KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahOperasional Pelabuhan Simanindo Kembali Dibuka dengan Pengoperasian Kapal Ferry dan Kapal Kayu oleh : Danny Melani Butarbutar
07-Jul-2018, 14:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Samosir, Sejak peristiwa tenggelamnya kapal kayu KM. Sinar Bangun di perairan Tigaras pada Senin (18/6) Pemerintah telah menghentikan operasional transportasi kapal trayek Simanindo (Samosir) - Tigaras (Simalungun). Hal ini sangat berdampak luas kepada roda perekonomian masyarakat.

Namun,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Ruang dan Cinta Penyatu Segalanya 27 Jun 2018 05:55 WIB

Surat Untuk Bapak Presiden 06 Jun 2018 09:09 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Teologi Inklusif sebagai Alternatif

 
OPINI

Teologi Inklusif sebagai Alternatif
Oleh : Gunoto Saparie | 18-Des-2017, 07:04:43 WIB

KabarIndonesia - Mendengar istilah "teologi inklusif", saya langsung teringat kepada Nurcholish Madjid. Nurcholish adalah salah seorang cendekiawan muslim yang concern cukup mendalam terhadap persoalan hubungan agama-agama dan dialog antaragama. Ia secara teoritis mengedepankan pencarian dan konsep titik temu agama-agama secara eksplisit dibandingkan cendekiawan muslim lainnya. 
Pemikiran Nurcholish sering disebut sebagai teologi inklusif. Inklusif mengidentifikasikan sebagai sikap terbuka, toleran dan mau menerima orang lain. Berbeda dengan inklusif, eksklusif justru sebaliknya, tertutup, jumud, dan rigid. Inklusivisme berusaha menggapai kesatuan agama-agama. Berbeda dengan eksklusivisme yang berusaha untuk menjadikan agama-agama yang banyak itu sebagai salah satu faset dari agama yang satu.

Maka berkembanglah apa yang sering disebut sebagai inklusif-pluralis dan inklusif-teologiis. Inklusif-pluralis menyeru pada keterbukaan atas agama-agama, dan memercayai bahwa ada banyak jalan menuju keselamatan. Menurut paham ini, inklusif-pluralis bertujuan untuk menggiring pengikutnya pada arah realitas pengalaman baru yang menempatkan agama sebagai kekuatan moral membendung kekerasan dan terorisme. Hal itu bisa dimulai dengan membuka wacana keberagamaan yang memberi ruang kebebasan individu untuk memilih dan mengembangkan keyakinan pribadinya. Sedangkan inklusif-teologis lebih mengedepankan aspek teologis sebagai pijakan dalam pengembangan keterbukaan dan toleransi.

Teologi inklusif merupakan alternatif dari teologi eksklusif yang menganggap bahwa kebenaran dan keselamatan (truth and salvation) suatu agama menjadi monopoli agama tertentu. Oleh karena itu, dalam perspektif "teologi inklusif," klaim bahwa hanya agamanya saja yang benar dan menjadi jalan keselamatan, adalah teologi yang salah. Inklusivisme merupakan sikap yang berpandangan bahwa di luar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran dan jalan keselamatan, meskipun tidak seutuh atau sesempurna agama yang dianutnya.  Sikap inklusif ini mencerminkan kemajuan dalam memandang agama lain, di mana kebenaran dan keselamatan bukan dominasi keyakinan atau agama tertentu, tetapi agama lain pun memilikinya Bahkan meskipun agama lain itu masih dianggap sekunder. Atau menurut istilah Nurcholish, "agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita" (Islam). Dengan kata lain sikap inklusif itu suatu kesadaran pandangan penganut agama terhadap kemungkinan benar pada penganut atau agama lain.

