KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikRENUNGAN: Krisis Moneter Indonesia 1998 oleh : Wahyu Barata
30-Jul-2014, 02:41 WIB


 
  KabarIndonesia - Setelah beberapa dekade terbuai oleh pertumbuhan yang sangat mengagumkan, di tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sangat hebat hingga menjadi tragedi. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin kita akan
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Suharno, Mantan Tapol yang Kini Menjadi ”Pahlawan”

 
PROFIL

Suharno, Mantan Tapol yang Kini Menjadi ”Pahlawan”
Oleh : St. Sutrisno | 10-Mar-2008, 22:05:40 WIB

KabarIndonesia - Siapa mengira bahwa seorang Suharno (71), petani kecil yang pernah dibuang ke Pulau Nusa Kambangan sebagai tahanan politik (Tapol) itu, bisa mengubah nasib kampungnya yang dulunya ibarat tidak pernah dilirik orang, kini menjadi daerah tujuan wisata kuliner paling ramai di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah?

Ceritanya begini. Sekitar tahun 1965, tanpa proses pengadilan, Suharno dijebloskan ke Nusa Kambangan, sebuah pulau kecil di sebelah selatan pulau Jawa, pulau yang memang dikenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik, khususnya mereka yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI), meskipun belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Maklum, saat itu PKI dinyatakan sebagai partai terlarang oleh rezim Suharto. Setelah sekitar tiga tahun berada di Nusa Kambangan, Suharno berhasil kembali dan menjalani kehidupan ”normal”-nya di kampung halamannya, Dusun Blater, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Bandungan (dahulu masih wilayah kecamatan Bawen), Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dengan istri dan delapan anaknya, dua laki-laki dan enam perempuan, dia menjadi petani biasa di kampung itu.

Ceritanya mulai berubah ketika tahun 1995, Dinas Perikanan Kabupaten Semarang melakukan penyuluhan dan pembinaan pemeliharaan ikan. Maka dibentuklah kelompok perikanan Ngudi Mulyo. Kelompok tersebut diberi bantuan bibit ikan dan perbaikan kolam. Meskipun tidak menjabat sebagai ketua kelompok, Suharno bisa dibilang paling getol mengupayakan keberhasilan kelompok ini. Maklum, awalnya kelompok tersebut menderita kerugian, maka Suharno pun bekerja keras untuk bisa membuktikan bahwa kelompok perikanan tersebut memiliki masa depan.

Waktu terus berjalan. Dan kini keberhasilan sudah bisa dinikmati tidak hanya oleh keluarga Suharno, tetapi juga oleh penduduk setempat. Kampung di dekat daerah wisata Bandungan, yang dulunya ibarat tidak pernah dilirik orang itu kini menjadi daerah wisata kuliner paling ramai di Kabupaten Semarang, khususnya di hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya. Kini, di sana terdapat 15 kolam pemancingan, tiga di antaranya adalah milik Suharno. Omzet dari tiga kolam tersebut mencapai Rp. 100 juta lebih per bulan. Dengan asumsi pendapatan kolam yang lain sama, maka total omzet mereka bisa mencapai Rp. 500 juta/bulan. Belum lagi pemasukan dari parkir sepeda motor dan mobil yang mencapai tidak kurang dari Rp. 3 juta/bulan. Sedangkan hasil retribusi mobil yang bisa disumbangkan ke kampung mencapai Rp. 700.000,- lebih per bulan. Pemasukan ini dipakai untuk pembangunan kampung, di antaranya untuk pengaspalan jalan dan perawatannya.

Berkat kerja keras Suharno dan rekan-rekannya di kelompok perikanan Ngudi Mulyo-lah Kampung Blater yang dahulu ibarat tidak pernah dilirik orang itu kini menjadi kampung yang sangat asri, ramai, mandiri, dan menjadi kampung tujuan wisata banyak orang untuk mancing, menikmati pecel lele, gurami bakar dan sebagainya. Meskipun perannya yang sangat besar terhadap kemajuan kampung ini, dan dia barangkali bisa disebut sebagai ”Pahlawan”, tetapi Suharno tetap merendah, sebagaimana disampaikan putra sulungnya berikut ini: ”Semua tidak lepas dari bantuan dan penyuluhan dari Dinas Perikanan Kabupaten Semarang. Khususnya Bapak yang fotonya ada bersama Bapak saya itu,” katanya.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia