KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniBlunder (Sang Buruh) Menteri Tedjo oleh : Arief Rahmat Piliang
23-Feb-2015, 10:52 WIB


 
  KabarIndonesia - Pernyataan Menkopolhukam, Tedjo Edhi Purdijanto, kian hari kian blunder. Setelah sebelumnya menyebut KPK didukung rakyat tak jelas, kini Tedjo memasuki ranah buruh. Ancaman pegawai KPK untuk mogok jika seluruh pimpinannya ditetapkan tersangka oleh Bareskrim Polri, direspon Tedjo dengan jawaban
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Pejuang Hidup 25 Feb 2015 20:38 WIB

Benarkah? 23 Feb 2015 10:55 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Banjir Bikin Stres Deera Idol! 18 Feb 2015 20:35 WIB


 
Kisah Memilukan Sang Penjual Tebu 17 Feb 2015 14:12 WIB

 
 
PROFIL

Suka Duka Bidan
Oleh : Lia Kholisha | 20-Mar-2007, 05:02:59 WIB

KabarIndonesia - Kadangkala banyak orang menyangka bahwa menjadi seorang bidan itu menyenangkan. Mudah mendapatkan uang tanpa harus bekerja terlalu keras. Dengan membuka tempat praktik sendiri, maka uang tidak lagi harus dikejar tapi uang itu sendiri yang menghampiri. Banyak pula para orang tua yang menyarankan anaknya untuk melanjutkan kuliahnya di kebidanan dengan tujuan agar tidak sulit jika nantinya lulus untuk mendapatkan uang. Anggapan-anggapan itu tidaklah salah, namun tidak pula sepenuhnya benar. Prinsip itu tidaklah menjadi dasar atas pilihan semua orang untuk menjadi seorang bidan. Bu haji, itulah panggilan akrab sosok bidan yang kini tinggal di sebuah kampung pinggiran Ibukota Jakarta, Jakarta Utara tepatnya. Ia tak pernah menjadikan uang sebagai motivasi utamanya untuk menjadi seorang bidan. Tapi, entah keinginan kuat darimana yang justru datang mendorongnya untuk jauh-jauh merantau dari tempat kelahirannya di Padang Panjang, Sumatra Barat untuk memenuhi keinginannya menjadi seorang bidan. Perjalanan menjadi bidan pun tak semudah yang dibayangkan, selain faktor ekonomi yang menghambat. Sekolah kebidanan tidaklah menjamur seperti sekarang. Maka, ibu 4 anak ini memulai pendidikannya dengan masuk sekolah perawat. SPR ( Sekolah Pengatur Rawat ) Gatot Subroto menjadi pijakan pertamanya dalam  mengenyam pendidikan di Jakarta. Tinggal di asrama para tentara, hidup dengan penuh kedisiplinan waktu serta aturan yang ketat, menjadi syarat sekolah di sana pun dilalui oleh Bu Indrawita, nama lengkapnya. Kini, setelah melengkapi titelnya dengan Am.keb. Beliau senantiasa berusaha untuk menjadi seorang bidan yang lebih profesional. Menghindari tindakan-tindakan malpraktik serta yang melanggar hukum baik hukum negara maupun hukum agama. Tak sedikit pula, pasien yang meminta untuk melakukan aborsi tapi beliau tidak mau melakukannya. Menurut beliau, tanggung jawabnya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Untuk lebih meningkatkan profesionalismenya, selain bergabung dengan IBI ( Ikatan Bidan Indonesia ), beliau pun sudah menjadi Bidan Delima, komunitas bidan yang sudah dibilang profesional. Menurutnya, ikut bergabung dalam organisasi seperti itu memberikan banyak manfaat, bisa saling berbagi pengalaman serta bertukar pikiran atas masalah yang dihadapi mengenai pasiennya. Seiring dengan bertambahnya umur, bidan meskipun seorang pakar kesehatan tapi tetaplah manusia yang bisa dan rentan dengan penyakit yang menghadang. Osteoporosis, penyakit itu menyerang bidan yang terkenal tegas ini, selain Osteoporosis, batu ginjal pun menyerangnya. Namun, penyakit-penyakit itu tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap melaksanakan kewajiban dan tugasnya. 24 jam waktu yang beliau berikan untuk melayani pasien melahirkan yang datang. Bahkan, terkadang di saat beliau sudah bersiap-siap untuk bertamasya bersama keluarga, dan tiba-tiba pasien datang ingin melahirkan  maka beliau pun harus merelakan batalnya rencana tamasya. “ Itulah resikonya jadi bidan. “ Ucap Ibu yang suka merawat tanaman ini. Kesibukan beliau pada pekerjaan seringkali mengurangi waktunya bersama keluarga, tapi itu tidak membuat beliau lupa akan tugas utamanya menjadi seorang ibu rumah tangga. “ Kalau ada waktu, saya suka masak buat anak-anak dan suami. Kadang bosen juga sama masakan pembantu.”  Ujar bidan yang suka juga menjadi ustadzah pada pengajian Ibu-ibu di daerahnya. Banyak yang bilang orang Padang itu “ pandai berdagang “. Mungkin, ungkapan itu ada benarnya. Jika datang kerumah bidan ini, selain tempat praktik, disitu pula ada sebuah toko yang menjual peralatan bayi, mainan anak-anak, baju-baju anak bahkan buku bacaan pun ada. Menurutnya, banyak pasien yang lebih suka belanja ditokonya, karena tidak ribet, tidak terlalu ramai dan lebih enjoy dalam memilih. Menghargai waktu, merupakan prinsip Ibu yang tak bisa diam ini. Untuk itu, beliau tak pernah membiarkan waktunya terbuang sia-sia. Beliau pun selalu menyempatkan waktunya untuk membaca buku, terutama buku-buku kerohanian. “ Ilmu saya masih sedikit, jadi kalau gak lebih banyak baca nanti gak nambah-nambah dong. Apalagi otak saya bukan otak orang pintar, butuh banyak baca ! ” Jelasnya. Prinsip yang simple jika dilakukan dengan konsisten maka akan membuahkan kesuksesan juga. Mungkin, kita bisa lebih berkaca pada Ibu yang telah menginjak usia ke-48 ini. Appreciate  your time !    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sisi Lain Wilayah Perbatasanoleh : Ibnu Hafidz
21-Feb-2015, 05:52 WIB


 
  Sisi Lain Wilayah Perbatasan Dua orang pengunjung tengah asyik menikmati suasana waduk Cirata, Kamis, 19/2/2015. Waduk Cirata berada di tiga daerah: Purwakarta, Bandung, dan Cianjur. Tempat ini merupakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terbesar di Asia Tenggara dengan luas wilayah 62 KM2. Biasanya para
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
100 Film Nasional Diproduksi 2015 23 Feb 2015 10:58 WIB

 

 
Siring Jalan Asam Bubuk I Runtuh 25 Feb 2015 20:42 WIB


 

 

 
NamaKU = JiwaKU 25 Feb 2015 08:26 WIB


 

 

 
Banjir Jakarta dan Harapan 19 Feb 2015 22:25 WIB

 

 
Belajar dari Kehidupan Lebah 18 Feb 2015 20:28 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia