KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Nyatakan Tiga Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Habibie oleh : Danny Melani Butarbutar
11-Sep-2019, 14:48 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Dikabarkan, pada hari ini Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18,05 WIB, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie (B J Habibie), telah meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, pada usia 83 tahun. Jenazah almarhum telah diberangkatkan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Siapa Kau Siapa Aku? 02 Sep 2019 10:28 WIB

AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Perempuan dalam Kelindaan Politik

 
OPINI

Perempuan dalam Kelindaan Politik
Oleh : Anjrah Lelono Broto | 16-Des-2011, 20:54:46 WIB

KabarIndonesia - Kemenangan kali kedua Ratu Atut Chosiyah dalam pemilihan gubernur (pilgub) Banten, 22 Oktober kemarin, sedikit banyak telah menambah deret petanda bahwa perempuan juga memiliki power yang sama dalam kelindan politik kekuasaan, baik di level lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Perempuan dengan segenap karakteristiknya memang seakan tenggelam dalam kubangan marginalisasi yang produk konstruksi berbasis perspektif kaum Adam dengan hegemoni patriarkhinya.

Akan tetapi dalam setiap generasi peradaban dunia, senantiasa lahir ‘perempuan-perempuan perkasa’ yang menjungkirbalikkan perspektif tersebut. Eksistensi ‘perempuan-perempuan perkasa’ inilah yang menginspirasi kaumnya untuk lebih giat berkiprah, termasuk di antaranya dalam kelindan politik kekuasaan.

Ada tiga ragam peran dan posisi perempuan. Pertama, perempuan sebagai anak. Kedua, perempuan sebagai istri. Ketiga, perempuan sebagai warga negara (Siti Musdah Mulia dalam bukunya “Menuju Kemandirian Politik Perempuan”, 2008) Sebagai anak, seorang perempuan dinilai sejajar dengan kaum laki-laki. Sebagai istri, seorang perempuan bertanggung jawab secara adil terhadap keluarga. Adapun sebagai warga negara, seorang perempuan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dengan kaum laki-laki.

Ragam yang terakhir inilah yang kini ramai diperbincang-juangkan oleh kaum perempuan. Perbincang-juangkan kaum perempuan tersebut ditandai dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas perempuan yang berkiprah di ranah politik kekuasaan. Telah banyak posisi-posisi vital dalam politik dan kekuasaan yang dapat diraih oleh kaum perempuan; mulai dari presiden, wakil presiden, perdana menteri, menteri, guber¬nur, bupati, walikota, anggota dewan, ketua parpol, hingga lembaga-lembaga internasional seperti IMF, Unesco, IAEA, dll.

Apabila kita cermati lebih mendalam, ternyata kiprah kaum perempuan di ranah politik kekuasaan juga menunjukkan kegenialan mereka dalam men¬jalankan tanggung jawab politik kekua¬saan yang menggayut di pundaknya. Hingga, patahlah asumsi yang telah mengakar bahwa perempuan toh tetaplah perempuan, yang ti¬dak mampu menjauh dari medan pertempuran bertajuk ‘dapur’, ‘sumur’, dan ‘kasur’.

Akan tetapi, satu yang patut direnungkan adalah hendak dibawa kemana peradaban dunia ini ketika kuantitas dan kualitas perempuan di ranah politik kekuasaan mengalami peningkatan yang signifikan?

                                        *****

Ranah politik kekuasaan merupakan ajang pertarungan sengit dan identik dengan adagium penghalalan segala cara. Bahkan, sejak berabad lampau, peradaban kita pun dibangun dengan kelindan perebutan hegemoni kekuasaan. Baik di wilayah sosial, ekonomi, ideologi, religi, pertahanan dan keamanan, terutama dalam wilayah politik kekuasaan itu sendiri.

Pertarungan dengan egoisme sebagai materi motivasi yang mewarnai perjalanan peradaban kita tak dapat dipungkiri sangat identik dengan maskulinitas paradigma yang dimiliki oleh laki-laki. Thomas Hob¬bes (1588) pernah mengatakan bahwa perang telah menghilangkan kodrat kebaikan yang sejatinya telah menjadi milik manusia. Manusia menunjukkan sisi gelapnya, diibarat sebagai serigala bagi se¬samanya (homo homini lupus). Kebrutalan perang inilah yang menggiring Hobbes pada simpulan bahwa teramat sulit membedakan mana ka¬wan, mana lawan. Ketika simpulan Hobbes ini ditransformasikan dalam kelindan politik kekuasaan maka yang tercipta adalah adagium ‘hari ini menjadi kawan, sementara besok atau lusa bisa jadi menjadi lawan.”

Sisi gelap manusia di atas mencuat ke permukaan interaksinya umumnya dilatarbelakangi oleh niatan perlindungan diri (self-preservation) dan hasrat akan mengejar hak maupun kekuasaan. Un¬tuk mendapatkan hak dan ke¬kuasaan, mengeliminasi kodrat kebaikannya, bahkan menempatkan keberadaan manusia lain tak lebih sebagai komoditi dalam pencapaian tujuannya. Sebuah aksian ketidakberadaban dalam pengertian yang luas, menurut Hobbes.

Sebagai penyikapan, rakyat yang selama ini identik sebagai komoditi pencapaian tujuan akan kursi kekuasaan menyerahkan semua hak kekuasaannya kepada pemimpinnya. Penguasa adalah pribadi yang kuat, berwibawa, berkharisma, sehingga mampu menge¬lola kepercayaan rakyat tersebut.

Ketika perempuan dipersepsikan sebagai pribadi yang secara kodrati le¬mah, bahkan eksistensinya dimulakan sebagai pelengkap eksistensi laki-laki, sebagaimana dalam tafsir tulang rusuk, perempuan pun dianggap tidak memenuhi prasyarat sebagai penguasa atau pemimpin. Akhirnya, perempuan pun dimarginalisasi dalam ruang kiprah sendiri oleh paradigma patriarkhi dengan ‘dapur’, ‘sumur, serta ‘kasur’ sebagai wahdatul wujudnya.

                                      *****

Perjalanan peradaban memaksa kaum laki-laki merekonstruksi paradigma patriarkhinya, uber alles yang sebelumnya menjadi roh utama lambat laun pun ditanggal-tinggalkan. Pertarungan hidup tidak lagi identik dengan kekuatan fisik. Begitu pula dengan kelindan politik kekuasaan, ketika Thaksin Shinawathra harus tersingkir dari Thailand, dirinya bisa menyulap adik perempuannya Yingluck Shinawathra untuk mengambil kembali kendali kekuasaan di Thailand. Maskulinitas yang identik dengan kekerasan fisik pun dapat dipatahkan dengan rasionalitas yang juga dimiliki oleh perempuan. Pada tataran inilah, perempuan menunjukkan kesetaraannya dalam peta kelindan politik kekuasaan.

Marilyn French dalam “Beyond Power” (2002), menga¬takan bahwa kuasa laki-laki adalah power over sedangkan kuasa perempuan adalah power to. Kuasa yang pertama sifatnya menindas, sedangkan kuasa yang kedua lebih dekat dengan pengertian berbagi dan konstruktif. Hal ini sejalan dengan pandangan feminis-feminis dunia seperti May Knudsen, Maccoby dan Jaclin, bahwa s¬ifat kodrati perempuan yang keibuan: dapat mengubah dunia menjadi lebih damai jika para perempuan menjadi pemim¬pin.

Mari kita lihat, benarkah Banten akan lebih damai di kali kedua kepemimpinan Ratu Atut Chosiyah? (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia