KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiProgram-Program PMOH untuk Top Reporter HOKI, Pegawai Negeri, dan Swasta oleh : Redaksi-kabarindonesia
11-Feb-2018, 16:42 WIB


 
 
KabarIndonesia - Ikuti Program Istimewa bagi yang pernah menjadi Top Reporter HOKI kapan pun Anda terpilih dan berhasrat memperdalam ilmu menulis dan tertarik mengikuti Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH).

Program Instansi pun diberikan kepada Instansi Pemerintah atau Swasta yang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Keindahan Khatulistiwa 12 Feb 2018 16:21 WIB

Merakyatlah 12 Feb 2018 16:21 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Hapus Tatto Gratis 27 Jan 2018 12:27 WIB

 

Membangkitkan Kembali Kejayaan Rempah Indonesia

 
OPINI

Membangkitkan Kembali Kejayaan Rempah Indonesia
Oleh : Bayu Refindra Fitriadi | 30-Okt-2017, 00:19:16 WIB

KabarIndonesia - Awal bulan ini, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, mendeklarasikan pengembalian 500 tahun kejayaan rempah Indonesia di Ambon, Maluku. Hal ini dilandasi fakta bahwa Indonesia sudah dikenal sejak dahulu menjadi pusat produksi rempah dunia. Hal ini pula yang menyebabkan bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol dan Belanda melakukan ekspedisi mencapai Indonesia untuk mendapatkan rempah. Namun, saat ini Indonesia hanya menduduki posisi 3 besar dunia sebagai negara penghasil komoditas utama rempah (lada, pala dan kayu manis) serta menduduki peringkat ke-4 sebagai negara eksportir rempah dunia di bawah India, Vietnam dan Tiongkok.
Dengan program yang dideklarasikan oleh Mentan ini, diharapkan Indonesia kembali berjaya menjadi negara penghasil rempah sekaligus eksportir rempah nomor satu di dunia. Harapan ini tentu tidak muluk-muluk, mengingat rempah merupakan komoditas ekspor yang sangat menjanjikan dan pasarnya yang terus naik, sementara negara produsen jumlahnya terbatas. Hanya negara yang memiliki iklim tropis basah yang dapat menjadi tempat budidaya rempah, salah satunya Indonesia. Indonesia memiliki sentra penghasil lada yang berada di Bangka Belitung, Banda, Bandar Lampung, Halmahera. Sedangkan pala Indonesia dihasilkan dari Pulau Siau dan Minahasa Utara di Sulawesi Utara serta Banda dan Maluku Utara. Untuk kayu manis berasal dari Sumatera Barat dan Jambi.
Faktor penurun produksi  Kendala utama menurunnya jumlah produksi rempah di Indonesia diantaranya sarana produksi dan teknologi yang belum memadai, keterbatasan bibit unggul, tata niaga dan tata kelola yang belum efisien serta beberapa kendala lain. Hal itu membuat kualitas dan kuantitas produksi rempah Indonesia menurun hingga 40-60% dari kualitas standar yang diakui pasar dunia. Selain itu, kondisi perkebunan rempah milik rakyat sudah memprihatinkan karena kurang terawat dan usia tanaman sudah melewati batas usia tanaman yang membuat produktivitas menurun ditambah kondisi cuaca yang kurang kondusif untuk pertumbuhan tanaman rempah.
Data dari International Pepper Community menunjukkan, produksi lada Indonesia pada tahun 2015 hanya 400-450 kg/Ha/tahun atau hanya seperlima dari produksi lada Vietnam yang mencapai 2.000 kg/Ha/tahun. Faktor lain penyebab menurunnya produktivitas dan kualitas rempah Indonesia adalah kurangnya pengetahuan tentang prosedur pengelolaan budidaya dan pasca panen yang tepat pada petani rempah Indonesia.
Tingkatkan produksi Upaya untuk meningkatkan produksi rempah Indonesia telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Salah satunya adalah rehabilitasi terhadap lahan konversi bekas ladang timah di Bangka Belitung untuk perkebunan lada. Hingga saat ini telah mencapai 10.000 Ha lahan yang direhabilitasi. Selain itu, pada tahun 2017 ini pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran sebesar 5,5 Triliun yang dikhususkan untuk pengadaan bibit unggul berbagai komoditas rempah dan disebarkan ke sejumlah provinsi yang telah terkenal sebagai pusat rempah-rempah Indonesia.
Alokasi anggaran akan dilakukan hingga tiga tahun kedepan dengan difokuskan dalam memperbaiki budidaya rempah serta pengetahuan penanganan dan pengelolaan pascapanen oleh petani tradisional dengan menyediakan benih, pendampingan, dan pupuk berkualitas. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan membuat sektor rempah menarik lagi bagi petani kecil dan juga investor. Sedikitnya ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam meningkatkan produksi rempah Indonesia yaitu penerapan teknologi, standar mutu dan pengolahan.
Dari sisi penerapan teknologi, produksi rempah Indonesia saat ini masih didominasi petani rakyat sehingga membuat hasil penelitian dan teknologi sulit masuk ke sasaran. Pembentukan klaster dan penguatan kelompok tani menjadi kunci untuk mengatasi masalah tersebut. Dari segi standar mutu, beberapa rempah asal Indonesia saat ini masih belum dapat memenuhi standar yang diakui pasar dunia. Dalam mengatasi hal ini, pemerintah harus turun tangan membantu petani dalam mencapai standar yang dipersyaratkan. Salah satunya dengan melakukan pendampingan dalam pelaksanaan Good Agricultural Practices (GAP) yang meliputi penyiapan lahan, pemupukan, pengairan, perlindungan tanaman, penanganan panen dan pasca panen.
Dari sisi pengolahan, sebagian besar rempah Indonesia masih dijual dalam kondisi mentah. Padahal jika diolah menjadi produk tertentu bisa memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap kerusakan selama transportasi. Langkah selanjutnya adalah menggenjot ekspor rempah ke seluruh dunia.
Tentu saja dengan perbaikan disetiap lini pintu ekspor termasuk pengawalan kualitas rempah yang diekspor untuk meminimalisir penolakan rempah Indonesia di negara tujuan ekspor. Apabila langkah-langkah tersebut dapat diimplementasikan oleh semua stakeholder rempah di Indonesia, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan Indonesia kembali menguasai pasar rempah dunia. Semoga.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEKoleh : Rohmah Sugiarti
12-Feb-2018, 22:21 WIB


 
  Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEK Menteri Komunikasi & Informasi RI Rudiantara (kedua kiri) bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kedua kanan), Chief Executive Officer & Founder Go-Jek Nadiem Makarim (kiri) dan President & Co-Founder Go-Jek Andre Soelistyo berswafoto bersama seusai konferensi pers
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
 

 

 

 

 

 
Walk to Museum Bahari Yogyakarta 12 Feb 2018 16:23 WIB

 

 

 

 
Nasehat Mengelola Amarah 04 Feb 2018 11:15 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia