KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia – Serang, Guna memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja(BLK) yang sudah ada selama ini, Kementerian Ketenagakerjaan terus matangkan penerapan konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK). Pasalnya konsep ini diyakini mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Bubar Riyaya 22 Jul 2017 01:58 WIB

Anak Beranak Kanak 22 Jul 2017 01:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan

 
PROFIL

Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 07-Nov-2014, 01:42:52 WIB

KabarIndonesia - Dian Ediono adalah Sarjana Ekonomi yang dilahirkan di Banyuwangi 47 tahun silam. Saat ini Dian menjabat sebagai GM Garuda Indonesia di Belanda sejak awal Januari 2013 kemarin. Dian merupakan seorang pemimpin yang memulai karirnya benar-benar dari bawah. Dalam menjalankan amanah dan tugasnya, dirinya selalu memegang tradisi dan budaya luhur adat Jawa. Walaupun demikian, Dian adalah sosok pemimpin yang berpikiran terbuka (open minded) dan modern. Tidaklah salah jika dalam kepemimpinannya pada sejumlah perusahaan atau birokrasi; pimpinan ternama pada masakapai penerbangan ini selalu mengedepankan perbedaan dan keanekaragaman bangsa kita.Dengan demikian, Dian selalu dapat dipastikan mampu mengelola segala perbedaan budaya, latar belakang suku, agama, serta kepentingan seluruh elemen bangsa ini, lalu mengubahnya menjadi peluang dan kelebihan. Selain itu Dian memiliki semangat tinggi sebagai pelayan publik. 

Di tengah sebagian besar pejabat maupun pemimpin mengalami krisis, kita menemukan sosok pemimpin yang jujur dan kredibel. Banyak pejabat yang kini bertindak seolah-olah sebagai raja. Secara performa, Dian memiliki karakter rendah hati sebab prinsipnya ia selalu memegang pameo "ojo dumeh". Dian layak dijadikan sosok pemimpin masa depan sebab memiliki jiwa kepemimpinan. Salah satu prinsip kepemimpinan yang paling diutamakan oleh Dian adalah keteladanan. Lebih-lebih bagi masyarakat bangsa Indonesia yang paternalistik. Sangat tepatlah ajaran kepemimpinan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro: "ing ngarsa sung tuladha" yang bermakna di depan (pemimpin) harus memberi teladan. Atau seperti pidato Bung Karno: "Satunya kata dan perbuatan". Bung Karno juga pernah berkata: ”Berilah saya seribu orang tua, saya bersama mereka kiranya dapat memindahkan gunung Semeru. Tetapi, apabila saya diberi sepuluh pemuda yang bersemangat dan berapi-api kecintaannya terhadap bangsa dan tanah air, tanah tumpah darahnya, saya akan dapat menggemparkan dunia!"

Sosok pemuda yang didambakan oleh Bung Karno di atas, besar potensinya seperti Dian karena di dalam diri pemimpin ideal terdapat empat karakter utama yang harus dimiliki.

Pertama, di dalam jiwanya terdapat karakter sebagai pemimpin transformasional, yakni pemimpin yang selalu mengajak pengikutnya untuk menaikkan tingkat moralitas tinggi. Pemimpin ini menekankan kesadaran pengikutnya dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi, dan nilai moral seperti keadilan, kemanusian, dan menjauhkan tindakan koruptif.

Kedua, pemimpin kharismatik dirasakan masih dibutuhkan dalam menjustifikasi kualitas personal, heroisme, dan pemberian mandat. Pemimpin kharismatik berperan agar masyarakat yang sudah terfragmentasi ini mau mengikuti dan mematuhi perintah atau saran agar program politik, ide-ide, serta bersatu memperbaiki moralitas bangsa bisa berjalan dengan semestinya.

Ketiga, pemimpin yang memiliki sosok yang berkepribadian matang dan memahami rakyat. Pemimpin ini jelas memiliki tingkatan sifat, perilaku, dan perbuatan yang berakhlak, bermoral sebagai cerminan jiwanya. Sangat nista jika ada pemimpin politik mempunyai perilaku amoral seperti terlibat kriminalitas, perselingkuhan, narkoba atau menggunakan politik kekerasan dalam memaksakan kehendaknya.

Keempat, pemimpin partisipatif, dalam artian harus mampu mengakomodasi aspirasi dari bawah (bottom-up) atau bersifat demokratis. Pengambilan keputusan politik wajib semaksimal mungkin melibatkan stakeholder terkait. Berusaha menghindari pola-pola "topdown", agar tidak terjadi krisis kepercayaan dan partisipasi.

Selain itu disadari atau tidak disadari, suatu persepsi telah beredar di tengah masyarakat bahwa presiden Indonesia haruslah dari suku dan orang Jawa. Kenapa demikian? Adakah bukti otentik yang membenarkan persepsi tersebut selama ini? Bukan bermaksud mengindahkan mitos dan ramalan-ramalan yang ada, semisal ramalan Jayabaya, yang dipercaya masyarakat Jawa (kejawen) memuat ramalan para pemimpin serta perkembangan Indonesia, dan bentuk ramalan-ramalan lainnya. Persepsi masyarakat tentang Presiden Indonesia haruslah dari orang dan suku Jawa tersebut, bisa benar dan bisa pula salah. 

Di sini perlu adanya telaah kembali atas persepsi dan mitos yang seakan-akan menjadi aturan tidak tertulis bagi seseorang yang akan mencalonkan diri menjadi Presiden. Bisa dibenarkan selama ini Presiden RI selalu berlatar belakang Jawa, seperti Soekarno, Soeharto, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono yang berasal dari Jawa. Sedangkan BJ. Habibie adalah satu-satunya mantan Presiden yang bukan berlatar belakang Jawa. Hal ini adalah sebuah pengecualian sebab B.J. Habibie menjadi Presiden karena sebuah kondisi darurat dan sangat situasional pasca jatuhnya Soeharto di awal Reformasi 1998. BJ. Habibie sebagai Wakil Presiden secara otomatis menggantikan Soeharto untuk mengisi kekosongan kepemimpinan (vacuum of power) saat itu, bukan melalui pemilihan umum sesuai prosedur ketatanegaraan yang berlaku.

Dian menyatakan, “Presiden Indonesia, Joko Widodo, juga orang Jawa, terpilih secara langsung dan damai oleh dinamika demokrasi Indonesia yang dijaga dan dilindungi Allah SWT, ditunjukkan sebenarnya sebagai pimpinan negara. Kepala Negara itu adalah menjadi pemimpin rakyat, Bangsa dan Negara. Mustahil terpilih bukan karena campur tangan Allah SWT. Jadi hakekatnya bukan dari suku Bangsa Jawa ataupun bukan, namun Tuhan YME yang Maha menentukan. Bangsa kita harus tetap Merah Putih Indonesia yang Hebat, mampu mandiri dan berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.  Hal itu menjadi kewajiban kita semua dalam membantu mewujudkan pemerintahan baru nanti bersama-sama menuju cita-cita Proklamasi yang tertuang dalam Pancasila dan UUD'45.” (*)


Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//
 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Rayakan HUT ke-60 di Surabaya, Astra Dorong Wirausahaoleh : Wahyu Ari Wicaksono
22-Jul-2017, 07:08 WIB


 
  Rayakan HUT ke-60 di Surabaya, Astra Dorong Wirausaha Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf memukul gong Perayaan HUT 60 Tahun Astra di Surabaya didampingi Direktur PT Astra International Tbk Johannes Loman (ketiga kanan), Kolonel ARM Supriyoso (kedua kanan), Chief of Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Ramadhan 15 Jun 2017 05:55 WIB

 
Awas Anemia! 17 Jul 2017 13:12 WIB

 

 
Hari Media Social 2017 11 Jun 2017 04:40 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia