KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
BudayaFida Abbott Promosikan Batik Melalui Peluncuran Buku Hibridanya oleh : Redaksi-kabarindonesia
10-Aug-2018, 04:59 WIB


 
 
KabarIndonesia - Bila Anda salah satu penyinta media Harian Online KabarIndonesia (HOKI), maka nama Fida Abbott sudah tak sing lagi. Kiprahnya di HOKI sebagai salah satu pewarta warga sudah dimulai sejak bulan Desember 2006. Beberapa bulan kemudian, ia mendapatkan penawaran
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Rindu 28 Jul 2018 11:02 WIB

Hujan 28 Jul 2018 11:02 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Mengamati Insiden Monas
Oleh : Salim Syarief Md. | 04-Sep-2008, 21:17:45 WIB

KabarIndonesia - Saya adalah seorang penonton dan pembaca berita yang rajin, apabila terjadi suatu peristiwa yang menarik perhatian umum, biasanya saya menjelajah semua saluran televisi dan website internet untuk mengikutinya (sedangkan untuk koran saya cuma berlangganan 1 atau 2 saja, kalau mengikuti keinginan bisa bangkrut harus membeli banyak koran dan tabloid).

Biasanya saya menemukan pada setiap stasiun TV dan website punya ‘angle' yang berbeda antara satu sama lain, sekalipun ada juga yang sama. Ketika terjadi peristiwa ‘penggebukan' di Monas terhadap massa AKKBB, malam harinya semua stasiun TV menayangkan beritanya.

Kesan pertama yang mampir di kepala berdasarkan informasi yang dibacakan si penyiar maupun gambar yang ditayangkan berulang-ulang, adalah : FPI menyerang massa yang ‘sebagian besar' terdiri dari wanita, kiyai, orang cacat berkursi roda dan anak-anak, sehingga saya sampai mengucapkan Astaghfirullaaaahhh..!!. Saya cepat-cepat membuka website berita dan kesan yang muncul semuanya seragam.

Sebagian besar memuat pernyataan-pernyataan dari fihak AKKBB seperti Gunawan Muhammad yang intinya mengatakan FPI telah menyerang ‘orang-orang yang sedang melakukan peringatan hari kelahiran Pancasila dan pendukung kebebasan beragama dan berkeyakinan'.

Disini saya punya kesan (setelah mengikuti berita beberapa hari kemudian) bahwa Gunawan Muhammad melakukan ‘perluasan topik permasalahan sekaligus mempersempit rentang waktunya'. Dikatakan memperluas permasalahan karena FPI mengaku dasar antipati mereka terhadap AKKBB adalah soal dukungan aliansi tersebut terhadap Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama, FPI sendiri tidak pernah mempermasalahkan dan mengganggu umat agama lain dalam menjalankan keyakinannya.

Dikatakan telah mempersempit rentang waktu, karena dikesankan seolah-olah kegiatan AKKBB di Monas waktu itu merupakan kegiatan yang berdiri sendiri dan tidak terkait dengan kegiatan mereka sebelumnya yang berusaha melakukan ‘tekanan' kepada pemerintah untuk tidak mengeluarkan SKB tentang pelarangan Ahmadiyah. Kesan pada hari pertama : FPI menyerang Pancasila dan kebebasan beragama (dalam hal ini bisa termasuk menyerang Kristen, Hindu, Budha, dll).

Tidak kalah sengitnya, Gus Dur sebagai salah satu tokoh penting dibelakang AKKBB juga mengeluarkan pernyataan keras : Bubarkan FPI...!!. Ini juga mengherankan saya, karena Gus Dur yang tidak bisa melihat ternyata sanggup mengetahui kejadiannya nyaris lebih cepat dibandingkan orang yang mampu melihat normal, sehingga langsung mengambil kesimpulan untuk membubarkan FPI malam itu juga.

Kelucuan berikut muncul dalam pikiran : kalau Gus Dur memang merupakan pejuang dari kebebasan beragama dan siap ‘pasang badan' membela Islam ‘ala' Ahmadiyah agar tidak dibubarkan, lalu mengapa tidak bisa menerima kebebasan beragama, Islam ‘ala' FPI..? dan malah menuntut FPI dibubarkan. Mengapa bukan menuntut agar pelakunya ditangkap..?? ini terlihat seperti menjalankan ‘double stantard'.

Reaksi Gus Dur ditanggapi ketua FPI Habib Rizieq, juga tak kalah kerasnya : Kita yang akan bubarkan Gus Dur...!!, sambil menyampaikan bukti ‘lawas', bahwa jangankan saat ini, ketika Gus Dur jadi Presiden-pun beliau tidak mampu membubarkan FPI, malah sebaliknya Gus Dur yang lengser.

Dalam tanggapan tanggal 2 Juni tersebut (di TV-One) sang Ketua FPI tidak lupa melontarkan bahwa massa FPI melakukan penyerangan karena diprovokasi terlebih dahulu, dan yang lebih penting (karena ini mengakibatkan reaksi dari massa NU dan PKB) menyatakan : Gus Dus antek Yahudi...!!!.

Saya membayangkan FPI yang memang punya ‘modal dasar' kebringasan ibaratnya seekor banteng, sedangkan AKKBB dan tokoh-tokohnya bertindak sebagai matador yang menari-nari mengibarkan selendang merah di depan hidung si banteng. Bantengnya ngamuk lalu menyeruduk, mungkin sang matador masih kurang ‘jam terbang', si banteng berhasil menyeruduk dan mengenainya.

Sampai disini muncul pertanyaan yang belum terjawab : diberitakan kemarennya bahwa FPI menyerang : Wanita, anak-anak, orang cacat dan para kiyai. Namun sampai berita hari Senin siang sangat sedikit fakta yang dimunculkan media massa. Memang stasiun TV berulang-ulang menayangkan gambar para wanita yang melompati taman untuk menghindar, namun tidak kelihatan adanya wanita yang dipukuli, apalagi anak-anak. Malah saksi mata dari AKKBB yang menyatakan ada orang cacat diatas kursi roda yang digebuki juga tidak kunjung muncul beritanya.
 
Mengenai adanya kiyai yang dihajar, ketika saya mendengar pada hari Minggu malam, terbayang sosok kiyai seperti : KH Abdullah Faqih atau KH As'ad Syamsul Arifin almarhum yang sudan tua renta memakai tongkat, digebuki massa FPI tanpa ampun. Ternyata kiyai yang dimaksud adalah Kiyai Maman Imanulhaq, seorang kiyai NU pendukung Ahmadiyah, kiyai dengan sosok yang masih muda dan gagah, tidak kalah gagahnya dengan Munarman, sang panglima laskar yang melakukan penyerangan. Kiyai Maman memang terlihat babak-belur dengan kepala dan dagu di perban ketika muncul di televisi. Korban lainnya yang sering disorot adalah Syafi'i Anwar, Direktur ICIP, suatu lembaga yang terkenal menyuarakan pluralisme agama (lihat : http://www.insistnet.com/content/view/196/1/ , M. Guntur Romly juga salah seorang tokoh Islam Liberal (ada tulisan bagus menjelaskan sepak-terjang Guntur

Di http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6988&Itemid=1 serta yang lainnya salah satu penganut Ahmadiyah. Beberapa stasiun TV memang terlihat berusaha mengungkapkan wanita yang menjadi korban karena kalau ditemukan fakta adanya korban dengan luka yang cukup ‘signifikan' tentu saja ini bisa dijadikan ‘sasaran empuk' media massa untuk makin mendramatisir penyerangan FPI di Monas, maka agak mengherankan sampai sekarang berita tersebut tidak kunjung muncul jua.

Saya lihat ada 2 orang wanita, yang satunya disambangi TV dikampungnya (rupanya setelah kejadian dia buru-buru balik kekampung), terlihat ada goresan luka di dahi sebelah kiri, namun tidak jelas apakah karena sengaja dipukul atau ‘terkena' pukulan bambu. Satu lagi seorang perempuan (dilihat dari namanya berasal dari Bali) terbaring di rumah sakit diberitakan mengalami geger otak ringan.

Namun juga tidak ada penjelasan akibat dipukuli atau terjatuh. Soal adanya anak-anak dalam kerusuhan tersebut, pihat FPI malah lebih sigap dengan menyodorkan ternyata anak kecil yang dimaksud justru anak dari salah seorang anggota FPI.

Yang lebih lucu soal foto Munarman yang ‘bergaya' Drakula, mencekik seseorang anak muda. Dikatakan foto tersebut berasal dari AKKBB dan anak muda yang dicekik tersebut adalah pengikut pawai AKKBB. Untuk soal ini, media massa punya sikap yang hampir seragam, terlihat ‘terlalu antusias' untuk menyebar-luaskannya.

Terbukti pada koran-koran terbitan Selasa, foto Munarman ‘Drakula' tersebut menghiasi halaman depan sebagian koran. Dalam wawancara di TV-One, lagi-lagi sang pentolan AKKBB, Gunawan Muhammad bereaksi. Waktu itu direncanakan pihak televisi untuk mempertemukan Munarman dengan Gunawan Muhammad, namun Munarman tidak jadi hadir, dan Mas Gun - demikian biasanya beliau dipanggil sama orang-orang TEMPO - merasa ‘diatas angin', dan ingin meminta penjelasan soal ‘gaya' Munarman mencekik orang ini.

Namun siangnya Munarman di markas FPI mengklarifikasi : ternyata anak muda tersebut adalah salah seorang pasukannya yang berusaha dia cegah untuk bertindak anarkis. Disini muncul kelucuan lain, mungkin karena ‘terlalu antusias' baik pihak koran maupun Gunawan Muhammad yang berpredikat ‘wartawan senior' tersebut mendadak kehilangan naluri kewartawanannya untuk bertindak hati-hati, check dan recheck untuk menilai kebenaran suatu informasi.

Secara ‘kasat mata' memang terlihat keanehan pada foto tersebut. Kalau yang dicekik Munarman memang salah seorang ‘pasukan musuh', sudah tentu posisi dan sikap anggota FPI yang ada disekitarnya akan mengerubuti si musuh, bukan terfokus ke depan searah dan sejajar dengan Munarman. Rupanya ada ‘gairah' lain dari beberapa media massa sehingga terlihat ‘terburu-buru' memuat foto tersebut. (kalau untuk Mas Gun tentunya masih masuk akal karena beliau adalah pentolan AKKBB, tanggapannya soal reaksi Munarman terlihat ‘arif bijaksana' dengan mengatakan bisa memahami dan itulah sikap yang bisa diterima dalam alam demokrasi, demikian seperti ditayangkan TV-One Selasa sore).

Besoknya salah satu koran yang memuat, yaitu Koran TEMPO meralat berita tersebut dan dengan enteng menanggapi : Yaa kalau kami salah, kami siap dikoreksi... Yang lebih lucu lagi adalah kelakuan LBH, setelah sebelumnya mengaku mendampingi orang yang dicekik Munarman (tapi disembunyikan indentitasnya), setelah Munarman mengungkapkan fakta yang sebenarnya, Asfinawati dari LBH berkelit :"Meski bukan dari AKBB, tetap saja salah, itu menunjukkan keberingasan Munarman. Bukan hanya AKKBB, anak buahnya sendiri saja dicekik, dia bisa mencekik siapapun dan itu sangat berbahaya", ujar Asfinawati (Detik-Com)

Melanjutkan reaksi ketua FPI Habib Rizieq yang menuduh Gus Dur antek Yahudi, ternyata menyulut reaksi kemarahan pada massa NU dan PKB akar rumput, terutama di Jawa Timur. Massa Banser, GP Anshor dan Garda Bangsa beramai-ramai memasang tampang bringas, kalau bisa terlihat lebih bringas dibandingkan pasukan FPI. Mereka menyerbu markas FPI di Jember dan Surabaya, menuntut agar FPI dibubarkan (hari ini malah saya dengar berita massa NU sudah diisi ‘ilmu kebal' untuk siap bertarung dengan FPI).

Ada 3 alasan yang sering dikemukakan, yaitu : (1) karena FPI memang sudah tidak bisa lagi dibiarkan, sudah terlalu sering melakukan kekerasan sehingga merusak citra Islam (2) karena pada peristiwa Monas tersebut yang diserang FPI termasuk orang-orang NU yang ikut pawai AKBB (3) karena FPI telah ‘menodai' Gus Dus, sosok ulama dan tokoh yang sangat dihormati dengan tuduhan antek Yahudi.

Dari ketiga alasan tersebut yang terlihat masuk akal memang alasan ketiga. Untuk alasan pertama, memang FPI termasuk aktif mempertontonkan keberingasannya, termasuk ketika menyerang tempat-tempat maksiat dan pelacuran, namun tidak pernah ada selama ini pihak Banser, GP Anshor maupun Garda Bangsa menentangnya. Untuk alasan yang kedua, KH Hasyim Muzadi terlihat bertindak ‘cerdas' dengan mengatakan bahwa tidak ada urusan NU dengan pawai AKKBB di Monas.

Orang-orang NU yang ikut bukan mewakili NU tapi mewakili pribadi-pribadi, karena NU tidak pernah mendukung Ahmadiyah. Bahkan secara jelas ketua NU ini menyatakan Ahmadiyah adalah kelompok yang bertindak menodai Islam dan bukan terkait dengan urusan kebebasan beragama. Memang ada kiyai NU yang mendukung Ahmadiyah, misalnya kiyai Maman, dan tindakan ini bukan merupakan ‘garis kebijakan' yang ditetapkan NU sendiri.

Dalam debatnya dengan ketua FPI Habib Rizieq, kiyai Maman memang terlihat berusaha ‘berlindung dibalik NU' dengan berusaha mengesankan sikapnya tersebut adalah sikap NU secara keseluruhan, namun dengan tangkas Habib Rizieq menjawab bahwa dari dulu NU sendiri mengharamkan Ahmadiyah : "Anda jangan membawa-bawa NU disini...", demikian Habib Rizieq menjawab dengan garang.

(Pada Minggu malam jam 21.00 beberapa santri NU menyerang markas FPI di Cirebon, dan di televisi terlihat beberapa kali salah seorang penyerang meneriakkan berkali-kali : Kiyai dipukuli..!! kiyai digebuki FPI..!!!, teriakan ini memang menyulut kemarahan santri yang melakukan penyerangan, sangat mengherankan bahwa berita ini begitu cepat sampai ke Cirebon).

Dalam ‘running text' di Global TV, saya membaca ternyata dalam menanggapi pernyataan KH. Hasyim Muzadi bahwa NU sama sekali tidak punya urusan pada peristiwa Monas, Kiyai Maman kelihatannya ‘memanfaatkan celah' untuk memperluas permasalahan ke organisasi NU dengan menyatakan bahwa dengan pernyataan ketua NU ini maka kedudukan KH. Hasim Muzadi di NU ‘perlu ditinjau kembali'.Maka satu-satunya alasan yang masuk akal mengapa massa NU menjadi bringas, adalah karena pernyataan Habib Rizieq menuduh Gus Dur antek Yahudi.

Ini makin masuk akal karena bukan terjadi kali pertama. Ketika dulu Gus Dur dilengserkan dari kursi Presiden RI, reaksi yang sama juga muncul. Bahkan sampai ada pendukungnya yang datang ke markas NU di Surabaya sambil membawa batu nisan, menunjukkan siap mati demi Gus Dur. Disini kelucuan berikutnya muncul. Ternyata massa Banser, GP Anshor ataupun Garda Bangsa menjadi ‘tersengat' begitu mendengar ‘sang junjungan telah dinodai' oleh Habib Rizieq, lalu memasang tampang garang menyantroni markas FPI, memaksa pengurusnya untuk menutup dan membubarkan FPI. Tidak terlihat kegarangan yang sama ketika Islam dinodai oleh Ahmadiyah.

Saya mengambil kriteria ‘menodai' bukan dari ukuran yang saya bikin sendiri, tapi berdasarkan ukuran yang dibuat oleh NU yang mengeluarkan fatwa mengharamkan Ahmadiyah. Jadi massa NU malah terlihat ‘tidak menggubris' apa yang diputuskan oleh para kiyai dan tokoh-tokohnya sendiri dan sebaliknya bersikap ‘cuek', tapi begitu Gus Dur ‘dinodai' Habib Rizieq, tampang-tampang bringas langsung bermunculan.

Sampai disini saya selesai memaparkan kronologis cerita. Yang perlu kita terima dari catatan saya tersebut adalah : SEMUA PELAKUNYA ADALAH ORANG ISLAM....!!! Sungguh luar-biasa...!!! SEMUA PELAKUNYA ADALAH ORANG ISLAM...!!!. Ketika AKKBB menyebarkan petisi di media massa dan tentunya ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terdapat banyak unsur non-Muslim disana, Saya membayangkan dimana pihak non-Muslim tersebut saat ini..?? apakah mereka sudah kembali kerumah-rumah ibadah mereka masing-masing, sambil berkumpul menonton televisi dan bertepuk-tangan, menyoraki kelompok-kelompok Islam yang sudah saling memasang muka sangar untuk siap-siap bertarung..??

Rasulullah SAW bersabda: "Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang makan dengan rakus." Sahabat bertanya, "Apakah ketika itu umat Islam lemah dan musuh sangat kuat?" Sabda Rasulullah, "Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka ibarat buih di laut...

Saya ternganga..., karena penggambaran Rasulullah tersebut persis dengan apa yang saya lihat ditelevisi, umat Islam yang umumnya berbaju putih seperti buih, bergerak kian kemari, menabrak sana-sini tidak tentu arah, saling berbenturan....., benar-benar seperti buih di lautan.....

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menuju Pulauku Nol Sampaholeh : Rohmah S
20-Jul-2018, 07:18 WIB


 
  Menuju Pulauku Nol Sampah Sejumlah karyawan Astra sedang membuat ecobrick dengan memasukkan sampah plastik ke dalam botol plastik bekas pada kegiatan sukarela karyawan di Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia