KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (9), kita telah melihat kepintaran Presiden Jokowi dalam membalikkan keadaan dari semula dianggap penakut dan pengecut, tiba-tiba membalikkan keadaan dengan secara berani bergabung
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

LOMBA TULIS: Rasa Bangga Seorang Pewarta Warga

 
OPINI

LOMBA TULIS: Rasa Bangga Seorang Pewarta Warga
Oleh : Nina Wardi | 20-Des-2010, 23:43:14 WIB

Semuanya berawal dari hubungan dua orang manusia, antara aku dan ayahku. Kami senang membaca dan mendiskusikan hasil kegiatan membaca masing-masing. Beragam topik yang kami bahas, mulai dari ekonomi, politik, kesehatan, masalah sosial dan lain-lain. Akhirnya kami lebih sering membicarakan masalah penerapan agama dalam kehidupan.

Selain mengikuti ayah berburu buku ke tempat penjualan buku bekas, aku meniru kebiasaan ayah yang sering menuliskan kalimat-kalimat indah penuh makna dari buku di kertas yang dipotong-potong kecil. Saat ayah mulai sakit dan mengalami penurunan pada kemampuan membacanya, aku mulai membacakan buku untuk ayah. Kesehatan ayah makin menurun dan lebih banyak waktu tidurnya, maka aku beralih dari membacakan buku atau satu artikel ke tulisan di kertas-kertas kecil itu. Ayah mengomentari isi tulisan di kertas kecil itu.

Komentar-komentar ayah tersebut membuat aku terinspirasi untuk menulis. Tulisan-tulisan itu hanya dibaca orang-orang terdekat dan lebih banyak lagi yang "terkubur" dalam harddisk. Satu saat buku-buku, catatan kecil, dan juga harddisk tersebut terendam banjir, semuanya rusak! Peristiwa itu terjadi ketika aku dan ayah sedang membahas satu hadits yang diambil dari satu buku yang berbunyi, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain".

Timbul kesadaran bahwa buku-buku, alat penyimpan tulisan, potongan kertas-kertas kecil berisi kalimat-kalimat bermakna dari buku bisa hancur. Hasil diskusi aku dan ayah juga bisa hilang dan hanya bisa dinikmati kami berdua, padahal kami ingin sebanyak mungkin bermanfaat untuk lebih banyak manusia. Kami berdua juga makhluk hidup yang pastinya akan mati dan punah dari muka bumi ini. Dorongan untuk menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut muncul, apalagi orang-orang terdekat yang pernah membaca beberapa tulisanku juga memuji tulisan dan memberi dukungan yang kuat.

Sadar akan minimnya kemampuan menulis yang baik dan petunjuk Rasulullah, "Jika ingin sukses dunia harus dengan ilmu. Kalau ingin sukses akhirat harus dengan ilmu. Dan jika ingin sukses kedua-duanya juga harus dengan ilmu", maka aku berusaha mencari ilmu menulis. Aku memilih kursus menulis di Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH).

Melalui bimbingan menulis yang intens dari para profesional di PMOH dan lingkungan teman-teman belajar yang menyenangkan, aku mulai mengirim tulisan ke Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Saat tulisan diijinkan masuk HOKI, rasanya "melambung ke langit ketujuh", bangganya selangit! Ternyata aku bisa jadi seorang pewarta warga (citizen journalist)! Rasa bangga dan rasa bahagia juga meningkat ketika tulisan muncul di HOKI.

Apalagi ketika teman-teman di PMOH dan pembaca HOKI lainnya mengomentari tulisan tersebut, misalnya salah satu tulisanku yang berjudul "Sepotong Hutan Terakhir di Bandung" yang muncul di HOKI pada tanggal 28 April 2010, ternyata pada tanggal 27 November 2010 pun masih ada yang mengomentari, artinya tulisan itu masih ada yang membaca walaupun sudah tujuh bulan berlalu. Rasa bangga dan rasa syukurku makin berkembang, disertai harapan bahwa tulisan-tulisan itu bermanfaat bagi pembacanya.

Keikutsertaan dalam Lomba Tulis HOKI 2010 didasari oleh rasa ingin tahu apakah tulisan dari seorang yang awam di dunia tulis-menulis ini semakin meningkat mutu tulisannya? Jika menang, hadiahnya begitu menggiurkan. Sudah lama aku menginginkan buku Enthusiasm. Hadiah berupa beasiswa PMOH juga pasti menyenangkan karena aku pernah merasakan nyamannya belajar di sana yang bisa mendongkrak rasa percaya diri untuk menjadi pewarta warga. Jika kalah dalam lomba tulis ini, waktunya untuk belajar lagi, menggali dan mensyukuri bakat menulis dengan cara terus menulis, bukankah belajar selama hidup -sejak ayunan sampai ke liang lahat- adalah kewajiban semuanya? Termasuk belajar menulis.

Sumber Foto : Google Images



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia