KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupPembangunan PLTB Membuat Hutan Gunung Slamet Terancam Tak Selamat oleh : Rohmah Sugiarti
15-Aug-2017, 02:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah yang memiliki hutan tropis alami terakhir di Pulau Jawa dengan berbagai kekayaan flora dan fauna khas mulai dari Elang Jawa, Macan Tutul, Anggrek Gunung, hingga spesies Katak yang belum diberi nama,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Sajak Kodok I 17 Aug 2017 09:09 WIB

Rintih Sedih Diriku Padamu 17 Aug 2017 09:08 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Peran Opini dalam Kiprah Masyarakat
Oleh : Amanda Fidienna Putri | 11-Jan-2014, 02:28:34 WIB

KabarIndonesia - Setiap masyarkat memiliki haknya untuk berpendapat, baik secara lisan, tulisan maupun tindakan. Apalagi pada masa demokrasi saat-saat ini yang sering disebut-sebut sebagai masa kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah keleluasaan berbuat sesuatu tanpa ada tekanan, gangguan, hambatan atau paksaan dari orang lain.

Dengan adanya kebebasan yang terjadi sekarang ini kita bisa membaca koran di mana pun dan kapan pun. Apalagi sejak adanya kemajuan teknologi, kita bisa mengakses berita dengan lebih mudah dan up to date. Seperti yang sering kita lihat dalam surat kabar yang beredar setiap harinya, pasti kita akan mlihat rubrik khusus untuk kolom, pendapat, tajuk rencana, opini, karikatur, pojok, dan artikel. Hal ini adalah sebuah bukti dari kebebasan mengeluarkan pendapat. Hal di atas bukan tanpa pengaruh.

Saya pernah membaca sebuah artikel mengenai betapa dahsyatnya pengaruh sebuah tulisan yang dituliskan oleh seorang wartawan pada surat kabarnya, dan saya tertarik mengutip kata-kata dari Napoleon yang pernah mengeluarkan statement. "Saya Napoleon tidak takut dan mampu melawan ribuan musuh. Namun, saya takut dan gamang jika berhadapan dengan penulis (wartawan)." 

Ketika membaca artikel itu, ada sedikit tersirat pertanyaan mengenai seberapa besar pengaruh sebuah tulisan? Berapa besar pengaruh kritikan yang dilontarkan untuk petinggi negara? Saya sempat mengingat mengenai pers pada masa orde baru, masa di mana pers saat itu merasa sangat dikekang, tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bahkan pada masa itu pers hanya menjadi sebuah boneka penguasa. Tidak ada yang berpendapat, tidak  ada yang mengritik.

Mengingat akan kejadian tersebut, mungkin jika saat itu pers bisa berbicara, akan menampung pendapat orang banyak, mengritik dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia. Mungkin saja penderitaan masyarakat pada  masa orde baru tidak akan selama 30 tahun lebih.

Jika dibandingkan dengan masa orde baru, pada masa reformasi sekarang ini. pers yang dahulunya hanya boneka untuk pemerintah, kini pers telah bebas untuk mengaspirasikan pendapat, mengritik secara gamblang atau secara halus dan memberitakan semua peristiwa.

Mungkin jika kita membaca surat kabar, kita akan selalu menemukan rubrik khusus kolom, pendapat, tajuk rencana,  opini, karikatur, pojok, dan artikel. Pada tulisan-tulisan tersebutlah kita bisa membuka mata kita untuk satu sisi lain kejadian yang ada atau tentang kinerja pemerintah. Pada rubrik itulah seorang redaktur mewakili masyarakat dapat menyalurkan pendapat atau kritikan pada suatu peristiwa yang sedang terjadi. Tentu hal tersebut sangat berbeda pada masa orde baru, bukan? Tulisan-tulisan yang disebar melalui media surat kabar tentu saja memberikan dampak terhadap masyarakat.

Dampak yang sangat jelas dalam hal ini adalah terciptanya opini publik. Tak bisa dipungkiri terciptanya opini publik tersebut adalah dampak yang pasti terjadi ketika suatu media membeberkan suatu berita atau mengritik kejadian ganjal yang dibuat oleh pemerintah. Namun, pertanyaannya adalah apakah opini publik sama dengan opini masyarakat? Menurut saya jawabannya adalah belum tentu, karena dalam hal ini seperti yang saya sudah katakan di atas tadi bahwa media lah yang memaksa agar opini tersebut terus berkembang di masyarakat. Jika kita memperhatikan saat ini di Indonesia, para raja media bisa dibilang bergerak untuk menguasai Indonesia.

Saat ini media adalah kontrol sosial, pergerakan sosial, dan pergerakan pemikiran. Kita dapat menguasai dunia dan masyarakat. Sekarang ayo kita telaah ulang fenomena yang terjadi di Indonesia, saya akan meberikan contoh kecil yang sangat nyata terjadi pada media kita. Saat ini yang harus dikuasai oleh penguasa yang berkepentingan adalah strategi opini publik yang terus dipaksa pada masyarakat agar berkembang dengan sendirinya, dan salah satu caranya adalah menguasai media.

Masih ingat berapa media massa baik surat kabar, televisi dan radio yang diciptakan untuk kepentingan pribadi? Kali ini media tersebut berhasil menjarah opini publik dengan sepihak. Hal ini sangat menyedihkan dan menyeleweng dari tugas kebebasan pers yang seharusnya tidak memihak oleh satu institusi saja. 

Masih ingat kasus kriminalisasi dua pimpinan KPK, Bibit-Chandra, yang amat marak di media saat itu. Kasus yang kemudian meluas dengan sebutan "Cicak vs Buaya", yang secara implisif menyimbolkan pertarungan antara KPK dengan Polri, mendapat perhatian amat besar dari masyarakat. Dimotori oleh media-media massa nasional yang mengangkat topik ini ke permukaan, dengan adanya penberitaan dan opini yang beredar di masyarakat, muncullah masyarakat yang kemudian marak mendiskusikan kasus tersebut melalui jejaring sosial. Contoh jejaring sosial seperti Facebook, muncul beberapa group yang isinya memberikan dukungan kepada Bibit-Chandra dalam menghadapi kriminalisasi yang dilakukan terhadap KPK. Arus dukungan rakyat semakin besar, hingga pemerintah pun merasa terdesak, dan meminta kasus Bibit-Chandra untuk dihentikan pengusutannya. 

Tentu saja hal ini terjadi bukan hanya di Indonesia tapi di negara-negara barat juga. Saya akan memberikan contoh kecil dalam hal ini adalah Hamas. Hamas adalah pembela tanah air di Palestina karena negaranya dijajah. Namun karena pemberitaan dan tulisan yang ada di negara barat itu hanya mengambil sisi buruknya saja, maka terciptalah opini pada negara tersebut bahwa Hamas adalah teroris. Jangan salah dampak hal seperti ini sangat luar biasa, hampir semua orang terpedaya oleh opini tersebut.  

Begitu besar memang dampak yang diberikan oleh opini, bukan? Termasuk media internet, seperti  blog, twitter, dan facebook yang secara tidak langsung akan mengubah pandangan kita dan membuat opini masyarakat.

Ingatkan kasus seperti Gerakan 1.000.000 Facebookers bebaskan Bibit dan Chandara, gerakan tolak konten RPM? Orang bunuh diri gara-gara komentar facebook, koint Prita dan Bilqis, dan masih banyak lagi. Kebebasan yang terjadi untuk menyalurkan pendapat memang memberikan banyak dampak positif, namun jika semua dilakukan di luar batas dan tidak berimbang, maka akan menjadi boomerang untuk media yang menyebarkan atau untuk kita yang berkomentar. Setidaknya perang opini adalah perang terbaik yang dilakukan daripada perang fisik.***          



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com





 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
Beda Hemat dan Pelit 15 Aug 2017 02:01 WIB


 
Timnas U-22 Berangkat ke Malaysia 13 Aug 2017 11:00 WIB

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia