KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Kontemplasi (تفكر) 23 Nov 2017 09:41 WIB

Sang Perisai Kehidupan 23 Nov 2017 09:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Seragam Putih Hitam buat Mahasiswa
Oleh : Ilus Trian Dayano | 09-Jul-2017, 23:29:52 WIB

KabarIndonesia - Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2016 telah mengatur tentang pakaian dinas PNS di lingkungan Kemendagri dan Pemda. Salah satu yang harus dikenakan adalah seragam atasan putih dengan bawahan hitam. Akar dari seragam ini adalah meniru gaya berpakaian Presiden Jokowi. Pakaian putih itu bermakna bersih, PNS juga harus bersih dari korupsi, disiplin dan seterusnya.

Menarik untuk disimak, Presiden Jokowi yang suka blusukan ini memiliki penggemar sangat banyak. Para kaum guru ikut latah dengan meniru gaya pakaian Presiden. Tetapi, mantan Mendikbud Anies Baswedan angkat bicara untuk menjelaskan bahwa guru tidak diwajibkan untuk memakai seragam putih hitam.

Di salah satu kampus di daerah Malang juga tertarik dengan gaya berpakaian Presiden. Setiap hari Senin dan Selasa para dosen dan staf pegawai diwajibkan untuk memakai seragam putih hitam. Tidak bisa dipungkiri, mereka harus tunduk dan taat pada aturan seragam ini.

Lucunya mahasiswa seakan ‘tidak terima' atas kenyataan ini, mereka merasa tidak diikutkan dalam program seragam hitam putih.  Para mahasiswa berpikir bila dosennya saja memakai seragam putih hitam, seharusnya mahasiswa fakultas pendidikan juga melakukan hal serupa.

Akhirnya mahasiswa melakukan aksi demo di depan gedung rektorat untuk menuntut keinginannya agar mahasiswa juga memakai seragam putih hitam. Singkat cerita, permintaan mereka terkabulkan, bahwa setiap hari Senin dan Selasa diwajibkan memakai seragam putih hitam untuk mahasiswa fakultas pendidikan.

Mengapa saya bilang lucu? Karena saya baru tahu ada sekelompok mahasiswa yang peduli dengan kedisiplinan dalam berseragam. Baru tahu kalau ada sekelompok mahasiswa menginginkan dirinya dan teman-temannya untuk kembali pada masa SD, SMP, SMA yang dituntut untuk berseragam.

Bila kita membahas tentang seragamisasi masa-masa sekolah, terdapat hal yang sudah tidak relevan untuk era saat ini. Bahwa salah satu dari tujuan seragamisasi agar tidak terjadi kesenjangan sosial (social gap). Padahal, di era sekarang hampir sulit membedakan kelas-kelas sosial. Hampir seluruh anak sekolahan sudah punya smartphone. Uang sakunya pun setara dengan teman-temannya. Sandangan mereka, mulai dari sepatu hingga tasnya, hampir memiliki kesetaraan harga satu sama lain.

Karena itu menurut pendapat saya, lebih baik bila pemerintah dan sekolah berani menetapkan peraturan menghapus seragamisasi. Karena salah satu keuntungannya adalah orang tua siswa akan terhindar dari uang pembelian seragam anak-anaknya. Begitu pula di lingkungan kampus. Hingga saat ini belum ada gap social yang saya temui, walau menggunakan pakaian yang berbeda satu sama lain.

Lalu mengapa mahasiswanya mengatur masalah seragamisasi? Ujung dari masalah ini adalah bentuk kelatahan dari mahasiswa dengan meniru gaya orang nomor satu di Indonesia. Seperti tidak ada bahan yang dijadikan 'demo', sehingga mengangkat perihal seragamisasi. Bukankah lebih baik menuntut kedisiplinan dosen-dosen yang suka terlambat mengajar! Mengapa tidak menuntut teman-teman mahasiswa agar disiplin belajar dan memanfaatkan perpustakaan! Atau seperti yang dilakukan sebagian mahasiswa, menuntut penurunan SPP?

Bagi saya, sama sekali tidak ada manfaatnya menuntut seragamisasi ala bapak Presiden. Nilai-nilai kedisiplinan bukan dilihat dari luaran diri manusia yakni melalui seragamisasi. Kedisiplinan adalah sikap manusia, harus dijelmakan dalam berperilaku positif dan menaati peraturan yang berlaku.

Hal yang lebih kacau lagi, di salah satu Madrasah Tsanawiyah sudah kebabalasan menyikapi seragamisasi ini. Seluruh civitas akademika mulai dari kepala sekolah hingga siswanya diwajibkan untuk memakai serargam hitam putih dan melipat kedua lengan bajunya, persis menyerupai Presiden Jokowi.

Sudah seharusnya kita tidak berpikir yang terlalu kedinian. Kenapa harus meniru gaya berpakaian bapak Jokowi? Bagaimana kalau kita tiru karakter beliau yang kalem dan adem. Meniru gaya beliau yang suka silaturahmi dengan warganya. Tiru gaya beliau dalam memecahkan berbagai permasalahan berat. Bukan meniru luaran/pakaiannya. Mau dibawa kemana negeri ini bila kita masih ‘latah' luaran saja?. (*)   

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia