KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit dan Tol Media (Sebuah Kesaksian Untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA BERITA REDAKSI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

PROFIL:  Penerima Beasiswa PMOH Angkatan I, 2009

 
BERITA REDAKSI

PROFIL: Penerima Beasiswa PMOH Angkatan I, 2009
Oleh : Redaksi Kabarindonesia | 30-Jun-2009, 04:07:41 WIB

KabarIndonesia - Pelatihan Menulis Online HOKI Angkatan I, 16 Pebruari-31 Mei 2009 telah berlangsung dan berakhir dengan baik.  Penyandang gelar beasiswa pada PMOH Angkatan I ini telah dipilih sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Management PMOH, yaitu Sdri. Arien TW, seorang Fotografer yang berdomisili di Jakarta dan memiliki salah satu kegemaran, antara lain di dunia tulis-menulis.

Dengan terpilihnya sebagai peserta PMOH penerima beasiswa, maka Saudari Arien telah berhak menerima kembali biaya pendaftaran setelah dikurangi PPN dan biaya administrasi.

Untuk mengetahui lebih lanjut siapakah sosok Arien TW ini, Management PMOH melaporkannya sebagai berikut:


Dari Mengecat Kuku hingga Menggilai Buku

Awal Juli ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu Arien, seorang lulusan peserta PMOH angkatan I yag terpilih memperoleh beasiswa. Pasalnya, Pesta Buku Jakarta 2009 digelar di Istora Senayan Jakarta.

"Saya tak tahan jika melihat buku-buku yang diobral murah. Saya sering membeli buku seperti orang kesetanan," tutur gadis 27 tahun yang doyan membaca sejak kecil. Demi menanti event buku terbesar ini, Arien bahkan rela berpuasa membeli buku selama setahun.

"Saya tahu kalau harga buku di pesta buku jauh lebih murah daripada harga buku normal. Maka dari itu saya memilih menabung di saat-saat lain demi berbelanja saat pesta buku berlangsung," terangnya.

Sebenarnya Arien tak telalu memiliki banyak koleksi buku.  Dia mengaku, "Tak sampai 200 buku, karena kesadaran saya mengoleksinya datang baru-baru ini saja. Tapi saya membaca lebih dari itu."

Selain membaca buku-buku miliknya sendiri, sejak duduk di bangku sekolah hingga sekarang, ia juga banyak melahap buku-buku di perpustakaan. Mulai dari perpustakaan SD yang hanya memiliki satu rak buku dan harus berbagi tempat dengan ruang guru, hingga perpustakaan digital dengan koleksi yang membuatnya betah berlama-lama.

"Sejauh ini perpustakaan yang menurut saya cukup bagus adalah perpustakaan Universitas Petra Surabaya. Modern, nyaman, dan lengkap; tak seperti perpustakaan lain yang selalu mengesankan kesuraman yang dingin," komentarnya mengenai perpustakaan yang pernah dikunjunginya.

Di sela rutinitas kegiatannya sehari-hari, aktivitas membaca memang adalah pelipur hatinya yang paling mujarab. Dalam satu bulan, ia akan menghabiskan 3-4 buku baru yang selalu dipinjamnya dari perpustakaan. Buku-buku karya sastralah yang paling menarik minatnya. Mulai dari era klasik hingga yang paling baru.

"Saya selalu memilih bacaan yang bagus, terutama dari mereka yang sudah punya nama besar," lanjutnya.  Kecenderungannya itu bukan lantaran pilih-pilih, namun ia mengaku bahwa kegiatan membacanya tak sekedar sebagai hiburan belaka. Pengagum pengarang Rusia ini selalu menelaah, mempelajari, dan memahami teknik dan gaya penulisan dari buku-buku yang dibacanya.

Ya, Arien memang memiliki antusiasme yang besar pula di bidang tulis-menulis. "Banyak sekali yang ingin saya tulis. Saya senang sekali berimajinasi dan merenung. Saya memikirkan hal-hal dengan begitu rumitnya. Tak jarang saya begitu kontemplatif. Saya pikir, saya harus menuangkan itu semua ke dalam tulisan," tambahnya.

Beberapa waktu ia menulis cerita pendek. Kadangkala ia menelorkan opini dan kritisi dalam blog pribadinya yang umunnya mengenai masalah sosial maupun politik.  Ia pun kerapkali menjadi jurnalis dadakan yang membuat artikel panjang.

Kebetulan saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan penerbitan yang menerbitkan media pendidikan dan sosial. Meski posisinya adalah sebagai fotografer, namun ia kerap berinisiatif untuk membuat tulisan peliputan dua hingga empat halaman majalah.
 
"Saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis. Saya tak mau dipaksa, karena saya sangat moody. Biasanya saya menulis hal-hal yang berkaitan dengan masalah sosial. Itulah sebabnya saya banyak mengunjungi panti-panti, terjun ke kolong jembatan, bersua dengan penduduk daerah kumuh, bahkan mengunjungi kawasan bencana seperti di Situ Gintung waktu itu," ungkapnya.

Saat melihat hasil tulisannya, pimpinan tempatnya bekerja sempat kagum dan memuji, tak menyangka bahwa karyawannya yang bukan seorang wartawan ternyata dapat menulis dengan runtut dan deskriptif.  Namun seorang Capricornus yang berkemauan keras ini tak pernah puas. Ia selalu berpikir bahwa apa yang telah dikerjakannya masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, ia tak pernah bosan untuk terus berlatih, mulai dari mengikuti pelatihan menulis seperti yang diadakan oleh HOKI, menghadiri diskusi penulisan, hingga sekedar sharing dengan orang-orang yang lebih berpengalaman.

"Setidaknya, kesempurnaan itu menurut saya harus mendekati kualitas Budi Darma, hahaha... bercanda kok," katanya sambil tertawa lebar.

Sebenarnya bukan sembarangan ia memilih Budi Darma. Pengarang sepuh kelahiran Rembang itu ternyata adalah figur besar baginya. Bukan lantaran ia hanya mengagumi gaya dan ide tulisannya, tapi karena ia pun pernah dekat dengan sosoknya yang bersahaja dan inspiratif.  Budi Darma adalah dosen pembimbing skripsinya semasa kuliah.  Tema skripsi yang diambilnya waktu itu adalah analisis novel Women in Love, karya D.H. Lawrence dari sudut pandang hakekat cinta.

"Saya tak mengerti apa-apa tentang cinta, tapi tiba-tiba saya tengelam dalam analisa filosofi yang begitu rumit... Geli rasanya mengenang hal itu," terangnya.   Berkat seorang Budi Darma, ia tak mengalami hambatan yang begitu berarti. Padahal ia mengaku bahwa saat itu ia adalah mahasiswa yang paling bandel. Saat skripsi, ia malah memilih hijrah ke Bali, memilih kesempatan untuk bekerja.  Walhasil, sisa pengerjaan skripsinya itu ia lakukan di Bali via email.

"Tapi Pak Budi Darma itu baiknya luar biasa. Beberapa kali kami saling ber-sms-an. Isinya tak sekedar membahas masalah skripsi, tapi juga hal-hal lain di luar skripsi. Entah itu tanya kabar ataupun mengenai hal-hal lain. Bahkan seorang Budi Darma bisa menggoda saya dengan berkata apabila yang mengantarkan skripsi ke rumahnya itu, kakak atau ‘kakak' saya.  Kami bahkan sempat bercanda mengenai ciuman orang bule. Lucu sekali! Beliau sangat jauh dari kesan arogan dan kaku. Saya sangat menghormatinya," kenangnya.

Demi menggapai asa dan citanya, Arien mencoba untuk menerapkan disiplin waktu. Sebisa mungkin setiap hari ia luangkan waktu untuk menulis. Biasanya, selepas pulang kerja saat petang, ia menghabiskan waktunya untuk membaca maupun menulis, hingga larut malam.

"Saya jarang tidur di bawah jam 12 malam, kecuali kalau memang benar-benar kecapaian. Mungkin itu sebabnya saya jadi tak gemuk-gemuk, hahaha..," tutur pemilik berat 47 kg dan tinggi 165 ini.

Kendati demikian, keseharian anak ketiga dari tiga bersaudara ini tak melulu serius dan monoton. Di saat-saat lain, ia pun menikmati hiburan dan kesenangan-kesenangan yang sedikit berbeda. Hal lain yang menjadi kesukaannya adalah seni, budaya, dan fashion.  Ia gandrung menonton film-film asing, menikmati pertunjukan dan pameran seni, menjelajah kafe dan tempat hiburan, menghadiri fashion show, atau sekedar berjalan-jalan ke mall.

Penggemar donat ini cukup mengikuti tren fashion maupun perkembangan gaya hidup tetapi ia selalu merasa punya gaya sendiri dan tak suka disamai.

"Kadangkala saya bertemu dengan orang yang tiba-tiba mengomentari pakaian saya yang menurut mereka bagus dan menanyakan dimana saya membelinya. Tapi saya malas untuk menjawabnya. Tak jarang pula saya berdandan cukup heboh, misalnya dengan mengecat seluruh rambut saya pirang nyaris kuning. Komentar berdatangan, baik positif maupun negatif. Tapi saya tak pernah peduli apa kata orang. Saya senang mencoba hal-hal baru dan tak gentar dianggap nyleneh," jelasnya lebih lanjut.

Sepintas sosok Arien memang terlihat cukup girlie dan kemayu. Walau demikian banyak hal yang tidak terduga dari dirinya. Di saat tertentu ia akan sibuk dengan kuku dan kutex-nya tetapi di sisi lain ia tak segan untuk menceburkan diri dalam keruhnya air setinggi perut saat memotret korban banjir di Jakarta. Di lain waktu ia menikmati kegiatan memilih-milih baju di beberapa outlet dan butik di mall, dan di sisi lain ia pun menghayati kegiatannya menyelami kehidupan keluarga pemulung di kawasan tempat pembuangan sampah akhir di Bantar Gebang.

"Saya juga pernah hidup susah hingga tak mampu membeli nasi bungkus seharga 4000 rupiah. Tapi kadangkala saya menghabiskan ratusan ribu hanya untuk sekedar cemilan pembuka, jika saya sedang gila, hahaha... Sungguh berantakan sekali cara hidup saya," akunya.

Menurutnya, banyak sekali sisi kehidupan yang cukup menarik. Menarik menurut pengertiannya tak melulu indah, tapi juga kelam dan suram. Bak kumpulan warna dalam sebuah pemandangan indah, yang tak hanya terdiri dari merah dan kuning, namun juga kelabu dan hitam.

"Segala yang pernah saya lihat, alami, dan rasakan adalah sumber ide dan inspirasi saya. Baik untuk menciptakan pandangan saya ke depan, maupun sekedar untuk bahan cerita yang bisa saya tuangkan dalam tulisan. Saya sangat orisinal untuk hal ini," jelasnya. 

Selain buku-buku sastra dan fotografi, Arien juga banyak membaca majalah-majalah fashion dan lifestyle. Bahkan demi menyalurkan gairahnya di bidang gaya hidup dan fashion, ia sempat membuat majalah lifestyle sendiri dengan format pdf. Dalam majalah ciptaannya, ia mengupas banyak hal berkaitan dengan fashion, karir, seni budaya, kesehatan, masalah cinta, hingga soal seks. Meski sebagian besar isinya ia sunting dari artikel-artikel luar negeri, tapi ia bekerja cukup keras karena menyelesaikannya seorang diri.

"Kebetulan saya bisa menulis, fotografi, maupun desain lay-outing. Jadi kenapa tak saya optimalkan kemampuan saya?  Itung-itung sambil mengasah diri juga.  Mulanya saya merasa ragu, apakah saya bisa menyelesaikan itu. Saya harus membagi waktu antara bekerja, membaca buku, maupun menyelesaikan tulisan-tulisan lainnya," tambahnya. Tapi nyatanya ia berhasil menyelesaikan majalahnya sendiri dan menyebarkannya hingga ke lebih dari seribu email, konsisten setiap bulan.

Secara profit materi, ia tak mendapatkan keuntungan apa-apa, karena kreasi ciptaannya itu ia sebarkan secara gratis. Tapi materi bukanlah tujuan utama gadis penyuka warna pink dan orange ini. Baginya, mendapatkan respon yang baik dan positif dari para pembaca sudah merupakan kepuasan tersendiri yang tiada duanya.

"Materi tak perlu dikejar, karena akan selalu seiring dengan usaha dan kerja keras kita. Tuhan punya banyak jalan yang tiada terduga untuk mengasihi kita," pesannya.  Ia merasa sudah mendapat upah atas segala kerja kerasnya.

Hingga saat ini, Arien masih memiliki banyak mimpi yang ingin diwujudkannya. Ia pun masih berkutat dengan ide-ide dan imajinasinya yang senantiasa mengalir deras. Meski demikian, ia merasa bukanlah pribadi yang pandai. Ia harus belajar lebih keras dan lebih rajin untuk mendapatkan peringkat. Satu-satunya kelebihan yang ia punya untuk mengisi sekian banyak kekurangannya adalah semangat kerja keras dan konsistensinya. Seperti halnya dengan semangatnya untuk terus menulis.

"Menulis hanya sekedar masalah kebiasaan. Tapi kebiasaan itulah yang paling berat. Semangat dan motivasi tanpa kebiasaan tetap takkan ada gunanya," pungkasnya.  (*)


Dilaporkan oleh Management PMOH


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com// 
 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia