KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupAnnette Horschmann Peduli Danau Toba oleh : H. Asrul Hoesein
29-Sep-2014, 02:51 WIB


 
 
Annette Horschmann Peduli Danau Toba

KabarIndonesia – Medan, Green Indonesia Foundation Tour (GIFTour) dalam kunjungannya ke Kota Medan, Sumatera Utara, selama lima hari, sempat mengunjungi Pulau Samosir, Danau Toba yang berjarak sekitar 175 Km dari Kota Medan. Selain berwisata,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kebebasan Diri 29 Sep 2014 05:20 WIB

Kata-kata Nan Muncul Tiba-tiba 26 Sep 2014 05:49 WIB

 
Tigi Menuju Perubahan! 25 Sep 2014 13:11 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 
Hobi Fotografi Tak Harus Mahal 29 Sep 2014 02:39 WIB


 
 
OPINI

Serangan Fajar
Oleh : Ahmad Wiyono | 02-Apr-2014, 12:41:25 WIB

KabarIndonesia - Istilah serangan fajar ini sebenarnya sudah biasa kita dengar, bahkan seakan sudah akrab di telinga kita. Namun istilah tersebut seakan memiliki makna istimewa ketika terdengar pada momentum pemilihan. Seperti biasa menjelang masuknya momentum pemilihan dari tingkat Presiden hingga Kepala Desa - istilah serangan fajar menjadi topik hangat dalam beberapa perbincangan, setidaknya menjadi bahan bisik-bisik.

Apa sebenarnya serangan fajar itu? Ditilik dari bahasanya istilah serangan fajar sebenarnya muncul pada peristiwa peperangan tempo dulu. Aktifitas ini dilakukan sebagai strategi untuk membumi lantahkan pasukan musuh yang tengah lelap istirahat. Pasukan pun berhasil menghancurkan pertahanan lawan tanpa ada perlawanan yang cukup berarti. Kegiatan seperti itu kerap dituding sebagai  model perlawanan yang tidak sehat, karena dalam peperangan ada rambu-rambu yang tidak boleh dilangkahi. Salah satunya adalah serangan fajar itu sendiri.

Namun demikian, tidak sedikit peperangan yang berujung pada tindakan menyerang sebelum waktu yang ditentukan. Hal itu terjadi ketika salah satu pihak yang menyerang sudah berkesimpulan tidak mungkin mampu melawan pasukan dengan cara perang yang sesungguhnya. Maka serangan fajar pun akhirnya menjadi pilihan. Ini adalah kata lain dari tipu muslihat yang dilakukan dalam sebuah peperangan.

Dalam dunia kontemporer, perang memang sudah hampir tidak ada di dunia ini, terutama di indonesia. Namun praktik serangan fajar bukan lantas lenyap dari kehidupan manusia masa kini. Istilah tersebut kemudian diadobsi dan dipraktikkan dalam perhelatan perang politik nusantara. Yah inilah perang modern dengan model senjata masa lalu yang dipertahankan.

Dalam kegiatan politk praktis, utamanya dalam suksesi calon atau kontestan, serangan fajar selalu muncul dalam kehidupan masyarakat. Hal itu dilakukan oleh beberapa pihak -tanpa harus menyebut oknum- untuk meraup keuntungan suara. Serangan fajar itu sendiri dilakukan dengan berbagai model, tapi yang pasti serangan fajar itu adalah pengerahan tim ke tengah-tengah warga. Lengkap dengan persenjataan yang mereka bawa.

Memang sih, mereka tidak menyerang seperti halya serdadu dahulu, mereka tidak datang pada waktu warga nyenyak dalam selimut dan mimpi mereka.  Namun gaya datang mereka hampir tak jauh beda dengan serbuan prajurit ketika mengepung benteng musuh. Senjata yang mereka bawa diluncurkan dengan cepat dan tepat. Sasaran pun tak berdaya, takluk dalam dekapan serangan serdadu kekinian itu. "Un syaiun"  dengan segala bentuknya yang dibawa serdadu serdadu itu tak mampu ditolak oleh warga yang posisinya jelas menjadi objek.

Inilah yang menjadikan tatanan demokrasi kita porak poranda. Gerakan demokrasi yang digulirkan sejak berpuluh-puluh tahun silam yang sedianya diharapkan menjadi jembatan pembelajaran dan aspirasi masyarakat akhirnya luluh lantah karena tindakan serdadu yang telah mengepung kebebasan demokrasi itu sendiri. Warga tak lagi menjadi subjek sistem gerakan demokrasi, namun justru sebaliknya, objektivikasi merambah tak ubahnya virus kanker yang terus menggerogoti tubuh manusia.

Kita bisa membayangkan apa yang dilakukan serdadu-serdadu tersebut, tak lain dan tak bukan adalah menghajar kebebasan warga dengan senjata "un syaiun" tadi. Konotasi sederhana yang diibaratkan dalam praktik itu adalah tindakan politik hitam  dengan mengandalkan kekuatan modal keuangan sebagai senjata ampuh untuk meraup kantong suara para kontestan yang dibawa para serdadu. Akhirnya tak bisa dipungkiri, sebelum perang usai, pemenangnya pun sudah bisa diraba, maka terjadilah perang sebelum jadwal pertandingan dimulai.

Inilah Serangan fajar, warga yang notabeni adalah bagian dari bangsa yang mestinya terlindungi hak-haknya dalam bersuara, harus menjadi korban kebiadapan serangan fajar. Nurani tak lagi berkuasa, karena sepenuhnya telah diperkosa oleh senjata  serdadu yang begitu ampuh. Rumus kemenangan lahir sebelum matahari terbit di ufuk timur. Karena serdadu telah mengintai mangsanya dari segala penjuru.

Entah siapa yang mengawali, sehingga istilah serangan fajar pada akhirnya lekat dengan tindakan pratik poltik hitam yang dilakukan oleh para kontestan melalui serdadunya. Tapi yang jelas hari ini praktik itu sudah benar-benar lekat  dalam kegaitan pesta demokrasi kita. Warga pun hanya bisa mengangguk meski pada akhirnya dia harus menyesal selama 5 tahun gara-gara  kesalahan 5 menit yang dia lakukan di tempat pemumungutan suara (TPS).

Setiap kontestan jelas memiliki alasan tersendiri mengapa mereka harus menggunakan senjata serangan fajar itu, bahkan sebagian diantara mereka beranggapan bahwa itu adalah senjata pamungkas yang "fardu ain" untuk dilakukan. 

Namun demikian, pada akhirnya kita akan berhipotesa tentang seperti apa mutu dan kualiatas kontestan yang ternyata hanya mampu mengandalkan serangan fajar itu.  Harus kita sepakati bahwa mereka yang menjadikan serangan fajar sebagai modal utama dalam suksesi adalah bagian dari calon pemimpin bangsa yang telah merusak citra dan moral demokrasi jauh sebelum mereka lahir menjadi pemimpin. Meminjam perkataan Max Weber, mereka lahir dan tumbuh sebagai seorang intelektual tradisional yang targetnya hanya kepentingan sesaat. Atau dalam istilahnya almarhum Gus Dur, mereka adalah Intelektual Tukang. Oh Serangan Fajar. (*)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
International Press Card KabarIndonesiaoleh : Kabarindonesia
30-Sep-2014, 14:56 WIB


 
  International Press Card KabarIndonesia International Press Card HOKI ini merupakan Press Card yang bergengsi dan mempunyai nilai yang tinggi. Bagi mereka yang tertarik untuk bisa mendapatkan International Press Card HOKI sebagai reporter ataupun fotografer, silahkan menghubungi Redaksi KabarIndonesia melalui email ke info@kabarindonesia.com dengan subject/judul: “Saya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMPB Minta Bupati Bireuen Mundur 30 Sep 2014 12:27 WIB

 

 
Indonesia Siap Hadapi Thailand 22 Sep 2014 13:06 WIB

Asian Games 2014 Resmi Dibuka 22 Sep 2014 11:59 WIB

 

 

 

 
Karang Taruna Peduli Kesehatan 26 Sep 2014 05:58 WIB

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia