagaimanakah? Ketiga, pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sujatmoko. Mari kita simak apakah tagline yang diusungnya? GAGAH, adalah slogan yang digembar-gemborkan oleh tim suksesnya yang tertera di berbagai baliho, pamflet, surat kabar, rontek dan media publikasi lainnya. Menarik memang slogan GAGAH. Tapi ini adalah Jawa Tengah, yang menggunakan dialektika bahasa Jawa. GAGAH, kalau ia kesisipan satu huruf H di antara A dan G-nya, maka langsung menjadi "GAHGAH". Dan jika ia kehilangan dua huruf pertamanya, slogan tersebut menjadi "GAH". Tahukah Anda apa maksud dari kata "GAHGAH" dan "GAH". GAHGAH dan GAH, jika dibedah berasal dari idiom kata "wegah" atau "ogah". Artinya adalah "tidak usah" atau "tidak mau". Maka slogan GAGAH juga bermakna ambigus dan sangat bisa gender. Ia hanya menunjukkan superioritas kelelakiannya. Dan memang dunia politik memang didominasi oleh kaum pria; dan kaum wanita masuk dalam wilayah pinggiran (termarjinalisasikan).
Apakah Anda pernah mengecek juga status KTP miliknya Ganjar Pranowo? Jelas ia tidak memiliki KTP Jateng; makanya ia sama sekali tidak memiliki hak untuk memilih dalam Pilgub Jateng. Sangat tragis bukan, seorang Calon Gubernur kehilangan atau sama sekali kehilangan hak pilihnya dalam Pilgub Jateng? Mirip kasus Jokowi ketika bertanding dalam Pilgub DKI Jakarta, sebab Jokowi waktu itu tidak memiliki hak pilih dalam Pilgub DKI Jateng; sebab statusnya masih ber-KTP Surakarta. Lantas siapakah pemenangnya? Hanya dua orang saja. Kandidat nomor 1, 2 atau 3? Secara probabilitas; jika kekuatan dukungan massa untuk masing-masing kandidat itu sama; maka logikanya mereka memperoleh jumlah pemilih yang sama. Yakni 33,33333...persen. Artinya sudah pasti, Pilgub Jateng 2013 hanya satu putaran saja. Sehingga sangat "lucu" dan "naif" kalau Bibit Waluyo pernah melontarkan kalau Pilgub Jateng cukup satu putaran saja, tidak perlu dua kali putaran. Logika politik manakah yang dijadikan dalih sehingga Bibit Waluyo dengan gagahnya pernah melontarkan pernyataan politik di atas?   Kalau mau dihitung dengan logika kekuatan politik dejuris; maka yang memperoleh dukungan massa terbesar adalah Hadi Prabowo-Don Murdono sebab mereka didukung oleh kongsi partai politik di Jateng yang secara nyata memiliki 40 kursi wakil rakyat. Kandidat kedua yang memperoleh dukungan massa terbesar kedua yakni Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmojo yang diusung oleh koalisi segitiga politik yang memiliki basis 37 kursi wakil rakyat di DPRD Jateng. Sedangkan kandidat yang akan memperoleh dukungan massa terkecil adalah Ganjar Pranowo-Heru Sujatmoko sebab mereka hanya diusung oleh satu partai politik yang berkekuatan 23 kursi anggota dewan. Tetapi ingat, dalam Pilgub Jateng ini; masyarakat bukanlah robot yang dengan mudah bisa disetir dan dikendalikan menurut alur logika politik elite partai politik. Di mana keputusan Ketua Umum Partai Politik maupun ketua parpol di tingkat propinsi hingga kecamatan atau kelurahan harus dituruti oleh para kader partai politik bersangkutan. Ingat kenyataan, bahwa masyarakat memiliki kecenderungan perilaku politik yang berubah-ubah.
Bahkan banyak orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah berafiliasi dengan partai politik manapun. Inilah yang justru sangat menentukan keputusan akhir mengenai siapakah pemenang dari Pilgub Jateng ini. Dan yang terpokok justru adalah kampanye keluarga. Itulah yang paling efektif menentukan jatuhnya pilihan politik saat berada di tempat pemungutan suara pada Ahad, 26 Mei 2013 (besok pagi). Lho kok belum muncul juga siapakah pemenang Pilgub Jateng 2013 besok pagi? Saya sangat takut untuk menyebutkan nama, namun dengan satu analisis sederhana sudah dapat diputuskan bahwa pemenang Pilgub Jateng 2013 adalah BIBIT WALUYO-SUDIJONO SASTROATMOJO. Mengapa demikian, kendati Bibit Waluyo tidak konsisten dalam berpolitik, etika politiknya "nihil"; akan tetapi menurut data penelitian...masyarakat Jateng masih menginginkan adanya Gubernur Jateng yang pernah memiliki latar belakang militer (TNI). Dan pilihan hanya ada pada BIBIT WALUYO. Sedangkan SUDIJONO SASTROATMOJO yang memiliki latar belakang seorang akademisi tulen; ia seorang guru besar (profesor) merupakan kelebihan akademiknya sehingga ia menjadi "magnet" bagi kalangan akademisi untuk menjatuhkan pilihannya padanya. Sebab banyak penduduk Jateng yang diam-diam memiliki sikap politik demikian..."Saya sangat benci BIBIT WALUYO, tetapi sangat mendambakan atau mencintai SUDIJONO SASTROATMOJO".
Nah, kalau sudah demikian realitasnya; pastilah koalisi tripartit Partai Golkar-PAN-Partai Demokrat tidak perlu malu lagi karena kandidat mereka bisa memenangkan dalam Pilgub Jateng 2013. Sebab dalam Pilgub DKI Jakarta 2012 dan Pilgub Jabar 2013; tiga partai tersebut hanya menjadi "penonton saja". Kalau prediksi saya ini meleset; habislah karier politiknya sebagai analis politik. Tapi kalau benar; juga tak akan menambah mental "GR" saya untuk mencoba memprediksi secara jitu hasil Pemilu 2014 mendatang. Kita tunggu saja hasil Pilgub Jateng 2013, paling santer Ahad siang besok.

Saya bukan tim sukses dari kandidat Gubernur-Wakil Gubernur Jateng mana pun. Saya adalah seorang penulis yang independen. Tetapi yang pasti saya akan Golput dalam Pilgub Jateng 2013...Lho kok bisa? Sebab saya bukan warga Jateng, melainkan penduduk DIY. Kalau saya menjadi warga Jateng, bisa jadi saya akan Golput sebab tak ada satu pun kandidat yang merepresentasikan gender wanita. Harusnya Rustriningsih dan kandidat wanita lainnya bisa dipajang menjadi kandidat nomor empat....Namun itu harusnya...yang artinya tidak mesti ada.(*)   

Yogyakarta, 25 Mei 2013, pukul 15.34.49 WIB
Supadiyanto, Direktur Komunikasi Publik Centre for Media and Political Institute


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

     

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menjaga Perbatasanoleh : Gholib
13-Aug-2014, 16:46 WIB


 
  Menjaga Perbatasan Sebanyak 450 prajurit ditugaskan ke perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Utara yang diangkut dengan kapal KRI Tanjung Nusanive di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jateng, 11 Agustus 2014. Seorang prajurit TNI AD dari Batalyon Infanteri 405/Surya Kusuma, Kodam IV/Diponegoro bergegas
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Satukan Dukungan Bagi Timnas 15 Aug 2014 05:15 WIB

 

 
Rindu Mudik 03 Aug 2014 03:06 WIB

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia