KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalMendagri Tjahjo Kumolo Himbau Masyarakat Gelar Doa Bersama Untuk Keselamatan Bangsa oleh : Danny Melani Butarbutar
16-Okt-2019, 10:13 WIB


 
  KabarIndonesia - Jakarta, Mengutip Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI Nomor111/11285/SJ tanggal15 Oktober 2019, dikabarkan bahwa Komunitas Lintas Agama dan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa akan menggelar Doa Bersama. Doa bersama tersebut akan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Rayuan Gombal vs Cinta Sejati 11 Okt 2019 08:58 WIB


 

Akankah GKT Lolos Masuk Menjadi Anggota UNESCO Global Geopark? (1)

 
OPINI

Akankah GKT Lolos Masuk Menjadi Anggota UNESCO Global Geopark? (1)
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 27-Mei-2019, 12:36:32 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Masihkah kita ingat bahwa Pemerintah menargetkan Danau Toba masuk dalam geopark dunia oleh Unesco akhir September 2015. Namun harapan itu sirna, bahkan hingga beberapa tahun kemudian tidak ada tanda-tanda untuk itu. Ascessor UNESCO selalu mengupdate kondisi kawasan Geopark Kaldera Toba, dan menyampaikan rekomendasi atas hal-hal yang harus dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat.

Kini di tahun 2019 kembali dipertanyakan, bagaimana peluang danau kaldera terbesar ini masuk menjadi global geopark network? Ada sikap pesimis yang terlontar dari warga masyarakat melihat kondisi lingkungan dan air danau toba yang makin memprihatinkan.

Tidak saja elemen masyarakat yang tinggal di kawasan kaldera Toba, juga para peneliti, akademisi, tokoh masyarakat adat, pemerhati dan pegiat lingkungan hidup "berteriak" akan kondisi lingkungan Danau Toba. Bahkan pihak Bank Dunia pun telah melaporkan hasil auditnya kepada Menko Kemaritiman Luhut B. Panjaitan.

Perwakilan Bank Dunia yang datang ke kantor Menko Luhut Panjaitan adalah Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Rodrigo A Chaves, pada Senin (19/11/2018)

Menurut Menko Luhut, hasil audit Bank Dunia sejak 2009 menyimpulkan bahwa Danau Toba mengalami kerusakan parah, lantaran airnya sudah kotor.
"Ternyata Danau Toba itu kerusakannya sangat parah, jadi hanya 50 meter airnya punya oksigen, di bawahnya tidak ada oksigen. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada hutan. Banyak pohon yang ditebang di sekitar Danau Toba."
ujar Luhut, ketika itu.

Sebagaimana disebutkan di atas, seyogianya akhir September 2015 Geopark Kaldera Toba (GKT) sudah menjadi anggota UNESCO Geopark Global (UGG). Namun karena beberapa persyaratan tidak dapat dipenuhi, maka ketika itu GKT "tertunda" menjadi anggota UGG. Diusulkan kembali tahun berikutnya dengan beberapa rekomendasi terkait manajemen dan tindakan lapangan.

Sesungguhnya, hasil audit Bank Dunia tersebut sudah pernah dibahas di gedung pusat informasi GKT dengan pembicara Wilmar Simanjorang, manajer geoarea Samosir.

Menurut Wilmar, ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian dan tindakan nyata. Pertama, bahwa air danau sudah tercemar, dan pendangkalan terus terjadi. Air Toba tercemar keramba jaring apung skala besar, penggunaan bahan kimia berbahaya, dan eksploitasi galian C. Kedua, kondisi krisis lingkungan danau ini karena penebangan hutan, pembakaran lahan menjadi perkebunan dan HTI yang mengubah hutan alam menjadi ekaliptus. Ketiga, cagar budaya hancur, bebatuan peninggalan sejarah digali dan rusak.

Wilmar mengatakan bahwa, dampak ketiga masalah tersebut adalah terjadi kerusakan ekosistem di kawasan danau toba. Hasil penelitian dan pantauan lapangan mereka, terjadi penurunan kualitas lingkungan cukup di Toba. Indeks kualitas lingkungan hidup meliputi kualitas air, kualitas udara, dan tutupan lahan, berada pada 60,75. Indeks ini, turun 13,73 point atau 18,4% dari tahun 2011 sebesar 74,5.

Lebih lanjut dikatakannya, unsur dan tatanan geodiversity, culturedeversity, dan biodiversity sudah dirusak. Batu dan kayu dihabisi para penjahat kehutanan dan pihak tak bertanggungjawab, di-backup oknum pejabat pemegang kebijakan. Dia menyoroti perusakan hutan di sekitar Toba, oleh perusahaan, kelompok, bahkan perorangan, diberikan izin pemerintah.

"Mereka ini mengantongi izin, misal hutan tanaman industri (HTI) dan izin pengelolaan kayu (IPK). Dampak beragam perizinan ini, pada 2012, tutupan hutan di sekitar Toba tinggal 57.604,88 hektar atau 15,27%. Angka ini, jauh dari minimal 30% dari luas hutan 356.800 hektar disana." sebut mantan penjabat bupati Samosir dan pegiat lingkungan hidup.

Wilmar memperkirakan, penurunan kualitas lingkungan, akan bertambah parah, apalagi perusakan hutan di sekitar danau terus berlangsung. Untuk mencapai target perbaikannya akan sangat berat. "Kondisi tambah parah kala pemerintah tidak memperhatikan masalah ini" ujarnya dengan pesimis.

Apa yang dikeluhkan masyarakat, sebagimana disampaikan Wilmar diatas, dikaitkan dengan laporan Bank Dunia menyangkut masalah dan kondisi Danau (kaldera) Toba, diakui telah terjadi bertahun-tahun

Menko Maritim mengatakan Danau Toba mengalami kerusakan parah, airnya kotor, tercemar. Begitu juga lingkungannya sudah rusak, banyak pohon ditebang, lahan dibakar. Lingkungan hidup sudah tidak sehat.

Terkait dengan kerusakan air danau dan hutan di kawasan DanauToba, Menko Maritim menyatakan bahwa pemerintah akan segera mengambil tindakan dan solusi terutama jika masalah ini dikaitkan dengan pariwisata.

"Ternyata Danau Toba itu kerusakannya sangat parah, jadi hanya 50 meter airnya punya oksigen, di bawahnya tidak oksigen. Tidak sehat sebetulnya itu harus dibersihkan. Keramba itu nggak bisa nggak, harus dibuang. Kemudian ada peternakan babi, buang limbah ke situ nggak boleh. Terus rumah hotel. Karena kalau nggak, itu danau habis dan tujuan pariwisata tak tercapai," jelasnya, usai menerima laporan perwakilan Bank Dunia, pada Senin (19/11/2018)

"Kerusakan juga terjadi pada hutan, banyak pohon yang ditebang di sekitar Danau Toba. Hutan-hutan yang dipotong itu harus ditanami kembali dan kepemilikan lahan hutan, Presiden secara khusus bilang ke saya akan diambil langkah untuk mengurangi. Danau Toba itu kan tujuan wisata, kalau tujuan wisata lingkungan nggak bagus siapa yang mau datang?," ujarnya.

Benarkah Air Danau Toba Tercemar?

Terkait dengan polemik masalah air danau toba, penulis mencermati, setidaknya ada dua permasalahan Danau Toba yang jadi bahasan yakni pengendalian keramba jaring apung (KJA) yang menyebabkan kualitas air makin rusak dan pengendalian transportasi demi kenyamanan perairan

Soal keramba dan kualitas air Danau Toba, Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis hasil penelitian soal ekosistem Danau Toba untuk perbaikan kualitas air.

Sumber media menjelaskan bahwa sejak 2009, LIPI telah melakukan kajian dengan mengintegrasikan hidrodinamika (pergerakan air) dengan seluruh komponen penyusun ekosistem Danau Toba, baik fisik, biologi, kimia, hingga meteorologinya. Hidrodinamika ini jadi penting, sebagai syarat utama pemahaman sistem di danau, mempelajari pola arus dan pola pergerakan material. Ia juga modal awal menentukan zonasi pemanfaatan ruang di badan air danau.

Menurut LIPI, saat ini kapasitas keramba jaring apung sudah dianggap berlebihan, merekomendasikan perlunya mengurangi jumlah keramba jaring apung untuk memperbaiki kualitas air serta pembatasan jumlah produksi ikan per tahun dengan memperhitungkan daya dukung lingkungan.

Hadiid Agita Rustini, peneliti Hidrodinamika dan kualitas air Puslit Limnologi LIPI mengatakan, keseluruhan KJA tak boleh lebih dari 543 dengan maksimal produksi 1.430 ton untuk mendapatkan kualitas air pada kondisi oligotrofik (standar air bersih dan tidak tercemar.

Soal kapasitas produksi, kata Agita Rustini, merupakan rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada pada Gubernur Sumatera Utara. Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/213/KPTS/2017 maksimum kapasitas produksi 10.000 ton per tahun.

Saat ini, produksi ikan budidaya di Danau Toba enam kali lipat dari rekomendasi yakni, 65.000 ton per tahun. Kotoran atau feses ikan yang membuat kondisi perairan danau ini buruk.

Berdasarkan data citra satelit Spot VII pada 2016, terdapat sekitar 11.282 KJA di Danau Toba. Di Haranggaol, akibat banyaknya KJA dengan kepadatan tinggi sekitar 1.000 KJA per 300×300 meter, air sudah tidak dapat dikonsumsi. Kemudian di Parapat, Silalahi, dengan kepadatan KJA tinggi dan status kualitas air hipertrofik (paling rusak). Pencemaran ini, berada kedalaman sampai 20 meter, ( kedalaman 20-30 meter, kondisi air oligotrofik/baik).

Menurut Agita Rustini, meski belum memiliki kajian, namun jika rekomendasi KLHK dilakukan, penghapusan dari 11.282 ke 543, tidak memerlukan waktu lama bisa memulihkan kualitas air di Danau Toba. Artinya, kala penyebab pencemaran (feses ikan) ini berkurang, danau dapat memproses air jadi anorganik.

Bahkan dari hasil pemodelan penelitian, Danau Toba tak mengalami eurotrofik (hipertrofik) tanpa ada KJA, meski mendapatkan pencemaran dari sungai ataupun kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Begitu juga, danau tetap eurotrofik (hipertrofik) tanpa pencemaran dari sungai namun masih ada aktivitas KJA. ”Ternyata sungai tidak terlalu signifikan berpengaruh (pencemarannya), hanya di bagian muara. jika dibandingkan kehadiran KJA,” jelas Agita.

Terkait waktu pemulihan air danau toba, Fauzan Ali, Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI, mengatakan bahwa Danau Toba memiliki waktu 78 tahun untuk mengembalikan ekosistem seperti semula. Ekosistem memiliki kemampuan membersihkan diri sendiri, jika berada dalam daya dukung yang baik.

" Namun demikian, sebenarnya tak perlu menunggu 78 tahun jika mau mendorong pariwisata dengan nol KJA, karena pada dasarnya danau bukan tempat keramba tetapi untuk dinikmati keindahannya, manfaatkan air untuk kehidupan, bukan dikotori tapi dirawat.” pungkas Fauzan.

Selain LIPI, jurnal Universitas Medan (Unimed) dalam http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/geo, merilis Kajian (penelitian) tingkat Pencemaran Air di kawasan perairan Danau Toba desa Silima Lombu kecamatan Onan Runggu, kabupaten Samosir.

Unimed menyimpulkan bahwa kualitas perairan Danau Toba di kawasan desa Silima Lombu yang tergolong normal dengan suhu berkisar 240C-260C, kekeruhan 0,77 NTU-1,90 NTU. Warna perairan semakin dekat keramba semakin berubah, semakin dekat dengan keramba bau dan rasa perairan terasa pekat dan bau pakan campur amis ikan. pH 8,4-8,12, DO 8,010 mg/l-8,650 mg/l, amonia 0,08 mg/l – 0,24 mg/l dan nitrat 1,2 mg/l – 5,4 mg/l, dan yang tergolong tinggi BOD 0,990 mg/l-90,76 mg/l, COD 3,093 mg/l-283 mg/l dan fosfat 0,01 mg/l- 0,21 mg/l. Jika ditinjau dengan menggunakan metode Storet, perairan dikategori dikelas C (cemar sedang). Tingkat kesuburan perairan menurut kriteria Soegianto adalah eutrofik (subur) dan pengukuran tingkat pencemaran menggunakan indeks keseragaman fitoplankton adalah 1,125-2,471 termasuk dalam kategori tercemar sedang.

Pemahaman masyarakat di kawasan Danau Toba, bahwa kehadiran KJA perusahaan perikanan lah yang menjadi penyebab pencemaran air di danau toba melalui penaburan pakan ikan (pellet) yang cukup besar. Mencermati hal ini, Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) melalui PTUN Jakarta mengajukan gugatan kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Aquafarm.

Memang, hasil penelitian Bank Dunia menyebutkan, pencemaran itu tidak hanya dari KJA tapi juga dari limbah peternakan babi, limbah rumah tangga dan industri serta dampak abrasi akibat hutan penyanggah yang gundul.

Menurut Agita Rustini, peneliti LIPI, bahwa kotoran atau feses ikan lah yang membuat kondisi perairan danau toba buruk. ”Jika ada yang menyebutkan dari pakan ikan, saya rasa pembudidaya sangat memperhitungkan sisi ekonomi. Tidak mungkin memberikan pakan terlalu banyak hingga terbuang-buang,” katanya.

Namun pernyataan ini nampaknya terbantahkan dengan pengakuan Freek Huskens, mantan Presiden Direktur PT Aquafarm Nusantara (disingkat Aquafarm).

"Sebanyak 1,8 Ton pelet ikan ditabur untuk 1 ton ikan per hari, dan tahun 2014 Aquafarm memproduksi 37.000 Ton ikan," akunya pada sidang lanjutan gugatan Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) melawan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Aquafarm pada Rabu 21 Februari 2018 di PTUN Jakarta.

Menanggapi pengajuan Freek Huskens, Robert Paruhum Siahaan, SH, Ketua Tim Litigasi YPDT sekaligus Kuasa Hukum YPDT menyampaikan bahwa perusahaan telah memasukkan ribuan ton pellet ke danau toba.

"Jika 1 Ton ikan butuh 1,8 Ton pelet, ini berarti tahun 2014 Aquafarm memasukkan sekitar per tahun 66.600 Ton atau per bulan 5.550 Ton atau per hari 185 Ton," ujarnya di depan persidangan.

Dapat dibayangkan, jikalau pelet sebanyak itu diberikan kepada ribuan ton ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Aquafarm, maka dalam 1 tahun (365 hari) dikalikan 1,8 ton sama dengan 65.700 ton pelet. Dan seandainya 1% saja dari pelet itu mencemari Danau Toba, maka sekitar 657 ton pelet berpotensi mencemari perairan danau tersebut dalam 1 tahun.

Saksi fakta lapangan bahwa PT Aquafarm mulai mengoperasikan KJA sejak tahun 1998 hingga sekarang. Ini berarti potensi pencemaran Danau Toba dari pelet ikan dapat kita hitung adalah 19 tahun x 657 ton = 12.483 ton pelet. Angka yang fantastis. Bagaimana Danau Toba tidak tercemar ?. (Bersambung)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia