KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahOperasional Pelabuhan Simanindo Kembali Dibuka dengan Pengoperasian Kapal Ferry dan Kapal Kayu oleh : Danny Melani Butarbutar
07-Jul-2018, 14:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Samosir, Sejak peristiwa tenggelamnya kapal kayu KM. Sinar Bangun di perairan Tigaras pada Senin (18/6) Pemerintah telah menghentikan operasional transportasi kapal trayek Simanindo (Samosir) - Tigaras (Simalungun). Hal ini sangat berdampak luas kepada roda perekonomian masyarakat.

Namun,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Ruang dan Cinta Penyatu Segalanya 27 Jun 2018 05:55 WIB

Surat Untuk Bapak Presiden 06 Jun 2018 09:09 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Kondomisasi, Antara Solusi dan Ilusi
Oleh : Achmad Firdaus | 06-Des-2013, 21:57:27 WIB

KabarIndonesia - Bertepatan dengan tanggal 1 Desember beberapa hari yang lalu, masyarakat dunia ramai-ramai memperingati hari AIDS sedunia. Peringatan tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dunia terhadap wabah AIDS yang disebabkan oleh penyebaran HIV. Hingga saat ini, AIDS masih termasuk salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.  Penderitanya pun semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Berkaitan dengan hal tersebut, ternyata sudah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari sebelumnya, kurang lebih 1400 tahun yang lalu beliau pernah berpesan kepada ummat manusia: "Tidaklah perzinaan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka." (HR. Ibnu Majah).

Kini, perkataan Rasulullah tersebut telah terbukti kebenarannya dan dengan mudahnya berbagai penyakit berbahaya merebak di tengah masyarakat. Bahkan di Indonesia diperkirakan lebih dari 200 ribu orang mengidap HIV/AIDS dengan beragam sebab, namun aktivitas seks bebas menjadi ‘penyumbang' nomor satu pertambahan angka penderita HIV/AIDS dan hampir 50 persen penderitanya adalah generasi muda yang masih berada pada usia produktif. 

Data dan fakta tersebut menunjukkan betapa bobroknya moral generasi muda saat ini, Berbagai pelanggaran etika dan norma agama pun kerap dijadikan ‘hobby'. Bahkan telah menjadi rahasia umum bahwa di era yang semakin ‘edan' saat ini, hubungan antar muda-mudi selalu akrab dengan aktivitas free sex atas nama cinta dan suka sama suka.

Peningkatan aktivitas seks bebas itu tentunya tidak terlepas dari semakin mengguritanya tempat hiburan malam yang tersaji manis di hampir semua kota besar. Sebuah fenomena yang sangat menyedihkan ketika prilaku semacam itu ikut disemarakkan oleh para muda-mudi yang terdidik di sebuah instansi pendidikan. Seolah negeri ini bagaikan taman yang indah bagi para pelaku kemaksiatan. 

Melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang mengidap penyakit mengerikan itu, mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan preventif, mulai dengan memberikan edukasi di sekolah-sekolah hingga penyuluhan kepada mereka yang rentan terkena virus berbahaya ini.

Namun yang paling disoroti saat ini adalah ketika Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengadopsi cara pencegahan HIV/AIDS yang diterapkan di negara barat, yakni kondomisasi atau mensosialisasikan penggunaan kondom kepada masyarakat. Tak tanggung-tanggung sejak tanggal 1 hingga 7 Desember mendatang dijadikan sebagai Pekan Kondom Nasional dengan membagi-bagikan kondom gratis kepada masyarakat, bahkan kalangan remaja pun mendapat bagian.

Tentunya, kondomisasi ini akan menjadi pemantik bagi remaja untuk melakukan free sex, seseorang yang awalnya tidak ingin melakukan seks bebas karena takut hamil atau tertular penyakit, namun maraknya kampanye seks aman dengan penggunaan kondom, maka akan mendorong seseorang untuk melakukannya. 

Disinilah dapat ditarik benang merah bahwa sisi lain kondomisasi dapat menumbuhsuburkan praktek seks bebas di tengah masyarakat. Sehingga muncul pertanyaan, mengapa Indonesia harus mengikuti konsep pecegahan HIV/AIDS yang dianut oleh negara lain?

Bukankah budaya Indonesia jauh lebih terhormat dari budaya mereka? Maka alangkah bijaknya jika pencegahan penyakit mematikan ini di lakukan melalui pendekatan moral dan agama yang merupakan jati diri bangsa Indonesia. 

Kondomisasi Belum Efektif

Seorang professor psikologi University of Utah, Amerika Serikat (V. Cline, 1995) mengatakan  "Jika para remaja percaya bahwa seks dengan kondom, mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan."

Itulah faktanya bahwa kondom bukan hanya terbukti gagal mencegah penyebaran HIV/AIDS, tapi juga menumbuhsuburkan penyebaran HIV/AIDS. Bahkan di Amerika Serikat yang telah menerapkan kondomisasi sejak dulu terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip dari pernyataan H. Jaffe dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (USCDC: United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukan beberapa tahun lalu amat mengejutkan, karena kematian akibat HIV/AIDS menempati peringkat nomor satu di Amerika Serikat. 

Jauh panggang dari api, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan solusi yang diterapkan pemerintah Indonesia dengan fakta yang ada saat ini. Kondom ternyata tidak mampu mencegah penularan HIV/AIDS.

Berdasarkan sebuah hasil penelitian ilmiah yang diumumkan dalam konferensi AIDS Asia Pacific pada tahun 1995 di Chiangmai, Thailand, menyatakan bahwa pori-pori kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Pasalnya, ukuran virus HIV  sebesar 1/250 mikron, jauh lebih kecil dari pori-pori kondom yang ukurannya hanya 1/60 mikron. 

Penggagas program kondomisasi mungkin menganggap hal tersebut sebagai langkah solutif praktis tapi pada kenyataanya program ini hanyalah sebuah ilusi pencegahan HIV/AIDS karena telah terbukti tidak efektif dalam mengatasi masalah yang cukup krusial ini. Malah sebagian orang menilai bahwa Pekan Kondom Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah tidak berbeda dengan program legaliasi seks bebas di kalangan generasi muda. 

Oleh karena itu solusi yang paling tepat untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS adalah melalui pendekatan moral dan agama yang merupakan karakter bangsa Indonesia. Namun sayangnya, banyak pihak menilai bahwa HIV/AIDS hanya sebatas fakta medis yang tidak bisa dikaitkan dengan moral dan agama, padahal jika ditelusuri dari awal munculnya penyakit berbahaya ini sangat berhubungan dengan perilaku sosial dan berkaitan erat dengan penyimpangan dari tuntunan agama. Wallahu a'lam (*)


Blog:
http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  FWD Life Gandeng Special Olympics Indonesia untuk Program Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Intelektual di Semarang – PT FWD Life Indonesia (FWD Life), pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia, telah meresmikan kerja sama dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) pada 18 April 2018 lalu. Setelah peluncuran kerja sama, FWD Life kemudian menggelar roadshow perdana di Bandung pada
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia