KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRektor Universitas Pendidikan Indonesia Tutup Usia oleh : Barnabas Subagio
23-Apr-2017, 20:52 WIB


 
 
KabarIndonesia - Bandung, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Furqon, MA. Ph.D., menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (22/4/2017) pukul 10:25 WIB di Rumah Sakit Advent, Jl. Cihampelas No.161, Cipaganti, Coblong, Kota Bandung.
Menurut informasi yang dihimpun pewarta KabarIndonesia, awalnya beliau sedang
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Dalam Diam... 12 Apr 2017 17:58 WIB

Jiwa-jiwa Penantang Zaman 04 Apr 2017 23:08 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ajak Warga Jakarta Bersatu 10 Apr 2017 22:11 WIB


 

 
 
PROFIL

Parman dan Ape
Oleh : M Rizal Oktavian | 08-Des-2014, 14:20:28 WIB

KabarIndonesia - Bentuknya bundar, hijau warna tengahnya, coklat pinggirnya, tekstur renyah, rasanya nikmat, harganya murah membuat makanan ini tetap menjadi salah satu idola masyarakat. Dan salah satu penjualnya adalah Parman.

Ya, kue ini disebut kue Ape. Parman sudah berdagang kue ini selama 15 tahun, awalnya dia berdagang berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lainnya, tetapi karna usia yang sudah berkepala 5 membuat Parman hanya berdagang di pasar Citayam.

Dari pagi menjelang siang jam 9 Parman sudah berangkat dari rumah, dia memilih berangkat siang karna saat pagi hari ia harus membantu istrinya mempersiapkan bekal untuk ketiga anaknya. Sesudah itu dia mempersiapkan bahan untuk adonan kuenya, lalu berangkat ke pasar.

“Resep kue ini saya dapat dari orang tua saya,” kata Parman. Siang itu suhu di pasar Citayam mencapai 30 derajat, membuatnya kegerahan. “Orang tua saya, asli Jakarta. Dulu kue ini menjadi salah satu sajian wajib untuk akhir pekan untuk keluarga saya,” lanjutnya.

Dengan semakin banyaknya makanan modern yang terus menggeser eksistensi makanan tradsional, membuat Parman tidak khawatir kue apenya tidak laku. “Tetap saja, makanan tradisional memiliki tempat tersendiri dihati masyarakat. Terlebih lagi, makanan tradisional seperti kue ape ini tidak menggunakan bahan pengawet,” ucapnya. Dan ucapan Parman tersebut itu terbukti, dengan banyaknya orang-orang yang membeli kue Ape buatan Parman. pembelipun datang dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua sampai anak-anak, sesama pedagang pasar bahkan sampai pegawai kantoran.

Dahulu Parman tidak hanya menjual kue Ape, tapi juga menjual kue Pepe, Cucur, dan lainnya. “Tapi yang paling laku kue Ape ini. dan juga kalau dagang kue lain, saya tidak ada waktu untuk membuatnya,” jelas Parman. Maksud lain dari Parman hanya menjual kue ape saja adalah karna ia ingin ada penjual yang berdagang kue-kue tradisional lain-nya. “Iya biar saya ada temannya, hahaha,” katanya.

Rumah parman dengan pasar Citayam jaraknya 3 kilo meter, tapi dengan semangat untuk menghidupi keluarga, panas terik, jalan berbatu dan udara berdebu pun Parman lalui dengan penuh sabar dan ikhlas. “hidup memang keras, karna dari itu kita harus tetap sabar dan terus berusaha untuk melunakan hidup” ujar Parman. bila Parman kehilangan semangat untuk bekerja, dia akan mengingat istri dan anaknya dirumah, lalu dengan seketika semangat itu akan kembali tumbuh. “Kita harus bekerja dan berusaha agar orang yang kita cintai dapat terus tersenyum dan tidak menderita karna kurang makan,” lanjutnya.

Parman memiliki 3 anak yang berusia 17, 12, dan 6 tahun. Parman terus bekerja sekuat tenaga setiap hari agar anaknya tidak bernasib sama sepertinya, istri Parman juga bekerja sebagai buruh cuci di sekitaran rumahnya. “Iya istri saya juga bekerja, untuk membantu pemasukan untuk keluarga,” jelasnya.

Penghasilan Parman tiap hari tidak menentu. terkadang bila sedang beruntung, parman bisa membawa pulang uang 150ribu rupiah, tetapi itu masih pendapatan kotor. “Saya sehari bisa dapat sampai 200 ribu, tapi sebagian saya setorkan untuk keamanan pasar sini, terkadang bila cuaca sedang tidak baik saya hanya bisa mendapatkan uang sedikit, pernah suatu hari dagangan saya tidak laku sama sekali,” cerita Parman. “Tidak perlu khawatir akan kelaparan, karna Allah pasti tidak ingin hambanya yang sabar ini menderita. Bila dagangan tidak laku anggap saja rejekinya dilain hari,” ujar Parman sembari tersenyum.

Parman menjelaskan, dirinya akan terus berdagang kue ape. Selain untuk melestarikan makanan tradisional, Parman juga menjelaskan karna hanya pekerjaan inilah yang dapat membuatnya nyaman dan senang dalam mengerjakannya. “Saya bisa saja bekerja menjadi pekerja bangunan, tapi selain karena usia yang sudah tidak muda, maka saya kerja ini saja,” akunya. (*)




Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini.  Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com// 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Koreografi Tari Kontemporeroleh : Zulkarnaen Syri Lokesywara
04-Apr-2017, 01:32 WIB


 
  Koreografi Tari Kontemporer Mahasiswa jurusan Seni Tari Semester IV ISI Surakarta melaksanakan ujian koreografi tari kontemporer menggunakan media benda keras di Teater Kecil ISI Surakarta, Senin, 3 April 2017. Berbagai benda keras digunakan sebagai media para mahasiswa mengeksplorasi gerak, mulai dari payung, kurungan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
MAKASSAR: Kota Plural dan Nyaman 19 Apr 2017 22:12 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia