KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
OPINI

Apakah Amunisi SAGL Brimob Masuk Standar Militer?
Oleh : Iin Suwandi | 11-Okt-2017, 06:59:01 WIB

KabarIndonesia - Undang Undang No 2 Tahun 2002  tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, pada Bab III pasal 13 menjelaskan tugas dan wewenang Kepolisian  adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,  menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Selaku warga negara tentunya tugas kita adalah untuk mengembalikan Polisi ke posisi semula sesuai dengan amanat UUD 1945. Saat ini tampaknya posisi Polisi patut menjadi sebuah gerakan bersama. Pasalnya, dalam berbagai hal seperti kepemilikan senjata api, polisi tampak sudah tidak ada batasannya lagi alias sama dengan TNI, padahal polisi bukan kombatan, bukan unit tempur.
Salah satu upaya penyelesaian ini adalah dengan cara membuat batasan yang jelas dan transparan soal persenjataan atau alutsista Polri, sehingga tidak meniru-niru alutsista TNI. Sebab, tugas utama Polri sesuai UU adalah melindungi, mengayomi dan melayani serta melakukan penegakan hukum di masyarakat. Sebab itu dalam menjaga keamanan masyarakat, anggota Polri diperkenankan memegang senjata api. Tapi senjata api anggota Polri hanya sebatas untuk melumpuhkan, artinya jenis senjata apinya harus jauh berbeda dengan senjata api TNI atau militer, yang berfungsi untuk perang. 
Sebagaimana yang dilansir oleh berbagai media,  Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Wuryanto menjelaskan bahwa amunisi senjata Stand Alone Grenade Lancher (SAGL) yang dibeli Korps Brimob Mabes Polri tergolong amunisi tajam ukurannya tidak sesuai standar.  Bahkan apabila mengacu Inpres Nomor 9 tahun 1976 tentang pengawasan dan pengendalian senjata api, maka kaliber amunisi Brimob ini sudah masuk standar militer, yakni 5,56 mm.  
Oleh karena itulah maka amunisi SAGL itu sejak Senin malam (9/10) dipindahkan ke Mabes TNI, namun senjata SAGL sudah diserahkan ke kepolisian. "Polri masih bisa menggunakan senjata SAGL, yang amunisinya diganti granat asap yang sesuai standar nonmiliter," tuturnya. 
Seperti diketahui, amunisi yang dibeli Brimob merupakan amunisi tajam, yang memiliki radius mematikan 9 meter dengan jarak capai 400 meter," kata Kapuspen TNI saat jumpa pers, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Selasa.  Keistimewaan amunisi ini adalah setelah meledak, kemudian meledak kedua dan menimbulkan pecahan logam-logam kecil yang dapat melukai dan mematikan. Bahkan, amunisi ini bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras senjata. "Ini luar bisa. TNI tidak punya senjata seperti itu ," kata Wuryanto. 
Secara jujur jika kita  perhatikan  saat ini komposisi alutsista Polri (Brimob dan Densus 88) yang serupa milik alutsista TNI.  Bahkan amunis SAGL ini melebihi dari TNI karena bukan hanya daya kejut saja tapi juga mematikan. Padahal Brimob dan Densus 88  dibawah Polri itu jelas bukan dibuat untuk kepentingan tempur layaknya TNI. Parahnya lagi, Brimob diketahui sudah memiliki kendaraan lapis baja Barakuda yang mirip dengan Panser TNI, senapan SS dan peluncur granat standar militer. Begitu juga dengan Densus 88 Antiteror yang hampir seluruh senjata apinya mengikuti alutsista militer. 
Sesuai dengan   Permenhan Nomor 7 Tahun 2010  itu menyebutkan yang dimaksud dengan senjata api standar militer adalah senjata api yang digunakan oleh TNI untuk membunuh dalam rangka tugas pertahanan negara dengan kaliber laras mulai dari 5,56 mm ke atas dengan sistem kerja semi otomatis atau full otomatis, termasuk yang telah dimodifikasi. Sedangkan senjata api non standar militer adalah senjata api yang dipakai untuk melumpuhkan dalam rangka tugas penegakan hukum dan kamtibmas, kepentingan olah raga, menembak dan berburu serta koleksi dengan kaliber aras di bawah 5,56 mm dengan sistem kerja non otomatis, termasuk yang telah dimodifikasi.
Oleh karenanya kita berharap ke depan kita harus peka terhadap berbagai macam ancaman yang mengintip NKRI. Jangan habiskan waktu seperti ini untuk berpolemik. Standar alutsista Polri harus dituntaskan, agar tidak terjadi konflik di jajaran bawah TNI dan Polri. 
Komisi III DPR-RI harus memperjelas kepada Brimob dan Densus 88, seperti apa seharusnya alutsista mereka agar tidak bergaya militer atau meniru-niru alutsista TNI. Jika polemik ini  diselesaikan secara benar dan baik dipastikan tidak akan lagi akal-akalan sipil ingin bergaya militer.(*)    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia