KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniTeologi Inklusif Sebagai Alternatif oleh : Gunoto Saparie
18-Des-2017, 07:04 WIB


 
 
KabarIndonesia - Mendengar istilah "teologi inklusif", saya langsung teringat kepada Nurcholish Madjid. Nurcholish adalah salah seorang cendekiawan muslim yang concern cukup mendalam terhadap persoalan hubungan agama-agama dan dialog antaragama. Ia secara teoritis mengedepankan pencarian dan konsep titik temu agama-agama secara eksplisit
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 


 
OPINI

"Mantra" Mobil Jetset Pak Menteri
Oleh : Supadiyanto S.sos.i. M.i.kom. | 30-Des-2009, 10:22:44 WIB

KabarIndonesia - Pesawat VVIP untuk Pak Presiden kita, dipatok Rp 200 milyar. Nominal itu kelas jentik untuk orang sejetset SBY. Untuk asupan gizi sang purnawirawan jenderal berbintang-bintang itu, Sekretariat Negara juga tak patuh kalkulasi irit-iritan. Lha wong namanya presiden. Ia harus bertubuh gempal, tinggi besar, atletis (meski terkesan sudah terjadi penggemukan di sekujur tubuhnya). 

Tidak seperti kita, mbadok apa saja, mak pluk-pluk. Yang penting kenyang, warek. Roti yang sudah wayu saja, terkadang kita eman-eman untuk tidak memakannya. Eman sekali kalau roti itu dikasihkan pada kucing kesayangan kita. 

Lihatlah kucing. Kucing di rumahnya Pak Pejabat, dengan kucingnya Pak Bon (tukang kebon). Kucing peliharaan Pak Bon, gemuk-gemuk memang. Santapan kesehariannya dapat dikatakan monoton. Tikus, karena di gubuk lapuk milik Pak Bon, tikus-tikus suka bersembunyi di sana. Bejonya, untung sesekali mendapatkan tambahan gizi selain tikus tadi, berwujud tulang belulang ikan wader dan lele. Hasil memancing di sungai sebelah rumah.  Kucing milik pejabat dicukupi gizinya dengan pantang untuk tidak mengasih empat sehat plus susu. Susu khusus untuk kucing, atau terpaksanya tidak ada, dikasih susu bayi bermerek di pasaran. 

Lauknya ikan tuna segar atau ikan kalengan. Ditambah dengan campuran vitamin, agar kutu kucing yang perutnya kemerahan dengan moncong yang lancip kehitaman itu tidak ngendon di rambut si kucing. Kucing milik pejabat saja dimakani dengan menu-menu sekelas hotel. Apalagi juragannya. Pasti tidak terima kalau hanya makan santapan kucing. Ia pasti melahap masakan-masakah oriental atau hidangan khas keraton.

Yang paling sering, para pejabat jajan ke luar negeri menikmati aneka ragam panganan bule. Tak usah kagetan Anda, Pak Presiden pagi ini makan pagi di China, nanti siang jamuan makan di Moskow. Sore hari ia sudah berleha-leha di Istana Inggris, malam harinya ngrahapi ndahar malam di hotel bintang lima dekat Gedung Putih Amerika Serikat. 

Sampeyan bukan kelas presiden atau pejabat lainnya. Sampeyan hanya orang awam yang tak punya kesempatan untuk melongok aktivitas berat, sedang hingga ringan Mr President kita. Ia memiliki beberapa kompi ajudan, Pasukan Pengamanan Presiden. Yang badannya tegap-tegap dan berambut cepak. Mereka adalah orang-orang militer atau sebagian dari kepolisian yang pilihan. Presiden juga memiliki dokter pribadi, pentester makanan. Jumlahnya tak cukup lima orang. Bisa puluhan cacah.

Presiden harus bersabar hatinya kalau ingin mencicipi menu bakso di warung Bu Senok, seberang Jalan Kampung Rambutan. Tehnisnya, beberapa hari sebelum presiden meluncur ke lokasi warung bakso, para ajudan sudah mensterilkan sekitar lokasi. Paling tidak hingga radius 200 meter. Kenapa 200 meter. itu alasan militer, bukan wilayah kita yang menjelaskan detilnya. Kalau salah soal ini, ya dipermaklumkan saja, mohon petinggi TNI untuk melempangkannya. Setelah beberapa hari, lokasi dipantau dan diamankan dari segala gangguan yang mungkin mengincar keselamatan presiden, Paspampres menunjuk beberapa tukang icip-icip makanan. Duh senangnya para tukang pencicip bakso itu, menyendoki kuah bakso yang penuh nikmat.

Tujuan para pencicip itu, agar presiden tak kena sakit atau teracuni. Jangan-jangan, bakso itu ada racun arseniknya. Seperti yang mengakibatkan tewasnya Munir, sang aktivis Komnas HAM kita. Dan pasti wagu, masak ada presiden teracuni? Bisa membikin geger dan menghilangkan kharisma  tim yang mengawal orang nomor satu di Indonesia itu. 

Berbincang soal fasilitas dan kehidupan presiden dan keluarganya, membikin kita semakin cemburu sosial. Kita merasa dalam hati, kenapa yang jadi presiden, SBY. Bukan kita atau yang lain. Amien Rais dan Wiranto, pasti merasa cemburu sosial pada SBY akan itu. Itu perasaan manusia, sebab mereka berdua pernah punya obsesi ingin menjadi RI-1.

Tidak hanya Amien Rais dan Wiranto saja, ada banyak orang lagi yang tak berani mengikrarkan diri ingin menjadi presiden. Termasuk para menteri Kabinet Indonesia Bersatu seri II itu. Ada Pak Andi Malarangeng, halo Pak Menpora, gerakan apa saja yang kini sudah Anda lakukan untuk menduduki Istana Negara. Ada juga Bung Tifatul Sembiring, habis jadi Presiden PKS, ya PKS-nya dihilangkan saja Pak Menkominfo. Biar jadi Presiden, tak Presiden PKS lagi. Semakin banyak orang yang terobsesi menjadi presiden, banggalah kita.

Hatta Rajasa, Mohammad Nuh dan masih banyak lagi, adalah orang-orang yang jelas-jelas sudah mulai menapak karir menuju RI-1. Tak cuma menjadi jongos-nya SBY, selamanya. Dulu SBY, adalah pembantunya Megawati. Lantas naik kasta, menjadi Presiden, mengalahkan juragan lawasnya dengan menggandeng Jusuf Kalla. Kini SBY masih bisa menjadi pemain bertahan, untuk kedua kalinya menjadi Presiden, meski tidak dengan bersama kita bisanya Pak Jusuf Kalla, melainkan bersama kita hanya bisanya dengan Pak Boediono. 

Setiap orang bolah-boleh saya berambisi menjadi presiden. Anak-anak TK, juga sudah banyak yang bercita-cita jadi presiden. Sewaktu mereka ditanyai, apa cita-citamu kelak jika besar? Tidak perempuan atau lelaki, menjawab dengan lugasnya menjadi presiden. Orang-orang dewasa adalah jelmaan dari pribadi anak-anak TK tadi. Jadi, jangan perlu bersalah diri Anda jika dalam kesadaran terahasia bilik hatimu, engkau memiliki motivasi, ambisi, cita-cita, pengharapan ingin jadi presiden.  Biarkan perasaan itu hidup, mengalir dan mengada dalam benak kesadaran Anda. 

Toh kalaupun ambisi itu tidak kesampaian sampai usia Anda manula, tak ada yang rugi dengan ambisi Anda untuk menjadi presiden. Banyak orang yang kemudian menawar ambisinya masing-masing. Gagal mengincar jabatan presiden, menurunkan target lantas menjadi wakil presiden.

Maksud hati ingin mencalonkan diri menjadi Capres, karena kantong kempes, njago saja jadi Gubernur. Gagal jadi Gubernur, yo banting setir nyalon jadi Wakil Gubernur. Kandas juga, sedang umur sudah sepuh, patok target menjadi Bupati. Apes lagi setelah keok dalam ajang Pilkada, ubah haluan menjadi Pak Lurah. Jelek-jeleknya nanti menjadi Pak Aman atau Mantri di pedesaan.

Itulah manusia. Ia memiliki ambisi, motivasi dan cita-cita. Ada yang seperti Ken Arok, mewujudkan ambisi dengan berdarah-darah. Segala langkah ia halalkan, segala yang haram ia bolehkan, yang halal tidak digagas. Atau seperti Roberto Micheletti yang gemilang melakukan kudeta politik di Honduras. 

Atau seperti langkah gaib SBY yang gemilang mengantori Istana Negara hingga dua kali, tanpa kesan ada rekayasa. Dengan langkah mulus, murni dan ajaib. Cita-cita tertinggi setiap kopral adalah menjadi jenderal, Panglima TNI atau Kapolri. Cita-cita teratas setiap Sarjana adalah menjadi profesor. Ambisi terpuncak semua murid adalah menjadi guru. Cita-cita setiap pelacur itu, tidak ada yang bercita-cita dulu ingin menjadi pekerja seks komersiil atau tidak komersiil. 

Mereka bercita-cita menjadi sarjana sukses, pengusaha tenar, artis beken, konglomerat, politikus, polisi, tentara, ibu rumah tangga yang baik, dan profesi mulia lainnya. Ambisi apapun, setinggi apapun yang ada dalam benak dan jiwa kita, tak ada yang melarang. Namun punyai ambisi melangit, tanpa ada langkah-langkah strategis untuk menuju ke titik sasaran ambisi itu, kita bilang sebagai orang mengkhayal. 

Lebih edan lagi, kita bilang mereka orang gila. Terkadang saja orang-orang yang punya ambisi muluk-muluk dan sudah sangat maksimal melakukan upaya-upaya taktis merealisasikan ambisi terpendam itu, masih banyak yang gagal. Apalagi, yang tidak melakukan apa-apa tindakan. Seperti Nabi Muhammad yang bermalas-malasan menunggu wahyu langit, tanpa melakukan hijrah, berperang, berdiplomasi, berstrategi budaya, membunuh pihak musuh sekaligus mengampuni kesalahan lawan dan langkah kerja manusia kebanyakan. 

Muhammad saja, sebagai seorang nabi dan rasul, ia masih harus berdarah-darah untuk bisa meraih ambisi tersucinya menjadi "presiden"nya umat Islam se-Arab. Kok kita mau meraih ambisi kita, inginnya terima matangnya saja. Ingin yang instan-instan saja. Mau yang gampang-gampang saja. 

Baru-baru ini, puluhan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu seri II, klecam-klecem baru peroleh fasilitas mobil kinyis-kinyis. Mobil mewah, kata makelar mobil. Mobil jetset, kelakar seorang menteri, yang tak mau disebutkan namanya. Mobil tanpa bising, celoteh sang sopir pribadi para menteri itu. Hanya sebagai mobil penunjang kerja, tegas SBY dalam sebuah kesempatan. 

Kata orang tua, menolak rejeki itu tidak baik. Tidak tahu, tidak baik untuk siapa. Tidak baik untuk apa. Dua itu, tidak penting dibincangkan. Yang terpenting, kita tak perlu sewot dengan itu. Turut senang sajalah kita, melihat para menteri kita begitu gagah dan cantiknya menaiki mobil mewah yang masih direyen itu. Duka sekali kita, andaikata para menteri kita nyelekutis. Berpakaian compang-camping, seperti kanjeng Nabi Muhammad. Kita belum siap mental untuk menerima kenyataan, Pak Menteri harus rela memikul sekarung gandum untuk diberikan kepada keluarga miskin di samping rumahnya.

Kita juga melas dong, seandainya Pak atau Bu Menteri itu harus mengayuh sepeda pancal, dari rumah pribadi hingga kantornya.  Pak Lurah saja sudah banyak yang bermobil, sekarang. Betapa ngenesnya, seandainya Pak Sutanto mesti bercucuran keringat ketika memimpin rapat bawahannya, gara-gara harus jalan kaki dengan sepatu setengah sobek dengan alasan ingin tampil sederhana. 

Rakyat tak usah bersungut-sungut dengan kebijakan sang presiden kita, kali ini. Memberikan kado akhir tahun dengan
banjir hadiah berujud mobil mewah. Mewah, mepet sawah. Plesetan khas orang-orang Yogya. Kalau ada banyak orang yang memprotes pembagian mobil-mobil mewah itu kepada para tangan kanan presiden itu, mungkin ada empat alasan.

Alasan pertama, murni karena menginginkan agar uang negara
dibelanjakan untuk keperluan rakyat. Bukan untuk kefoya-foyaan pejabat sekaliber menteri. Dalih lain, mereka adalah orang-orang kritis yang selama ini diposisikan sebagai lawan politik SBY. Maksudnya, ingin menjatuhkan martabat dan kebijakan pemerintah demi dan atas nama rakyat. 

Tiga, para pemrotes itu adalah pengusaha mobil mewah bukan Toyota. "Kenapa presiden membeli Toyota, bukan BMW atau Suzuki dll". Empat,para pemotres itu cemburu sosial. Tidak kebagian jatah, hadiah mobil-mobil yang harganya tak ratusan juta. Masing-masing bahkan kabarnya mobil jetset itu dibandrol seharga Rp 1,3 milyar. Kalau ada 30 jongos presiden yang menerima mobil mewah, Toyota Crown Royal Saloon saja, sama dengan Rp 39 milyar.

Komisinya untuk lingkaran Istana Negara berapa? Bonus untuk wakil-wakil rakyat yang meng-ACC kebijakan itu, dikasih berapa? Diskon yang dikasihkan kepada mediatornya berapaan? Apa itu oleh-oleh dari hasil lawatan SBY dari luar negeri selama beberapa hari sepanjang bulan Desember 2009 ini? Toyoya Crown Royal Saloon, ada idiom Toyota-nya, berarti pemiliknya orang Jepang, bermata sipit.

Apa SBY baru saja bersua dengan PM Jepang dan kroninya? Atau ada kontak khusus antara SBY dan petinggi Jepang, sehingga kado mobil jetset di akhir tahun 2009 ini, sebagai salam tempel kedua belah pihak untuk menjalinkan kerjasama yang saling menguntungkan, di tahun 2010 besok. Semoga, kans dugaan yang terakhir tadi yang benar adanya.

Bukan sebagai upaya Istana Presiden agar para menteri itu tetap loyal pada presiden. Tidak membekap SBY dari belakang atau depan, samping atau atas dan bawah, melengserkannya dari tampuk kursi kepresidenan hingga 2014. Siapa tahu lagi, 2014-2019 mendatang, SBY bisa lagi jadi presiden untuk ketiga kalinya. Tentu dengan mengamandemen UU Pilpres, agar membolehkan presiden menjabat untuk yang ketiga, keempat, kelima dan sebosannya menjadi presiden. 

Seperti menjadi Gubernur dan wakil Gubernur DIY, seumur hidup. Tidak apa-apa, asal didukung rakyat. Negara mau apa? Pemerintah mau, apa? Rakyat terus kenapa? (**) 

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017oleh : Rohmah Sugiarti
16-Des-2017, 22:18 WIB


 
  Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017 PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) bersama main dealer di 36 kota Indonesia gelar kembali Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki (KAWIR). KAWIR pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Kali ini
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia