KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Danau Toba Bukan Danau Tuba
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 14-Okt-2017, 05:14:03 WIB

KabarIndonesia, Beberapa hari yang lalu selepas me­nga­jar, saya tidak lang­sung kembali kerumah. Saya pergi menuju Ja­lan Mo­ngin­sidi No 45 T Medan. Tu­juan saya ke sana bukanlah suatu hal yang ke­be­tul­an. Di sana kami akan me­ngadakan au­diensi dengan JPIC Ka­pusin Medan bersama dengan rekan-re­kan Toba Writers Forum (TWF). Per­bin­cangan kami disana dimulai dengan mem­bahas hal ringan, seperti dari cikal bakal lahirnya TWF hingga hal-hal lain yang menjurus serius. Yang serius itu adalah ketika kami mem­bincangkan topik "Me­nunggu Da­nau Baru". Mengapa "Menunggu Danau Baru"? Banyak alasan yang bisa disu­guh­kan. Sebagai misal, kita lihatlah ke pe­ngalaman di saat mana kita hanya bisa me­nunggu. Hanya bisa menunggu karena kita bukanlah pengambil kebi­jakan. Da­lam pada itulah, mewakili masyara­kat yang bisa ha­nya menunggu, kami dari TWF mencoba mengurai persoalan Da­nau Toba dari berbagai aspek, ter­utama ling­kungan. JPIC Kapusin Medan sejauh ini ter­masuk gegas memper­juangkan lingku­ngan hidup dan pendampingan masyara­kat di sekitar Danau Toba. Diskusi itu berlanjut dengan pemaparan dari Thomp­son HS, seorang pegiat budaya yang gencar memperjuangkan keasrian Danau Toba. Pada saat itu, dia mema­par­kan bahwa mengangkat Danau Toba salah satunya bisa lewat strategi kebu­da­yaan, seperti pentas keliling, opera, tari, dan sebagainya. "Berbicara tentang Da­nau Toba mau tak mau kita mesti mem­bincangkan air. Danau Toba itu ma­salah air. Artinya, jika airnya sudah ru­sak, Danau Toba bukan lagi danau. Saat itu Danau Toba resmi men­jadi danau tuba," demikian kata Thomp­son HS. Ibarat Air Ketuban Saya sangat sependapat dengan Thompson HS, bahwa Danau Toba adalah soal air. Karena itu, membangun Danau Toba harus merawat air. Sebab, jika air danau sudah rusak, saat itu danau menjadi kubangan dan tumpukan penya­kit. Jika saja itu terjadi, maka danau ter­sebut akan tinggal kenangan. Segala lagu-lagu puja-puji tentang danau hanya bua­lan tak penting. Saya jadi teringat se­jenak pertanyaan anak didik saya di SMP Budi Murni 3 Medan. "Pak, bagaimana jika ketuban pecah saat mengandung?" Kala itu, saya cukup berpikir untuk men­jawabnya karena ba­sis pengetahuan saya adalah fisika. Kemudian, saya menja­wabnya dengan analogi sederhana. "Jika ketuban pecah, itu menandakan bah­wa bayi atau janin yang ada dalam kan­dungan sudah siap mengenal dunia luar. Ketuban pecah adalah keadaan yang gawat, karena jika ketuban pecah, air ke­tu­ban akan habis. Jika air ketuban pecah, hal ini dapat mengakibatkan infeksi. Bah­kan, jika penangananya tidak tepat, ini akan berakibat fatal membahayakan si janin dan ibunya". Mengapa saya ana­lo­gikan dengan air ketuban? Meski jauh, tetap saja ada kedekatan makna antara air ketu­ban dan air tuba, mes­ki dalam kadar pengertian tertentu. Me­­mang, jika merujuk pada kamus, air tuba itu sesungguhnya adalah nama se­buah pohon yang akarnya beracun. De­mikian juga halnya dengan air tuba. Air tuba (sekali lagi, dalam kadar pengertian tertentu, baca air ketuban) setelah keluar tentu tidak berguna lagi bagi si bayi. Air tuba hanya akan bermanfaat ba­gi bayi ketika masih berada dalam kandungan. Demikian kiranya dengan Danau Toba. Ketika airnya masih bersih, kita akan nyaman tinggal di sana layaknya janin dalam kandungan. Akan tetapi jika, air Danau Toba su­dah rusak, ini bisa didekatkan artinya de­ngan janin yang harus berpindah dari zona nyaman ke zona tak nyaman. Kita tak bisa lagi tinggal di dalam kandungan itu lama-lama. Kita harus pindah sele­kas­nya. Demikianlah halnya dengan Da­nau Toba. Jika Danau Toba sudah ibarat air ketuban yang pecah (air tuba), saat itu Danau Toba menjadi danau tuba. Da­nau yang sangat mematikan. Sederhana­nya begini. Andaikan Samosir itu ibarat Kota Medan. Itu artinya bahwa semua pem­buangan limbah menum­puk ke Da­nau Toba. Tentu pertanyaannya hanya satu: masih­kah air itu menghidupi? Saya sangat ragu. Namun, kita harus menerima fakta bahwa kita sedang menuju mimpi buruk itu. Apalagi kini, tata kelola danau masih amburadul. Per­ta­nyaan penting lainnya yang mesti dijawab mendesak adalah, sudahkah kita siap dengan mimpi buruk itu? Ini bukan perkara sepele. Sebab, akan dikemana­kan semua penghuni danau itu? Sekali lagi, ini sangat mengerikan. Cukup ba­yang­kan skema ini. Bagaimana kelak me­reka akan menyerapah kita. Bahwa ha­nya karena ulah kita, hidup mereka kucar-kacir. Mereka hidup tanpa warisan dari le­luhurnya. Maksud saya, menyelesaikan masa­lah Danau Toba tak cu­kup hanya dengan me­mindahkan masyarakatnya ke tempat lain. Ibarat bayi yang terlahir, mereka harus beradaptasi kem­bali dengan dunia baru. Mereka butuh perlindungan dari mere­ka yang lebih kuat. Seperti hukum ketiga Newton "bahwa aksi akan selalu mendapatkan reaksi". Ketika kita mele­pas­kan tinju kita ke tembok, diri kita akan merasakan sakit juga dalam ren­tang waktu yang relatif sing­kat. Bagaimana jika kita melem­parkan bola tenis ke tem­bok dan dibe­la­kang kita ada anak anak kita? Benar, bahwa kita bisa saja mengelak. Namun, pantulanya sudah pasti akan me­ngenai anak kita yang berada di belakang kita bukan? Artinya, jika kita mengelak, itu sama saja dengan me­mukul anak kita. Kita hanya cari selamat dengan mengor­bankan generasi selan­jut­nya. Demikian halnya dengan alam kita. Alam selalu menginginkan keseimbangan dan alam selalu menyeimbangkan dirinya. Justru kita manusialah yang meru­sak­nya, hing­ga kita akan kembali belajar mene­mukan ke­seimbangan yang baru. Kembali Pada Kita Kini pilihan ada pada kita. Segalanya ter­serah kita. Saya yakin, kita semua se­pendapat bahwasanya tak seorang pun dari kita menginginkan mimpi buruk itu ter­jadi. Ironisnya, meski sadar akan ba­haya, ada sebuah kebodohan yang me­nge­­pung kita. Yaitu, jangankan berbuat hal yang baik, kita justru merusak eko­sis­temnya. Yang lebih parahnya, bebe­rapa di anta­ra kita ada yang malah rakus. Me­reka memanfaatkan kekuatan yang di­mi­likinya untuk mengambil keuntu­ngan untuk dirinya tanpa mem­per­hi­tungkan dampaknya kelak bagi generasi lanjut. Padahal, sudah tak terhitung berapa pejuang danau. Namun, pada saat bersamaan, ber­mun­culan pula orang yang latah me­nga­cau­kan danau. Kita menjadi saksi ba­gaimana pengembangan Danau Toba, mu­lai dari Geopark Kaldera Toba, Mo­naco of Asia, hingga kini bergulir Badan Oto­rita Danau Toba. Dua program yang di­galakan se­be­lumnya kandas dan se­per­tinya hanya se­ba­tas retorika dan wacana hi­buran saja. Ka­rena itu, menjadi penting un­tuk me­na­nya­kan BODT, akan kemana­kah kelak arah bola BODT menggelin­ding? Saya pri­badi masih samar meng­ar­tikan­nya. Bagi saya pribadi, kita ha­nya bisa me­nung­gu dan semoga pada saat yang sama tak ada orang yang meng­gang­gu. Yang pasti, Danau Toba adalah kepu­nya­an kita bersama. Kalau kita yang lebih de­kat dan tinggal di sekitaran Toba saja su­dah tidak menunjukan kepedulian, ba­gai­mana bisa kita meng­harapkan orang lain atau orang luar peduli dan menghar­gai­nya? Apakah masing masing dari kita se­lalu harus berpikir jika aku di sana apa yang akan aku dapatkan? Kembali ja­wa­bannya ada dalam diri kita masing-ma­sing. Kita semua tentunya sama-sama pu­nya andil disana meski dengan peran yang berbeda sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya me­ngutip perkataan paman Ben pada Pe­ter Parker dalam film Spiderman. Ben pada saat itu berkata, "Seiring posisi be­sar, menanti pula tanggung jawab yang besar". Demikian halnya dengan kita. Kita semua punya peranan, baik kecil mau­pun besar dengan tujuan yang sama untuk menghindari mimpi buruk itu. Jika se­mua telah memainkan peranannya de­ngan baik, tentunya kita akan tahu apa mak­na "Menunggu Danau Baru" tadi. Akankah Danau Toba yang menyejukkan mata atau malah menjadi danau tuba yang me­matikan. Mari jawab dalam hati kita ma­sing-masing. (*) * Penulis: Andil H.Siregar, Pendidik di SMP dan SMA Budi Murni 3 Medan, Pegiat Literasi di Toba Writers Forum (TWF) serta Konsultan Pendidikan Fisika di Ganesha Operation. Tulisan ini diedit dari http://harian.analisadaily.com.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia