KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikLolos Kemenkumham RI, Partai Rakyat Segera Tampung Aspirasi Masyarakat oleh : Rohmah Sugiarti
24-Sep-2017, 17:58 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Partai Rakyat yang pertama kali deklarasi pada 15 Agustus 2015 di Ancol berhasil lolos Kemenkumham RI dan resmi berbadan Hukum dari Kemenkumham (Kementerian Hukum & Ham) RI.

Partai Rakyat yang dilahirkan dengan slogan "rakyat berkuasa
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
KOMUNIS 23 Sep 2017 03:41 WIB

Kisah Negeri Antah Berantah 22 Sep 2017 09:23 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Pop Batak Special Muchtar Pakpahan, Album Rasa Aktivis

 
PROFIL

Pop Batak Special Muchtar Pakpahan, Album Rasa Aktivis
Oleh : Agus Supriyatna | 07-Nov-2007, 18:46:18 WIB

KabarIndonesia - Siapa yang tak kenal Muchtar Pakpahan? Si anak Bengal dari tanah Toba. Ya, banyak orang bilang, Muchtar ‘Si Anak Bengal' yang tak mau manut patuh pada wajah penguasa. Tapi memang itulah Muchtar Pakpahan, lelaki berdarah Batak yang lahir di Bahjambi Dua Tanah Jawa, Simalungun, Sumatera Utara, 21 Desember 1953, sedikit dari beberapa orang yang punya nyali untuk berkata tidak di saat kekuasaan begitu menyeramkan. Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Simalungun, Sumatera Utara ini, berani  berteriak, di saat banyak orang tiarap, bahkan takut untuk sekedar berbisik.

Memang jaman itu, sebuah rezim penguasa berdiri kukuh dengan jaring kekuasaannya yang merentang hingga sudut paling bawah. Masyarakat dibuat takluk dan takut. Tapi ternyata Muchtar lain dari pada yang lain. Matanya awas dan hatinya gelisah, ketika dirasa kekuasaan sudah kebablasan mengatur negara serta memperlakukan rakyatnya. Tak ada jalan lain kecuali berteriak melawan. Itu artinya berani mengambil jalan dan posisi bersebrangan dengan suara penguasa. Sebuah posisi yang dijauhi banyak orang karena beresiko tinggi.

Mantan Ketua Senat FH Universitas Sumetara Utara ini, kemudian merentang jalan, menajamkan rasa berpihaknya pada situasi sosial yang timpang. Pada akhirnya lewat jalur dunia buruh, lelaki yang pernah diganjar sederet penghargaan internasional karena keberanian dan kepeduliannya memperjuangkan nasib buruh ini, berusaha membangun sebuah ruang bagi buruh untuk menyuarakan hak dan kebenaran. Saat itu koorporatisme negara teramat kuat dan sanggup meringkus siapa saja yang berbeda garis dengan negara, karena memang juga didukung oleh institusi serdadu. Tapi Muchtar tak surut langkah, mantan dosen di Universitas HKBP Nommansen, Medan dan Universitas Kristen Indonesia (UKI), terus maju pantang mundur menyuarakan tuntutan keadilan bagi kaum buruh. Sebuah kaum yang diangapnya banyak menerima penindasan dan penistaan oleh penguasa.

Alhasil atas keberaniannya tersebut, Muchtar menuai ganjaran. Tangan  penguasa mencoba meringkusnya dengan jalan memasukkannya ke dalam bui. Tapi bukan Muchtar yang pernah tercatat sebagai Wakil Presiden World Confederation of Labour (WCL), sebuah organisasi buruh internasional, bila terus bungkam, hanya karena dijebloskan ke dalam bui. Bukannya menyerah, di dalam bui, ayah dari tiga anak tersebut tetap kukuh dengan keyakinannya. Bahkan dalam bui 'suara kegelisahannya' banyak dituangkan dalam syair lagu.

Lama waktu berselang, kini suara tersebut diperdengarkan pada publik. Bukan lagi lewat orasi lantang yang pernah membuat telinga penguasa terbakar, tapi kali ini lewat syair lagu. Beda gaya, tapi tetap berlanggam sama. Karena lagu-lagunya juga merupakan jejak rekam kegelisahannya ketika di kerangkeng didalam bui oleh Rezim Orde Baru.

Jakarta 23 Oktober 2007, bertempat di Auditorium RRI, Jakarta, disaksikan banyak tokoh penting, mulai dari Menteri, Mantan jenderal dan para politikus papan atas, pria Toba yang juga penyandang gelar Doktor Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia, mengenalkan keprigelannya berolah suara dan mencipta lagu ke telinga khalayak. Tapi dasar aktivis, lagu-lagu yang termuat dalam album bertajuk  "Penjara Tanjung Gusta dan Pabohat Boru " tetap tak menghilangkan ciri khas Muchtar sebagai sebuah corong suara kritis kaum marginal.