Embrio Ideologi Inklusif
Sebenarnya embrio ideologi inklusif-pluralis bermulai dari Konsili Vatikan II tahun 1963-1965 yang merevisi prinsip extra ecclesium mulla salus ke arah teologi inklusif. Konsili ini menyebutkan bahwa keselamatan tidak lagi menjadi monopoli umat Kristiani dengan keharusan mengeksplisitkan iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan juga terdapat dalam agama lain yang memiliki doktrin agama yang berbeda. Dengan demikian, Gereja Kristen mengakui adanya keselamatan di luar Kristen, yang menurut teolog Katolik yang berhaluan inklusif, seperti Karl Rahner, disebutnya sebagai Anonymous Christian. Konsili Vatikan II tersebut telah mengeluarkan tiga keputusan penting. Pertama, orang yang tidak dibaptis, yang tanpa kesalahan, tidak percaya kepada Allah, dapat diselamatkan asal mereka hidup menurut suara hati mereka. Kedua, setiap orang berhak untuk mengikuti agama yang diyakininya. Ketiga, umat Katolik dianjurkan untuk menghormati apa yang baik dalam agama-agama lain.

Sikap seperti ini, dalam  Islam juga bisa ditemukan misalnya, pada pandangan Ibn Taimiyah, yang membedakan orang-orang dan agama Islam umum (yang nonmuslim par excellent), dengan orang-orang dan agama Islam khusus (muslim par excellent). Kata "Islam" sendiri di sini diartikan sebagai sikap pasrah kepada Tuhan. Menurutnya, semua nabi dan para pengikutnya disebut oleh Allah sebagai orang-orang muslim. Selain Ibn Taimiyah, dapat juga ditemukan pandangan inklusif ini dari seorang teolog muslim Al-Ghazali. Al-Ghazali, seperti yang dikutip dalam Tafsir Al-Maraghi, telah mengemukakan pandangan yang menghubungkan keselamatan ahli kitab dengan sampai dan tidaknya informasi tentang Islam kepada mereka.

Sikap inklusif ini juga ditunjukkan Nurcholish. Ia mengungkapkan bahwa agama yang lurus adalah yang membawa pesan kemanusiaan universal, yang merupakan esensi inklusivisme. Agama Islam yang diajarkan Muhammad merupakan agama yang membawa pesan kemanusiaan universal tersebut, sekaligus memunyai potensi kuat untuk membangun kalimatun sawa` dengan agama-agama yang lain. Hal ini karena ajaran yang dibawanya merupakan ajaran tentang keterbukaan dan kerahmatan terhadap umat agama-agama yang lain. Hanya saja, yang harus dikembangkan adalah sikap berbaik sangka terhadap kelompok lain, bukan berburuk sangka. Nurcholish memaknai Al-Islam yang terdapat dalam surah Ali-Imran ayat 19 dan 85 dalam Alquran, tidak terbatas hanya sebagai sebuah ‘agama formal' ataupun sebagai ‘nama agama' saja, sebagaimana yang dipahami oleh umumnya umat Islam. Akan tetapi, juga dapat mengandung makna universal, yakni  "sikap pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa."

Penafsiran inklusif atas makna Al-Islam sebagaimana yang dipaparkan Nurcholish ini memang perlu diperkenalkan kepada masyarakat dalam upaya membangun kerukunan antarumat beragama. Tafsir keagamaan eksklusif yang cenderung intoleran terhadap umat agama lain, tidak cocok buat cita-cita kehidupan damai, terlebih lagi dalam konteks Indonesia. Indonesia adalah negara yang tidak hanya terdiri dari multikultur, tetapi juga multiagama, seperti Islam, Kristen, Budha, dan Hindu.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  FWD Life Gandeng Special Olympics Indonesia untuk Program Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Intelektual di Semarang – PT FWD Life Indonesia (FWD Life), pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia, telah meresmikan kerja sama dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) pada 18 April 2018 lalu. Setelah peluncuran kerja sama, FWD Life kemudian menggelar roadshow perdana di Bandung pada
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia