|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|

OPINI
Aku Orang Indonesia
Oleh : Henny Listyowati | 11-Jun-2009, 18:38:54 WIB
|
KabarIndonesia - Masihkah saya bangga menjadi warga negara Indonesia? Pertanyaan itu mengganggu pikiran saya selama 3 bulan terakhir ini. Tidak, bukan itu ternyata yang mengganggu. Rasa sedih dan prihatin yang mendera hati sehingga timbul pertanyaan itu.
Sedih karena apa? Tidakkah kita sedih mendengar kabar bahwa setiap 2 tahun kita kehilangan 2 bahasa suku, maksud saya ada 2 bahasa suku bangsa yang punah? Tidakkah kita sedih mendengar kabar bahwa beberapa naskah kuno peninggalan kerajaan Melayu Tua berhasil dibeli, sekali lagi dibeli oleh negara tetangga kita yang terhormat Malaysia, sebagai bahan legitimasi bahwa Malaysia is The Truly Asia.
Tidakkah kita sedih melihat sedikit demi sedikit tarian-tarian indah Melayu, Jawa, dan Bali lebih dikuasai oleh warga negara lain dibandingkan warga negara Indonesia sendiri? Saya bukanlah orang yang anti modernisasi atau globalisasi, tidak, saya justru mendukung hal itu karena memang perubahan dan perkembangan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Tetapi seiring dengan perubahan dan perkembangan itu ada sesuatu yang hilang sedikit demi sedikit, dan kita tidak menyadarinya.
Apa itu? Karakter, jati diri, identitas kita sebagai warga bangsa yang bernama Indonesia yang dibangun oleh (bukan diatas) keragaman budaya, keragaman bahasa, keragaman hasil budaya lainnya. Itu yang terkikis sedikit demi sedikit. Dalam tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa budaya adalah akar bangsa ini. Indonesia dibangun oleh budaya-budaya agung yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.
Modernisasi dan globalisasi jangan membuat kita menjadi gagap terhadap diri kita sendiri, satu contoh yang saya maksud dengan gagap disini; suatu hari saya bertemu dengan teman semasa SMA setelah ngobrol sana sini bernostalgia entah darimana akhirnya pembicaraan mengalir ke arah buku, teman saya ini sedang memburu novel berseri yang bercerita tentang kehidupan cinta bangsa vampire dan bangsa manusia (ya...tentu kita sudah tahu semua novel yang sedang digandrungi hampir semua warga dunia yang kemudian novel ini diangkat menjadi sebuah film layar lebar)
Teman saya dengan antusias bagaimana dia terobsesi dengan tokoh-tokoh dalam cerita itu, dasar saya jahil, ditengah-tengah cerita saya bertanya pernah dengar atau baca novel karya Mas Langit Kresna, sejenak dia terdiam...pertanyaan saya lanjutkan (wong saya masih jahil mode on) oke deh, pernah baca novel triloginya almarhum Romo Mangun, lagi-lagi dia terdiam...(jahil mode off) sekarang giliran saya yang tersenyum (hati saya menangis) kemudian memintanya melanjutkan cerita.
Contoh tersebut kalau boleh saya katakan itulah bagian yang tanpa kita sadari sedikit demi sedikit terkikis. Kesadaran inilah yang kita butuhkan, kesadaran bahwa seiring dengan modernisasi dan globalisasi ada sesuatu yang akan hilang jika kita tidak segera sadar dan memperbaikinya. Bagaimana caranya? Gak usah muluk-muluklah, mulailah dari diri kita sendiri. Akar budaya saya adalah Jawa tepatnya Yogyakarta, kami sekeluarga (kedua orangtua, dan adik-adik) sedang melakukan pembelajaran pada keponakan saya (sampai saat ini masih satu-satunya) tentang budaya Jawa dan budaya Indonesia.
Koleksi buku cerita atau cakram digital (cd) kami lengkapi dengan cerita-cerita lokal semacam Ciung Wanara, Cindelaras, Batu Menangis, Banyuwangi, dan semacamnya. Tujuannya adalah selain dia mengenal tokoh Putih Salju atau Cinderela, dia juga akrab dengan tokoh dalam cerita rakyat. Kami sekeluarga bercita-cita kelak ketika dia dewasa, dengan bangga dia mengatakan saya orang Indonesia. (*)
Sumber gambar: Google
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com/
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|