Dalam tuturan kisahnya mengenai proses perjalanan album tersebut, Muchtar bercerita, bahwa lagu-lagu tersebut, merupakan cara untuk tetap bisa menuangkan perjuangan melawan kezaliman penguasa Orde Baru, walaupun dirinya di bui.

Mengenai ini ia bertutur, " Setelah satu bulan saya berada di LP Semarang kemudian dipindahkan ke LP Tanjung Gusta, disanalah saya berdoa meminta talenta kepada Tuhan agar saya diberikan kemampuan menciptakan lagu. Akhirnya Tuhan mengabulkannya dan ternyata dalam satu Minggu saya sudah mencipta 23 lagu. Tujuan utama saya mencipta lagu itu adalah untuk menyemangati perjuangan kawan-kawan di luar penjara. "

Sebenarnya pada tahun 1996 album Penjara Tanjung Gusta dan Paborhat Boru tersebut berhasil direkam dan dalam format bahasa Indonesia. Tapi lagi-lagi tangan kekuasaan mencoba memberangusnya. Belum keluar masuk pasar, Kejaksaan Agung ketika itu sudah mengumumkan bahwa album tersebut ‘barang terlarang' yang membahayakan stabilitas negara (baca : Penguasa) alias subersive.

Kini di tahun 2007, album tersebut kembali di rilis. Pucuk penguasa Orde Baru yang dulu dikritiknya habis telah lengser, sekaligus membawa berkah. Album yang sempat dilarang tersebut akhirnya diberi izin beredar, dengan formatnya sudah rada berbeda karena juga mengunakan bahasa Batak dibeberapa lagunya.  Pukul 20. 00 WIB, Ruang Auditorium, RRI Pusat,  menjadi tempat launching album sang aktivis buruh garda depan tersebut. Peluncuran album tersebut sekaligus menandai deklarasi Muchtar Pakpahan Centre (MPC), sebuah yayasan yang didirikan 25 Juni 2007, sebagai ikhtiar dan kepedulian akan pariwisata dan kelestarian budaya Indonesia. 

Tapi ternyata album tersebut soal rasa tetap sama, kental dengan rasa dan aroma politik ala Muchtar. Dalam lagu berjudul Penjara Tanjung Gusta, misalnya;
Hukuman ringan, molo talehon hepeng i 
Hukuman na borat bogian ni napogosi
(Hukuman ringan kalau ada uang sedangkan hukuman berat bagi orang miskin atau yang tak punya uang)

Di lagu lainpun, aroma aktivis terlihat dengan jelas. Seperti dalam lagu Untukmu Buruh, memperlihatkan, jalan darma bakti yang dipilih oleh Muchtar.
Hentikanlah penguisapan terhadap buruh.
Berikanlah hak buruh, beri kesempatan.
Hidupmu yang prihatin kekurangan segalanya.
Rendah upahmu serta gizimu.
Martabatmu pun rendah.
Dikalangan lingkunganmu kau dipandang rendah dan dilecehkan.

Ada sepuluh lagu yang diusung dalam album tersebut. Hampir semuanya di cipta oleh Muchtar Pakpahan. Soal suara, ternyata Muchtar boleh diadu dengan penyanyi lainnya. Ternyata aktivis buruh tersebut, mempunyai suara yang merdu. Pastinya alam Batak, sedikit banyak menyumbang keprigelannya mengolah suara. Dan pada akhirnya sudah selayaknya, ketua Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) di tahbiskan sebagai aktivis cum seniman. Piawai berorasi, jagonya berdemonstrasi, juga ahli meracik suara hati dalam syair. Maka lengkaplah, sosok dari seoarang Muchtar Pakpahan.

Selamat terus berjuang Bung Muchtar...



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menhub Budi Karya Ajak Terus Gemakan Keselamatan Berlalu Lintasoleh : Rohmah Sugiarti
24-Sep-2017, 17:56 WIB


 
  Menhub Budi Karya Ajak Terus Gemakan Keselamatan Berlalu Lintas Siswa-siswa SDN 028067 Kota Binjai selesai mewarnai gambar dengan tema keselamatan lalu-lintas (24/9). Menteri Perhubungan Republik Indonesia Budi Karya Sumadi membuka kegiatan Inspirasi 60 Tahun Astra sekaligus mencanangkan Kampung Berseri Astra Cengkeh Turi, Binjai, Sumatera Utara sebagai Kampung Ramah Anak
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia