KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
OPINI

Menulis untuk Membangun Peradaban
Oleh : Denni Candra | 19-Des-2015, 10:47:25 WIB

KabarIndonesia - Imam Al Ghazali pernah mengatakan, "Kalau kamu bukan anak raja dan kamu bukan anak seorang ulama besar maka jadilah penulis". Hampir senada dengan itu Sayyid Qutb, seorang ilmuwan yang juga sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala”. Sedang di dalam negeri sendiri, Pramoedya Ananta Toer juga pernah berucap, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Yang tidak dapat kita pungkiri, melihat dari sejarah panjang perjuangan para “founding father” negeri ini seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir atau yang lain, dapat dijadikan pembelajaran. Salah satu bentuk perjuangan mereka di awal terbentuknya negeri ini adalah dengan menulis. Selama mereka berada dalam gelapnya dinding penjara dan terdampar jauh di daerah pengasingan, tidak menyurutkan semangat mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini dengan tulisan yang mereka hasilkan.

Selain itu dengan adanya karya-karya dari masa lalu yang dituangkan serta diwariskan kepada kita. Berbagai bentuk tulisan dalam  buku dan dokumen lainnya merupakan sebuah bukti yang mengiringi perkembangan zaman sampai saat ini. Siklus itu akan terus bergulir, kita yang hidup di saat ini merupakan pemegang tongkat estafet yang nantinya akan  diwariskan kepada generasi berikutnya.  Salah satu caranya yaitu melalui kata-kata dan naskah tulisan yang kita hasilkan pada saat ini. Semakin aktif dan banyak kita menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, semakin banyak pula yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya, begitu juga sebaliknya. Maka tidak salah kalau dikatakan dengan menulis kita bisa membangun sebuah peradaban.

Sebagian dari kita mungkin ada yang bertanya, “Apa yang harus ditulis dan darimana memulainya?” Tulislah apa pun yang bisa memberikan manfaat baik untuk diri sendiri terlebih buat orang-orang yang akan membaca tulisan kita. Semakin banyak  tulisan yang kita tuliskan, mudah dicerna dan dipahami oleh para pembaca maka bukan tidak mungkin kalau akan semakin banyak juga orang yang akan terinspirasi. Bisa saja sesuatu yang menurut kita hanya sebuah pengalaman biasa akan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Jadi jangan bingung dan takut apa yang kita tulis tidak akan bermanfaat, karena tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Memang harus diakui bahwa kebiasaan menulis belum menjadi suatu budaya bagi sebagian masyarakat kita. Apalagi dijenjang pendidikan, baik sekolah atau pun perguruan tinggi belum terlalu mendorong siswa atau mahasiswanya untuk aktif dalam menulis. Bahkan dalam menyusun karya tulis semisal skripsi masih banyak yang terkesan hanya sekedar “copy paste” dari karya yang pernah ada sebelumnya. Selain itu masih adanya semacam “stereotip” di masyarakat bahwa menulis belum bisa memberikan jaminan keamanan secara finansial. Suatu hal yang harus kita yakini bahwa seiring kemajuan zaman dan perkembangan teknologi di berbagai sektor, kemampuan menulis pun nantinya juga akan semakin dibutuhkan. Kemungkinan manfaat yang diterima seorang penulis bukan melulu dalam bentuk materi seperti honor atau royalti, namun bisa saja dalam bentuk pengakuan dari orang lain atas kompetensi yang kita miliki. Setelah adanya pengakuan tersebut, mungkin saja kita diundang untuk berbagi pengalaman atau sharing sesuai kompetensi serta keahlian yang kita miliki. Atau bisa juga menjadi semacam amal jariyah yang pahalanya akan tetap mengalir, jika tulisan kita tersebut bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi apa pun kondisinya, ada atau tidaknya imbalan materi dan pengakuan dari orang lain, tetaplah menulis.

Ketika ada sedih duka yang melanda dan membuat kita didera nestapa, maka  curahkan perasaan kita tersebut dalam bentuk tulisan. Setidaknya dengan menuliskan berbagai perasaan yang mendera tersebut telah mengurangi sebagian beban yang ada. Begitu juga ketika perasaan gembira dan suka cita datang membuncah, salurkan dan bagikan perasaan ceria tersebut kepada orang lain dalam bentuk tulisan. Karena kalau hanya sekedar bicara akan terbatas orang yang bisa mendengar. Tetapi kalau dalam bentuk tulisan, akan dapat menembus batasan ruang dan waktu.

Setelah kebiasaan menulis terbentuk maka pada tahap berikutnya akan timbul semacam “kecanduan”. Pada tahap tersebut kita akan menjadi terbiasa untuk menuliskan apa saja yang menjadi buah pemikiran kita. Banyak untuk hal yang terjadi dalam pergaulan, pendidikan, pekerjaan dan berbagai sektor kehidupan lainnya, itu dapat menjadi bahan tulisan kita.Dengan terbangunnya kebiasaan, seiring dengan waktu kelak menulis menjadi sebuah kebutuhan, itu makanya orang-orang di negara maju seperti Amerika dan Eropa bisa produktif. Bahkan dikalangan intelektual AS dan Eropa berlaku sebuah ungkapan yang cukup terkenal yaitu “to publish or to perish!”. Sedemikian perlunya orang untuk menulis agar ia tetap eksis di bidang kehidupan atau profesi yang digelutinya, sebaliknya ia akan tertinggal dan dilupakan orang.

Maka tidak ada salahnya mulai dari sekarang kita membangun kebiasaan menulis hingga menjadi sebuah budaya. Sebagaimana telah dilakukan oleh para pendahulu kita, dengan menulislah kita bisa menyambung rentetan sejarah panjang yang telah ada sebelumnya untuk kita teruskan sebagai warisan buat generasi selanjutnya. Suatu saat kelak orang-orang akan tetap mengingat bahwa ada seseorang yang pernah terlahir dan meninggalkan sebuah karya yang tetap hidup sepanjang zaman. Orang tersebut adalah Anda, yang tetap abadi dalam tulisan-tulisan yang Anda hasilkan. Mulailah menulis sekarang!(*)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini. Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia