KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

 
OPINI

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Oleh : Asep Saepul Malik | 16-Des-2015, 18:52:12 WIB

KabarIndonesia - Guru ataulah pendidik, adalah salah satu profesi yang sangat mulia. Tugas yang diemban seorang guru begitu besar demi melahirkan generasi bangsa yang akan datang. Semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah catatan penting yang mesti direalisasikan olehnya.

Guru mempunyai sejuta tanggung jawab dalam mendidik dan membimbing. Guru berkontribusi besar dalam menata wajah pendidikan. Tanpa adanya guru, pastinya dunia pendidikan akan pincang. Guru adalah unsur terpenting. Kehadiran guru sangatlah berarti. Karena guru adalah pelita dalam kegelapan.

Sebutan pahlawan tanpa tanda jasa adalah reward bagimu, mengingat jasamu yang takkan bisa terbalaskan. Jika lautan dijadikan tinta dan semua pepohonan dibumi adalah penanya, maka itu tidak akan habis untuk melukiskan perjuanganmu yang sangat besar.

 Ilmu yang guru berikan takkan pernah terhitung dan ternilai. Hingga namamu layak untuk dijadikan prasati kehidupan. Seperti dalam lagu hymne guru, seorang guru digambarkan layak cahaya untuk menerangi kegelapan dan namanya pun diabadikan ibarat prasasti.

Perjuanganmu tidak akan pernah ternilai. Profesi mulia dan terhormat yang pantas didapatkan olehmu sebagai ujung tombak dalam pendidikan. Seorang doktor, advokat, ilmuwan, pengacara ataulah Presiden sekalipun, tidak akan bisa menggapai cita -citanya tanpa ada dorongan Sang guru. Begitu berharganya usaha mereka untuk menciptakan dan melahirkan pionir-pionir bangsa dimasa yang akan datang.

Dalam UUD No 14 Tahun 2015 tentang Guru dan Dosen pada pasal 1 menjelaskan bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Memaknai UU diatas, sejatinya seorang guru harus cakap dalam mendidik, melatih, membimbing atau mengarahkan peserta didiknya, sekalipun peserta didik itu sulit untuk diatur. Siapapun peserta didiknya, yang jelas guru mempunyai peran sebagai eksekutor dalam mendesain sikap (attitude) peserta didik dilapangan. Entah itu SD, SMP atau SMA, yang jelas kecerdasan guru diperlukan guna menghadapi itu semua. Untuk itu, sisi kompetensi sangat diperlukan pada diri seorang guru. Tanpa modal kompetensi mau apa yang guru akan persembahkan?

Sosok guru, digugu dan di tiru adalah slogan yang pas dan hangat ditelanga kita. Jangan sampai profesi yang mulia itu guru sendiri yang mencederainya. Mau tak mau, guru wajib menunjukan akhlak baiknya. Guru wajib memberikan sikap mulia. Tidak lantas berbalik dan mencontohkan hal-hal negatif. Guru jangan sampai terbawa arus negatif yang mampu membunuh profesi mulianya.

Coba kita bayangkan, jika guru berbuat sesuatu hal yang tidak diharapkan.? Jelas saja ini akan bersinggungan dengan profesi yang diemban. Sebagai guru, mungkin rasa malu akan menghampiri dirinya ketika guru sendiri melakukan kejelekan. Guru akan terlihat kecil dimata mereka ketika guru sendiri melakukan kegiatan-kegiatan jelek (negative action).

Maka dari itu, guru harus senantiasa menjaga sikap dalam aktifitasnya setiap hari. Bukan saja didalam kelas atau disekolah. Tetapi secara kompleks guru memberikan contoh untuk semua, termasuk di dunia masyarakat. Masyarakat akan menilai dan menghargai guru atas profesi mulianya.

Guru adalah contoh didepan, guru adalah penggagas ditengah, dan guru adalah pendorong dibelakang. Seperti itulah kewajiban dan fungsi guru. Hal ini dicetuskan juga oleh Kihajar Dewantara dalam semboyan Tut wuri Handayani yang menjelaskan fungsi guru kedalam tiga bagian. Tiga hal tersebut yakni, guru di depan, di tengah dan di belakang yang dimaknai: “Guru didepan harus menjadi contoh suri teladan yang baik, guru ditengah atau diantara murid harus mampu membangun, memberikan ide atau gagasan dan guru di belakang hendaknya menjadi motivator atau pendorong. (Ing ngarso sungtulodo ing karsa mangun madya tut wuri handayani)."

Maka hendaknya guru saat ini harus cakap dan mempunyai kompetensi yang baik. Berbagai macam kompetensi harus di adopsi olehnya. Dari mulai kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Tidak saja menyandang status guru, tetapi kompetensinya masih diragukan. Sungguh ini wajib menjadi bentuk evaluasi mutlak bagi seorang pendidik.

Perjuangan mulia seorang guru takkan ada henti-hentinya. Kesabaran dan keihklasan diperlukan agar ilmu yang diberikanpun berkah. Profesi menjadi guru, tidak semudah membalikan kedua telapak tangan. Banyak hal-hal yang perlu dipelajari dan dipahami oleh seorang pendidik. Guru harus berhati-hati dalam memberikan edukasinya kepada peserta didik.

Karena guru selalu gugu dan ditiru. Tentu pelajaran yang disampaikan haruslah benar, tidak asal-asalan. Seorang guru mungkin tidak mau kalaulah dibilang guru sintetis (guru bodong). Artinya bahwa guru tersebut tidak mempunyai kualifikasi serta kompetensi dalam dunia pendidikan.

Tiga Aspek Penting
Kemudian, output yang dihasilkan guru, tidak saja berorientasi pada aspek kognitif saja, tetapi aspek sikap (apektif), keterampilan (psikomotorik) pun diperlukan oleh guru dalam mendidik mereka. Sebagaimana yang diamantkan oleh Bloom dalam Taksonomi Bloom tentang tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh tokoh terkenal bernama Benjamin S. Bloom yang secara teoritis mengkategorikan tujuan pendidikan pada tiga aspek yakni: (1) Cognitove Domain,(2) Affective Domain, dan(3) Psychomotor Domain.

Tiga aspek penting yang harus dimplementasikan oleh guru. Guru tidak saja mengedepankan satu aspek dalam menilai dan memberikan pelajaran.

Sebagai penulis terkadang rasa haru sering muncul ketika menyaksikan perjuangan keras mereka. Ada seorang guru yang rajin mengajar meskipun ia di honor dengan angka 150 – 300 ribu.

Tentu saja ini menjadi satu persembahan yang luar biasa dari kerasnya usaha seorang pendidik. Tetes peluh guru harus rela terbayarkan dengan upah minim. Pada aspek inilah yang mesti digaris bawahi hari ini. Guru harus rela dibayar dengan upah minim, terlebih Sang guru honorer, begitulah realitanya.

Namun, disana terletak kebahagian yang luar biasa, karena mereka biasa memberikan ilmu yang berguna bagi aset bangsa ke depan. Dan gelar pahlawan tanpa jasa adalah sebutan yang pas untuk melambangkan sosok guru yang mendedikasikan kerja kerasnya didunia pendidikan.

Guru pengabdian mu begitu berat. Engkau harus bertahan dengan segala bentuk tantangan. Engkau rela menjadi petarung dalam pendidikan. Bukan sekedar transfer of knowledge semata, tetapi sikap dan keterampilan pun wajib kau rubah demi mencetak generasi bangsa yang sesungguhnya.

Mengingat saat ini, degradasi moral begitu kental yang mana salah satu dampaknya membius para peserta didik. Dan tentu ini wajib menjadi kajian serius, terutama bagi guru sebagai seorang pendidik yang bertugas untuk mencetak generasi penerus ke depan.

Keberhasilan guru tidak saja pada ranah pengetahuan, tetapi sikap peserta didik pun perlu diperhatikan. Mungkin terlihat nonsens (kosong), jika peserta didik hanya unggul pada ranah kognitif, tetapi aspek apektifnya lemah. Artinya bahwa, guru belum sepenuhnya berhasil dalam menjalankan tugas dan wewenangnya sebagai seorang pendidik.

Oleh sebab itu, berjuanglah wahai para guru. Tunjukanlah kemampuanmu dimata pendidikan. Perjuanganmu tidak bisa dipandang sebelah mata. Harumkan namamu sesuai dengan profesi dan kerja kerasmu yang mulia. Karena engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Rela berkorban dan berjuang demi mencerdaskan anak bangsa ke depan.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini. Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia