KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilEyang Dokter dan Kemenangan Kehidupan oleh : Kabarindonesia
22-Mei-2019, 08:38 WIB


 
 
KabaIndonesia - Bagi sebagian besar orang, menulis narasi kehidupan dalam bentuk autobiografi adalah percuma dan membuang-buang waktu. Tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa hidup terlalu biasa untuk dituliskan menjadi sebuah autobiografi. Tidak ada yang menarik dalam kehidupan, begitulah anggapan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Mengenang Peristiwa 21 Mei 1998 22 Mei 2019 14:14 WIB

 
 
OPINI

Tiga Golongan Pemuda, Anda yang Mana?
Oleh : Syafbrani | 30-Des-2011, 08:52:18 WIB

KabarIndonesia - Seperti biasa setiap momentum peringatan sumpah pemuda yang telah diperingati selalu diwarnai dengan beragam kegiatan. Begitu juga dengan aktifitas bernuasa pemuda yang hadir di luar momentum harinya tersebut. Bahkan walau tidak semarak seperti ucapan maaf lahir batin di idul fitri, sebagian dari kita juga tidak luput dengan ucapan yang mengambil momentum semangat penyatuan pemuda yang diikrarkan 83 tahun lalu itu. Uniknya, tema yang diangkat dalam setiap perhelatan tersebut hampir bertemu dalam sebuah titik publikasi yang bermakna ‘hebat.’

Yah pemuda memang sebuah akumulasi usia yang diciptakan memiliki potensi yang hebat dibandingkan usia sebelumnya (anak-anak) dan sesudahnya (tua). Potensi ini tentunya tidak hanya bisa diterima dengan ‘gratis’ tanpa kemauan dari pemuda itu sendiri untuk memilikinya. Ianya juga bagaikan sebuah modal yang diberikan oleh Sang Pencipta, sehingga nantinya akan memberikan sebuah peluang ‘untung’ dan ‘rugi’.

Tiga Golongan Pemuda
Oleh karena itu, berdasarkan analisa untung-rugi, setidaknya terdapat 3 (tiga) golongan pemuda yang bertebaran sampai hari ini. Pertama, pemuda dengan segala keuntungannya. Baik yang berprestasi secara akademis atau yang berkesempatan duduk di puncak organisasi. Ini pasti akan mendapatkan sebuah apresiasi. Diundang kesana-kemari, nangkring di tipi, dan segala aktifitas sosial selalu menjadi agenda wajibnya. It’s great!

Kemudian bagaimana dengan pemuda yang hidup dengan segala kerugiannya? Jangankan untuk berprestasi atau mengenyam sampai ke pendidikan tinggi. Program wajib belajar 9 tahun yang menjadi andalan pemerintahpun tidak tercapai oleh mereka. Jangankan untuk duduk dipuncak organisasi, berbicarapun mereka tidak dilirik sama sekali. Hidup penuh dengan gelimang masalah dan selalu dipersalahkan. Mereka sering mendapat julukan ‘sampah’ yang meresahkan masyarakat. Inilah pemuda yang termasuk golongan kedua. Lantas, apakah tidak ada celah apresiasi buat mereka? Mengapa mereka jadi begini?

Siapa golongan ketiga? Mereka adalah pemuda yang mencari untung, atau lebih tepatnya disebut dengan pemuda hipokrit. Keberadaan mereka bagaikan dua sisi, selalu tampil memberikan solusi tapi sebenarnya mereka adalah sumber masalah. Mereka memang mendapatkan anugerah keuntungan sehingga bisa mendapatkan berjubel titel. Tetapi mereka juga yang selalu memanipulasi lingkungan sekitarnya dengan nalar intelektualnya. Mereka memang mendapatkan amanah di berbagai organisasi. Tetapi dengan sarana yang mereka miliki, beragam aksi dilakukan demi memenuhi hasrat untuk sekedar memuluskan karir. Mereka memang melakukan aksi sosial, tapi tidak lebih dari kamuflase yang sebenarnya bertujuan memenuhi kocek-kocek pribadi.

Mari Waspada Bersama!
Kedahiran kaum pemuda yang telah tersetting untuk memenuhi hasrat duniawi ini, sehingga mereka memanfaatkan ‘potensi’ dirinya dengan beragam dalih pembenaran seharusnya patut kita sadari segera. Jika dibiarkan aksi mereka terus bekembang biak. Dampak buruknya akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan yang universal kepada kaum muda itu sendiri. Potensi pemuda golongan pertama akan mudah tercemari. Begitu pula dengan pemuda golongan kedua yang seharusnya mendapatkan pembinaan dan diajak untuk beriringan bersama dalam membangun bangsa ini, akan menjadi objek pemanfaatan mereka. Ketidakberesan pemuda akan mereka manfaatkan sebagai tameng proyek kehidupan mereka. Dan bukan tidak mungkin diantaranya dialihkan profesi sebagai preman-preman bayaran yang mampu memuluskan berbagai misinya.

Kita harus sadarii juga, kehadiran mereka bukan hanya berasal dari gejala alamiah seperti teorinya Charles Darwin mengenai makhluk hidup itu. Mereka adalah hasil kerja sistematis sistem yang memang telah diciptakan untuk menjerat potensi yang mereka miliki. Mesin ini terus bekerja mencari titik kelemahan. Sebagaimana manusia pada umumnya, kaum muda yang memiliki semangat yang kuat juga akan mangap jika dihadapi dengan tawaran tahta, harta, dan wanita. Salah satu dari ketiga perangkap ini, ataupun ketiganya menjadi daya tawar bagi mereka yang mengendalikan perangkap tersebut.

Siapa pengendalinya? Mereka adalah kaum tua atau yang hampir tua bahkan renta, yang dulunya juga memiliki nasib yang sama dengan hasil jebakannya hari ini. Jangan heran kalau kemudian kita menemukan lenyapnya suara-suara pemuda yang dulunya jago demonstrasi dengan getaran orasi yang memikat. Tak perlu lagilah kita merindui suara kritis mereka terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat ketika mereka telah berada dalam singasana kekuasan. Dan jangan heran juga mengapa korupsi di negeri ini sulit diberantas? Malah semangat kepemimpinan muda yang selalu didengungkan berbanding lurus dengan munculnya para koruptor baru yang berwajah muda. Wuaaalah!

Lawan, Sampai Titik Kematian!
Oleh karena itu, sebelum mayoritas potensi pemuda dengan segala prestasinya tertarik oleh magnet kekuasan yang hanya membuat bungkam. Paling tidak ada dua hal yang harus segera dilakukan pemuda untuk dirinya sendiri, bukan orang lain. Pertama, deteksilah sejak dini dalam artian segera sadar dimanakah posisi kita. Jangan-jangan kita telah menjadi bagian dari mereka yang dulu kita kritisi. Kedua, persiapkan diri dalam mengisi keseharian hidup: menghindari dan melawan perangkap yang akan mereka pasang. Karena harus kita sadari juga bahwa pelaku demonstrasi dengan suara kritisnya itu telah menjadi salah satu pengendali mesin perangkap yang siap menjerat kita sampai kapanpun.

Mungkin dengan membaca artikel ini akan muncul dialektika dengan argumentasi ‘Sekarang zamannya berbeda Bung!’ Upss... tidak salah, tidak ada yang menyalahkan pemuda mengambil semua peran dalam kehidupan. Malah ini adalah harapan paripurna kita bersama. Salahnya hanya satu, tanyakan dalam diri kita masing-masing, apa alasan dan sebab kita mengambil peran tersebut? Apalagi rembesan demokrasi yang memunculkan sarana multi partai dan peluang besar untuk berkarir di dunia politik. Sehingga bertebaranlah setiap pemuda dalam sarana tersebut. Dulu mereka bersama membangun kekuatan melawan otoriternya kekuasan. Sekarang mereka beradu mempertahankan pendapat demi memperjuangkan harga diri partainya masing-masing. Akhirnya merekapun beradu kekuatan politik untuk meraih kekuasan. Tidak cukup sampai disini, setelah salah satunya menjadi penguasa, adegan saling menyalahkan terus belanjut. Begitu seterusnya dan seterusnya.

Untuk itu tidak perlu menanti peringatan hari pemuda, tidak perlu ketika kita harus berada dalam sebuah organisasi pemuda. Tapi kapan dan dimanapun itu, selayaknya kita berharap dan selalu berusaha untuk selalu kuat memutuskan mata rantai hitam yang terus tersusun panjang. Semoga juga kita tidak terlena dengan hiruk pikuknya agenda dan dimana organisasi kita berada. Bisa jadi diantaranya hanyalah bagian dari perangkap melemahkan potensi kaum muda. Paling tidak hal yang harus segera kita yakini adalah sejarah telah membuktikan, di balik kehidupan sang pejuang akan selalu hadir sang pecundang. Tinggal buktikan sendiri, Anda yang mana?

*Syafbrani Bin Zainoeddin, Pemuda yang sedang diberi titel Guru, Peminat dan Penikmat Kajian Pendidikan


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia