KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (8), telah kita simak bagaimana DKI Jakarta yang ditinggalkan Jokowi sejak Pilpres 2014 digantikan dengan baik oleh Ahok-Djarot sampai tiba waktunya digelar kembali
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Pendidikan dan Kebudayaan Dalam Pewayangan

 
OPINI

Pendidikan dan Kebudayaan Dalam Pewayangan
Oleh : Romi Febriyanto Saputro | 21-Feb-2019, 14:58:06 WIB

KabarIndonesia - Dunia pendidikan di tanah air sedang berduka cita. Seorang guru yang sehari-hari dikenal sabar memperoleh perlakuan buruk yang ironisnya dilakukan oleh muridnya sendiri. Nur Khalim, sama sekali tidak menyangka bahwa ajakan berbuat baik kepada anak didiknya akan berbuah persekusi. Namun sebagai seorang guru beliau tetap berlapang dada dengan memberi maaf kepada anak didik yang sedang khilaf. Murid yang belum memahami ilmu memuliakan guru.  

Kisah diatas membuat saya teringat dengan "DEWA RUCI" salah satu cerita yang paling popular dalam jagad wayang di tanah air. Dalam buku Mahabharata yang dikisahkan ulang oleh Nyoman S Pendit (2003) disebutkan bahwa suatu hari Mahaguru Durna yang lebih menyayangi Kurawa memanggil Bima. Katanya, "Wahai, muridku Bima yang perkasa, pergilah engkau mencari tirtha prawidhi. Carilah sampai dapat, jangan kembali jika belum berhasil. Ketahuilah, barang siapa memiliki tirtha prawidhi, dia akan dapat memahami hidup ini dan akan mampu mengenal asal, arah dan tujuan hidup manusia, yaitu sangkan paraning dumadi. "Pergilah anakku. Jangan pernah ragu, karena orang yang ragu takkan pernah berhasil."
Bima, yang tidak pernah banyak berpikir sebelum bertindak, langsung berangkat. Ia siap menjalankan perintah gurunya, karena yakin tak mungkin guru yang dihormatinya itu akan mencelakakannya. Ia tidak peduli, meskipun ibunya menghalanginya. Bima bersujud di depan ibunya, memohon restu, lalu dengan cepat berjalan masuk ke hutan rimba. Ia menjelajahi hutan, menyusuri lembah-lembah di kaki gunung, memasuki gua-gua gelap di kaki Gunung Candramukha. Tetapi, tirtha prawidhi tak juga ditemukannya. Bima tak peduli pada binatang buas, raksasa, setan atau jin yang mengganggunya dalam pengembaraannya. Mereka semua berhasil dikalahkannya.  

Setelah melalui semua pertempuran Bima merasa lelah. Pada saat itu munculah Dewa Ruci, sosok mungil yang menyerupai dirinya. Dewa Ruci menyuruh Bima masuk ke dalam telinganya. Begitu memasuki telinga Dewa Ruci, Bima merasa seakan-akan berada di alam kosong, berhadapan dengan suatu wujud berbentuk gading yang memancarkan sinar putih, merah, kuning, dan hitam perlambang jiwa manusia dengan sifat-sifat murninya. Sinar putih melambangkan kemurnian budi, sinar merah melambangkan watak berangasan dan lekas marah, sinar kuning melambangkan keinginan-keinginan manusiawi, dan sinar hitam melambangkan angkara murka dan keserakahan. 

Bima melihat tiga wujud seperti boneka dari emas, gading dan permata. Ketiganya melambangkan tiga dunia. Masing-masing disebut Inyanaloka atau lambang badan jasmani, Guruloka atau lambang alam kesadaran, dan Indraloka atau lambang dunia rohani. Tanpa disadarinya, Dewa Ruci yang gaib dan agung itu lenyap dari mata batinnya. Bima tersadar bahwa dia telah menemukan apa yang harus dicarinya, yaitu tirtha prawidhi, air suci atau air kehidupan, perlambang hakikat diri dan hakikat alam semesta.
Bima adalah murid yang menjunjung tinggi adab terhadap Sang Guru. Bahkan kecurigaan Ibunya tidak menghalangi niat Bima untuk memuliakan perintah guru. Bagi Bima perintah guru harus dilaksanakan apa pun resikonya. Jangankan hanya dilarang merokok, diperintah guru untuk masuk hutan belantara penuh bahaya pun akan Bima laksanakan. Inilah pesan pendidikan sekaligus kebudayaan yang bisa dipetik seandainya anak-anak "zaman now" diperkenalkan dengan dunia wayang sejak dini.  

Tjokroaminoto yang dikenal sebagai guru Sukarno, Muso, dan Kartosuwiryo menggunakan wayang sebagai salah satu menu pendidikan di rumahnya.  Amelz seperti dikutip oleh Rintahani Johan Pradana (2014) menyebutkan bahwa Hanoman merupakan tokoh favorit yang sering diperankan oleh Tjokroaminoto. Tokoh Hanoman, merupakan simbol perjuangan melawan penindasan. Tjokroaminoto dengan sengaja menanamkan kecintaan pada seni tari dan musik pada anaknya. Ia bersama dengan para pelajar yang mondok di rumahnya entah seminggu sekali atau seminggu dua kali, mengadakan latihan tari-tarian wayang bertempat di Taman Seni Panti Harsoyo. Di Panti Harsoyo orang bisa membaca buku, bermain catur, dan  bilyard.  

Sutaryo (2013) mengungkapkan bahwa untuk mendidik perasaan, Ki Hadjar Dewantara mengatakan ada dua  hal yang harus dilalui, pertama pendidikan kehalusan hidup kebatinan yang dinamakan pendidikan moral dan yang kedua adalah pendidikan estetis, yaitu pendidikan kesenian. Model pendidikan ini merupakan sarana untuk membangkitkan "perasaan" anak didik. Perasaan religius, sosial, maupun individual yang semuanya itu berarti kecintaan kepada agama, kepada  kemanusiaan, dan  kepada dirinya sendiri. Perasaan yang peka akan mendidik seseorang untuk tidak sembarangan mengucapkan atau menulis sesuatu di media sosial. Selalu mempertimbangkan perasaan orang lain  adalah tanda kebijaksanaan seseorang. 

Wayang oleh Ki Hadjar Dewantara dimasukkan sebagai pendidikan estetis yang dapat menghaluskan perasaan keindahan terhadap segala benda lahir. Pendidikan estetika ini akan berbentuk kesenian, seni suara, seni musik, seni gambar, seni garis, seni warna, sandiwara, wayang dan tari. Dengan wayang, Ki Hadjar Dewantara mengharapkan anak didik bisa halus perasaannya, mendapat kecerdasan yang luas, sempurna roh, jiwa, dan budinya sehingga mereka menjadi manusia berbudi luhur.
Melalui gending-gending pewayangan, anak-anak diajarkan untuk dapat membandingkan berbagai macam suara dan irama. Wayang melatih anak-anak  untuk membedakan suara laki-laki dan perempuan, membedakan suara yang berat seperti Bima,  rendah seperti Arjuna yang halus, sombong dank eras seperti Dursasana. Wayang mengajak anak  untuk memahami karakter orang melalui karakter suara. 
Pandawa adalah lambang keluhuran budi yang bisa menjadi teladan pendidikan dan kebudayaan bagi anak didik. Yudhistira disegani karena keteguhan hatinya, rasa keadilannya, dan keluhuran wibawanya. Bima dilukiskan sebagai orang yang pemberani dan berperilaku kasar, tetapi berhati lurus dan jujur.  Arjuna, yang berarti cemerlang merupakan penjelmaan sifat-sifat pemberani, budi yang luhur, dermawan, lembut hati dan berwatak kesatria dalam membela kebenaran dan kehormatan. Nakula dan Sadewa melambangkan keberanian semangat, kepatuhan, dan persahabatan yang kekal.  

Walisanga menambahkan tokoh punakawan untuk memajukan pendidikan dan menguatkan kebudayaan. Abdurrahman Mas'ud (2004) menyebutkan bahwa Semar, berasal dari kata ismar yang berarti seorang yang mempunyai kekuatan fisik dan psikis. Ia sebagai representasi seorang mentor yang baik bagi kehidupan, baik bagi raja maupun masyarakat secara umum. Nala Gareng berasal dari kata nála qarín yang berarti seorang yang mempunyai banyak teman. Ia merupakan representasi dari orang yang supel, tidak egois, dan berkepribadian menyenangkan sehingga ia mempunyai banyak teman. Petruk merupakan kependekan dari frase fatruk ma siwá Allah yang berarti seorang yang berorientasi dalam segala tindakannya kepada Tuhan. Ia merepresentasikan orang yang mempunyai nilai sosial yang tinggi dengan dasar kecintaan pada Tuhan. Bagong berasal dari kata bagháyang berarti menolak segala hal yang bersifat buruk atau jahat, baik yang berada di dalam diri sendiri maupun di dalam masyarakat.

Perlukah wayang dimasukkan dalam kurikulum sebagai mata pelajaran tersendiri ? Menurut saya tidak perlu karena hal ini hanya akan menambah gendut kurikulum yang sudah ada. Wayang sebagai warisan kebudayaan yang sudah diakui oleh UNESCO cukup menjadi jiwa pendidikan dan pengajaran yang ada di sekolah. Semua guru bidang studi mempunyai kewajiban moral untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan yang bisa dipetik dari cerita wayang yang selalu bergerak dinamis mengikuti arus zaman. Artinya, wayang adalah kebudayaan terbuka untuk mendidik anak Indonesia menjadi manusia yang beradab. Memahami bahwa manusia sebaik Yudhistira pernah khilaf terjebak dalam judi dadu  sekaligus memahami bahwa Duryudana pun pernah berbuat baik  membela kehormatan Karna ketika diejek Bima sebagai anak sais kereta. (*) 

Sumber gambar : infoblora.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia