KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Harus Bersatu Demi Pulihkan Wilayah Terkena Bencana oleh : Rohmah S
17-Okt-2018, 15:20 WIB


 
 
KabarIndonesia- Jakarta, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir dan lainnya. Hal ini karena secara geografis Indonesia berada di kelilingi "cincin api (ring of fire)" sehingga potensi terjadi
selengkapnya....


 


 
BERITA TOP REPORTER LAINNYA







 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

Tentang Dia 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Deklarasi Garda Relawan Jokowi 13 Sep 2018 12:43 WIB

 

Top Reporter HOKI Desember 2017: Berguna Tanpa Menodai Siapa-Siapa

 
TOP REPORTER

Top Reporter HOKI Desember 2017: Berguna Tanpa Menodai Siapa-Siapa
Oleh : Redaksi HOKI | 26-Des-2017, 20:23:32 WIB

KabarIndonesia - Leonardo Tolstoy Simanjuntak adalah penulis yang lama menggeluti dunia jurnalistik. Ia menganggap dunia kepenulisan sebagai seni yang sudah menyatu dalam kehidupannya. Lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumut, ia sudah menyukai seni menulis sejak beranjak remaja.

Awalnya menulis diary menyalurkan hobi. Pada usia masih 17-an di tahun 1974, ia memberanikan diri mengirim tulisan ke harian Analisa. Waktu itu masih tulisan tangan. Di luar dugaan, tulisan itu terbit.

"Senangnya bukan main melebihi semua yang pernah menyenangkan," kenangnya bernostalgia.

Semangat menulis terus berkibar di hati lelaki yang akrab dipanggil Bung Leo ini. Ia pun ingin mencoba menulis di harian Sinar Indonesia Baru (SIB) yang di era 80-an sedang top di Sumut. Bung Leo lebih terkejut lagi ketika tulisannya pertama bertopik kehidupan remaja Batak dimuat di halaman depan.

Meski masih memakai tulisan tangan, ternyata redaksi SIB berkenan memuat tulisannya. Jarang tulisan yang dikirimnya via kantor pos masuk ke halaman dalam. Bahkan beberapa kali atas saran GM Panggabean (big boss SIB), ada tiga kali tulisannya yang berhasil menjadi headline utama.

Misalnya wawancara eksklusif dengan sastrawan/sutradara film Asrul Sani bersama isterinya Mutiara Sani Sarumpaet saat pembuatan film "Bulan Di Atas Kuburan" yang sebagian syutingnya berlokasi di pinggiran kota Tarutung.

Pada tahun berikutnya Leonardo menjadi wartawan Harian Sinar Pembangunan yang kemudian berubah nama menjadi Medan Pos. Ia juga menulis di majalah Detektip Spionase dan majalah Misteri. Tidak sekedar jurnalis berita, belakangan malah menulis puisi, cerpen, dan novel.

Selain menulis di media cetak yang ada di Medan, Leo juga pernah menulis di Harian Sinar Harapan Jakarta. Beberapa novel yang ditulisnya dimuat bersambung di Harian Sinar Pembangunan di antaranya Pariban Dari Lembah Silindung, Mutia Pacar Preman, Menyesal Tiada Guna. Sementara di majalah Detektip Jakarta, novelnya berjudul  Penjara Seumur Hidup dan Mariska Isteri Residivis sempat menjadi novel top yang digemari pembaca se-Nusantara.

Waktu terus berjalan. Terbitnya Harian Batak Pos milik St Sopar Panjaitan di Jakarta membuat Leo berpaling. Ia diajak bergabung oleh Bob Hutabarat Pemred koran itu. Di koran yang sempat ngetop itu Leo juga menulis cerber berjudul "Cintaku Terkapar di Tuktuk" lebih 100 nomor. Novel itu sempat mengundang ide untuk diangkat ke layar sinetron oleh seorang pengusaha Batak di Jakarta tapi akhirnya cuma tinggal ide.

Seiring meninggalnya Sopar Panjaitan koran itu juga menyusul tak lagi terbit. Kemudian Bob Hutabarat mendirikan majalah Etnik dan Leo ikut bergabung. Namun tak lama, majalah itu juga seumur jagung. Kemudian bersama rekannya Martua Situmorang, Jansen Simanjuntak, Harry Tobing, mereka mendirikan Media Bona Pasogit (BONPAS), sebuah koran lokal berkedudukan di Tarutung. Sayangnya media itu juga kemudian tutup akibat berbagai faktor.

Sejak itulah Leonardo memilih jadi penulis freelance. Selalu ada ajakan bergabung ke media cetak tapi sejauh ini Bung Leo tidak menyanggupinya. Menulis online baginya terasa enjoy, inspiratif,dan nyaman. Leonardo sudah merasa cukup "kenyang" puluhan tahun eksis di berbagai media. Tak kurang enam kali, ia menjadi juara pertama lomba karya tulis yang diselenggarakan Pemkab Tapanuli Utara sejak 1982, sekali pemenang II Sayembara Menulis artikel tingkat Prop Sumut. Namun itu tidak menjadi alasan untuk membanggakan sesuatu atau jadi alasan berhenti menulis.

Meski faktor usia mulai terasa namun selama masih belum pikun, akan terus menulis, ujar jurnalis senior yang juga penulis biografi pemimpin pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara.

"Pasang surut menulis di media cetak itu akan terus terjadi sejalan dengan dinamika reformasi informasi dan telekomunikasi," kata penyuka novel Ernest Hemingway dan Sidney Sheldon ini.

Menurutnya, meski media cetak akan tetap eksis tapi pengaruh media elektronik dan media online makin membesar oleh kemajuan teknologi yang terus menawarkan inovasi tak terduga.

Zaman telah membuat dunia komunikasi informasi bisa digenggam setiap orang. Hanya dengan syarat tidak "gagap teknologi". Dalam praktek, meski dianggap sebagai jurnalisme inkonvensional, faktanya media sosial sangat berperan besar menjadi sarana penyampai ragam news dan opini yang tidak terakomodir di media konvensional. Artinya, jarak antara jurnalisme konvensional dengan jurnalisme inkonvensional (citizen journalism) makin ditipiskan oleh kecenderungan-kecenderungan baru yang terus berkembang.
 
Leonardo yang juga sering membagi tulisannya di Kompasiana/Kompas.com. Tidak harus berbesar hati ketika masalah etika dan moralitas jadi salah satu problema krusial dalam konteks kebebasan berekspresi saat ini.

Tanpa pretensi menggurui, ia menilai kebebasan itu tergantung pada siapa dan di mana kita berekspresi. Itulah alasan ketika kepada Leonardo ditanyakan alasan mengapa memilih menulis di HOKI terbilang sejak enam tahun silam. Sebab di HOKI, kita diuji untuk menyajikan sesuatu yang ada manfaatnya. Kita dihadapkan pada sebuah realitas bahwa prestise sebuah situs berita tidak ditentukan oleh sekedar rating atau persentase jumlah viewer, tapi terutama sejauh mana situs itu menjadi sesuatu yang berguna tanpa menodai siapa-siapa. (*) 

 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasioleh : Djuneidi Saripurnawan
28-Aug-2018, 06:07 WIB


 
  BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasi TATTs Program: Analisis dan Pengembangan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Berhutang Oksigen 21 Okt 2018 11:51 WIB


 
Selamat HUT TNI Ke-73 13 Okt 2018 19:46 WIB

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia