KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Harus Bersatu Demi Pulihkan Wilayah Terkena Bencana oleh : Rohmah S
17-Okt-2018, 15:20 WIB


 
 
KabarIndonesia- Jakarta, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir dan lainnya. Hal ini karena secara geografis Indonesia berada di kelilingi "cincin api (ring of fire)" sehingga potensi terjadi
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

Tentang Dia 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Deklarasi Garda Relawan Jokowi 13 Sep 2018 12:43 WIB

 
 
OPINI

Kedaulatan Pangan dan Logistik Kebencanaan Papua
Oleh : Djuneidi Saripurnawan | 08-Aug-2018, 10:14:11 WIB

KabarIndonesia -  Pilihan kata "Daulat Pangan" atau "Kedaulatan Pangan" lebih dipilih daripada "Ketahanan Pangan", karena disana melekat makna ‘mandiri' dan ‘kuasa'. Daulat Pangan berarti mampu menentukan sendiri apa yang menjadi kebutuhan konsumsi dasar, kemudian mampu mengolahnya sendiri dan menghasilkan bahan pangan yang berkualitas bagi kesehatan dan berkelanjutan hidup. Jadi ‘daulat pangan' tidak hanya persoalan ketersediaan (stock) bahan pangan, tetapi lebih jauh daripada itu adalah persoalan cara hidup yang terkait dengan nilai-nilai kehidupan, dan itu semua melekat pada kebudayaan masyarakat lokal (komunitat adat).

'Pangan' atau ‘makan' adalah konsep budaya; sesuatu yang dianggap sebagai makanan dari satu komunitas budaya bisa berbeda dengan komunitas budaya lainnya. Sebagai contoh, babi dan anjing adalah makanan bagi kebanyakan orang Papua yang beragama Kristen, dan bukan makanan bagi orang Papua yang beragama Islam. Orang asli Papua makanan pokonya adalah sagu, orang Jawa makanan pokoknya beras, dan orang Madura makanan pokoknya jagung.

Ancaman Mie Instan dan Sawit
Mie instan ‘chicken ramen' yang pertama kali ditemukan oleh seorang Thaiwan, Momofuku Ando (1958) yang tinggal di Jepang, yang terkait dengan dampak perang dunia kedua dimana Jepang mengalamin kelaparan dan keterbatasan bahan pangan. Perkembangan mie instan begitu cepat dengan aneka inovasinya. Di Indonesia, nilai perputaran uang untuk mie instan mencapai Rp 15 Triliun pada tahun 2008, dengan kapasitas produksi mencapai 1,9 juta ton. Pertumbuhannya berkisar 10% lebih per tahun. Dan yang perlu diketahui bahwa produksi mie instan ini membutuhkan minyak kelapa sawit dalam jumlah yang besar pula.

Persoalan muncul ketika pola konsumsi masyarakat tradisional beralih pada mie instan sebagai makanan utama (pokok), menggeser makanan pokok aslinya. Contoh nyata mulai terjadi pada masyarakat trandisional Papua yang sudah mulai menempatkan mie instan menjadi bagian dari makanan pokok sehari-hari, yang menggeser papeda dari sagu. Tanaman sagu di Papua sudah semakin berkurang, karena hutan sagu sudah berubah menjadi area pemukiman dan perkantoran, jalan, area pertanian sawah dan yang lebih mengancam adalah proyek perkebunan sawit.  Hadirnya kelapa sawit akan mengubah ekosistem lingkungan hidup beserta manusia yang ada di dalamnya.

Lumbung sagu nasional 85 persen berada di Papua dan Papua Barat, terluas di dunia, dengan luas sekitar 1,2 juta hektar (Mongabay.co.id,08/06/2016), dan terus mengalami pengurangan setiap tahun. Pergeseran pola konsumsi masyarakat Papua terjadi dengan hadirnya mie instan, produksi padi yang dibuka  di Merauke, produksi jagung, kacang kedelai dan minyak goreng yang mengubah cara memasak makanan bagi orang Papua. Makanan yang digoreng menggantikan makanan yang biasa dibakar batu atau direbus. Bilamana perubahan ini terjadi pada anak-anak, maka tanda-tanda hilangnya tradisi makanan lokal tak terhindarkan lagi.

Pangan Papua: Sagu, Keladi, Ubi Jalar                
Tanaman sagu atau sago palm (Metroxylon Sagu) sebagai tanaman lokal di tanah Papua, tentunya sudah memiliki keunggulan tersendiri. Ia hadir di tengah hutan belantara Papua dengan segudang manfaatnya. Tanaman yang tidak membutuhkan penanganan intensif seperti padi, jagung, kedelai, ubi kayu, dan ubi jalar.  Sagu merupakan sumber karbohidrat utama bagi orang Papua. Selain itu juga, sagu dapat menjadi makanan sehat karena rendah kadar glikemik-nya, dapat juga dipakai untuk bioethanol, bahan gula untuk industri makanan dan minuman, pakan ternak, industri kertas, farmasi dan lain sebagainya.   
            
Pangan utama orang asli Papua adalah sagu, keladi, ubi jalar, dan varian serupa lainnya berupa ubi kayu, ketela rambat, kentang, dan lain-lainnya yang menjadi sumber karbohidtrat bagi masyarakat Papua. Berdasarkan realitas budaya orang Papua yang mengkonsumsi bahan makanan tersebut, maka pergeseran atau perubahan pola konsumsi yang sedang terjadi bisa dinyatakan sebagai proses pelemahan orang asli Papua menghadapi masa depannya, dan menghadapi kondisi bencana. Semakin lemah berarti semakin tersingkirkan, dan semakin hilang dari peradaban bangsa ini.

Logistik Kebencanaan                
Dalam manajemen kebencanaan (disaster management), logistik merupakan salah satu sektor yang sangat vital terhadap upaya penyelamatan manusia dalam dunia kemanusiaan. Logistik konvensional lebih menekankan persediaan barang (buffer stock) di gudang-gudang yang dipersiapkan untuk menghadapi kondisi kritis (bencana) supaya tidak terjadi kelaparan dan kematian akibat terjadinya bencana. Logistik kebencanaan harus lebih dari sekedar buffer stock saja, tetapi juga membangun sistem supplai barang dan distribusi yang canggih. Logistik kebencanaan di Papua mendapatkan tantangan transportasi-karena Papua masih minim akses jalan darat dan banyak mengandalkan alat transportasi udara--, jenis pangan yang dikonsumsi orang asli Papua, dan pergudangannya.                
        
Apa yang akan terjadi di lapangan, apabila masyarakat asli Papua di pedalaman pegunungan mendapatkan bantuan kemanusiaan berupa paket makanan siap saji berupa mie intan dan makanan kalengan? Pembelajaran dari kejadian masa lalu, masyarakat Papua di-drop tiwul dari Jawa, hampir semuanya membusuk begitu saja. Bagaimana bila mereka di-drop sagu, ubi jalar, dan keladi?  Jenis bahan makanan yang sudah biasa mereka konsumsi akan membuat mereka dengan mudah mengolahnya untuk bertahan hidup. Sementara itu, jenis makanan yang tidak biasa dikonsumsi komunitas biasanya akan memberikan dampak buruk-meskipun tidak mutlak semuanya-terhadap tubuh karena faktor ketidaksesuaian dan adaptasi, seperti terjadi sakit perut, mencret-mencret, diare, muntah, mual, pusing dan seterusnya. 

Dalam manajemen logistik kebencanaan yang mengacu pada kedaulatan pangan lokal, paket bantuan pangan semestinya mengacu pada bahan pangan lokal dengan kemasan yang paling sesuai dengan kebiasaan masyarakat lokal. Perlu dilakukan pemetaan suplai pangan lokal, pemetaan jalur distribusi, lokasi gudang yang strategis, semua pihak yang bisa terlibat dalam mobilisasi bantuan,  gudang utama dan gudang-shelter, peralatan dan mesin pendukung lainnya. Kerjasama dengan suplai pangan lokal bisa dilakukan dengan para kelompok tani dari berbagai daerah, sehingga ubi jalar (segar) misalnya, tidak perlu ditimbun digudang karena memang tidak tahan lama. Sagu yang sudah diolah kering bisa disimpan di gudang dalam jumlah tertentu sebagaimana analisis kebutuhan ketika bencana terjadi. Inilah pentingnya ada rencana kontijensi untuk menghadapi setiap ancaman bencana; sebuah skenario ancaman bencana dan upaya sistematis penanggulangannya.

Ketika terjadi bencana, beragam jenis bantuan pangan akan hadir di tengah-tengah masyarakat. Supaya tidak terjadi salah penggunaannya, maka perlu ada pendamping di lapangan yang bisa memberikan pengarahan bagaimana cara mengelola dan mengkonsumsinya supaya tetap berguna dan aman bagi kesehatan masyarakat terdampak. Dalam hal ini, kapasitas petugas pendamping di lapangan harus memiliki pengetahuan dan kemampuan melakukan tindakan terhadap ragam jenis bahan makanan dan pengelolaannya untuk dikonsumsi dengan aman.

Semua yang dibicarakan tersebut bisa terangkum dalam sebuah dokumen strategis berupa Rencana Strategis Manajemen Logistik Kebencanaan Papua. Namun, sayang di sayang, dokumen tersebut belum terbangun di Papua. Sejauh mana hal ini dipandang  perlu oleh MRP, DPR Papua, dan Pemerintah Provinsi Papua?.....Kita sebagai masyarakat umum hanya bisa menunggu hasil kerja mereka yang diberikan amanah oleh masyarakat Papua.(*)

*) Penulis adalah Senior Program Officer-TATTs Program for Papua-Mercy Corps Indonesia, alumnus Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasioleh : Djuneidi Saripurnawan
28-Aug-2018, 06:07 WIB


 
  BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasi TATTs Program: Analisis dan Pengembangan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Selamat HUT TNI Ke-73 13 Okt 2018 19:46 WIB

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia