|
|
|
| |
KabarIndonesia - Peristiwa kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di seluruh Indonesia terus berlangsung dan terulang kembali. Terakhir, kekerasan menimpa jemaat Ahmadi di Manislor, Kuningan, Jawa Barat. Sikap keras para penolak Ahmadiyah diwarnai dengan tindak kekerasan fisik yang cenderung melanggar hukum, hak selengkapnya....
|
|
|

OPINI
"Mantra" Kebodohan Lapis Pertama
Oleh : Supadiyanto | 05-Jan-2010, 13:48:26 WIB
|
KabarIndonesia - Siapa bilang orang bodoh itu—selalu terbodohkan. Siapa bilang juga orang pintar itu—selalu tidak terbodohkan. Bodoh soal apa, tidak pintar bidang apaan? Yang membedai orang itu bodoh dan atau tidak bodoh, itu hanya soal kreativitas dan cita rasa.
Orang yang tak kreatif adalah orang yang memiliki kebodohan lapis pertama. Kebodohan lapisan kedua disusul oleh orang yang tak punya cita rasa. Sebodoh-bodohnya orang, ia tetap masih memiliki tingkat kreativitas dan cita rasa walau sekedar nol koma nol satu nol satu persen (0,0101%). Konon kata kaum cendekiawan, orang pintar itu punya trap kreativitas yang berlapis-lapis.
Otaknya kalau mau dibongkar, memiliki bersap-sap syaraf otak yang tumbuh karena saking seringnya otak kepakai untuk mikir. Entah mikir bab yang berat, rumit, teknis atau perihal kebaruan. Idiot, orang mengatai demikian pribadi orang yang telat mikir. Acap kali orang marabi si IQ jongkok, IQ udang (tidak tahu udang galah atau lobster sekalian). Betapa kasihan orang yang dicacat dengan julukan itu. Tapi dasar si IQ jongkok, dicibir kok malah dikira disanjung.
Kala mendapat pujian, ee..malah marahnya setengah mati, dikira mau diantemin. Semua orang pada dasarnya berangkat dari titik terendah yang bernama kebodohan. Setiap bayi itu bodoh. Ia lahir dalam kondisi kosong pengetahuan. Tingkat pengetahuannya akan terus berangkat dari titik nol menuju titik yang tak terhingga seiring dengan proses pembelajaran yang ia dapatkan dari keluarganya, lingkunganya dan naluri tentunya. Musykil ada orang yang terlahir cenger di dunia ini, langsung menggondol pengetahuan seabrek-abrek. Bayi ajaib.
Ya, itu mungkin cuma berlaku untuk Nabi Adam. Lho, kalau manusia pertama di dunia itu lahir tanpa punyai ayah dan ibu di sampingnya, padahal ia orok bayi yang masih merah; memangnya siapa yang menyusuinya, merawatnya kalau bukan karena kemaharahiman Tuhan. Kita punya keyakinan, dalam ajaran Islam mengajarkan dogma itu. Atau kalau ada teorema baru, Adam lahir di dunia ini langsung dalam kondisi yang sudah dewasa.
Ia bisa langsung hidup mandiri tanpa perlu proses adaptasi terlalu lama antara kehidupan surgawi (yang sesungguhnya) dengan kehidupan duniawi (yang katanya tak beda jauh dengan esensi konkret lingkungan firdaus). Atau bisa jadi juga si Adam itu manusia sakti mandraguna, yang ia sejak jabang bayi; walau kita tak tahu siapa nama ayah dan ibundanya; sudah memiliki gudang informasi dan pengetahuan yang built in dalam kesadaran otaknya. Sehingga ia tak perlu belajar salah dan belajar keliru lagi seperti kita. Wong itu semua adalah otoritas dan hak-haknya Tuhan untuk mengistimewakan manusia pertama di jagat ini.
Mungkin juga kalau dulu sudah ada teknologi pemindai sidik jari, atau alat penguji DNA seperti yang sudah digunakan POLRI untuk mengidentifikasi silsilah keluarga seseorang; oh itu anaknya si anu, oh ini bapaknya si itu; kita akan tahu sebenarnya siapakah sejatinya Adam itu. Siapa ibunya, dan siapa pula nama Bapaknya. Kecuali kalau Adam tak memiliki sidik jari, sehingga dua puluh jari dan jempol tangan dan kakinya plus telapak tangan dan telapak kakinya tak punya arsiran atau lukisan yang melingkar-lingkar, seperti yang ada di tangan dan kaki kita.
Atau jamak sekalian ia tak punya kaki dan tangan. Nanti dari situ kita juga akan menjadi tahu, siapa suaminya Siti Maryam atau ayahnya Nabi Isa. sebab kita sudah mengantongi alat pendeteksi DNA tadi. Kalau Siti Maryam tak punya suami, berarti ada rekayasa sosial bukan? Maaf, apakah ia pernah diperkosa? Lho si Adam yang tak punya ayah dan ibu saja, berpeluang besar bisa terlacak kok, masak ini si Isa yang konon tak punya Bapak saja tidak bisa dicarikan sisik meliknya melalui alat pendeteksi DNA itu?
Namun itu semua sudah kehendak Tuhan. Tuhan itu tidak bodoh, dan musykil terbodohkan, terbodohi atau dibodoh-bodohi. Sengaja Tuhan mendesain peradaban manusia, dengan menyengaja meletakkan masa penemuan teknologi DNA itu baru di abad terbarukan. Seandainya, sekali lagi—seandainya teknologi itu sudah ada sejak pra Adam, waduh bisa-bisa semua ragam “kesakralan teologi” bakal tertohok oleh teknologi itu.
Tapi itulah hebatnya Tuhan, dan tidak hebatnya manusia. Manusia hanya sebagai pelaku dan objek tak tunggal kehidupan. Tuhan adalah penulis skenario sekaligus merangkap sutradara kehidupan ini. Setiap pelaku, apalagi hanya figuran sebuah drama tak boleh protes pada “keotoriteran” Sang Sutradara, terkait apapun juga materi skenario yang sudah tertuliskan di sana untuk diperanmainkan secara apik nan epik. Pada dasarnya semua orang itu pintar, atau sebalinya semua orang itu bodoh. Tuhan Maha Adil, bukan? Seandainya setiap orang itu tidak disama-samakan kualitas otaknya oleh Tuhan, berarti secara hukum makrokosmos, Tuhan sudah terlihat tidak adil bukan.
Dan mustahil bahwa Tuhan itu tidak adil, Ia itu Maha Bijaksana, jauh lebih setimpal kemahabijakasanaannya toh kalaupun seluruh orang berprofesi hakim di dunia ini sejak Adam hingga Muhammad dijejer bareng-bareng. Lantas kualitas kebijakan mereka semua ditimbang dengan kebijakan yang dimiliki Tuhan, pasti tidak sepadan selamanya. Berarti memang semua orang itu pandai semua, atau terbodohkan semua.
Kalau pandai semua, itu maksudnya tak ada orang yang bodoh lagi. Semua orang punya mental kreatif semua. Orang Banten pandai, wong Yogya tidak ada yang goblok, arek Surabaya pinternya tak ketulungan, warga Papua juga tak kalah cerdik dengan orang Pontianak, apa Makasar. Bila semua orang itu bodoh semua, berarti itu menisbikan atau menjungkirbalikkan semua kebenaran sebelumnya, bahwa semua orang itu pintar. Okelah semua orang bodoh itu—benar, dan semua orang pintar—juga benar. Adil bukan itu.
Peluangnya kemudian, jika semua orang bodoh, akan ada proses ilmiah menuju pencerdasan. Karena semua orang melalui panca indera dan ilmu kebatinannya akan terus mencerap setiap kebenaran yang didengungkan oleh alam, makrokosmos dan makhluk hidup seisinya. Hingga semuanya akan berproses bareng menuju manusia yang terpintarkan, manusia yang tidak terbodohkan lagi, manusia yang memiliki bakat kreativitas yang tak terkira-kira.
Tidak setuju Anda, tidak mengapa. Setuju Anda, tidak apa-apa juga. Bebas kok cara menafsirkannya! (**)
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com//
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|