KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HukumRUU Omnibus Law Inskonstitusional Buruh Minta Stop Pembahasan Sidang Paripurna DPR RI oleh : ">
05-Okt-2020, 04:26 WIB


 
 
KabarIndonesia - Berbagai serikat pekerja yang merupakan afiliasi global unions federations menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja tingkat pertama pada Sabtu malam (3/10). Mayoritas fraksi di DPR RI dan pemerintah sepakat untuk melanjutkan pembahasan ke tingkat
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Kilas Balik Gerakan 30 September 1965

 
OPINI

Kilas Balik Gerakan 30 September 1965
Oleh : Antha | 02-Okt-2020, 06:44:45 WIB

KabarIndonesia - Gerakan ini adalah gerakan paling aneh di dunia. Gerakan yang sepertinya dirancang untuk gagal. Tapi keberhasilan dari gerakan ini justru adalah kegagalannya yang kemudian menjerumuskan bukan saja terjadinya pembantaian 3 juta nyawa sebagai alat barter politik tapi juga kemudian sejarah berbalik 180 derajat, dari tadinya bangsa Indonesia yang berdaulat terhadap segala hal menjadi bangsa yang terbudaki segala hal. Gerakan 30 September adalah patahan paling keras dalam sejarah Indonesia.

Banyak hal yang belum diungkap seperti hubungan kedekatan antara pelaku Gerakan 30 September 1965 dengan kelompok yang kemudian melawan Gerakan tersebut. Gerakan ini oleh Orde Baru hanya disorot pada saat penculikan dan pembunuhan para Jenderal. Sejarawan Orde Baru tidak berani membongkar Prolog dan epilog dari gerakan, mereka hanya bermain di Nalog (saat kejadian) sehingga menimbulkan eforia massa tanpa daya kritis.

Apabila Sukarno dituduh terlibat dalam gerakan itu dengan sampainya sepucuk surat dari Brigjen Supardjo yang kemudian dibaca sebentar dan dimasukkan ke dalam sakunya sesuai dengan kesaksian Kolonel KKO Bambang Widjanarko, ajudan Bung Karno lalu dia melanjutkan pidato di Mubes Teknik dan bercerita di Mahabharata dan tak lama Letkol Untung keluar ruangan, maka pertanyaannya kemudian : "Kemana Suharto pada jam yang sama?"

Kolonel Latif salah seorang trio militer yang menjadi komando Gerakan - selain : Brigjen Supardjo dan Letkol Untung, Kolonel Latief adalah orang dekat Suharto. Kolonel Latief menemui Suharto dua kali, pertama di rumah Suharto, Jalan Agus Salim, Menteng beberapa hari sebelum tanggal 30 September 1965 dan melaporkan akan ada gerakan lalu Suharto menjawab singkat : Sikat saja. Dan kedua Kolonel Latif melapor gerakan di Rumah Sakit. Disinilah kunci dari segala kunci spekulasi yang dilakukan Latief.

Di depan Supardjo dan Untung, Latief mengatakan : "Suharto di belakang kita, dan masih ada pasukan yang bisa dimasukkan ke dalam gerakan kita" Lalu Supardjo dengan nada emosional mendukung pernyataan Latief "Kalau Revolusi ini berhasil maka semua orang berebutan akan mendukung"......Inilah spekulasi paling konyol yang pernah dilakukan seorang Komandan dalam melakukan gerakan paling berbahaya di muka bumi : "Menculik Jenderal-Jenderalnya sendiri". Dan terbukti di pagi harinya Suharto menolak mendukung Gerakan Untung 1965.

Suharto menolak gerakan Untung 1965 padahal dia sendiri yang mengirimkan radiogram pasukan Diponegoro dan Brawijaya hadir lengkap dengan persenjataan, lalu akan disusul pasukan Siliwangi. Sementara RPKAD sedang bersiap berangkat ke Kalimantan untuk diterjunkan ke front terdepan di sekitar Long Bawang, Kalimantan Utara. Jam enam pagi setelah mengetahui bahwa Gerakan itu gagal karena Nasution gagal dibunuh, Suharto berpikir cepat: "Nasution masih hidup" dan dengan cepat ia memihak kepada Angkatan Darat dan melakukan politik Insubordinasi dengan sangat berani, inilah kejeniusan Suharto yang amat hebat bahkan melampaui Sukarno yang kelak akan dipecundanginya.

Faktor Nasution adalah faktor kunci yang juga menjadi pertimbangan banyak pemain politik bahwa "Gerakan itu gagal" kenapa? karena dengan hidupnya Nasution maka Angkatan Darat masih mempunyai bapaknya. Dan Suharto harus cepat mengambil jabatan yang ditinggalkan Yani tanpa harus menunggu Surat Keputusan Panglima Besarnya : Sukarno. Pengambilan secara sepihak tanpa surat resmi Presiden inilah yang menjadi quantum leap dalam karir Suharto dan merupakan sebuah tindakan politik paling lihai dalam sejarah Indonesia.

Sementara di lain pihak Sukarno terjebak pada Nasution, ia hanya melihat Nasution sebagai satu-satunya pihak yang dicurigai akan berpotensi mendongkel kekuasaannya setelah Gerakan. Posisi Sukarno terkunci dan sama sekali tidak mengetahui perkembangan keadaan yang cepat di elite Angkatan Darat.

Kekuatan Suharto diuji ketika utusan Bung Karno mengutus mulai dari Ajudan sampai Laksamana Martadinata untuk memanggil Suharto dan anak buahnya maka Suharto menolak dan menjawab singkat "Angkatan Darat sudah banyak kehilangan Jenderal" secara implisit ucapan ini adalah untuk langsung head to head melawan Bung Karno. Kedua sekitar jam 9 pagi Suharto mengumpulkan staf-nya dan bicara "Gerakan Untung adalah Gerakan PKI" ucapan ini kemudian menjadi ucapan yang melucuti massa Bung Karno dan menjadi ucapan paling mengerikan dalam sejarah karena dibalik ucapan inilah kemudian terbantai 3 juta nyawa.

Nasution baru datang ke markas Suharto setelah jam 12 siang ini berarti Nasution telah ketinggalan kereta sejarah selama enam jam, dan sejak itu ia tidak bisa lagi memulihkan kekuatannya, sampai meninggalnya di tahun 2000 ia dilumpuhkan kehormatannya oleh Orde Baru. Sementara Sukarno masih berpikiran "Nasution...nasution" padahal disana Suharto dengan cepat membangun kekuatannya. Langkah menyusun kekuatan lapangan yang pertama kali dilakukan Suharto adalah mengirim Brigjen Herman Sarens Sudiro ke mess RPKAD di Atang Sandjaja, Bogor yang siap-siap mau berangkat ke Kalimantan. Herman Sarens adalah tipe perwira nekat yang amat berani masuk ke jalan yang belum dikenalnya apakah jalanan ini dikuasai pihak lawan atau kawan. Ia menggunakan panser, sesampainya di RPKAD, Kolonel Sarwo Edhie langsung menawan Herman Sarens. Tapi kemudian Herman Sarens berhasil meyakinkan Sarwo untuk berpihak pada Suharto, dan Herman memenangkan diplomasi militer itu.

Kemudian Suharto menahan semua perwira tinggi Angkatan Darat masuk ke dalam lingkaran Halim dimana Sukarno melakukan keputusan untuk melihat keadaan sejak subuh setelah dilapori ajudannya bahwa beberapa Jenderal terbunuh, ia menyelamatkan diri ke Halim dan untuk sementara tinggal di rumah Komodor Susanto. Saat ajudan Bung Karno meminta Suharto memberikan Mayor Jenderal Umar dan Mayor Jenderal Pranoto, tapi Suharto menolak maka Suharto sudah memenangkan pertarungan di tahap elite, ia dengan pelan-pelan masuk ke dalam tahap histeria massa. Karena ia sudah punya dua hal paling penting : 1. Dukungan Jenderal yang pegang pasukan dan 2. Dukungan Pasukan Riil yaitu RPKAD. Tinggal mematahkan kekuatan massa yang diduga mendukung Gerakan.

Dengan cerdik Suharto membredel seluruh surat kabar kecuali surat kabar Berita Yudha (milik Angkatan Darat) dan surat kabar Harian Rakjat (milik PKI), disini Suharto ingin membangun garis imajiner yang jelas siapa musuh dan siapa lawan. Dan memang Harian Rakjat kemudian melalui tajuk rencananya mendukung 'Gerakan Untung' sementara Berita Yudha menentang 'Gerakan Untung' oleh Suharto tidak boleh ada lagi media massa memiliki warna abu-abu. Disinilah Suharto melakukan peta politik yang ia ciptakan sendiri. Dan langkah ketiga ia menangkan "Menciptakan histeria massa"

Setelah itu Suharto dengan pelan harus melumpuhkan kekuatan-kekuatan yang bisa menghalangi dia untuk mencapai tangan Sukarno sebelum ia harus berkelahi langsung dengan Sukarno. Pertama kali ia menghancurkan kelompok paling lemah dalam masyarakat dan yang paling lemah dalam susunan masyarakat adalah 'Perempuan', lalu terciptalah karakter Djamilah di Lubang Buaya, Djamilah yang menjadi pelacur dan menari-nari telanjang di depan para Jenderal yang kemudian Djamilah menjelma menjadi Gerwani. Disini Gerwani dilabur dan ditransformasi kedalam tubuh Djamilah. Lalu Gerwani hancur total, lalu setelah Gerwani hancur, Suharto masuk ke dalam penghancuran gerakan Pemuda. Suharto menggunakan KAMI lalu banyak bermunculan gerakan muda yang kemudian menjadi beringas dalam pembantaian dimana-mana. Anshor dari NU, Pemuda Katolik yang dididik Kasebul oleh Pater Beek, ada Gemsos yang masih memiliki dendam, dan banyak macamnya semua diarahkan untuk menghancurkan kekuatan massa PKI lalu setelah itu gerakan muda disatukan dan kemudian dilumpuhkan sampai pada kematian terakhirnya pada Malari 1974. Setelah gerakan muda hancur maka Suharto secara perlahan menghancurkan Jenderal-Jenderalnya yang mendukung di jam-jam pertama tapi diragukan loyalitasnya. Suharto sengaja mengulur-ulur waktu untuk berhadapan Sukarno dengan pertimbangan akan muncul Jenderal-Jenderal yang merasa bisa berhadapan dengan Sukarno diluar dirinya, dan ternyata benar Kemal Idris sendiri digadang-gadang oleh Sri Sultan untuk langsung melawan Sukarno. Lalu sejarah mencatat Kemal Idris dan Jenderal HR Dharsono adalah orang2 yang disingkirkan dengan cepat oleh Suharto, padahal HR Dharsono adalah orang pertama yang berani pasang badan bela Suharto untuk berhadapan dengan Sukarno, tapi di akhir hidupnya ia dipenjara dan dihina dengan tidak boleh dimakamkan di Taman Makam Pahlawan oleh rezim Orde Baru.

Sukarno sendiri menjadi kebingungan, kelihaiannya dalam membaca arah sejarah tertipu oleh Suharto. Ia bukan saja menganggap remeh Suharto tapi ia sendiri bertanggung jawab terhadap begitu cepatnya karir Suharto naik. Sukarno hanya ingin Suharto membereskan soal Gestapu yang konyol itu dan bersiap melawan Nasution tapi ia sendiri yang terlibas oleh Suharto.

Lalu kemana pasukan penculik? Pasukan penculik yang digembar-gemborkan akan menguasai Jakarta dan menangkap semua kelompok yang menentang Dewan Revolusi keteteran di jalan-jalan By Pass depan Halim, mereka kelaparan dan kebingungan. Letkol Untung melarikan diri dan kemudian ditangkap di Pekalongan, inilah sebuah gerakan paling aneh dalam sejarah militer dimanapun, sebuah gerakan yang cenderung dirancang untuk gagal. Gerakan 30 September 1965.

* Penulis : Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Papua Nyatakan Dukungan Agar Otsus Jilid II Dilanjutkan pada Peringatan Hari Pahlawan Menyadari bahwa sejarah perjuangan pahlawan nasional Republik Indonesia khususnya yang tercermin pada peristiwa 10 November 2020 patut dikenang dan diteladani sebagai upaya generasi muda Indonesia dalam menghormati para pejuang yang telah merebut bangsa ini dari zaman penjajah hingga nyawa mereka
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
Kenaikan Cukai Rokok Ditunda 04 Nov 2020 00:50 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia