KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
OPINI

Wowww!!! Ternyata Peluru Polisi Punya Kekuatan Dahsyat
Oleh : Iin Suwandi | 12-Okt-2017, 10:01:37 WIB

KabarIndonesia - Masalah pembelian senjata dan amunisi dari Bulgaria beberapa waktu yang lalu masih menjadi perdebatan yang hangat saat ini. Polemik pengadaan senjata di luar TNI menjadi ramai setelah pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di hadapan purnawirawan militer yang mengungkap ada instansi memesan 5.000 pucuk senjata.

Belum lama mereda sampai disitu, kemudian publik kembali diramaikan polemik senjata setelah beredar kabar ada ratusan senjata dan amunisi untuk Korps Brimob Polri yang tertahan di bandara Soekarno Hatta. Sebanyak 280 Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40x46mm dan amunisi jenis RLV-HEFJ sebanyak 5.932 butir itu yang kemudian dikonfirmasi Polri pada Sabtu (30/9) lalu. 

Kemudian seiring berjalannya waktu, pada Jumat lalu (6/10-17), Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyebut, amunisi yang menuai polemik itu bukan amunisi tajam melainkan tabur. "Yang disebut tajam tadi, tajam hanya untuk mengejutkan dengan butiran kecil-kecil. Tidak untuk mematikan, tapi untuk melumpuhkan," beber Setyo pada waktu itu. 

 

Namun berselang beberapa waktu kemudian Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto menggelar jumpa pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017) lalu terkait masalah peluru.  Kapuspen menjelaskan bahwa 5.932 peluru yang saat ini disimpan di Mabes TNI itu, punya kekuatan dahsyat, mematikan dan lebih canggih. Bahkan, TNI pun tak punya peluru sehebat dan sekeren itu.

 

Lebih lanjut Kapuspen menegaskan bahwa berdasarkan katalog yang disertakan, amunisi yang dibeli sepaket dengan 280 senjata pelontar granat (stand-alone granede launcher/ SAGL) itu, tajam dan mematikan. Amunisi ini memiliki radius mematikan 9 meter dan jarak tembak mencapai 400 meter.
Wuryanto juga membeberkan, amunisi yang dibeli untuk Korps Brimob itu istimewa. Ada dua keunggulan yang dimiliki peluru tajam itu. Pertama, amunisi tersebut bisa meledak dua kali. "Setelah meledak yang kedua, menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat berupa logam kecil yang melukai maupun mematikan," bebernya. 

 

Keunggulan kedua, amunisi tersebut bisa meledak sendiri tanpa ada impact atau benturan setelah 14-19 detik dilepaskan dari laras. "Jadi ini luar biasa. TNI sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti itu," ucapnya. Karena keistimewaannya itu, amunisi ini biasa digunakan untuk menyerang musuh yang bersembunyi di belakang benteng pertahanan. "Orang-orang di belakang perkubuan bisa dihancurkan dengan amunisi seperti ini," imbuh Wuryanto.Dengan adanya klarifikasi dari pihak TNI tentunya Polisi tidak bisa lagi mengelak. Mereka mengikhlaskan peluru tersebut dititipkan kepada saudara tuanya TNI untuk diamankan. 

 

Kalau dilihat dari segi aturan masalah senjata, pada Permenhan Nomor 7 tahun 2010 dijelaskan bahwa senjata api standar militer adalah yang digunakan TNI untuk membunuh dalam rangka tugas pertahanan negara. Adapun untuk senjata itu diatur adalah kaliber laras 5,56 mm ke atas, dengan sistem kerja semi otomatis atau full otomatis, termasuk yang telah dimodifikasi. 

Sementara itu, senjata api non-standar militer adalah senjata api yang digunakan untuk melumpuhkan dalam rangka tugas penegakan hukum dan kamtibmas, kepentingan olah raga menembak dan berburu serta koleksi. Ketentuan lainnya adalah kaliber laras harus di bawah 5,56 mm dengan sistem kerja non-otomatis, termasuk yang telah dimodifikasi. 

Lalu bagaimana Polisi yang sudah kepalang basah membeli peluru diatas 5,56 mm dan bertentangan dengan  aturan Permenhan no 7  tahun 2010 tersebut? Peluru mematikan sangat dahsyat itu untuk apa?  Tentulah kita harus angkat topi kepada TNI yang masih berani menyuarakan kebenaran. Walaupun ada lembaga lain yang bukan hanya  dibuat menangis tetapi juga merintih. Kita apresiasi sikap TNI yang berkenan menerima titipan amunisi. Kita tunggu hasil audit BPK-RI menyangkut penunaan keuangan negara. (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia