KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKota Pintar akan Ciptakan Peluang Besar, Bagaimana dengan Indonesia? oleh : Rohmah Sugiarti
20-Mei-2017, 05:04 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sejumlah negara di dunia, menerapkan kemajuan teknologi informasi pada proses adaptasi untuk melahirkan model pendekatan pembangunan yang relatif baru yang disebut Kota Pintar (Smart City).

Kota Pintar didesain mampu meningkatkan produktivitas manusia yang tinggal di dalamnya,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Nantikanlah Kedatanganku 25 Apr 2017 23:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 


 
OPINI

"Mantra" Gus Dur Tak (Pernah) Mati
Oleh : Supadiyanto S.sos.i. M.i.kom. | 31-Des-2009, 14:02:56 WIB

KabarIndonesia - Jeda sejenak. Mantra ingin menulis catatan kaki di hari terakhir di bulan Desember 2009 ini.  Kemarin sore insting Mantra ingin menulis tentang "Mantra" Tahun Baru. Tapi naluri Mantra yang lain langsung menimpali protes, bukan itu. 

Ternyata benar, ada peristiwa luar biasa yang bakal membuyarkan konsentrasi kita selama ini yang kini tengah tertuju pada malam Tahun Baru. Yap, Gus Dur meninggal dunia. Pantasnya, detik-detik penghujung tahun 2009, kita hilangkan saja ingar-bingar perayaan Tahun Baru. Gus Dur, kekuatannya jauh lebih setimpal jika disandingkan dengan nyawa 230 juta jiwa di negeri ini. Opomaning kalau hanya dibandingkan dengan selebrasi Tahun Baru.


Gus Dur adalah tiga perempat nyawa Indonesia. Meninggalnya Gus Dur berarti matinya tujuh lima persen nyawa Indonesia. Gus Dur telah berpulang pada Allah. Dengan segala kelemahan dan keunggulannya, Gus Dur sudah sukses menjadi manusia. Mengungguli malaikat. Tulisan Mantra ini sedang dibikin sejam paska Gus Dur dikabarkan meninggal melalui berbagai media elektronik, tadi malam. 

Jadi fibrasi tulisan ini tidak semata-mata untuk menghibur para pengagum Gus Dur agar tak berlama-lama menghujan tangis. Tidak pula semata-mata dibikin untuk membesarkan hati rakyat Indonesia, bahwa almarhumah tidak saja seorang negarawan. Tapi wali Allah sekaligus wali manusia. Sesungguhnya tulisan ini dipersembahkan sebagai obat hidup bagi Gus Dur agar ia tetap bisa menghirup udara segara di dunia ini. Manusia berharap dan berdoa, Tuhan lebih tahu apa yang mesti terbaik bagi seluruh
makhluk hidup yang ada di muka bumi ini.

"Gitu aja kok repot!". Itulah mantera milik Gus Dur yang tak bakal mati dalam ingatan peradaban manusia. Ketika publik tengah kebingungan dibelit masalah yang sangat kompleks, para pakar kebingungan bagaimana memecahkan permasalahan yang sedang dilanda itu; justru Gus Dur tampil dengan gaya yang kocak dan jawabannya multiinterpretatif. Bahkan lontaran mantera "gitu aja kok repot!", itu justru menjadi pemecah kebuntuan otak kita. 

Ia menjadi semacam obat penawar racun otak, hingga meledaklah tawa kita. Gus Dur, bukan manusia puritan. Ia bermental penjelajah. Berpetualang, baik dalam arti sesungguhnya maupun tidak sesungguhnya. Berpetualang sungguhan maksudnya mempetualangi setiap inci dan pojok-pojok dunia ini. Hapir tak ada negara yang belum pernah disambangi Gus Dur. 

Meski tidak terlalu sempurna fisiknya, dipersori, indera penglihatannya mengalami gangguan dan beberapa tahun harus memunggungi kursi roda ke mana-mana, tidak lantas membatasi ruang gerak dan aktivitas mantan Presiden RI itu. Gus Dur memang tidak seganteng SBY. Tidak pula segagah Soeharto, apalagi Soekarno. Ia juga tidak selincah Habibie yang cakcek, apa Megawati yang luwesan.

Namun Gus Dur punya segalanya dalam lubuh hatinya. Ia punya kegantengan hati. Nukleus kegagahan hati dan kelincahan hati serta keluwesan hati dimiliki mantan Ketua Dewan Tanfidz PBNU. Gus Dur, lekat dengan dunia pondok pesantren. Dalam tubuhnya mengalir darah Gus, setara dengan gelar kekeratonan (darah biru atau ningrat) seperti Raden atau Sultan.

Ilat Jawa membilang Gus, dengan Gos. U-nya terucap dengan vokal "O". Sehingga Gos, itu sama dengan Gus, yang memang dipenggal dari kata "Bagos" dalam bahasa Jawa. Bagos, artinya ganteng, tampan. Panggilan untuk setiap laki-laki keturunan orang Jawa. Bagos, itu sama dengan Tole. Tapi tak perlu dipanjang-panjangkan, apa itu kepanjangan Tole. Saru yang jelas. Tak perlu tahulah Anda. 

Ilmu apa yang tak dimiliki Gus Dur. Ingin berkonspirasi dengan kelompok Yahudi, ia dedengkotnya.  Mau berdamai dengan para teroris, ia konsultannya. Membahas ilmu pemerintahan, ia punya track record selangit menduduki pos-pos penting dalam jabatan kenegaraan. Bercakap-cakap soal dunia permalingan, ia punya pengalaman dan relasi segudang dengan bos-bos maling di Indonesia. Mau melucu, ia pakar humor.

Hampir tak ada orang yang tak tertahak-bahak mendengar kan kala Gus Dur melucu, meski ia bukan tukang humor. Ia hampir tak pernah membaca teks ketika didaulat memberikan pidato kenegaraan. Apa karena ia terganggui penglihatannya? Tidak, ia punya mata batin. Anda yang punya dua mata paling sehat sekalipun, akan takjub dengan kegrahitaan Gus Dur. 

Gus Dur manusia multi talenta. Banyak bahasa yang ia kuasai. Bahasia batin, bahasa binatang, tetumbuhan, apalagi kalau cuma berbahasa Arab, Inggris dan lainnya. Lanyah dikunyahnya. Gus Dur, sudah wafat. Tapi hanya tubuhnya. Hanya 300an tulang-tulangnya yang mati. Urat-urat syarafnya saja yang sudah tak bekerja normal. Detakan jantungnya tak berkontraksi lagi. 

Aliran darahnya saja yang stop total. Sepasang matanya saja yang mengatup. Indera pendengar, pembau dan peraba sajanya yang telah tak berfungsi. Tapi Gus Dur tidak pernah mati. GUs Dur abadi. Abadi pemikirannya. Kekal kebajikannya. Awet kebijaksanaannya. Langgeng terus prisma-prisma penalarannya. Fatwanya selalu mentes, bernas dan muamalah bagi kebajikan manusia, tidak di dunia saja, namun lebih berorientasi ukhrawi.
Gus Dur tidak akan pernah mati. Allah memang sudah meng-SK-kan umur GUs Dur tak lebih 70 tahun. Tadi malam, di langit ketujuh, berdebat para malaikat Allah. Ada Jibril di sana. Mikail dan Israil, "izrail, Mungkar, Nakir dan malaikat-malaikat lainnya dapat dipastikan tak ada yang tak hadir dalam perdebatan itu. "Izrail meminta kepada Allah untuk mengulur waktu sakaratul maut Gus Dur setidaknya hingga 2014 mendatang. 

Lima tahun lagi. Jibril bahkan memohon kebaikan hati Tuhan agar Ia bisa hidup lebih lama lagi, hingga ia mencapai usia seabad. Malaikat lainnya, bahkan rela menggadaikan eksistensi mereka agar Tuhan merevisi SK pencabutan nyawa Gus Dur yang jatuh tempo pada 31 Desember malam tadi. Hanya malaikat Mungkar dan Nakir saja yang menyetujui pengeksekusian SK yang sudah ditandatangani oleh Tuhan tersebut.

Dalih keduanya, agar mereka bisa segera bersua dengan Gus Dur yang selama ini mereka rindu-rindukan. Malaikat Mungkar dan Nakir yang selama ini kesepian dan mengalami gangguan psikologis yang luar biasa benar, karena terus mengalgojoi banyak orang yang sudah meninggal. Mungkar dan Nakir ingin bersua dengan makhluk Allah yang sangat mulia, seperti Gus Dur.

Ia tak punya dosa. Jangankan dosa, niat untuk mengarah pada dosa dan keburukan saja, Gus Dur tidak punya. Ia tak punya apa-apa, kecuali kebajikan. Pakaiannya adalah kasih sayang. Menu sarapan paginya selalu beraksi sosial. Gus Dur adalah salah satu hamba Allah, yang pantas disandingkan di sebelah pusara kanjeng nabi Muhammad. Ia mulia, meski ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Muhammad. Namun Gus Dur adalah Gus Dur. Ia punya kharisma dan daya tarik. Beliau juga memiliki magnet hati. 

Kita tidak lantas tidak menjadi kagum pada Gus Dur karena tubuhnya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Gus Dur punya darah sufi, ia mempunyai pesona batiniah yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Kalau Anda memandangi langit, ada banyak bintang di atas sana. Semuanya sama, memancarkan cahaya. Tapi, pancaran bintangnya Gus Dur, ratusan kali lipat dibandingkan dengan bintang-bintang kecil lainnya.

Gus Dur adalah bintang matahari. Ia menyedot dan menjadi pusat gravitasi dalam galaksi bima sakti. Sebagai pusat gravitasi, ia menjadi pusat kosmos sebuah tata surya. Matahari, tidak saja panas. Ia menjadi sumber kehidupan bagi seluruh alam semesta. Dunia tanpa matahari, makhluk hidup mati. Oksigen musnah. Tumbuhan dan hewan-hewan mati. Manusia meregang nyawa dari dahulu. 

Apapun yang membutuhkan udara, bakal raib dari muka bumi ini. Kecuali batu-batu, angin, serpihan debu dan air yang tak punya daya nalar, daya indera dan daya ingat. Gus Dur telah meninggal, matahari sudah terbenam untuk selamanya. Tak ada fajar pagi lagi. Anda boleh menangis sepuas-puasnya. 

Namun pemikiran dan ideologi yang pernah Gus Dur lontarkan selama hampir 70 tahun belakangan, tak akan pernah mati. Ia terus menjadi matahari yang menjadi pusat tata surya kehidupan. Nukleus pemikiran dan kearifan yang dimiliki Gus Dur sudah tumbuh dalam jiwa kita masing-masing. Bibit-bibit subversif yang pernah Gus Dur suntikkan dalam benak dan jiwa kita akan terus hidup, hingga kita beranak pinak. 

Salah besar kalau Anda kira Gus Dur sudah mati total. Ia hanya mati fisiknya. Spiritualnya terus langgeng dan mengabadi di hadapan kita. Spiritualisme Gus Dur kini tengan bercanda mesra dengan kanjeng Nabi Muhammad, Lenin, Hitler, Soekarno, Soeharto, Roosevelt, Che Guevera, Sunan Kalijaga, Ken Arok, Ranggalawe, Panembahan Senopati. Ia kini juga sedang diperjamui oleh para malaikat Allah dengan segala kenikmatan yang dimilikinya. 

Anda pasti cemburu. Kita ingin seperti Gus Dur. Bisa atau tidak. Tergantung, kita! Innalillaahi wainnaailaihi raaji'uun. (**)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Gubernur Babel Yakin Ada Pemenang SIA dari Babeloleh : Rohmah Sugiarti
17-Mei-2017, 12:26 WIB


 
  Gubernur Babel Yakin Ada Pemenang SIA dari Babel Gubernur Babel Erzaldi Rosman (berdiri) menyemangati peserta Bincang Inspiratif SATU Indonesia Awards 2017 didampingi Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana UI Emil Salim (kedua kiri) dan Wamen Diknas RI 2010-2012 Fasli Jalal (ketiga kanan), Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 Hardinisa
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia