KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahPesawat Swiss Dipaksa Mendarat di Medan oleh : Jenda Bangun
15-Apr-2014, 03:53 WIB


 
 
Pesawat Swiss Dipaksa Mendarat di Medan
KabarIndonesia - Medan, Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) III Medan, Sumatera Utara, Kamis, sekitar pukul 12.45 WIB menangkap pesawat terbang asing jenis Swearingen SX-300 Nomor N54. JX ketika memasuki wilayah Indonesia karena tanpa izin.

Panglima Kosekhanudnas III Medan,
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Perjuanganmu Luar Biasa 10 Apr 2014 11:23 WIB

Gadis Itu Mulai Mengajariku 10 Apr 2014 11:13 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Nyoblos Yes, Golput No 25 Mar 2014 21:39 WIB

 

 

TANRI ABENG: Manajemen, Kunci Keberhasilan Memakmurkan Bangsa

 
PROFIL

TANRI ABENG: Manajemen, Kunci Keberhasilan Memakmurkan Bangsa
Oleh : Wilson Lalengke | 25-Okt-2007, 22:27:45 WIB

KabarIndonesia - Terlahir dengan nama Tanri Abeng, dari sebuah keluarga miskin di sebuah desa di Pulau Selayar, Propinsi Sulawesi Selatan, 65 tahun silam. Menyadari keadaan ekonomi keluarga yang kurang beruntung, sejak usia belia ia bertekad untuk belajar dan bekerja keras jika ingin menggapai cita-cita yang diinginkan. Semasa pendidikannya, misalnya, Tanri bersekolah sambil berusaha mencari uang untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari di antaranya dengan memberi les, menggandakan catatan-catatan sekolah/kuliah, dan lain-lain.

Kegigihan dan ketekunan pantang menyerah tersebut kemudian membawa berbagai keberhasilan baik dalam pendidikan maupun perjalanan karirnya. Lelaki berkumis klimis ini beberapa waktu kemudian terpilih sebagai peserta program pertukaran pelajar American Field Service. Setelah menamatkan SMA-nya, ia meneruskan kuliah pada Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin, di Makassar. Saat itu, ia kuliah sambil bekerja paruh waktu di perusahaan eksportir dan menjadi guru bahasa Inggris di sebuah SMA. Berkat keuletannya dalam belajar, menjelang tamat kuliah, Tanri memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pasca-sarjana, Master of Business Administration (MBA) di State University, New York, Amerika Serikat.

Perjalanan karirnya dimulai sejak Tanri Abeng bergabung dengan perusahaan multi-nasional, PT. Union Carbide Indonesia, tidak berapa lama setelah lulus dan menggondol gelar MBA. Tugasnya saat itu diawali dari management trainee di Amerika Serikat, dan dalam waktu singkat, di usianya yang ke-29 tahun, Tanri telah menduduki jabatan direktur keuangan dan Corporate Secretary di perusahaan itu. Kecerdasan dan keteguhannya dalam bekerja keras, sekali lagi menunjukkan hasil yang gemilang bagi perusahaan tempatnya bekerja. Terbukti, hanya beberapa tahun kemudian ia dialihtugaskan ke Singapura dan bertanggungjawab atas pemasaran di Asia, Afrika, dan Eropa.

Walaupun karir dan penghidupannya sangat bagus di Union Carbide, bahkan ditawarkan untuk menjadi presiden direktur di perusahaan ini dengan gaji dan fasilitas yang sangat memuaskan, Tanri Abeng lebih memilih meninggalkan pekerjaan lamanya dan bergabung dengan PT. Perusahaan Bir Indonesia (PT. PBI) di tahun 1979. Keinginannya untuk mencoba tantangan baru yang lebih keras dan sulit rupanya menjadi pendorong utama bagi Tanri menerima tawaran untuk mengelola PT. PBI. Ia ingin membuktikan dirinya sebagai seorang manajer yang baik dan handal. Hasilnya? Tangan dingin pria berbintang pisces ini dalam waktu singkat mampu membawa sukses bagi perusahaan tersebut dan berkembang menjadi PT. Multi Bintang Indonesia (PT. MBI), dan mengangkat perusahaan multi-nasional ini menjadi bintang yang merajai pasar minuman di Indonesia.

Kesuksesan Tanri Abeng di MBI menarik perhatian Aburizal Bakrie, yang kemudian menawarkannya untuk menahkodai kelompok usaha Bakrie Brothers. Kemampuan dan kehandalannya dalam mengelola sebuah kelompok perusahaan terbuktikan selama menjadi Chief Executive Officer (CEO) dari Bakrie Brothers. Betapa tidak, hanya dalam waktu setahun Tanri, yang beristrikan Farida Nasution, mampu meningkatkan keuntungan kelompok perusahaan tersebut hingga 30 persen. Dari rententan berbagai keberhasilan itulah kemudian Tanri Abeng dijuluki sebagai “Manajer Satu Milyard”.

Seperti lazimnya, kisah sukses seperti ini pasti akan mengundang perhatian yang lebih luas dan dari kalangan yang lebih besar atau berpengaruh. Demikian juga, berita tentang kehandalan manajerial Tanri Abeng suatu ketika sampai juga ke telinga Suharto ketika ia masih menjadi presiden republik ini. Kepala negara zaman orde baru itu kemudian memintanya menjadi Menteri Negara Pendayagunaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), sebuah kementrian baru di pemerintahan Indonesia, pada Kabinet Pembangunan VII di tahun 1997. Pada jabatan baru ini, Tanri mendapat tantangan kerja yang tidak tanggung-tanggung, ia harus mengelola 164 BUMN dengan sekitar 1.300 anak perusahaan, yang total nilanya mencapai angka Rp. 500 triliun. Suatu tugas yang amat berat, namun Tanri pantang mengeluh. "Selain merupakan sesuatu yang berat, tugas itu merupakan suatu kehormatan luar biasa karena saya termasuk dalam kabinet penuh tantangan," demikian pernyataannya suatu ketika kepada media massa. Jabatan Menteri BUMN ini tetap berlanjut diembannya hingga kepada kepemimpinan mantan Presiden BJ Habibie yang menggantikan Suharto yang lengser oleh gerakan reformasi di tahun 1998. Posisi tersebut berakhir ketika pemerintahan beralih ke presiden Abdurrahman Wahid pada pemilu 1999.

Menilik keberhasilan demi keberhasilan yang dicapai oleh pria langsing nan ramah ini, banyak orang ingin mendengar apa komentar Tanri sendiri atas penilaian kesuksesan tersebut. Juga tentang pandangan-pandangannya terhadap berbagai persoalan dan jalan keluar dari kemelut bangsa kita. Ia kemudian menjelaskan kiat sukses dan beberapa pemikirannya kepada Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, M.A. dari KabarIndonesia dalam sebuah wawancara khusus di Jakarta beberapa waktu lalu, sebagai berikut:

KabarIndonesia (KI): Di setiap sukses, pasti ada perjuangan dan kiat-kiat dalam mencapai sukses itu. Di mana letak rahasia keberhasilan Anda?

Tanri Abeng (TA): Sukses itu relatif. Dan penilaian sukses sebaiknya datangnya dari luar. Jika orang luar mengatakan saya sukses, ya, saya berterima kasih. Setidaknya ada dua perspektif dalam hidup ini yang saya jadikan falsafah hidup. Pertama, saya tidak harus kaya tetapi hidup berkecukupan. Kedua, dengan banyak teman tidak ada musuh. Itu saja.

Dalam perspektif ini, untuk bisa mendapat banyak teman kita harus bisa berkontribusi dalam hidup ini, yang harus dilakukan melalui apa yang saya sebut pendekatan profesional. Artinya, saya harus memiliki kedalaman ilmu di mana saya berkiprah. Jadi, kalau saya berbisnis, saya harus memiliki ilmu berbisnis. Saya memulai karir saya di perusahaan internasional di bidang accounting, maka saya harus mendalami ilmu accounting. Selanjutnya, saya bergerak ke bidang pemasaran, saya harus mendalami ilmu pemasaran dengan sangat mendalam. Setelah saya jadi pemimpin, saya harus menguasai apa itu kepemimpinan, baik secara teoritis maupun praktisnya, science-nya apa dan juga seni kepemimpinan. Tidak semua orang yang memiliki ilmu kepemimpinan secara teori dapat memimpin dengan baik, karena tidak memasukan unsur seni memimpin itu. Perpaduan antara ilmu memimpin dan seni kepemimpinan tersebut berusaha saya pelajari secara mendalam melalui proses waktu.

Satu hal yang penting juga, bahwa yang namanya ilmu harus selalu terakumulasi dari waktu ke waktu. Jadi apa yang saya pelajari, saya praktekkan 40 tahun yang lalu tatkala saya memulai karir saya tidak pernah hilang. Selama 40 tahun itu saya akumulasikan ilmu dan ketrampilan saya, sehingga makin lama saya makin memiliki yang biasa saya namakan dalam terminologi kepemimpinan, yakni wisdom atau kearifan. Akumulasi dari ilmu dan ketrampilan, membuat saya makin hari makin memiliki kompetensi. Tapi pada waktu bersamaan saya merasa perlu terus belajar.

40 tahun terakumulasi, baik ilmu dan ketrampilan, semua itu akhirnya menjadi kekayaan saya, tetapi dengan itupun saya masih merasa perlu belajar, maka setiap saat saya terus belajar. Berhadapan dengan Anda, ada yang saya pelajari. People’s power melalui media elektronik, misalnya; saya sebelumnya hanya pernah dengar, tapi secara praktis saya tidak tahu how it works, bagaimana sistim itu bisa bekerja. Profesionalisme itu identik dengan apa yang saya namakan optimisme. Bila ini sudah menjadi chemistry atau darah kita, menurut saya kita tidak akan pernah ditinggal oleh zaman, dan kapan pun itu, kita akan tetap berguna bagi bangsa dan masyarakat.

Saat ini saya membuka dan mengelola institusi pendidikan, itu bukan apa-apa. Saya ingin mengembalikan apa yang saya akumulasikan itu kepada masyarakat, kepada generasi muda, kepada manajer muda, sehingga yang namanya manajer satu milyar itu hilang tetapi ada penggantinya jutaan orang lain. Itu yang saya mau, maka saya membentuk Profesi Manajemen Tanri Abeng and Associates.

Satu hal yang amat penting juga, dalam hidup ini seseorang harus memiliki nilai. Dan nilai saya itu adalah integritas. Bagi saya, integritas atau integrity itu tidak bisa ditawar. There is nothing to say, “You can buy me to replace you." Integritas itu dalam dua hal. Pertama, integritas dalam hal profesi saya sendiri. Jadi, jika saya sebagai pengusaha, saya harus menjadi pengusaha yang baik. Saya diberi kepercayaan oleh presiden, tugas itu saya laksanakan dengan tidak mungkin saya akan menyeleweng. Dan integrity inilah yang membangun basis bagi apa yang saya namakan trust. Kalau trust sudah kita bangun, kita akan dapat bekerjasama dengan siapa pun. Anda tidak akan mungkin bermitra dengan saya kalau Anda tidak trust, Anda tidak percaya. Trust tidak datang dengan sendirinya. Anda pasti menyelidiki siapa saya. Kalau tidak, untuk apa Anda di sini? Itu karena saya sudah membangun integritas sejak saya berkiprah di dunia nyata. Itu adalah modal saya yang kedua.

Dengan dua modal inilah saya membangun kredibilitas. Hidup ini sebenarnya sederhana saja. Kita makan juga tiga kali sehari. Punya satu mobil sudah cukup, saya tidak pernah punya mobil lebih dari satu walau pun saya bisa beli beberapa mobil, karena tidak perlu. Buat apa punya dua-tiga mobil kalau memang tidak diperlukan. Jadi kembali lagi kepada falsafah hidup, berkecukupan, tidak perlu mewah. Tidak perlu mimpi jadi kaya, perbanyak teman, tidak ada musuh, berbuat sesuatu. That’s all. Ini baru bisa terwujud jika ada dua aset tadi, yakni akumulasi dari knowledge dan skill, dan yang kedua adalah integrity.

KI: Nasehat apa yang Anda dapat berikan kepada generasi penerus?

TA: Saya kira kita semua sudah paham bahwa dunia yang sedang berubah ini perlu kita manage dengan baik. Kita sesungguhnya memiliki sumber daya alam yang kaya. Kita juga memiliki sumber daya manusia yang potensial dan berkualitas tinggi. Jaman Pak Habibie, begitu banyak insinyur-insinyur yang dikirim belajar ke luar negeri. Banyak sekali orang-orang Indonesia yang luar biasa, memiliki ilmu dan ketrampilan yang handal. Orang-orang ini dan kegiatan pembangunan bangsa belum ter-manage dengan semestinya. Sehingga yang terjadi adalah masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, kekayaan alam kita yang melimpah tidak seimbang dengan sumber daya manusia yang kita miliki.

Oleh karena itu, kepada generasi muda saya menyarankan atau mengusulkan agar mereka itu merubah paradigma dari melihat kekayaan alam itu sebagai gedung mewah, mobil mewah, rumah mewah, kepada keilmuan, ilmu me-manage sumber-sumber daya yang ada. Dalam manajemen, kita perlu menempatkan orang yang sesuai ilmu yang dimiliknya dengan tugas dan tanggung jawab yang akan diembannya. Tidak seperti dalam berkawan, atau dalam keluarga. Karena dia adik kita maka kita jadikan dia direktur. Ini tidak bisa lagi begitu, harus ditata dengan baik. Yang memiliki ketrampilan harus diberdayakan. Kita banyak memiliki orang pintar, tapi tidak terbedayakan. Nah, intinya adalah kita perlu pengimplementasian apa yang saya sebut management. Kita harus merobah cara pandang terhadap kekayaan alam itu dari benda-benda alam dan kemewahan kepada intelektualitas. Setiap orang harus belajar apa itu manajemen. Karena hanya menejemen sajalah yang bisa menciptakan nilai tambah. Jutaan orang pintar tapi tidak di-manage, tidak akan terjadi proses nilai tambah. Sering saya katakan bahwa sebenarnya tidak ada negara yang miskin, yang ada adalah negara yang tidak termanajemeni dengan baik.

KI: Dalam buku Anda yang populer berjudul 'Dari Meja Tanri Abeng: Managing atau Chaos' dijelaskan detail apa yang telah dicapai dalam Reformasi Gelombang Pertama, disamping itu walaupun sudah ada rambu-rambu bagi pembenahan dan penyehatan BUMN, namun fakta menunjukkan bahwa kinerja BUMN tetap saja buruk. Menurut pendapat Anda bagaimana caranya agar BUMN mampu tampil sebagai lembaga bisnis yang tangguh dan efisien, serta bersaing pada pasar global?

TA: Ini salah satu persoalan manajemen pemberdayaan BUMN yang keluar dari rel-nya. Saya sudah membuat perencanaan dan mengusulkan dalam konsep saya, Indonesia Inc., bahwa untuk menangani BUMN perlu dibentuk yang namanya holding company. Yang melaksanakan hal ini sekarang adalah Malaysia, yakni dengan dibentuknya Holding Khazanah. Saat ini orang-orang lagi ramai membicarakan rencana pembentukan holding company ini seperti di Malaysia; padahal orang nomor 1 di Holding Khazanah itu ke saya dulu untuk bertanya soal ini. Dia sendiri yang mengatakan bahwa orang pertama yang saya minta konsultasi ialah Pak Tanri Abeng, itu Datok Asman. Kedua, dia bilang saya baca bukunya Pak Tanri karena ada di situ yang namanya holdingisasi.

Tapi ketika di Indonesia, implementasi kacau dan tidak jalan. Karena leadership dan management tidak jalan. Setelah jamannya saya, semua master plan sudah saya buat. Saya tidak ngomong saja, ada di buku, 24 jilid. 24 jilid untuk 150 BUMN ada di kantor saya, sampai detailnya. Jadi saya tidak ngomong saja. It is there.

Reformasi gelombang kedua, saya diganti Laksamana (Laksamana Sukardi, Meneg BUMN di Kabinet Abdurrahman Wahid – red), kemudian diganti Rossi Munir, habis itu masuk lagi Laksamana, lalu masuk lagi yang namanya Sugiharto. Dan dalam 2 bulan terakhir ini masuk Sofyan Djalil (Meneg BUMN kabinet Indonesia Bersatu, hasil reshuffle awal Juli lalu – red). Jadi selama kurang lebih 7 tahun, apa yang saya buat sejak tahun 1999 yang lalu tidak pernah terimplementasikan sampai sekarang.

Barulah akhir-akhir ini, oleh Sofyan Djalil, yang mengerti konsep itu. Dia adalah kolega saya dan salah seorang staf saya dulu, dia akan push. Dalam hal konsep kita menang, tapi ketika tiba pada tataran implementasi kita kalah, karena kita tidak mengerti manajemen. Dalam implementasi, kita harus menggunakan platform manajemen. Saya kasih contoh, konversi minyak tanah ke LPG. Semua perhitungan ke-ekonomi-an sampai kepada benefit to the consumer itu tidak diragukan lagi. Angkanya jelas, 23 triliun yang bisa dihemat, misalnya, oleh pemerintah. Tapi kenapa gak jalan? Tatkala ini diimplementasikan semua jadi kacau. Kita memiliki perencanaan tidak jalan, organisasi tidak jelas, eksekusi tidak tahu siapa yang in-charge, lalu yang namanya review juga tidak bisa jalan. This is pure an indiscipline of management.

Kembali kepada master plan, road-map BUMN yang sudah saya buat dengan teman-teman, tidak jalan sampai sekarang. Baru akan mulai dijalankan lagi. Itu karena kepemimpinan manajemen atau management leadership tidak bisa menggerakkan implementasi dari konsep yang ada itu. Tidak di-manage dengan baik, sehingga yang terjadi adalah konsep ini dikeluarkan dari rel-nya oleh kepentingan politik, dan terlalu banyak pendekatan birokrasi. Padahal ini adalah bisnis. How can you run a business dengan pendekatan birokrasi. Kalau Anda itu monopoli, yes, tapi kan dunia tidak lagi seperti itu. Maka saya kembali mengatakan bahwa the only way BUMN ini kembali bisa berjaya kalau semua elit bangsa ini sepakat; eksekutif dan legislatif sepakat bahwa BUMN harus terbebas dari hal-hal politis dan birokrasi, yang istilah saya adalah depolitisasi dan debirokratisasi. That’s it! Dan itu saya tulis.

Di mana-mana saya bicara, kalau 7 orang direksi itu datang dari kekuatan politik yang berbeda dan Anda disuruh memimpin, apa tidak kacau. Masing-masing kepentingannya yang menonjol. Belum lagi kriteria kompetensi tadi, kriteria profesionalnya bagaimana? Kalau kekuatan politik yang berkuasa, kriteria profesionalisme yang saya gambarkan tadi, yaitu knowledge-nya, skill-nya, integritasnya, apa bisa dijamin? We have these problems. Dan bagi saya, ini problem yang bisa di-solve, kita hanya membutuhkan komitmen manusia. It can be solved. Malaysia bisa, Singapore bisa, dan India juga bisa. Bahkan China juga bisa, masa’ kita nggak bisa? What’s wrong with us?

KI: Benarkah menurut Anda bila pemerintah diatur seperti perusahaan? Negara di-manage seperti perusahaan?

TA: In several relations, yes. Anthony Jay mengatakan bahwa state and corporation are exactly the same, dalam satu hal: mobilisasi daripada seluruh resources yang ada. Dan itu manajemen. To mobilize all the resources secara efektif, negara dan korporasi are exactly the same. Yang berbeda adalah politiknya. Maka politik memang harus di atas. Politik yang harus menentukan, ini kita sepakat bahwa harus demikian. Jadi, memang prinsipnya harus sama. Ada prinsip dari perspektif manajemen. Politik sebenarnya harus mendukung dari mobilisasi dari resources ini. Jadi, konsep management resources allocation sama antara korporasi dan negara.

Tapi, kekuatan politik harus bisa mengatakan: 'oke, mobilisasi ini kita terima seperti ini,' begitu. BUMN sebagai resources negara, misalnya, kalau kita harus mobilisasi, kita harus kembali kepada prinsip korporasi karena itu adalah business entity. Maka kekuatan politik harus mengatakan: 'ini harus korporat caranya, jangan birokrasi.' Jadi, in a way state and corporation are the same, management resources. Tapi di atas semuanya itu harus ada kekuatan politik yang meng-endorse bahwa there is the way to do it. DPR sebagai bagian dari negara harus bisa di-manage, sayangnya DPR kita gak bisa diatur. Dan di sinilah sebenarnya fungsi kontrol dari masyarakat. Persoalannya kemudian bagaimana kontrol masyarakat itu bisa berjalan sementara tingkat pendidikan dan kesejahteraan mereka sangat memprihatinkan.

Kalau mau melihat negara yang diatur seperti lembaga bisnis, lihat saja Singapore. The whole government is exactly managed seperti corporation, exactly! Maka Singapore itu, apa pun yang menentukan adalah keuntungan ekonomi. Bagi Singapore, Anda bisa ngomong apa saja, tentang ekstradisi dan sebagainya, tapi lihat variabelnya dulu yang menjadi barometernya. Misalnya, oke soal ekstradisi, mereka akan berpikir apa dampaknya ini terhadap ekonomi saya? Itu dulu yang dia pikir dan pertimbangkan. Dan memang buat mereka itu suatu keharusan, sebab bagaimana mereka bisa bertahan; bagaimana Israel bisa bertahan? They have nothing; what do they have? Minyak gak ada, sawit gak ada, tambang gak ada. Tapi mereka negara kaya. Bagaimana pun juga, pola pikir bisnis harus masuk dalam pengelolaan sebuah negara.

KI: Anda juga sekarang banyak berkecimpung dalam bidang penerbitan, antara lain majalah Forbes dan majalah Globe. Hal apa yang mendorong Anda untuk menggeluti bidang penerbitan?

TA: Itu adalah bahagian dari kecintaan saya terhadap pembelajaran. Saya anggap apa yang diterbitkan itu adalah bahagian daripada pengetahuan, informasi dan pengayaan wawasan. Itu sejalan dengan kegiatan yang saya geluti dalam 5 tahun terakhir, yaitu pendidikan. Saya memiliki 2 institusi pendidikan. Satu namanya Executive Center for Global Leadership (ECGL), untuk mendidik tenaga-tenaga eksekutif supaya ilmunya mendekati orang-orang yang bergerak di tingkat global. Yang kedua adalah Pusat Pembelajaran Profesi Manajemen. Saya sudah berkesimpulan bahwa banyak sekali elit bangsa ini yang tidak mengerti manajemen. Sedangkan saya sudah menciptakan rumus bahwa hanya manajemen yang bisa menciptakan nilai tambah.

Saya sudah hidup berkecukupan. Jadi apa lagi yang bisa saya lakukan. Pendidikan dan media, itu adalah bahagian yang bisa saya kembalikan kepada bangsa ini. Saya ingin apa yang ada pada saya bisa termanfaatkan oleh orang banyak. Salah satu cara untuk menyebarluaskan pendidikan adalah melalui penerbitan, seperti magazine. Jika Anda menawarkan kerjasama dalam bidang media online KabarIndonesia, itu amat menarik bagi saya. Karena saya menilai itu adalah termasuk salah satu cara pendidikan yang efektif.

KI: Apakah Anda merencanakan untuk terjun di dalam kancah politik lagi dalam Pemilu yang akan datang, misalnya turut mencalonkan diri sebagai Capres atau Wacapres?

TA: Kalau itu nggak-lah. Politik sebenarnya bukan domain saya. Dan saya hanya perlu mengerti sedikit supaya bisa membantu siapa yang saya anggap memang pantas untuk menjadi pemimpin politik bangsa. Tapi saya tidak akan masuk di arena itu sendiri, karena itu bukan spesialisasi saya. Skill saya gak di situ.

KI: Kalau menjadi penasehat, bagaimana Pak?

TA: Bolehlah, kalau menjadi penasehat bolehlah. Tapi untuk terjun sendiri ke dunia politik tidaklah. Hingga kini saya masih memikirkan di mana saya harus bertengger dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan keahlian saya. Tapi yang jelas, tidak di dunia politik.

Itulah Tanri Abeng, seorang manajer Indonesia yang sukses sepanjang hidupnya. Pada kehidupan kesehariannya kini, ia masih dipenuhi oleh kesibukan mengurus lembaga-lembaga pendidikan dan memberikan kuliah umum di berbagai universitas tentang ilmu manajemen dan betapa pentingnya bidang ilmu ini dikuasai oleh semua kalangan. Semoga dari tangannya akan lahir manajer-manajer muda yang memiliki kehandalan dan integritas seperti sang “Guru Manajemen Indonesia”.

BIODATA SINGKAT TANRI ABENG

Nama Lengkap : Tanri Abeng, SE, MBA
Tempat Lahir : Selayar, Sulawesi Selatan
Tanggal Lahir : 7 Maret 1942

Pendidikan :
- Penerima beasiswa “American Field Service”
- Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar
- Program Master of Business Administrasion, University of New York, Buffalo

Karir :
- PT Union Carbide Indonesia
- Presdir PT Perusahaan Bir Indonesia (sekarang PT Multi Bintang Indonesia)
- Presdir Grup Bakrie
- Meneg Pendayagunaan BUMN Kabinet Pembangunan VII
- Meneg Pendayagunaan BUMN Kabinet Reformasi


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Konser Bruno Mars di Koreaoleh : Syaid Ahmad Fahri
09-Apr-2014, 15:28 WIB


 
  Konser Bruno Mars di Korea Bruno Mars melaksanakan konser di Korea Selatan (8/4) dan mendapat apresiasi yang cukup baik. Salah satu penonton konser tersebut adalah personil boy band asal Korea, yakni Ryeo Wook dand Eun Hyuk Super Junior (SuJu). Mereka mengatakan lagu Bruno Mars yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu 2014 di Caledonia Baru 10 Apr 2014 11:57 WIB


 

 

 
Squad Merah Putih Hajar Andorra 31 Mar 2014 12:39 WIB

 
Pasar Terapung di Kalsel 06 Apr 2014 19:18 WIB


 
Kampus Terkemuka Nasional 15 Apr 2014 03:51 WIB

 
Zat Besi & Vitamin C 11 Apr 2014 21:57 WIB

Era Kualitas Kehidupan Perempuan 25 Mar 2014 21:45 WIB

 

 

 
Satu Langkah Lagi 16 Apr 2014 16:47 WIB

Mengenal Tuhan Lebih Dekat 16 Apr 2014 03:34 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia