KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikRENUNGAN: Krisis Moneter Indonesia 1998 oleh : Wahyu Barata
30-Jul-2014, 02:41 WIB


 
  KabarIndonesia - Setelah beberapa dekade terbuai oleh pertumbuhan yang sangat mengagumkan, di tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sangat hebat hingga menjadi tragedi. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin kita akan
selengkapnya....


 


 
BERITA DAERAH LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Coklat di Nimboran

 
DAERAH

Coklat di Nimboran
Oleh : Dominggus A Mampioper | 20-Sep-2007, 06:02:28 WIB

KabarIndonesia - Masyarakat Nimboran  Kabupaten Jayapura Sudah Lama Mengenal Coklat "Jadi bagi kami agropolitan bukan barang baru"

Agropolitan yang dicananlangkan pemerintah Kabupaten Jayapura bukanlah program baru bagi masyarakat Nimboran di lembah Grime tetapi sudah sejak jaman Pemerintah Belanda. Waktu itu pemerintah Nederlands Niueuw Guinea (Provinsi Papua sekarang) membangun proyek pertanian coklat dengan bantuan dana dari masyarakat Ekonomi Eropah.

Namun proyek itupun terhenti dan Koperasi Java Datum milik masyarakat juga tak aktif karena dianggap sisa-sisa penjajah yang sudah tidak berguna lagi. Menurut Agustinus Wadi warga Kampung Belitung Desa Imesting terdapat Kampung Belitung merupakan lahan areal pertanian yang pertama kali pemerintah Nederlands Niueuw Guinea membangun perkebunan coklat berbasis masyarakat sejak 1958.

"Tempat pembibitan coklat cukup luas ada sekitar 10 hektar dan kini tak terurus. Saat Belanda angkat kaki dari tanah Papua, kebun coklat dan Koperasi Jawa Datum milik masyarakat Nimboran hilang tak berbekas,"ujar Agustinus Wadi. Ditambahkan hanya sisa-sisa tanaman coklat dan traktor tua bekas peninggalan Belanda menjadi saksi bisu kejayaan buah coklat yang berhasil di eksport sampai ke Singapura. "Orang tua saya dulu petani coklat dan pekarangan rumah kita ini sebagai tempat pembibitan buah-buah coklat,"ujar Agustinus Wadi pendeta Gereja Bethel di Kampung Belitung Distrik Nimboran , Selasa (18/9).

Pendapat senada juga dikatakan Edison Roberth Giay aktivis LSM dari wilayah Nimboran bahwa perkebunan coklat juga ada di kampung-kampung Sanggai,Sarmai Krang Atas, Sarmai Krang Bawah. " Koperasi Jawa Datum dalam bahasa Nimboran artinya sedang bertumbuh,"tegas Giay di Jayapura  Rabu (19/9). Menurut Agustinus Wadi jenis coklat peninggalan Belanda mempunyai kualitas cukup baik dan lima buah bisa menghasilkan satu kilogram coklat basah.

"Berbeda dengan jenis coklat sekarang 10 buah baru bisa mencapai satu kilogram coklat basah,"tegas Agustinus Wadi petani coklat di Kampung Belitung. Ditambahkan Wadi selama 40 tahun menjadi petani coklat ada empat jenis buah coklat yang diperkenalkan kepada masyarakat."

Kini masyarakat masih tetap menanam coklat tetapi tidak seserius dulu jaman orangtua kami,"tegas Wadi.Tak jauh dari Kampung Belitung terdapat traktor tua peninggalan Belanda di pekarangan rumah milik warga di Sarmai Krang. "Traktor ini dulu dipakai untuk mengelola lahan-lahan penanaman coklat,"tutur Octovianus warga Sarmai Krang,  Traktor tua peninggalan Belanda itu kini tinggal di rumah keluarga Johni Wuong di Desa Sarmai Krang.

Menurut Agus Wadi projek dari Irian Jaya Joint Development Foundation Program (IJJDF) juga memasukan jenis-jenis bibit coklat tetapi hanya bertahan selama beberapa tahun saja." "Buah coklat dari IJJDF cukup bagus tetapi hanya sampai lima kali panen kalau sudah memasuki tahun ke enam produksinya menurun," tegas Agus Wadi.

Data Irian Jaya Development Foundation 1969-1994 menyebut saat itu di Genyem ibukota Distrik Nimboran terdapat 493 nasabah dengan total kredit sebesar Rp 150.572.000 terutama untuk coklat dan sapi. Namun kegiatan IJJDF sudah berakhir sekitar akhir tahun 1990an dan kini bekas-bekas bangunan pengering dan  penjemuran biji coklat sudah hancur serta tidak terurus lagi.Projek Nimboran

Sejak tahun 1946 pemerintah Belanda telah merencanakan wilayah Nimboran sebagai wilayah pertanian terpadu terutama perkebunan coklat berbasis masyarakat adat setempat. Kemudian tahun 1949 Koperasi Jawa Datum dibangun dan Johanes Hembring serta Philemon Jambejafdi menjadi pengurus.

Mereka berdua mendapat pengarahan dan petunjuk langsung dari Dr W.J.H.Kouwenhoven. Pemerintah Belanda melalui projek Nimboran bantuan dari South Pacific Research Council di Noumea Caledonia Baru mulai mengerjakan proyek Nimboran tahun 1956. Proyek ini menolong penduduk Nimboran untuk mengadakan pusat pertanian atau pertanian komunal (nuclear farm) pada daerah alang-alang  milik tiga kampung.

Padang alang-alang seluas 16 Ha tersebut terletak di Desa Sarmai  Krang, wilayah ini sebenarnya dipakai masyarakat asli sebagai wilayah perburuan bersama. Alat-alat yang dipakai dalam pertanian ini adalah traktor dan alat-alat lainnya yang memperoleh bantuan dari South Pacicfic Comission. Pemimpin proyek ini dan seorang pengemudi serta pembantu pengemudi traktor semuanya orang-orang Nimboran.

Terkecuali seorang teknisi traktor yang berasal dari Biak. Penduduk Nimboran boleh bekerja pada projek perkebunan coklat dengan mendapat upah dan sebagian hasil yang dibagi-bagikan. Upah bisa dibayar secara angsuran yakni sebagian lebih dulu dan sisanya akan dibayar kemudian setelah penjualan hasil bumi selesai. Tanaman yang menjadi andalan adalah kacang tanah, jagung,kacang kedele, beras ketan,beras gogo,perkebunan coklat dan kopi.

Kesulitan yang dihadapi saat itu adalah pemasaran hasil-hasil bumi sehingga pemerintah bertindak sebagai pembeli dan mendirikan koperasi rakyat bernama Jawa Datum. Dengan adanya Koperasi Jawa Datum rakyat dapat memiliki perkebunan-perkebunan coklat dan menjual hasil buminya ke koperasi rakyat tersebut. " Sebenarnya bukan hanya coklat saja tetapi komoditi lainnya juga dijual ke Koperasi Jawa Datum. Misalnya saja desa-desa Ombrop, Benyom, Berap sudah berspesialisasi dalam kerajinan anyaman-anyaman rotan dan bambu.

Hasil kerajinan ini pun dijual ke koperasi Jawa Datum,"tutut Alexander Griapon Kapala Dinas Parawisata Kabupaten Jayapura belum lama ini di  Jayapura.

Kegiatan projek Nimboran jaman Belanda ini mengalami hambatan karena keterbatasan tenaga buruh, sebab hampir sebagian besar pemuda-pemuda Nimboran bekerja di Kota Hollandia (sekarang Jayapura). Tahun 1953-1954 pemerintah Nederlands Nieuw Guinea merencanakan tanaman cash crop untuk   perkebunan rakyat dengan pertolongan alat-alat modern atau mekanisasi pertanian.

Jadi tak heran kalau masyarakat di Lembah Grime sudah mengenal mekanisasi pertanian sejak jaman penjajahan Belanda. Kini pemerintah Kabupaten Jayapura masuk dengan program agropolitan dan masyarakat tidak kaget, sebab itu bukan barang baru baru. Tetapi yang jelas harga coklat yang berubah-ubah membuat semangat kerja rakyat menurun, sebab harga coklat lebih banyak ditentukan para pedagang. "Dulu jaman Belanda kitorang (kita orang )bisa jual coklat sesuai harga pasaran internasional, Koperasi Jawa Datum siap menampung hasil bumi dan kerajinan rakyat,"ujar salah seorang warga Nimboran yang sudah lanjut usia dan enggan menyebutkan namanya saat mengenang masa kejayaan mereka.

Kini pemerintah Kabupaten Jayapura kembali lagi mencanangkan program agropolitan di wilayah Lembah Grime. Menurut Alexander Griapon SH Mhum wilayah agropolitan Barat seluas 1021 KM Persegi yang sebelah Utara berbatasan langsung dengan Pegunungan Ular-Iwalom (Demta-Yokari) dan datarn rendah Muaif Kaptiau, sebelah Timur berbatasan dengan perbukitan Kwansu-Ibub (Kemtuk) dan punggung perbukitan Kalisu (Gresi) sebelah Selatan berbatasan dengan daerah pegunungan Mawer Srebo( Unurum Guay) dan sebelah Barat berbatasan dengan Nimbotong (Unurum Guay).

Wilayah ini akan dikembangkan menjadi wilayah agropolitan dengan komoditi andalan perdagangan seperti tanaman coklat dan buah-buahan lainnya. Mungkin yang menjadi soal adalah bagaimana program ini dikembangkan sesuai karakter dan daya serap masyarakat setempat. Pasalnya sejak jaman Belanda sampai sekarang program tersebut selalu dijalankan tetapi tidak memikirkan aspek pemasaran sehingga terkadang harga berubah-ubah dan tidak memberi keuntungan sehingga membuat semangat petani berkurang dan beralih ke tanaman lainnya. Bahkan kalau harga coklat turun ke titik terendah maka perkebunan coklat milik rakyat sudah tak terurus lagi. 

Blog: http://pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (
surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!!
Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com/  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia