KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalAktifnya Aliran Massa Udara Basah, Picu Cuaca Ekstrim Sejumlah Wilayah Indonesia oleh : Rohmah S
26-Apr-2018, 10:54 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kejadian cuaca ekstrem di beberapa daerah seperti hujan disertai puting beliung di Jogjakarta dan Minahasa, banjir di Cilegon dan Bumi Ayu pada saat musim peralihan dari penghujan menuju kemarau menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat, berikut penjelasan Drs.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Ibu 25 Apr 2018 16:27 WIB

Pemimpin 01 Mar 2018 12:42 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Dilema Program KB untuk Remaja
Oleh : Gunoto Saparie | 09-Des-2017, 13:42:01 WIB

KabarIndonesia - Tonggak pengembalian konsep keluarga berencana (KB) kepada aras kesehatan reproduksi boleh dikatakan dimulai ketika berlangsung Konferensi Kependudukan dan Pembangunan Internasional (International Conference on Population and Development) atau lebih dikenal sebagai ICPD ke-4 di Kairo tahun 1994. Sejak itu KB bukan lagi semata soal pengendalian dan penggunaan kontrasepsi, melainkan jauh sampai kepada derajat kesehatan reproduksi dan investasi modal manusia untuk pembangunan. 

Sebagai tindak lanjut dari komitmen Indonesia dalam forum ICPD Kairo itu,  telah terselenggara Lokakarya Nasional Kesehatan Reproduksi pada bulan Mei 1996 di Jakarta yang melibatkan seluruh sektor terkait, LSM termasuk organisasi perempuan, organisasi profesi, perguruan tinggi serta lembaga donor. Dalam lokakarya ini disepakati tujuh ruang lingkup kesehatan reproduksi yang salah satunya adalah KB. Dengan demikian pengendalian kependudukan  telah bergeser ke arah yang lebih luas, yang meliputi pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi bagi laki-laki dan perempuan sepanjang siklus hidup. Termasuk hak-hak reproduksinya, kesetaraan dan keadilan gender, pemberdayaan perempuan dan penanggulangan kekerasan berbasis gender, serta tanggung jawab laki-laki dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi. 
Remaja selama ini ditempatkan di sudut lintasan program dengan beban dan tugas perkembangan yang sepenuhnya diisi dengan dunia pendidikan formal. Hampir tidak bisa ditemukan program yang disengaja didesain untuk remaja yang memfokuskan kepada persoalan reproduksi atau keluarga berencana. Memang ada program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) yang dalam banyak hal justru tidak berjalan karena terkendala oleh UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yang membolehkan perempuan menikah pada umur 16 tahun, dan laki-laki 19 tahun.
Dalam konteks ini, remaja tidak pernah secara sengaja dibuatkan sebuah program untuk mampu mengakses informasi yang benar tentang reproduksi dan seksualitasnya. Alih-alih, remaja justru dijauhkan dari dunia seksualitas dan reproduksi dengan dalih "tabu" dan "belum saatnya". Menerobos rintangan struktural bagi remaja dalam mengakses informasi dan layanan kesehatan reproduksi, beberapa lembaga nonpemerintah, seperti PKBI, menjalankan program kesehatan reproduksi remaja termasuk di dalamnya pendidikan tentang KB. BKKBN sendiri memang menegaskan tidak diberi mandat untuk melayani pemberian alat kontrasepsi bagi remaja atau mereka yang belum menikah. 
Akan tetapi, agar remaja memahami apa itu program KB, BKKBN telah mengampanyekan "GenRe" yaitu Generasi Berencana. Melalui program GenRe, remaja akan merencanakan kapan akan menikah, kalau sudah menikah merencanakan kapan siap melahirkan dan kapan akan berhenti melahirkan, dan berapa jarak antara anak pertama dan kedua. Pelayanan kontrasepsi memang hanya diberikan bagi pasangan suami istri yang ingin mengatur kehamilannya. Kepada remaja atau mereka yang belum menikah, BKKBN memberikan sosialisasi dan advokasi soal kesehatan reproduksi. Melalui pengetahuan kesehatan reproduksi remaja akan mengetahui bahwa hubungan seksual pranikah dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan. Pelayanan kontrasepsi bagi remaja sebaiknya tidak ada, karena hal itu seperti melegalkan liberalisasi seks. Kenyataan di lapangan liberalisasi seks mengakibatkan banyak remaja yang belum menikah melakukan hubungan seks.
Menjadi Dilematis
Hal ini harus diakui, tentu saja menjadi dilematis. Betapa tidak, Di satu sisi terjadi kehamilan yang tidak diinginkan yang seringkali terjadi aborsi, di sisi lain untuk mencegah kehamilan bisa menggunakan kondom, bahkan kondom pun sekaligus bisa mencegah penularan HIV/AIDS.   Kita tahu, saat ini populasi remaja di Indonesia mencapai 30 persen dari jumlah penduduk. Keterlibatan kelompok ini dinilai penting untuk mendukung keberhasilan program KB. Ada banyak hal yang bisa dilakukan remaja dalam mendukung program KB. Urusan KB memang bukan hanya untuk pasangan yang sudah menikah.
Harus diakui, ada perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja di Indonesia khususnya yang belum menikah. Kasus seks pranikah ini cenderung meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Perilaku seks pranikah berhubungan erat dengan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi yang masih sangat rendah. Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 13 % remaja perempuan tidak tahu tentang perubahan fisiknya dan hampir separuhnya tidak mengetahui kapan masa subur seorang perempuan. Sedangkan mengenai mimpi basah, ternyata hanya 24,4 remaja laki-laki yang memiliki pengetahuan cukup baik, sedangkan pada remaja perempuan hanya 16,8%. 
Minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi, terutama terkait dengan dampak seks pranikah, inilah yang membuat angka perkawinan usia dini terus meningkat. Di samping rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi, usia kawin pertama wanita juga masih sangat muda. Target BKKBN untuk mengampanyekan usia kawin pertama pada wanita minimal 21 tahun, ternyata belum memiliki landasan hukum yang kuat. Bukankah Undang-Undang tentang Perkawinan Nomor 1 Tahun l974 pasal 7 mengizinkan wanita menikah pada usia 16 tahun dan pria 19 tahun? Bukankah pula UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa yang disebut sebagai anak adalah mereka yang berusia kurang atau sama dengan 18 tahun.
BKKBN sebagai salah satu instansi yang berwenang mengatasi masalah remaja terutama terkait permasalahan reproduksi remaja, sesungguhnya memiliki program prioritas. Melalui program Generasi Berencana (GenRe), instansi tersebut berupaya membidik 84 juta generasi muda usia 15-24 tahun untuk menciptakan model keluarga berkualitas. GenRe adalah generasi yang dapat menunda usia perkawinan, berperilaku sehat, terhindar dari risiko seksualitas, HIV/AIDS dan Napza.
PIK KRRJauh sebelum diluncurkan GenRe, BKKBN juga telah membentuk PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja). Organisasi ini dibentuk di sekolah-sekolah, universitas, organisasi kepemudaan, dan pesantren. Melalui PIK KRR remaja diharapkan memperoleh informasi dan konseling tentang reproduksi sehat dan memperoleh rujukan jika menemui masalah terkait kesehatan reproduksi. 

GenRe dan PIK KRR mencoba membantu remaja menghadapi permasalahan dan tantangan yang ada dalam kehidupannya, membantu remaja melalui lima transisi kehidupan dengan lebih baik. Lima transisi kehidupan tersebut adalah melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, mencari pekerjaan yang komprehensif dan kompetitif, memulai kehidupan berkeluarga yang harmonis, menjadi anggota masyarakat, dan dapat mempraktikkan hidup sehat. 
Akan tetapi, keberhasilan program-program BKKBN tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan instansi lainnya yang terkait dengan program-program remaja. Selain itu, peran atau partisipasi masyarakat, terutama tokoh agama dan tokoh masyarakat, sangat penting dalam menuntaskan permasalahan di kalangan remaja saat ini.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Pelari Indonesia Pertama di FWD North Pole Marathon 2018 Wakil Direktur Utama FWD Life, Rudi Kamdani (kiri) sedang memberikan jaket FWD Life kepada Pelari Maraton Indonesia, Fedi Fianto (kanan) sebagai simbol FWD Life resmi melepas Fedi sebelum keberangkatannya ke Kutub Utara.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia