KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKemnaker Beri Contoh Ruangan Laktasi dan Daycare Ideal Bagi Perusahaan BUMN dan Swasta oleh : Rohmah Sugiarti
21-Aug-2017, 04:31 WIB


 
 
KabarIndonesia – Tepat sehari setelah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 (18/8), Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, meresmikan Taman Penitipan Anak dan Ruang Laktasi yang dibangun di lantai M Gedung B, Gedung Kementerian Ketenagakerjaan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Mati Surikah Aku ??? 24 Aug 2017 13:29 WIB

Sajak Kodok III 24 Aug 2017 13:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

McDonaldisasi Perayaan Natal

 
OPINI

McDonaldisasi Perayaan Natal
Oleh : Paulus Mujiran, S.sos, Msi | 31-Des-2009, 21:12:32 WIB

KabarIndonesia - Di hari menjelang Natal semua stasiun televisi seperti berlomba menyajikan tayangan bernuansa keagamaan. Tak kalah dengan gegap gempita di stasiun televisi mall, supermarket, pasar swalayan berusaha mempengaruhi pembeli dalam suasana Natal.

Tayangan bernuanasa Natal di televisi yang terkesan dipaksakan disamping menampilkan materi ajaran agama dan nasihat kepada umat, dengan gampang dituduh bermuka dua dalam menumpangtindihkan idealisme dan pragmatisme. Meski masih ada hiburan dan edukasi tetapi sarat manipulasi kesadaran publik untuk mendapatkan keuntungan.

Thomas L. McPhail (1998)  menyebutnya sebagai salah satu bentuk kolonialisme elektronik. Seperti telah menjadi rutinitas tahunan, di hari-hari menjelang Natal stasiun-stasiun televisi kembali menayangkan berbagai acara keagamaan mulai dari sinetron, kuis, musik, film, hingga iklan yang menonjolkan kesan religius. Yang terjadi kemudian adalah munculnya gejala atau fenomena McDonaldisasi agama. Terminologi McDonaldisasi pertama kali dicuatkan oleh George Ritzer (1993), sosiolog kawakan dari Amerika Serikat, untuk menggambarkan bentuk partikular dari proses rasionalisasi dan standardisasi dari seluruh wilayah kehidupan.

Ritzer menyebut fenomena McDonaldisasi sebagai penyederhanaan tata nilai agar lebih mudah dikonsumsi. McDonaldisasi adalah term yang dikemukakan oleh George Ritzer (sosiolog dari Universitas Maryland) dalam The McDonaldization of Society (1993) untuk menunjukkan suatu proses dimana prinsip-prinsip restoran fast-food (lebih khusus lagi: McDonald's) mulai mendominasi berbagai sektor masyarakat di seluruh dunia, mulai dari bisnis restoran, agama, seks, pendidikan, dunia kerja, biro periklanan, politik, program diet, keluarga.

Berangkat dari tesis Ritzer tadi, tayangan menjelang Natal di televisi tidak sedikit yang berwujud sebagai pengebirian terhadap nilai dan substansi agama. Acara-acara itu  dibuat secara instan dan selebritif, serta model dan formatnya mirip atau tidak berbeda antara stasiun televisi yang satu dengan yang lainnya. Acara yang dikemas dengan melibatkan para artis dikemas dengan entertaining agar laku dijual.

Namun akibatnya, substansi pesan yang ingin disampaikan akan tertelan oleh popularitas, kecantikan, kegantengan, dan gaya hidup para pengisi acara. Pesan yang hendak dibawakan dengan tayangan justru kabur karena bertentangan dengan hidup si pembawa pesan. Proses rasionalisasi dan standardisasi ini kemudian akan mengarah pada homogenisasi dan penyeragaman pada industri jasa yang mengalami massifikasi karena dibombardir oleh iklan.

Sayangnya, proses penyeragaman ini mempunyai handicap, yaitu absennya kualitas dan autentisitas. Khamami Zada (2005) ada kecenderungan memasukkan agama dalam ranah kapital. Ketika pesan-pesan agama sarat dengan iklan yang berkonotasi bisnis dan mencari keuntungan. Akibatnya, pesan moral keagamaan terasa kian dangkal maknanya. Pesan moral yang hendak dibawakan tidak lagi mengakar dan tidak mendorong umatnya untuk bertobat.

Tayangan keagamaan yang mestinya membawa ajaran yang bermakna pendidikan dan penyadaran bagi umatnya berubah menjadi tayangan yang penuh dengan bahasa bisnis guna mengeruk keuntungan. Dengan kecenderungan-kecenderungan McDonaldisasi semacam itu, maka agama akan menemukan dirinya sebagai sebuah entitas produk budaya masa dan kemudian hanyut dalam arus kuat pusaran pasar. 

Cepat atau lambat pesan kenabian agama dipersempit hanya dalam ranah hiburan dan memang hanya untuk menghibur. Agama tidak lagi menjadi jalan keselamatan bagi umatnya tetapi sekedar ranah kapital yang dengan mudah diperjualbelikan. Situasi ini menyitir mahzab kritis Frankfurt, bahwa mass culture dan mass society telah menghasilkan individu yang teralienasi akibat industri budaya massa sebagai kepanjangan tangan dari kapitalisme.

Kalau agama berusaha memenuhi kebutuhan spiritual-esoteris dan eksoteris manusia, maka budaya massa sekadar mengejar kebutuhan-kebutuhan yang remeh-temeh. Pada titik inilah kemudian nilai-nilai agama disubordinasikan oleh nilai-nilai yang pragmatis bagi kebutuhan manusia.            

Industrialisasi dan komersialisasi acara keagamaan telah mengakibatkan kemerosotan dalam hidup beragama. Tanpa disadari, proses dehumanisasi sebagaimana dikatakan oleh sosiolog Max Weber (1864-1920), secara lambat namun pasti, menggerogoti masyarakat kita. Industrialisasi yang memegang teguh prinsip-prinsip rasionalisasi telah melahirkan disenchantment of the world.

Proses meningkatnya daya tarik dunia dunia karena semua yang ada dalam kehidupan bumi dapat dihitung secara rasional. Akibatnya, terjadilah penurunan kualitas kehidupan manusia (dehumanisasi), karena segala hal yang tadinya bersifat subjektif dapat diubah menjadi objektif, kualitatif menjadi kuantitatif. Tayangan cepat saji kian memposisikan agama sebagai dimensi kehidupan yang artifisial dan subordinat. Agama kemudian hanya bernilai formalis dan simbolis.

Implikasi logisnya, agama mengalami nasib yang sama dengan kitsch, produk budaya murahan yang tak berdaya dalam memperadabkan umat. Korupsi, molimo dan degradasi moral dari berbagai elemen bangsa ini adalah sebagian contoh yang dapat menunjukkan bahwa ajaran agama yang mengalami McDonaldisasi ternyata tidak memiliki daya dan fungsi yang determinan dalam membangun bangsa ini agar menjadi humanis, religius, dan civilized. 

Pendek kata, tayangan keagamaan yang cenderung instan justru menurunkan wibawa ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam agama. Kemasan boleh menarik, namun ketika pesan moral cenderung direndahkan nilainya maka orang tidak lagi takut melakukan korupsi, perjudian, mo limo, bahkan selingkuh seperti diperankan panggung artis televisi karena resistensi ajaran yang dibawakan oleh agama.
Dangkalnya pemahaman akan berdampak pada dangkalnya pemaknaan agama. Tayangan keagamaan seharusnya dapat digunakan oleh seluruh bangsa untuk secara kontemplatif menggunakan dan mengajarkan nilai-nilai substantif agama, sehingga dapat berperan memberikan solusi bagi problem kemanusiaan bangsa ini. 

Tayangan keagamaan harus mampu menjelaskan kepada publik nilai-nilai moralitas yang bisa menjadi panutan bagi semua orang. Karena tayangan itu tidak ubahnya mimbar yang memberi pencerahan kepada umatnya. Jika agama dikaitkan dengan mengobati rasa lapar umat akan kehidupan akhirat, sesungguhnya tayangan yang diperlukan adalah tayangan-tayangan yang mampu mengajak umatnnya untuk kehidupan yang lebih baik.

Dalam momentum Natal ajakan untuk bermati raga dan ugahari jauh lebih bermakna ketimbang tayangan yang mengajak orang untuk berpesta pora dalam kenikmatan semu. Bukan tayangan-tayangan yang menakut-nakuti apalagi yang membujuk untuk konsumsi tertentu. Hanya dengan cara demikian, agama akan menemukan daya ikatnya terhadap nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kemerdekaan dan keadilan sosial.

Kesadaran semacam ini hanya akan tumbuh oleh ajaran yang benar mengenai agama. Sekali lagi di era konsumtif ini menjadikan tantangan bagi agamawan untuk membuktikan bahwa ajarannyalah yang terbaik.   (*)


(Paulus Mujiran, S.Sos, MSi – Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata, pengamat masalah sosial, tinggal di Semarang).


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia