KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupPembangunan PLTB Membuat Hutan Gunung Slamet Terancam Tak Selamat oleh : Rohmah Sugiarti
15-Aug-2017, 02:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah yang memiliki hutan tropis alami terakhir di Pulau Jawa dengan berbagai kekayaan flora dan fauna khas mulai dari Elang Jawa, Macan Tutul, Anggrek Gunung, hingga spesies Katak yang belum diberi nama,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Sajak Kodok I 17 Aug 2017 09:09 WIB

Rintih Sedih Diriku Padamu 17 Aug 2017 09:08 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

CORETAN KI SEMAR:  Cahaya Soekarno Telah Redup

 
OPINI

CORETAN KI SEMAR: Cahaya Soekarno Telah Redup
Oleh : Tony Mardianto | 22-Sep-2009, 01:49:45 WIB

KabarIndonesia - Apapun gelar yang disandang manusia, pada akhirnya harus tunduk pada kekuasaan yang Kuasa. Tak terkecuali Soekarno Putera Sang Fajar.

Sejak tahun 1920-an sampai tahun 1966 tiada sosok yang lebih agung di bumi Nusantara ini selain Soekarno. Berbagai gelar disandang oleh murid HOS. Cokro Aminoto ini, Proklamator, Presiden RI, Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi ABRI dan berbagai gelar lainnya. Tapi sayang hukum alam ternyata demikian kuat, siapa berani memulai suatu kemegahan, maka harus tegar pula menghadapi keruntuhan.

Permainan politik dan perebutan kekuasaan (masih dalam polemik) telah mengakhiri dan melucuti berbagai bintang di pundak Bung Karno.  Bung Karno, di akhir hayat hidupnya sangat nista. Ia dinista oleh penguasa ketika itu. Ia sakit, dan tidak mendapat perawatan yang semestinya bagi seorang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus tokoh pemersatu bangsa. Bahkan untuk sekadar bisa menghirup udara Jakarta (dari pengasingannya di Bogor), ia harus menulis surat dengan sangat memelas kepada Soeharto.

Hari-hari terakhir Bung Karno ini, Penulis penggal mulai dari peristiwa tanggal 16 Juni 1970 ketika Bung Karno dibawa ke RSPAD (Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto).  Ia dibawa pukul 20.15 WIB, hari Selasa.  Ada banyak versi mengenai peristiwa ini. Di antaranya ada yang menyebutkan, Sukarno dibawa paksa dengan tandu ke rumah sakit. Demikian sebuah kesaksian apabila telah berbau aroma politik, semua menjadi tidak jelas. Mengambang mengikuti arus politik yang ada saat itu.

Salah satu istri bung Karno, Dewi Sukarno yang mengkonfirmasi alasan militer, bahwa Bung Karno dibawa ke RS karena koma. Dewi mendapat keterangan yang bertolak belakang. Waktu itu, tentara datang membawa tandu dan memaksa Bung Karno masuk tandu. Tentara tidak menghiraukan penolakan Bung Karno, dan tetap memaksanya masuk tandu dengan sangat kasar. Sama kasarnya ketika tentara mendorong masuk tubuh Bung Karno yang sakit-sakitan ke dalam mobil berpengawal, usai menghadiri pernikahan Guntur. Bahkan ketika tangannya hendak melambai ke khalayak, tentara menariknya dengan kasar.

Adalah Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di saat-saat akhir. Demi mendengar bapaknya dibawa ke RSPAD, ia pun bergegas ke rumah sakit. Betapa murka hati Rachma melihat tentara berjaga-jaga sangat ketat. Hati Rachma mengumpat, dalam kondisi ayahndanya yang begitu parah, toh masih dijaga ketat seperti pelarian.

“Apakah Bapak begitu berbahaya, sehingga harus terus-menerus dijaga?” demikian hatinya berontak.

Dalam suasana tegang, tampak Bung Karno tergolek lemah di sebuah ruang ujung bercat kelabu. Tak ada keterangan ruang ICU atau darurat sebagaimana mestinya perlakuan terhadap pasien yang koma. Tampak jarum infus menempel di tangannya, serta kedok asam untuk membantu pernapasannya. Sekali lagi nafas politik sangat menentukan sejarah seorang tokoh. Pada era 20-an sampai 50-an, Soekarno dipuja bagaikan dewa, pada era 60-an Bung Karno menjadi tumpuan berbagai hujatan, pemburu wanita, Gestapu Agung, diktator, komunis dan masih panjang antrian sebuatan keji bagi Insinyur lulusan ITB ini.

Hari ini Bung Karno kembali dipuja laksana dewa. Semua berebut menyatukan tali ikatan dengan Bung Karno.  Hari esok, entah apa yang kan terjadi pada sosok Soekarno, yang jelas Soekarno sudah tidak peduli lagi akan semua itu. Mempertanggungjawabkan semua perjalanan hidupnya selama di dunia menjadi prioritas utama saat kini dia telah menghadap yang Kuasa.   (*)


Sumber Foto:  images.search.yahoo.com


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!!
Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
Beda Hemat dan Pelit 15 Aug 2017 02:01 WIB


 
Timnas U-22 Berangkat ke Malaysia 13 Aug 2017 11:00 WIB

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia