KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Harus Bersatu Demi Pulihkan Wilayah Terkena Bencana oleh : Rohmah S
17-Okt-2018, 15:20 WIB


 
 
KabarIndonesia- Jakarta, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir dan lainnya. Hal ini karena secara geografis Indonesia berada di kelilingi "cincin api (ring of fire)" sehingga potensi terjadi
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

Tentang Dia 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Deklarasi Garda Relawan Jokowi 13 Sep 2018 12:43 WIB

 

PEMIMPIN REDAKSI HOKI: Hidup Perlu Keteguhan

 
PROFIL

PEMIMPIN REDAKSI HOKI: Hidup Perlu Keteguhan
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 16-Des-2015, 04:40:42 WIB

KabarIndonesia - Nama lengkap lelaki ini Wilson Lalengke. Ia seorang Indonesia tulen yang lahir sebagai anak pertama dari sebuah keluarga petani miskin 40an tahun lalu dengan nama kecil Wilson dan nama keluarga (Fam) Lalengke. Dia dilahirkan di sebuah kampung kecil, Kasingoli, yang sudah musnah ditinggal pergi para penghuninya di pedalaman Propinsi Sulawesi Tengah. Orantua dan semua keluarga serta teman sekampung memanggilnya dengan nama kecil “Soni”. Pasalnya, kata “Wilson” adalah produk Barat yang tidak dikenal di komunitas kampung kecil tradisional tersebut. Akhirnya, sang Ibundanya memungut tiga huruf terakhir dari kata itu, S-O-N, dan menambahinya dengan I, menjadi SONI, yang kemudian bermetamorfosa kepada bentuk panggilan akrabnya saat ini yakni “Shony”. Proses evolusi nama ini terinsipirasi oleh sebuah cerita spesial saat Wilson mengunjungi Jepang, melalui Youth Invitation Program yang disponsori oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) pertengahan tahun 2000, di negeri mana dia bertemu dan “berteman” dengan seorang putri Jepang bernama Shino.

Sebagai anak dari keluarga miskin, dimasa kecilnya Wilson sering mengalami kehidupan sulit, bahkan acap kali hanya makan “ondo” (umbi beracun yang tumbuh liar di hutan) karena setiap tahun dilanda paceklik. Disaat memasuki usia sekolah, dia masuk sekolah dasar di desa Lemo, sebuah sekolah yang hanya berdinding bambu, meja bambu, berlantai tanah dan beratap rumbia. Pada saat itu, diawal tahun 1970an, dia masih sempat mengalami proses pembelajaran menggunakan “batu tulis” sebagai media tulis-menulis utama bagi murid, karena ketiadaan buku tulis di desanya. Ke sekolah tidak menggunakan alas kaki dan bila hujan menggunakan payung daun pisang. Saat musim hujan, sungai meluap, tidak bisa ke sekolah, karena tidak bisa menyebrang sungai. Dalam kondisi seperti itu, biasanya Wilson kecil minta bantuan orang dewasa yang kebetulan lewat untuk mengantarkan sampai ke seberang.

Menilik latar belakang keluarga dan masa kecilnya yang pahit itu, tidak seorangpun yang menyangka jika berpuluh tahun kemudian, Wilson Lalengke bisa mencapai cita-citanya bersekolah relatif tinggi ke jenjang pascasarjana di luar negeri. Tahun ini, Wilson yang “ngefans” berat dengan penyanyi dan pencipta lagu Ebit G. Ade ini, baru saja menyelesakan studi pasca-sarjana, Master in Applied Ethics, tahun akademis 2006/2007, atas dukungan finansial dari Komisi Eropa melalui program beasiswa Erasmus Mundus. Ia belajar pada sebuah Konsorsium Universitas yang terdiri atas Universitas Linkoping (Swedia), Universitas Utrecht (Belanda), dan Universitas Ilmu dan Tekhnologi Norwegia (Norwegia). Ini merupakan program master kedua baginya setelah tahun lalu (2006) ia menyelesaikan studi pasca-sarjana, Master in Global Ethics, di Universitas Birmingham, Inggris, atas beasiswa Ford Foundation – International Fellowships Program, yang di Indonesia dikelola oleh the Indonesian International Education Foundation (IIEF), berkedudukan di Jakarta.

Seperti banyak diketahui bahwa mengenyam pendidikan, apalagi di tingkat pendidikan tinggi, bagi warga termarginalkan di tanah air merupakan kesulitan yang belum teratasi hingga kini, maka banyak orang selalu bertanya-tanya apa kiat Wilson tatkala menghadapi kendala disepanjang usaha studinya. Singkat saja dia menjawab: tipsnya adalah keteguhan yang tiada berbatas dalam menggapai cita-cita dan tujuan hidup. Seluruh rangkaian sejarah kehidupan Wilson adalah protret hidup yang membuktikan kiat keberhasilannya itu.

Ketika memasuki jenjang pendidikan SMP dan SMA di Poso, Propinsi Sulawesi Tengah, Wilson yang mengalami keterlambatan pertumbuhan tubuh karena kurang gizi dimasa balita, harus rela bersekolah sambil bekerja pada keluarga yang bersedia mengongkosi pendidikannya. Demikianlah ia akhirnya boleh bersekolah dipagi hari dan harus mengerjakan berbagai pekerjaan di rumah layaknya pembantu rumah tangga sepulang sekolah hingga malam hari pada keluarga yang telah berbaik hati menyekolahkannya. Tugas utama hariannya antara lain menimba air dari sungai, membersihkan halaman, membersihkan rumah, masak, mencuci dan menyetrika pakaian seluruh anggota keluarga, dan merawat seorang yang sudah sangat tua (nenek) di keluarga itu. Salah satu bagian dari tugas merawat manula (manusia lanjut usia) tersebut adalah membersihkan tinja si-nenek, baik dari pispot maupun yang berceceran di tempat tidurnya.

Dia juga pernah melakoni pekerjaan sambilan di keluarga tersebut sebagai peternak ayam buras dan bertanam sayuran. Bila masa panen telah tiba, terpaksa Wilson harus bangun lebih subuh untuk berangkat ke Pasar Sentral – Poso, berjualan sayuran dan telur ayam. Kehidupan seperti ini dijalani antara tahun 1979 hingga 1985. Wilson menjalani semua itu dengan sabar demi mewujudkan keinginannya bersekolah.

Setamat SMA, Wilson tidak bisa melanjutkan pendidikan karena masalah klasik, terbentur biaya. Sialnya, tidak ada keluarga yang mau menampung dia untuk bekerja sambil kuliah. Maklum biaya kuliah jauh lebih tinggi berkali-kali lipat dari biaya sekolah di SMA. Menyadari akan hal tersebut, Wilson akhirnya ikut berkongsi dengan seorang temannya membuka usaha kecil-kecilan pembuatan minyak kelapa. Sulawesi Tengah dan Utara terkenal dengan pohon nyiur yang melimpah. Jadi mereka berdua mengusahakan pengerjaan minyak goreng dari buah kelapa dan dijual dari rumah ke rumah di kota Poso. Pekerjaan ini dijalani selama hampir setahun di tahun 1986, sebelum akhirnya ia “terdampar” ke Sumatera.

Sekitar Oktober 1986, dengan bantuan keluarga dokter Chris Rumantir, Wilson merantau ke Bandung, dan kemudian ke Pekanbaru, Propinsi Riau. Tujuan utama perantauannya adalah untuk mencari pekerjaan, belum terpikirkan untuk melanjutkan pendidikan. Pikirannya sederhana saja, dapatkan pekerjaan, dan bila keuangan sudah memadai ia akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Kenyataannya, mencari pekerjaan tidaklah semudah yang dibayangkan. Oleh karena itu, atas saran dari keluarga dokter Chris, tempat ia lagi-lagi bekerja membantu pekerjaan di rumah seperti masa-masa SMP dan SMA, Wilson akhirnya mencoba peruntungan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di Universitas Riau, di Pekanbaru. Nasib mujur, ia diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, untuk program studi PMP-KN, jenjang Diploma-2, tahun 1987 dan diselesaikan tepat 2 tahun setelahnya.

Sebelum berangkat kuliah ke Eropa, Wilson yang menikah dengan Winarsih, seorang wanita Jawa dari Blitar lebih dari 12 tahun lalu ini, tercatat bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kantor Walikota Pekanbaru. Seperti halnya dalam menempuh studi, perjalanan karirnya juga penuh lika-liku yang sulit. Dimulai dari menjadi guru honorer selepas menamatkan program Diploma-2, di sebuah SMP swasta di pinggiran kota Pekanbaru di tahun 1989. Setahun kemudian ia mendapat tugas sebagai guru CPNS ke sebuah SMP negeri di kecamatan terpencil di Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Lebih dua tahun bertugas di sana, ia kemudian meminta mutasi tugas ke Pekanbaru, terutama dimotivasi oleh keinginan melanjutkan studi. Tahun 1994, ia baru dapat melanjutkan kuliah dengan status “izin belajar” di jenjang S-1 di universitas yang sama sambil tetap menjalankan tugas sehari-hari sebagai PNS.

Wilson, yang telah dikaruniai empat orang anak – Winda, Anggi, Angga, Anggun – ini, selanjutnya diberi tugas untuk menjadi guru di sebuah SMA unggulan di Pekanbaru sejak pertengahan tahun 1998, setelah ia menamatkan program sarjana setahun sebelumnya. Selain mengasuh mata pelajaran pokok sesuai latar belakang pendidikannya, ia juga aktif menjadi instruktur komputer dan internet bagi siswa dan teman-teman seprofesinya. Lima tahun mengabdi menjadi “cik-gu” di SMA Negeri Plus Propinsi Riau itu, ia kemudian dimutasi ke SMK Negeri 2 Pekanbaru.

Di tempat tugas barunya, Wilson yang dipercaya menjadi ketua Jaringan Informasi Sekolah (JIS) Kota Pekanbaru sejak tahun 2002, seakan menemukan dunianya: “dunia maya” sebagai wilayah untuk diexplorasi, mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan keahlian yang diperlukan bagi peningkatan diri. Dunia teknologi informasi kemudian menjadi bagian dari kesehariannya. Membangun jaringan atau network antar sekolah di Pekanbaru melalui program Wide Area Network (WAN) dan melaksanakan berbagai pelatihan-pelatihan baik untuk siswa maupun guru sekolah-sekolah se-Pekanbaru adalah tugas pokoknya di SMK itu. Kerjasama dengan beberapa instansi juga dijalin untuk mensukseskan program “melek TI” di kotanya, seperti bersama PT. Telkom, PT. Lintas Artha, dan lain-lain.

Setelah menyelesaikan program masternya dari Utrecht University, Belanda, Wilson yang menyukai film spionase dan fiksi, saat ini telah kembali ke tempat tugas dan melanjutkan pekerjaannya sebagai PNS di Kantor Walikota Pekanbaru. Namun, sebagai wadah implementasi atau penerapan ilmu yang diperoleh pada program pasca-sarjananya, ia begitu aktif sebagai penulis di media online Kabar Indonesia. Sebab dengan demikian, menurutnya, pemikiran-pemikiran berdasarkan teori filsafat dan etika yang dipelajari selama kuliah dapat disebarluaskan kepada setiap warga pembelajar di seantero nusantara. Banyak sudah artikel yang ditulis olehnya yang ditayangkan di www.kabarindonesia.com ini. Bahkan salah satu artikel bersambung, sebanyak 10 artikel, bertajuk NEGARA INDONESIA: Benarkah Ia Eksis? telah terpilih menjadi salah satu topik seminar pada Simposium Nasional Depdiknas pada tgl 25 – 26 Juli 2007 lalu di Jakarta.

Kesukaan Wilson menulis sejak masa SMA telah mengantarkannya sebagai salah satu penulis atau essaist online yang piawai dan tulisannya disukai oleh banyak kalangan, mulai dari mereka yang berpendidikan tinggi setingkat profesor dan doktor, hingga mereka yang hanya pandai baca tulis. Perhatian dan kepedulian-nya terhadap persoalan hidup kaum terpinggirkan di tanah air telah meneguhkan hatinya untuk berjuang dan berkarya buat memberdayakan masyarakat golongan bawah di Indonesia. Setidaknya, menurut Wilson, ia ingin berbuat melalui pencerdasan setiap rakyat Indonesia agar mampu berpikir cerdas dan rasional dalam mengatasi persoalan hidup yang menghimpitnya selama ini. Untuk mewujudkan itu, salah satu cara yang paling efektif adalah melalui tulisan di media massa. Saat ini, Sdr. Wilson Lalengke telah dipercayakan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) surat kabar online KabarIndonesia, dan selalu siap untuk bekerja keras mendidik dan memajukan bangsanya melalui media online ini.

Dalam pergaulan hidup keseharian, Wilson yang doyan makan “popeda”, sejenis panganan dari sagu, adalah seorang teman yang baik, kata rekan-rekan terdekatnya. Diapun termasuk figur ayah yang disayangi oleh anak-anaknya. Namun Wilson juga menyadari bahwa sepak-terjangnya terkadang tidak menyenangkan bagi segelintir kalangan, teristimewa karena faktor perhatian dan pembelaan yang terlalu tinggi bagi kepentingan rakyat yang teraniaya oleh sistem pemerintahan negara yang tidak memihak kepada mereka. Di tempat tugas sebagai PNS, ia juga dikenal vokal, kepala batu, dan suka menentang arus. Walau sering diingatkan oleh atasannya, “jangan menentang matahari, matamu bisa buta”, tetapi tetap saja ia bertahan pada prinsip “lebih baik buta, daripada berputih mata melihat ketidak-benaran dan kemungkaran yang berlangsung di depan mata…”

Itulah Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, M.A., Pemimpin Redaksi KabarIndonesia, seorang “anak bangsa” yang sebenarnya tidak banyak keinginan, kecuali berharap agar segenap rakyat Indonesia sungguh-sungguh diberi kesempatan untuk menjadi sebenar-benarnya manusia disepanjang usia mereka. 

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Email:
redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let's see here
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasioleh : Djuneidi Saripurnawan
28-Aug-2018, 06:07 WIB


 
  BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasi TATTs Program: Analisis dan Pengembangan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Berhutang Oksigen 21 Okt 2018 11:51 WIB


 
Selamat HUT TNI Ke-73 13 Okt 2018 19:46 WIB

 

 

 

 

 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia