KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
BudayaUndang-Undang Cagar Budaya Disosialisasikan oleh : Ki Agus N. Fattah
27-Aug-2014, 10:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Bandung, Dalam sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung (Disdikbud Kab. Bandung), Drs. H. Agus Firman Zaini, M. Si., Juli 2014 lalu, pada Kegiatan Sosialisasi Undang-Undang Cagar Budays Tingkat Kabupaten Bandung tahun 2014, dituturkan, Pemerintah melalui misinya,
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Dari Tak Bersendok hingga Berkebun Cokelat 1 Ha

 
PROFIL

Dari Tak Bersendok hingga Berkebun Cokelat 1 Ha
Oleh : Muhammad Nizar | 25-Sep-2008, 14:49:13 WIB

KabarIndonesia - Pak Mumu Supriatna (54 tahun), lelaki berperawakan kurus tinggi dan putih, sudah 13 tahun tinggal di Aceh. Ia kelahiran Ciamis, besar di Bandung, Jawa Barat. Lelaki ini transmigrasi ke tanah Aceh pada 1996, ditempatkan di Kuala Pango atau yang biasa disebut Satuan Pemukiman II (SP II) kecamatan Peunaron, Aceh Timur. Di sana dia diberi tanah seluas 1 ha yang ia tanami kelapa sawit. Mumu Supriatna dengan rajin memberi pupuk, sehingga hasil panennya lebih bagus disbanding dengan teman-teman sekampung. Bahkan ia juga punya usaha penyewaan teratak, peralatan pesta, yang modalnya diperoleh dari menjual barang-barang di Jawa. Namun kini itu semua tinggal kenangan. Sekarang SP II hanya ditinggali 10 kepala keluarga. "Dulu di sana ada pasar Minggu, namun kini tidak ada lagi. Perekonomian masyarakat masih mundur, belum seperti sediakala..."

"Saat itu bulan puasa tahun 2001," dia bercerita. "Orang sedang shalat tarawih. Sekitar pukul 20.00, terjadi insiden berdarah. Tiga orang anggota kelompok bersenjata setempat berhasil dipergoki satuan keamanan pemerintah sehingga ketiganya dianiaya. Dua orang luka parah namun selamat, sedangkan seorang lagi meninggal. Seminggu setelah kejadian mencekam itu kelompok bersenjata marah kepada kami. Suatu sore, mereka mendatangi rumah penduduk, meminta semua berkumpul di balai desa. “Istri saya, Nonoy Khoiriyah (44 tahun), yang sedang mencuci piring, dipaksa segera meninggalkan pekerjaan. Orang-orang itu membentaknya sambil memukulkan ujung senjata ke piring-piring sampai berserakan."Istri dengan gemetaran pun mematuhi perintah pria bersenjata itu. Masyarakat yang telah berkumpul di balai desa kemudian dipisahkan berdasarkan sukunya. Suku Jawa dengan suku jawa, Aceh dengan Aceh, begitu juga dengan orang Gayo. Banyak warga yang sudah menangis-nangis menghiba karena takut ditembak dengan senjata, yang siap terkokang. Kemudian seorang pemimpin mereka berbicara memerintahkan penduduk untuk kembali kedaerah masing-masing. Orang Jawa pulang ke Jawa, orang Gayo pulang ke Gayo, demikian juga suku yang lain. Saat itu juga kami diperintahkan pergi tanpa diperbolehkan pulang ke rumah untuk mengambil sekeping barangpun. Mereka, sudah tidak percaya lagi kepada kami. “Kalau kalian masih tinggal di sini akan kami tembak”kata pemimpinnya. Dengan tergesa-gesa kami pergi ke Ibu kota kecamatan Peunaron, berjalan kaki 18 km hingga sore hari baru tiba di tempat tujuan. Kami saat itu sangat kalut dan sedih. Istri mengajak saya untuk kembali ke SP II mengambil barang-barang yang masih tersisa. 2 hari setelah pengusiran kami mencoba kembali ke desa untuk melihat apa-apa yang masih bisa diambil dengan menyewa truk Cevrolet milik seorang teman bernama Robert.

Sampai di SP II, Pak Mumu melihat rumahnya sudah terbakar habis. Dengan sedih mereka mencoba mengais sisa-sisa kebakaran, istrinya berencana kalau ada sendok satupun yang tersisa akan diambil. Harapan yang sederhana ini pun sia-sia. Ternyata tak satupun barang yang tersisa. Cangkul, mesin jahit dan barang-barang lain tampaknya sudah dipindahkan keluar sebelum rumah dibakar oleh kelompok tak dikenal.

“Jika tidak diusir, saya sebenarnya tidak ingin pergi dari SP II, desa tempat saya tinggal sejak bertransmigrasi ke Aceh. Saat penduduk desa yang lain sudah mengungsi ketika konflik sedang tinggi-tingginya, saya bertahan tinggal di desa. Hanya tinggal 7 KK lagi tersisa ketika itu” Pak Mumu Supriatna mengenang.


Bangkit Kembali

Pak Mumu Supriatna sekeluarga di Peunaron tinggal menumpang bersama seorang Tamiang yang baik hati, mereka memanggilnya Bang Samsul. Bang Samsul bersedia memberi tumpangan dan memberikan pekerjaan kepada beliau, menjaga kebunnya. Pak Mumu diberikan gaji Rp.100.000/bulan dan beras 30 kg/bulan. Pak Mumu bersama 4 anaknya tinggal bersama bang Samsul selama lebih kurang 4 tahun. Masih nyata dalam ingatan Pak Mumu tentang alat-alat masak yang pertama kali disumbangkan bang Samsul. “Bang Samsul juga memberikan kepada saya dandang untuk alat memasak satu buah, setrika satu, sedangkan yang lain saya beli sendiri misalnya cangkir 6 buah”kata Pak Mumu sambil menunjukkan jarinya ke arah dapur, tempat alat masak itu tergantung dengan setianya. Ada kisah yang menyedihkan saat awal mengungsi, yang sangat membekas dalam diri Pak Mumu. Saat itu anaknya yang paling kecil berumur 3 tahun, butuh sekali kelambu sebagai pelindung dari gigitan nyamuk.

Dengan tergopoh-gopoh Pak Mumu mencari kesana-kemari meminta belas kasih kepada penduduk, ternyata tidak satu pun yang dapat memberikan. “Mau membeli sendiri tidak punya uang. Akhirnya saya mengumpulkan kertas-kertas, kemudian saya sambung-sambung hingga mirip kelambu” ujarnya sambil tertawa. Mungkin peristiwa pahit tersebut sudah menjadi kenangan manis baginya. Lain waktu, Pak Mumu pernah membuat sayur dari pisang monyet. “Saya sampai seumur ini berambut putih, tidakpernah makan pisang monyet sebelumnya. Saya dan istri tidak tahu persis cara memasaknya, namun karena tidak ada pilihan lain kami terpaksa memakannya. Kami buat menjadi sayur, tapi bagian tengah pisang monyet yang berserat tetap kami masak juga, seharusnya tidak” Ia kembali tertawa kecil mengenang peristiwa pahit itu.

Sedikit demi sedikit, setelah 2 tahun tinggal menumpang, Pak Mumu sudah bisa berusaha mandiri, sehingga meminta Bang Samsul tidak memberikan bantuan lagi. Namun Bang Samsul dengan tegas berkata “Beras tidak saya berikan lagi ya, tetapi uang tetap saya berikan”. Usulan ini pun tetap ia tolak, karena beliau merasa bang Samsul sudah sangat baik kepadanya saya selama ini. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Pak Mumu menanam sayur dan bekerja apa saja selama mengungsi. “Saya mendodos (mengumpulkan) sawit yang banyak terdapat di Peunaron. Dalam dua hari bisa terkumpul 2 ton sawit, kemudian Istri yang melangsirnya (mengangkatnya) ke dalam truk. Saya sendiri tidak mampu karena badan yang sudah lemah. Pekerjaan ini kami sekeluarga jalani selama 4 tahun di tempat pengungsian” kata Pak Mumu.

Awal di pengungsian Pak Mumu sebenarnya tidak tahan jadi pengungsi di sini. Saudara-saudaranya di Pulau Jawa pernah mengirim uang sebagai ongkos untuk pulang ke Jawa. Tetapi Istri Pak Mumu bersikeras menolak usul tersebut. Malu katanya, mau tinggal dimana? Semua harta sudah dijual saat pergi transmigrasi ke Aceh. Mau tinggal di rumah nenek malu, masih ada dua saudara yang numpang disana. “Saya ingin pulang ke Jawa saja agar bisa kerja yang ringan-ringan sesuai dengan kondisi kesehatan saya, seperti berdagang rokok misalnya. Tapi istri tetap tidak mau. “Biarlah kita mendodos sawit saja, biar saya yang melangsir”. Pak Mumu mempunyai penyakit sesak nafas dan polip. Camat Peunaron berbaik hati memberikan izin mengelola sebidang tanah lereng seluas 1 ha yang kemudian oleh Pak Mumu ditanami cokelat. Tanah tersebut dulunya merupakan milik seorang transmigrasi swakarsa yang bernama Pak Midi. Namun yang bersangkutan pergi mengungsi dan hingga kini tak diketahui bagaimana kabarnya. Menurut Pak Camat, peserta transmigrasi swakarsa jika meninggalkan tanahnya selama 3 bulan berturut-turut maka tanah tersebut akan diambil kembali oleh pemerintah. Bagaimana jika yang bersangkutan kembali, Pak Mumu pernah menanyakan kepada Pak Camat. Pak Camat menjawab “Bilang sama yang bersangkutan menghadapnya”.

Tanaman cokelat Pak Mumu tumbuh dengan subur pada lereng yang hampir 45 derajat kemiringannya. Di lokasi yang sama, di pinggir jalan menuju kecamatan Lokop, ia membangun rumah papan 7x6 yang sederhana sedikit demi sedikit. Ketika rumah tersebut siap ditempati, Pak Mumu dengan alasan agar kebun cokelat dan rumah papan saya tidak dimasuki oleh babi ataupun monyet, ia pun minta izin dengan Bang Samsul pindah ke rumah papan tersebut. “Walaupun rumah ini seperti gubuk tapi bagi saya ini sudah luar biasa”kata Mumu Supriatna. Sampai kini sudah 2,5 tahun ia dan keluarga menghuni rumah papan. “Tanah yang saya tempati ini sudah ada surat-suratnya, sekarang berada ditangan pak RT” Pak Mumu mengatakan.

Saat ini pak Mumu bisa memanen cokelat sampai 200 kg sekali panen. Harganya pun cukup bagus yaitu Rp.10 ribu perkilo. Sepeda motor sendiri sudah dimilikinya dan bisa menyekolahkan anak. “Apa yang saya miliki sekarang sudah melebihi dari apa yang Bapak miliki dulu di SP II”. Tanahnya dulu di pemukiman SP II telah dijual pada seseorang seharga Rp.4 juta untuk biaya operasi penyakit Polip. Ia pernah mengunjunginya sekali, disana sudah kembali ditanami dengan tanaman sawit oleh pemilik barunya. Sang istri, Nonoy Khoiriyah merupakan seorang perempuan yang tangguh mental dan fisik. Pernah di saat konflik sedang gawat-gawatnya, ia berjalan kaki sambil memanggul sayur dan kue-kue sejauh 25 km dari SP II menuju Lokop, dimulai sekitar jam 3 atau jam 4 pagi sebelum subuh. Berjalan sendirian di tengah kegelapan, ditengah ancaman babi atau harimau, ia jalani demi mencari nafkah buat keluarga. “Kalau saya tidak sanggup jalan sejauh itu, apalagi gelap, saya takut binatang buas” kata Mumu Supriatna. Istri Mumu Supriatna saat masih tinggal di Jawa dulu pernah menjadi TWK di Arab Saudi.

Pasca MoU ia pernah mendapat bantuan dari pemerintah melalui dinas seperti bantuan pupuk, bibit jagung dan sebagainya. Namun untuk bantuan sebagai status pengungsi, ia tidak pernah menerima dan belum pernah mengajukan. “Saya tidak tahu bagaimana caranya, begini saja sudah cukup. Saya merasa bersyukur dengan keadaan saya saat ini. Walaupun dengan bantuan yang minim namun apa yang saya usahakan dengan tangan saya sendiri terasa lebih berkat ”kata beliau.

Mumu Supriatna awalnya mendengar tentang MoU dari TV, radio, dan dari kawan-kawan. Perasaannya senang sekali mendengar kabar itu. Ia merasa kedamaian yang datang bisa membuat ia hidup seperti cita-citanya saat meninggalkan Jawa. “Sebab saya tidak punya keinginan kembali ke Jawa, saya ingin tinggal di sini sampai beranak cucu. dan benar, saya sudah mempunyai dua cucu sekarang” katanya tersenyum. “Yang saya pahami dari MoU adalah seandainya baik dari GAM ataupun dari aparat mendahului membikin onar maka akan diberikan hukuman. Tapi yang paling penting sekarang sudah damai. Sudah tidak ada dendam lagi”. Mencari rezeki kapan saja sudah tidak takut lagi. Sekarang Pak Mumu, setiap hari ditengah sejuknya udara subuh, mulai jam 3 dini hari sudah pergi ke pasar Peunaron untuk berjualan. Mumu Supriatna bersama istri Nonoy Khoiriah hidup tenang dan damai di rumah papan sederhananya. Jauh dari keramaian tapi terus bekerja keras. Meminjam istilah dari sang Istri “Dari tanpa memiliki satu sendokpun, hingga kini memiliki kebun cokelat 1 Ha”.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Upacara Bendera HUT RI-69oleh : Gholib
22-Aug-2014, 08:56 WIB


 
  Upacara Bendera HUT RI-69 Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69, 17 Agustus 2014, puluhan anggota pecinta kereta api dan pegawai PT. KAI melakukan upacara bendera di pelataran gedung Lawang Sewu Semarang, Jateng, dengan memakai baju dan atribut pejuang tempo dulu.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB

 

 

 

 

 
Satukan Dukungan Bagi Timnas 15 Aug 2014 05:15 WIB

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia