KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilSang Perancang Mode Batik oleh : Redaksi HOKI
14-Apr-2018, 18:54 WIB


 
 
KabarIndonesia - Anthony Bachtiar memang dikenal dengan rancangannya yang mengeksplorasi kain-kain tradisional Indonesia seperti batik dan tenun ikat. Bahkan ia sering sekali merancang batik sebagai gaun pesta. Ini adalah kreativitas di luar pakem, karena batik sebelumnya hanya dimanfatkan sebatas kain untuk
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemimpin 01 Mar 2018 12:42 WIB

Penghianat 22 Feb 2018 12:07 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Papua Final Sebagai Bagian NKRI
Oleh : Iin Suwandi | 10-Jan-2018, 11:14:11 WIB

KabarIndonesia - Ditengah hiruk pikuk kota metropolitan Jakarta, seorang yang bernama Felip Karma petenteng petantang datang ke ibukota Negara dengan menggunakan simbol Bintang Kejora, sebuah simbol yang digunakan kelompok separatis Papua Merdeka. Simbol bintang kejora ini juga secara pasti bertentangan dengan hukum yang berlaku di wilayah NKRI. Tindakan tersebut sama saja melakukan tindakan bunuh diri dan aparat pasti akan menciduknya.

Hal tersebut tentu saja akan memicu timbulnya protes dari sejumlah pihak atas tindakan menentang hukum yang berlaku di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Apalagi berhadapan dengan TNI merupakan intitusi yang paling konsisten dalam menumpas sebagai  bentuk ancaman yang dapat membahayakan kesalamatan NKRI.
   
Menurut informasi yang berkembang Felip Karma telah menggunakan simbol itu dan mengenakan di kemejanya. Setibanya di bandara Soekarno Hatta pada pekan kemarin, secara otomatis Filep Karma digiring aparat TNI yang bertugas di bandara untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Para perwira TNI menginterogasi namun lucunya Felip Karma bersikeras dan tidak mau melepas simbol bintang kejora yang melekat di bajunya.
 
Jika seorang sudah pakai lambang bintang kejora dan bertahan tidak mau melepasnya, pastilah yang bersangkutan kaki tangan separatis OPM (Organisasi Papua Merdeka). Maka wajarlah kalau yang bersangkutan ditahan dan interogasi untuk kepentingan lebih lanjut. Sangat tidak waras tindakan yang dilakukan Felip Karma tersebut telah melakukan penentangan kepada negara Indonesia berdasarkan hukum yang berlaku.
   
Kalau lambang separatis tersebut digunakan ditengah hutan rimba Papua maka persoalannya beda. Ini lambang separatis OPM dipakai di tengah kota  maka wajar saja kalau dia ditangkap dan diproses. Sudah melakukan pelanggaran hukum dan memakai lambang separatis pasti akan menjadi santapan aparat TNI dan Polri yang ada di Jakarta. 

Atas tindakan nekat dan coba-coba tersebut banyak pihak yang menilai bahwa Felip Karma melakukan  tindakan pengecut dan tindakan penghianatan kepada NKRI. Sebab Papua sudah final sebagai bagian dari NKRI.  Buktinya, sidang PBB tidak pernah membahas tentang status politik Papua, karena PBB telah mengesahkan Papua bagian dari Indonesia sesuai dengan pelaksanaan PEPERA. Landasan hukumnya yakni Resolusi PBB No. 2504 yang dikeluarkan Majelis Umum PBB tanggal 19 Nopember 1969. Resolusi ini diusulkan oleh 6 negara dan diterima oleh Majelis Umum PBB dengan imbangan suara 84 setuju, tidak ada yang menentang dan 30 abstein.
   
Dengan tidak dipermasalahkan PEPERA oleh Negara manapun menunjukan bahwa, Pepera diterima oleh masyarakat internasional. Artinya, Papua sebagai bagian dari NKRI telah diakui oleh masyarakat internasional. Makanya kalau masih ada orang Papua yang ingin mencoba-coba mengutak-atik Papua untuk keluar dari NKRI, itu adalah tindakan penghianatan yang patut diproses dengan hukum yang berlaku.
   
Keinginan rakyat Papua bergabung dengan Indonesia sudah muncul sejak pelaksanaan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa Sumpah Pemuda tidak dihadiri pemuda Papua. Ini keliru, karena justru sebaliknya, para pemuda Papua hadir dan berikrar bersama pemuda dari daerah lainnya. Adapun mengenai pihak-pihak yang memutarbalikkan sejarah dan masih menyangkal kenyataan integrasi Papua ke dalam NKRI, tentu kita tidak menyalahkan mereka karena minimnya pemahaman atas hal tersebut. Hal yang perlu disadari adalah bahwa keberadaan NKRI merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga seharusnya disyukuri dengan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di Papua. 

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa   PBB merancang suatu kesepakatan yang dikenal dengan New York Agreement untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat Irian Barat melakukan jajak pendapat melalui Pepera pada 1969 yang diwakili 175 orang sebagai utusan dari delapan kabupaten pada masa itu. Hasil Pepera menunjukkan rakyat Irian Barat setuju untuk bersatu dengan pemerintah Indonesia.
   
Bukti paling valid ditunjukkan salah seorang mantan pemimpin Papua Merdeka Nicholas Jouwe yang telah kembali ke NKRI. Dengan kesadarannya menyatakan kepada semua pihak khususnya masyarakat Papua untuk mendukung pembangunan Papua, dan jangan mempersoalkan masa lalu. Masuknya kembali Papua (Irian Barat) ke dalam NKRI sudah final, dan tidak bisa diganggu gugat. Bahwa Papua bagian sah NKR Indonesia.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Anthony Bachtiar, Designer Batik Terbaikoleh : Munir Werlin
17-Apr-2018, 06:58 WIB


 
  Anthony Bachtiar, Designer Batik Terbaik Anthony Bachtiar, Designer Batik Terbaik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia