KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Percik Api Dinasti Cendana

 
OPINI

Percik Api Dinasti Cendana
Oleh : Tony Mardianto | 02-Sep-2009, 23:08:27 WIB

KabarIndonesia - Kenangan masa lalu ternyata tidak begitu saja mudah dilupakan. Terlebih bila kenangan tersebut berkaitan erat dengan sebuah kekuasaan, yang memiliki korelasi positif terhadap berbagai kemudahan. Hal serupa saat ini dialami oleh para Puteri dan Pangeran dari Cendana. Tommy dan bak Tutut sepertinya akan kembali masuk dalam terminal politik yang dalam beberapa waktu belakangan sempat ditinggalkan.

Berbagai kecaman dan hujatan terhadap ayahandanya mantan Presiden Soeharto tidak membuat langkah keduanya menjadi surut. Atau bahkan kondisi ini merupakan cambuk serta solusi terbaik bagi para Putera dan Puteri mendiang Presiden Soeharto untuk membersihkan nama Presiden Soeharto. Yang ada dalam fikiran keduanya adalah, “hanya dengan memegang kekuasaan upaya pemulihan nama baik Presiden Soeharto dapat dilakukan”. Sekali lagi kekuasaan memiliki korelasi positif terhadap kemudahan. Pertanyaan besar yang ada adalah: “Mampukah mereka berenang di lautan politik yang memiliki hempasan ombak yang dahsyat ?” Ataukah langkah ini diambil dengan dasar perhitungan bahwa kalangan bawah kembali merindukan kepemimpinan Soeharto.
 
Untuk kalangan penggerak Reformasi mungkin hal ini bagaikan petir di siang bolong. Tokoh yang dengan berbagai upaya telah digulingkan serta dianugerahi berbagai predikat kotor ternyata masih memiliki akar yang cukup kuat di tingkat masyarakat bawah. Dan yang lebih memilukan adalah pada detik-detik terakhir ini para tokoh Reformasi tidak lagi memiliki dukungan yang kuat di tingkat bawah, hanya mahasiswa dan segelintir cendikiawan yang mesih berteriak lantang tentang Reformasi.

Dengan turun gunungnya para Dinasti Cendana tidak bisa dianggap sebagai sebuah lelucon. Secara budaya kecenderungan masyarakat Indonesia banyak merindukan keturunan dari sebuah rezim yang pernah tergulingkan. Pada saat Presiden Soekarno berkuasa berbagai hujatan datang kepadanya. Sampai pada sebuah keinginan agar Presiden Soekarno turun dari kursi kepresidenan. Rasa bangga dan puas begitu membahana mengiringi lengsernya Presiden Soekarno. Semua hal yang berbau Soekarno dianggap sebuah dosa. Namun tak lama berselang, Soekarno begitu dipuja. Seandainya mungkin ingin rasa untuk membangkitkan Presiden Soekarno dari kuburnya untuk kembali memegang tongkat kepemimpinan di negeri ini. Dan berpijak dari budaya inilah maka Megawati bangkit dan diusung oleh berbagai kalangan. Megawati dianggap sebagai Soekarno. Masyarakat secara buta mengusung Megawati untuk menjadi Presiden RI, dan akhirnya masyarakat begitu kecewa karena Megawati jauh dari figur Soekarno. Dan itu terbukti dengan gagalnya Megawati dalam 2 kali pencalonan Presiden RI. Bahkan angin deras yang berhembus menyebutkan adanya beberapa kalangan di tubuh PDI-P yang menginginkan Megawati turun dari Ketua Umum PDI-P karena dianggap tidak lagi memilki nilai jual bagai partai.

Hal yang sama sangat besar kemungkinannya akan dialami oleh Dinasti Cendana. Baik oleh bak Tutut maupun Tommy Soeharto. Kegagalan bak Tutut dalam bursa Capres beberapa waktu yang lalu disebabkan oleh terlalu dekatnya waktu pencalolan dan terjadinya Reformasi. Pada saat itu aroma Reformasi begitu harum tercium. Maka sangat fatal bila saat itu bak Tutut mencalonkan diri dalam bursa Capres. Tetapi untuk saat ini semua dapat berubah secara drastis. Dalam pola kepemimpinan kedepan akan terjadi sebuah kondisi: Hanya Partai yang merekrut keluarga Cendana yang mampu mengalahkan popularitas Partai Demokrat. Dan hal ini sangat disadari oleh Partai Golkar yang secara de facto tumbuh dan berkembang di balik Istana Cendana. 
Salam: Ki Semar


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!!
Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia