KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilMelani Butarbutar: Tekad Putra Samosir, Melayani Aspirasi Rakyat Sepenuh Hati oleh : Wahyu Ari Wicaksono
05-Nov-2018, 09:11 WIB


 
 
KabarIndonesia - Mengawali karir sebagai CPNS tahun 1976 di kantor Camat Simanindo Ambarita (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) dengan pangkat/golongan Juru Muda Tingkat I (I/b), pada Februari tahun 2017 lalu, Danny Melani Michler Hotpantolo Butarbutar atau biasa disebut Melani Butarbutar
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepertiga Malam 05 Nov 2018 15:57 WIB

Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Menjadi Wartawan Pilihan Hidupku 09 Nov 2018 15:39 WIB


 

Tutup Tahun dengan Kata Syukur

 
OPINI

Tutup Tahun dengan Kata Syukur
Oleh : Juswan Setyawan | 01-Jan-2009, 00:22:17 WIB

KabarIndonesia - Kata dan sikap apakah yang paling pantas dipegang erat-erat pada penghujung akhir tahun ini? Tidak lain dari pada kata syukur. Hanya manusia satu-satunya mahluk yang bisa dan tahu bersyukur. Kerbau tidak bisa. Sebagai hewan paling cerdas monyet juga tidak bisa.

Mengapa kita pantas bersyukur?

Pertama, dengan segala macam keruwetan global krisis ini? Dengan segala isyu global warming ini? Yang jelas anda dan saya masih bisa menulis dan membaca artikel ini. Sekiranya sudah mendapat PR-permanent residence di lembah San Diego Hills tentu tidak mungkin lagi bukan? Nah, untuk itulah kita pantas bersyukur karena SIM (Surat Izin Menarik napas) kenyataannya masih diperpanjang. Banyak rekan sebaya atau malahan lebih muda telah dicabut SIM-nya.

Kedua, kita masih dikaruniai kesehatan yang memadai–andaikan tidak prima–sehingga masih bisa hidup normal. Biaya hospitalisasi dan medikasi semakin menggila akibat kebijakan komersialisasi rumah sakit dan penyedia obat [pabrik farmasi dan apotik] serta alat kesehatan.

Ketiga, negeri ini walaupun compang-camping dan berjalan tertatih-tatih masih memiliki negeri yang bersatu dan solid sebagai NKRI. Itupun patut disyukuri. Belum menjadi korban model Balkanisasi. Belum menjadi korban teokratisasi model Iran atau Afganistan.

Keempat, pasar domestik terlalu luas untuk tidak memungkinkan swa sembada produksi. Sebanyak apapun padi, jagung, gula, kedelai, sawit, sayur-sayuran, bawang, cabai diproduksikan, maka pasar dalam negeri masih mampu menyerapnya. Pembusukan hanya terjadi akibat kuatnya kebijakan yang tidak mendukung produksi anak negeri.

Pupuk yang dihasilkan pasti cukup bila tidak dijadikan prioritas sebagai komoditi ekspor untuk mengejar rante maksimal. Tinggal kemauan politik yang belum ada untuk menetapkan bahwa pupuk hanya bisa diekspor bila kebutuhan dalam negeri akan pupuk telah cukup terpenuhi. Dan hal ini tidak mungkin terjadi bila pabrik pupuk bukan BUMN tetapi menjadi korporasi dagang kapitalis biasa yang dikuasai swasta–apalagi dikuasai oleh modal asing.

Sebenarnya kita pantas bersyukur karena memiliki pasar dalam negeri yang luas sehingga sebenarnya tidak perlu benar tergantung pada pasar luar negeri. Dalam kondisi krisis global ini kebanyakan negara cenderung menjadi semakin proteksionis. Terutama proteksi dalam hal produk tanaman pangan. Kita masih memiliki sistem pedesaan sebagai spons penyerap keganasan perekonomian kota (urban economy).

Sebagian besar penduduk Indonesia (di atas 60 persen) masih mempunyai safety zone untuk dijadikan bunker saat terpaksa surut karena tidak mampu lagi bertahan hidup secara marginal di kota-kota besar. Setidaknya 25 persen penduduk Jakarta bila kondisi benar-benar memaksa, masih dimungkinkan untuk berbalik arah dan amit mundur secara demikian.

Kelima, kita pernah dihantui oleh Natal-Bom-2002 yang garang, ganas dan menciutkan empedu. Namun pada akhir tahun ini kita bersyukur dapat merayakan ibadah Natal dalam suasana hening yang penuh rasa tenteram dan damai.

Kondisi ini pantas mengundang rasa syukur kita. Beginilah seharusnya kondisi ideal bagi kita yang berbangsa dan bernegara dalam keanekaragaman sistem kepercayaan dan agama. Mau lebih ideal bagaimana lagi?

Itu kalau kita mau melihat gelas kehidupan ini sebagai setengah berisi dan bukan telah setengah kosong. Melihatnya sebagai setengah kosong mencirikan diri kita sebagai manusia pesimis. Melihatnya sebagai setengah berisi mencirikan kita sebagai manusia optimis.

Melihatnya dengan sikap dan rasa syukur, bahwa yang terpenting gelasnya belum sampai kosong menjadikan kita manusia realis yang optimalis. Manusia yang pandai bersyukur. (*)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Astra Dukung Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawaoleh : Rohmah S
12-Nov-2018, 10:18 WIB


 
  Astra Dukung Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawa Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Rini Soemarno (kedua kiri) didampingi Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk Pongki Pamungkas (kedua kanan) saat flag off Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawa di Surabaya (12/11).
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia