KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
InternasionalPelihara Bumi Ini Dengan Perdamaian (4): Tidak Ada Tuhan Kecuali Aku oleh : Tonny Djayalaksana
09-Okt-2019, 05:21 WIB


 
 
KabarIndonesia - Melalui perenungan diri, saya berharap akan bisa lebih menghayati agama dan juga lebih dapat menekuni jalan hidup sehari-hari. Saya memastikan diri bahwa menjadi Mualaf merupakan suratan dari jalan hidup saya, dan setelah menjadi mualaf saya merasakan perubahan 180
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Rayuan Gombal vs Cinta Sejati 11 Okt 2019 08:58 WIB


 

Tutup Tahun dengan Kata Syukur

 
OPINI

Tutup Tahun dengan Kata Syukur
Oleh : Juswan Setyawan | 01-Jan-2009, 00:22:17 WIB

KabarIndonesia - Kata dan sikap apakah yang paling pantas dipegang erat-erat pada penghujung akhir tahun ini? Tidak lain dari pada kata syukur. Hanya manusia satu-satunya mahluk yang bisa dan tahu bersyukur. Kerbau tidak bisa. Sebagai hewan paling cerdas monyet juga tidak bisa.

Mengapa kita pantas bersyukur?

Pertama, dengan segala macam keruwetan global krisis ini? Dengan segala isyu global warming ini? Yang jelas anda dan saya masih bisa menulis dan membaca artikel ini. Sekiranya sudah mendapat PR-permanent residence di lembah San Diego Hills tentu tidak mungkin lagi bukan? Nah, untuk itulah kita pantas bersyukur karena SIM (Surat Izin Menarik napas) kenyataannya masih diperpanjang. Banyak rekan sebaya atau malahan lebih muda telah dicabut SIM-nya.

Kedua, kita masih dikaruniai kesehatan yang memadai–andaikan tidak prima–sehingga masih bisa hidup normal. Biaya hospitalisasi dan medikasi semakin menggila akibat kebijakan komersialisasi rumah sakit dan penyedia obat [pabrik farmasi dan apotik] serta alat kesehatan.

Ketiga, negeri ini walaupun compang-camping dan berjalan tertatih-tatih masih memiliki negeri yang bersatu dan solid sebagai NKRI. Itupun patut disyukuri. Belum menjadi korban model Balkanisasi. Belum menjadi korban teokratisasi model Iran atau Afganistan.

Keempat, pasar domestik terlalu luas untuk tidak memungkinkan swa sembada produksi. Sebanyak apapun padi, jagung, gula, kedelai, sawit, sayur-sayuran, bawang, cabai diproduksikan, maka pasar dalam negeri masih mampu menyerapnya. Pembusukan hanya terjadi akibat kuatnya kebijakan yang tidak mendukung produksi anak negeri.

Pupuk yang dihasilkan pasti cukup bila tidak dijadikan prioritas sebagai komoditi ekspor untuk mengejar rante maksimal. Tinggal kemauan politik yang belum ada untuk menetapkan bahwa pupuk hanya bisa diekspor bila kebutuhan dalam negeri akan pupuk telah cukup terpenuhi. Dan hal ini tidak mungkin terjadi bila pabrik pupuk bukan BUMN tetapi menjadi korporasi dagang kapitalis biasa yang dikuasai swasta–apalagi dikuasai oleh modal asing.

Sebenarnya kita pantas bersyukur karena memiliki pasar dalam negeri yang luas sehingga sebenarnya tidak perlu benar tergantung pada pasar luar negeri. Dalam kondisi krisis global ini kebanyakan negara cenderung menjadi semakin proteksionis. Terutama proteksi dalam hal produk tanaman pangan. Kita masih memiliki sistem pedesaan sebagai spons penyerap keganasan perekonomian kota (urban economy).

Sebagian besar penduduk Indonesia (di atas 60 persen) masih mempunyai safety zone untuk dijadikan bunker saat terpaksa surut karena tidak mampu lagi bertahan hidup secara marginal di kota-kota besar. Setidaknya 25 persen penduduk Jakarta bila kondisi benar-benar memaksa, masih dimungkinkan untuk berbalik arah dan amit mundur secara demikian.

Kelima, kita pernah dihantui oleh Natal-Bom-2002 yang garang, ganas dan menciutkan empedu. Namun pada akhir tahun ini kita bersyukur dapat merayakan ibadah Natal dalam suasana hening yang penuh rasa tenteram dan damai.

Kondisi ini pantas mengundang rasa syukur kita. Beginilah seharusnya kondisi ideal bagi kita yang berbangsa dan bernegara dalam keanekaragaman sistem kepercayaan dan agama. Mau lebih ideal bagaimana lagi?

Itu kalau kita mau melihat gelas kehidupan ini sebagai setengah berisi dan bukan telah setengah kosong. Melihatnya sebagai setengah kosong mencirikan diri kita sebagai manusia pesimis. Melihatnya sebagai setengah berisi mencirikan kita sebagai manusia optimis.

Melihatnya dengan sikap dan rasa syukur, bahwa yang terpenting gelasnya belum sampai kosong menjadikan kita manusia realis yang optimalis. Manusia yang pandai bersyukur. (*)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia