|
|
|
| |
KabarIndonesia - Di sela-sela pencanangan Gerakan Indonesia Bebas Pemadaman Listrik Bergilir di Mataram kemarin, Presiden SBY kembali curhat. Beliau mengeluh dengan menyebut ada gerakan politik yang saat ini berkampanye keliling Indonesia menjelek-jelekkan pemerintahan. Gerakan itu, kata SBY, mengatakan seolah-olah Indonesia selengkapnya....
|
|
|
OPINI
"Mantra" Asu, Suro!
Oleh : Supadiyanto | 18-Des-2009, 03:50:21 WIB
|
Malam Tahun Baru Islam (Hijriyah), memang berbeda jauh dengan Malam Tahun Baru Tidak Islam (Masehi). Jangan coba-coba sesekali mempersandingkannya. Kalau tidak ingin kecewa, berat.
KabarIndonesia - Tahun Baru Masehi dirayakan dengan begitu meriah. Tahun Baru Islam hampir tak ada perayaan. Seperti malam ini. Sepi nyenyet, kecuali ada sekelompok kecil masyarakat yang merayakannya dengan semedi, tapa bisu dan upacara ritual lainnya.
Tahun Baru Masehi identik dengan terompet, balon, hiasan Natal, bunga api, cokelat dan kue-kue. Aduhai, enaknya. Tidak demikian adanya dengan Tahun Baru Islam. Kayak malam ini. Begitu sunyi senyap, seperti kondisi tanggal biasanya, jamasan pusaka, kungkum di sungai atau situ, tapa bisu, semedi, kirab, ritual, pengajian. Jauh pemaknaan memang, padahal sama-sama tahun barunya. Mestinya, Tahun Baru Islam pada malam hari ini harus lebih meriah, baik secara spiritual maupun perayaan ritualitasnya. Tapi ternyata tidak. Harapan dan kenyataan memang harus berbeda. Impian, tak harus sama dengan yang diharapkan. Apalagi dengan realitas hidup. Ah daripada bosan di rumah sendirian, apa menonton ritual yang begitu monoton dilakukan banyak orang di sekitar Keraton Yogya (tapa bisu mubeng beteng), penulis meluangkan waktu untuk nyambangi rumahnya Emha Ainun "Cak Nun" Nadjib di Jetis, Kasihan Bantul (Yogya) barang satu, dua jaman. Kebetulan di sana ada Danrem serta Dandim se-Yogya. Ada pula orang-orang Papua dan hadir ratusan, bahkan ribuan jamaah Maiyah dari berbagai daerah. Bosan, juga saya!
Tidak oleh Cak Nun, Danrem dan anak-anak buahnya, dalam kesempatan itu mereka membilang kata "asu". Itu tak kurang dari 10 kali. Terminologi "asu", pada malam itu benar-benar lagi menjadi bahan komunikasi yang katanya mengasyikkan untuk diperbicarakan. Padahal, kita tahu, budaya kita antipati memakai kata "asu". Karena terminologi asu, galib dieksplorasi dalam konteks untuk memaki-maki sesuatu. Kalau sampeyan mengencingi kepala tetangga sebelah kamar kos, wajar jika rekan anda misuh-misuh dengan membilang "asu" pada Anda. Kalau anda mau menetralisir makian itu, segera lawan juga dengan makian "bajingan". Asbabul katanya dari term bajing. Peroleh akhiran "an". Bajing, itu ketemu bahasa Jawa lagi. Sinonimnya tupai. Bajing dan tupai, artinya sama, tidak berbeda. Bisa pula balasan kata makian asu, dengan asem, tikus (ki), babi (lo), kadal (sampeyan), fuck you (dalam bahasa Inggris), go to hell you, etc... Mahasiswa di Jakarta, Makasar dsb berantem dengan penduduk kampung, gara-gara soal sepele. Kelepasan atau salah ucap kata "asu". Sangat mungkin. Apalagi di kalangan militer, di mana peraturan begitu ketat dan bahasa-bahasa komunikasi yang begitu terbatas antara komandan dan anak buahnya, pasti jarang melontarkan kata "asu" itu.
Betapa lega pol-polan, orang yang baru membilang kata "asu", seperti Pak Danrem dan Dandim tadi. Kata asu, memang berbahasa Jawa. Padanan kata asu, yakni anjing. Dog, bahasa Inggrisnya. Kalbu, pakai kaf, bahasa Arabnya. Kalau ditulis pakai qaf, hingga jadi qalbu, maknanya jadi lain betul. Qalbu=jantung, kalbu=kirik, asu atau anjing. Yang lucu, publik kerap mengucapkan "manajemen kalbu". Bahkan para kiai juga tak kurang membilang kata serupa, "manajemen kalbu". Si ustad kondang yang juga sebagai ustadnya manajemen kalbu, keperosok juga bercuap-cuap dengan gagahnya mengucapkan kata-kata itu. Artinya padahal cukup memalukan sekali. Manajemen kalbu itu, maknanya manajemen anjing. Manajemen kirik alias asu. Yang benar, manajemen qalbu, manajemen jantung. Padahal manajemen jantung itu tak ada. Yang ada yakni manajemen hati. Hati itu Arabnya, kalau tak salah (nanti tak buka kamus Arab duluan), kabid. So, manajemen kabid, terjemahan polosnya manajemen hati. Kalau ada pejabat yang dengan pede (percaya diri) berpidato dengan gagahnya membilang begini, "mari kita menyukseskan reformasi pemerintahan di negeri ini dengan mengadopsi ilmu manajemen kalbu", begolah bangsa ini. Pasalnya, pejabat tersebut mengajak kita untuk meniru manajemen model asu tadi. Bagaimana manajemen anjing itu, pertanyaan kita? Tipe manajemen yang suka berganti-ganti pasangan. Tidak tahu apakah itu anjing hasil anaknya sendiri atau ibunya sendiri, main embat saja.
Anjing juga berperangai buruk, yakni selalu menjulurkan lidahnya, sepanjang-panjangnya. Hal itu dilakukan untuk mengurangi rasa panas yang timbul dalam tubuhnya. Anjing adalah hewan yang berdarah panas. Air liarnya selalu menetes-netes, kalau binatang itu tak sesegera mungkin menjulurkan lidahnya. Tapi itulah estetikanya hewan anjing. Anjing yang melet-melet adalah naluriah. Amat alamiah dan memang sudah seharusnya begitu. Justru anjing yang tidak berperilaku yang begituan, tidak normal. Anjing gila. Tidak menaati hukum alam dunia keanjingan. Dilematis memang menjadi anjing. Para pecinta kartun dan komik, ada pula yang berusaha meninggikan harkat dan martabat anjing. Katailah film-film kartun Rin Tin Tin, Goofy, Scooby-Doo (dipermaaf kalau salah pelafalan). Tapi tetap saja kita kerap memburuk-burukkan rupa anjing. Para pencinta dunia satwa, lantas mengangkat derajat anjing dengan menggelar parade pameran anjing. Anjing hias. Anjing yang dipacak, atau dihiasi dengan aneka rupa kostum. Hingga tampil jangkis, fungki dan trendi. Terkadang makanan anjing-anjing hias itu melebihi jatah harga rangsum para penghuni hotel prodeo. Anjing terlatih milik Detasemen Khusus 88 Polri yang sangat besar itu, asupan gizinya bisa dijatah sebanyak Rp 150-200 ribu perharinya. Artinya dalam sebulan bisa menghabiskan budget yang cukup besar. Capai Rp 4,5-6 juta.
Semua tahu, gaji seorang pejabat PNS berpangkat eselon tak sampai angka itu. Berarti prestis dan martabat "anjing herder" milik Polri itu jauh lebih dihargai daripada sekumpulan daging yang terbungkus oleh tak kurang dari 300 ruas tulang itu. Ajaran Islam mengharamkan penganutnya untuk makan daging anjing. Makan sate anjing itu haram. Melakukan perbuatan haram berarti masuk neraka. Memakannya saja, kita masuk neraka. Berarti secara logika waras, barang yang dimakannya tentu juga menjadi penghuni neraka. Apa anjing bakal masuk surga? Kecuali anjingnya Ashabulkahfi. Namun bagi penghobi berat rica-rica anjing, daging asu itu menjadi klangenan yang menyurgawi. Sejumlah agama lain justru tidak melarang umatnya untuk menyantap daging kirik. Justru ada yang memajangnya menjadi menu makanan andalan bagi jamuan para tamu dari mancanegara. Seburuk-buruknya anjing, ada seekor kirik yang pernah dijamin Allah bakal masuk surga. Anjing itu, bagian dari tiga pemuda (ada yang mengatakan 5, ada pula 7 pemuda) ashabulkahfi. Yang mereka tercatat dalam QS Al-Kahfi. Menjadi kirik, menjadi dilematis. Lebih banyak mengalami kesengsaraan hidup. Dibandingkan sukanya. Mari kita berempati menjadi asu, jika benar kita yang ditakdirkan menjadi kirik. Selain menjadi bahan cibiran, paling sering kata anjing menjadi bahan makian. Sungguh kasihan mereka. Sudah banyak dimaki, asu juga banyak ditongseng atau digulai. Tergantung selera konsumen.
Jadi sungguh luhur ajaran Islam, melarang umatnya untuk tidak makan daging anjing. Kalau tidak makan daging anjing, berarti secara tidak langsung menyeru kepada kita untuk tidak menyembelih anjing. Untuk apa disembelih, kan haram? Suro, emang tidak ada hubungan sama sekali dengan asu. Asu juga tidak relevan bila dihubung-hubungkan secara paksa dengan Tahun Baru Islam itu. Apalagi Suro dengan bajing, tikus, choro, buaya; tak presisi untuk dibahas dalam perspektif menyambut Tahun Baru Hijriyah kali ini. Tapi, ketika ada asu ketemu bulan Suro, ada sedikir garis singgungnya. Apa tumon? Kalau Anda sempat mengamati perilaku anjing di bulan Suro (Muharram) ini, tentu akan lain dari adat kebiasaannya. Mereka seolah-olah berperilaku mistis dari biasanya. Anjing adalah binatang paling setia pada tuan atau puannya. Anjing memiliki daya dengar dan daya penglihatan yang luar biasa. Struktur telinganya mampu mendengar frekuensi yang begitu lirih, yang tak terdengar oleh indera kita. Struktur mata pada anjing juga memiliki kontur yang beda jauh dengan manusia. Ia hampir identik dengan mata elang, yang bisa mendeteksi cahaya (warna) dari jarak yang begitu membumbung. Mata anjing dan telinga anjing adalah hanya keistimewaan milik asu. Ilmiah sekali kalau lantas pada malam hingga dini hari, banyak anjing yang melolong panjang. Bunyi huk-huk-huk juga acap terdengar ketika nyanyian jangkrik meninabobokan kita di tengah malam. Huk-huk-nya anjing sepanjang bulan Suro ini, diyakini memiliki efek yang berbeda dari bunyi huk-huk pada bulan di luar Suro.
Menurut keyakinan penganut kebatinan, anjing itu mendengar dan melihat makhluk-makhluk halus yang berseliweran di sekitar mereka. Idih, kok jadi bahas soal gaib yach...takut saya. Bagi yang percaya, mungkin itu logis. Bagi yang mengingkarinya, itu juga sangat logis dan bolah-boleh saja. Apa karena asu-asu (anjing-anjing) yang pada berlolongan pada malam Tahun Baru Islam (bulan Suro) ini, membikin Tahun Baru Islam begitu sepi, nyenyet, biasa saja dan tak ada perayaan yang gila-gilaan, seperti Tahun Baru Masehi? Yang cuma tinggal 13 hari lagi (1 Januari 2010). Semoga Tahun Baru Asy-suro Anda terasa nikmat dan bahagia. Tidak seperti penulis, yang begitu tak merasakan kalau malam ini adalah momentum malam Tahun Baru (Islam). Apa Anda juga merasai demikian? Lebih pilih jadi "asu" saja, saya. Bisa mendengar dan melihat jutaan, milyaran makhluk halus (jin, setan, gendruwo, kuntilanak, demit, banaspati, gundul pringis, pocong, iblis, hantu, UFO) berpesta pora merayakan kemenangannya atas manusia sepanjang bulan Suro ini. Yang lagi dikuasai hawa nafsu. (**)
JOGJA, 18 Januari 2009, jam 01.00-03.00 WIB
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com// |
|
|
|
|
|
|
|
| |
DAMPAK BANJIR - Lahan jagung seluas 7 hektar menjadi rusak akibat terkena dampak banjir di Kecamatan Kota Barat Gorontalo, Rabu (28/7). (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|