KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

Kontemplasi (تفكر) 23 Nov 2017 09:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Penyair Kondang Sitor Situmorang Telah Tiada

 
PROFIL

Penyair Kondang Sitor Situmorang Telah Tiada
Oleh : Hotma D.l. Tobing | 25-Des-2014, 00:20:32 WIB

KabarIndonesia - Apeldoorn, Dalam dunia seni suara, dunia mengenal penyanyi dan pencipta lagu Nahum Situmorang. Lagu-lagunya kini masih tetap abadi dilantunkan oleh generasi tua dan muda. Setiap kata dari lagunya penuh makna bagi kehidupan insan. Didalam seni sastra dunia mengenal Sitor Situmorang.   Dalam bukunya Toba Na Sae, karya Sitor ini tidak sekadar menunjukkan ‘mata rantai sejarah Batak yang hilang’. Lebih jauh lagi ia masuk ke dalam dinamika sejarah Batak dan membuka lebih banyak jalan baru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting.

Penyair Sitor Situmorang meninggal dunia, Minggu, 21 Desember 2014. Sastrawan angkatan 1945 itu menghembuskan napas terakhir di Belanda dalam usia 91 tahun.

"Indonesia tentu sangat kehilangan salah satu putra terbaik bangsa di bidang sastra ini," kata Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDIP, Rieke Dyah Pitaloka, dalam keterangan persnya, sebagaimana dikutip dari Viva.co.id

Menurut dia, tak hanya dunia sastra yang kehilangan atas kepergian sang penyair tiga zaman itu. Tapi, juga para kaum nasionalis yang mengenalnya sejak zaman kemerdekaan RI.

"Kabar duka ini tidak hanya memukul dunia sastra di tanah air tapi juga para kaum nasionalis yang tentu sudah banyak mengenal beliau sejak jaman kemerdekaan RI dan juga diri saya," kata politikus PDIP itu. Rieke masih ingat bahwa dia diperkenalkan kepada Sitor oleh JJ Rizal (sejarawan), saat itu masih kuliah di Fakultas Sastra Belanda UI.

Menurut Wikipedia, Sitor dilahirkan dengan nama Raja Usu. Dia menempuh pendidikan pendidikan di HIS di Balige dan Sibolga serta MULO di Tarutung kemudian AMS di Batavia (kini Jakarta). Pada tahun 1950-1952, Sitor sempat berkelana ke Amsterdam dan Paris. Selanjutnya, ia memperdalam ilmu memperdalam ilmu sinematografi di Universitas California pada tahun 1956-57.  Waktu kelas dua SMP, Sitor berkunjung ke rumah abangnya di Sibolga dan menemukan buku Max Havelaar karya Multatuli.l Buku itu selesai dibaca dalam 2-3 hari tanpa putus, walau penguasaan bahasa Belandanya belum memadai. Isi buku menyentuh kesadaran kebangsaannya. Ia menerjemahkan sajak Saidjah dan Adinda dari Max Havelaar ke dalam bahasa Batak. Sejak itu, minat dan pehatian terhadap sastra makin tumbuh, dan dibarengi aspirasi "kelak akan menjadi pengarang".

A. Teeuw menyebutkan bahwa Sitor Situmorang menjadi penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya Chairil Anwar. Sitor menjadi semakin terlibat dalam ideologi perjuangan pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an, sebagai pengagum Presiden Soekarno, benar-benar melepaskan kesetiaanya kepada Angkatan '45 khususnya Chairil Anwar, pada masa ini.  Ia pernah menetap di Singapura (1943), Amsterdam (1950-1951), Paris (1951-1952), dan pernah mengajar bahasa Indonesia di Universitas Leiden, Belanda (1982-1990) dan bermukim di Islamabad, Pakistan (1991) dan Paris. Pada 21 Desember 2014, Sitor meninggal dunia pada usia 91 tahun di Apeldoorn, Belanda.

Berkarya sejak muda
Sitor memulai karirnya sebagai wartawan Harian Suara Nasional (Tarutung, 1945-1946) dan Harian Waspada (Medan, 1947). Selanjutnya, ia menjadi koresponden di Yogyakarta (1947-1948), Berita Indonesia, dan Warta Dunia (Jakarta, 1957). Ia pernah menjadi pegawai Jawatan Kebudayaan Departemen P & K, dosen Akademi Teater Nasional Indonesia (Jakarta), anggota Dewan Nasional (1958), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili kalangan seniman, anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan (1961-1962), dan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959-1965). Pada masa pemerintahan Orde Baru, Sitor dipenjara sebagai tahanan politik di Jakarta mulai dari tahun 1967-1974. Kumpulan cerpennya Pertempuran dan Salju di Paris (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional (1955) dan kumpulan sajak Peta Perjalanan memperoleh Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976.

Karya-karya lainnya:
•    Surat Kertas Hijau, kumpulan puisi (1954)
•    Jalan Mutiara, drama (1954)
•    Dalam Sajak, kumpulan puisi (1955)
•    Wajah Tak Bernama, kumpulan puisi (1956)
•    Rapar Anak Jalang (1955)
•    Zaman Baru, kumpulan puisi (1962)
•    Pangeran, kumpulan cerpen (1963)
•    Sastra Revolusioner, kumpulan esai (1965)
•    Dinding Waktu, kumpulan puisi (1976)
•    Sitor Situmorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba, otobiografi (1981)
•    Danau Toba, kumpulan cerpen (1981)
•    Angin Danau, kumpulan puisi (1982)
•    Bunga di Atas Batu, kumpulan puisi (1989)
•    Toba na Sae (1993) dan Guru Somalaing dan Modigliani Utusan Raja Rom, sejarah lokal (1993).
•    Rindu Kelana, kumpulan puisi (1994)

Sitor juga menerjemahkan karya asing ke dalam bahasa Indonesia, yakni: Sel, terjemahan drama karya William Saroyan (1954) dan Hikayat Lebak karya Rob Nieuwenhuys (1977).

Sumber: Wikipedia.org, viva.co. id
Sumber Foto: tempo.co

 

Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini.  Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com// 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia