KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanMengakhiri Ujian Nasional (UN) oleh : Syafbrani
20-Apr-2014, 12:39 WIB


 
 
Mengakhiri Ujian Nasional (UN)
KabarIndonesia - Secara kasat mata UN hanyalah merupakan bentuk tes tertulis bagi siswa. Tidak lebih! Tapi jika dibedah secara mikroskopis akan nampaklah jalur konvergensi (penyatuan) yang mengarah pada satu tujuan: TARGET KELULUSAN yang sepertinya sudah menjadi Tuhan!

selengkapnya....


 


 
BERITA DAERAH LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Syukur Kita Kepada Guru 21 Apr 2014 11:07 WIB

Paskah Abadi 21 Apr 2014 11:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Hopong, Desa Paling Terbelakang di Sumut

 
DAERAH

Hopong, Desa Paling Terbelakang di Sumut
Oleh : Mayjen Simanungkalit | 25-Jan-2009, 00:40:30 WIB

KabarIndonesia - Percaya atau tidak, inilah fakta mencengangkan di usia 64 tahun kemerdekaan RI. Tanpa kita sadari, ternyata masih ada desa di negeri ini yang belum pernah menikmati penerangan listrik dan penduduknya tak pernah menonton siaran televisi.

Tak percaya? Datang saja ke Desa Hopong, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Desa ini boleh jadi merupakan desa paling terbelakang, paling terisolir, paling terpencil, paling miskin dan paling tertinggal di Taput, atau mungkin di Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Jika penilaian ini dirasakan terlalu mengada-ada, anda boleh tanya Torang Lumban Tobing (Toluto), Bupati Taput. Bahkan Sekdaprovsu, Drs. RE Nainggolan MM, mantan Bupati Taput, pasti mengakui hal itu. Juga Kabag Perlengkapan Pemkab Deli Serdang, Rusdi Ritonga SH tak akan bisa membantahnya, sebab dia pernah bertugas sebagai Camat di daerah itu ketika Hopong masih termasuk wilayah Kecamatan Pahae Jae sebelum mekar menjadi Kecamatan Simangumban.

Apakah pemerintah tak tahu fakta ini? Bukankah Provinsi Sumut telah memiliki APBD sebesar Rp 3,5 triliun? Mengapa masih ada warga Sumut seperti di desa Hopong tak pernah menonton televisi?
Entahlah. Tapi ini adalah fakta tak terbantahkan. Desa Hopong berpenduduk 45 kepala keluarga itu masih tertinggal dalam berbagai hal. Rakyat di Hopong masih lapar, masih sakit, masih bodoh, dan belum memiliki masa depan. Suatu tantangan bagi Gubsu, H. Syamsul Arifin Silaban SE untuk merealisasikan visi dan misinya sampai ke desa Hopong.

Hopong terletak di celah bukit barisan Taput, yang berjarak sekitar 14 KM dari pekan Simangumban. Jarak kota Medan-Hopong lebih kurang 355 KM, dapat dilalui lewat rute perjalanan Medan–Tarutung-Pahae Jae–Simangumban-Hopong.


Jalan Kaki

Di Hopong tidak ada Puskesmas, jika sakit mereka berobat ke dukun. Di Hopong tidak ada Sekolah Dasar sampai kelas enam. SD Negeri di sana hanya sampai kelas lima, dengan tenaga guru hanya dua orang saja.

Maka jika akan menamatkan pendidikan tingkat SD saja, anak desa itu harus berangkat ke kota. Jangan heran, di sana tak laku wajib belajar, banyak anak putus sekolah.

Warga Hopong tidak memiliki masa depan, tak tahu perkembangan dunia luar. Desa itu gelap gulita di malam hari. Maka jangan bayangkan di desa itu ada pesawat televisi, atau seterika maupun rice cooker. Di sana hanya ada kegelapan dan suara jangkrik bersama kicau burung hantu yang setia menanti terbitnya fajar. Jika pukul 20.30 WIB sudah tiba, setelah shalat Isya di masjid tua yang terletak di ujung desa, tak ada lagi kesibukan warga. Semua penduduk sudah mengunci pintu rumah, mendengkur hingga fajar terbit.

Hopong dapat dilalui dari dua jalan. Pertama, dari desa Padang Mandailing, Kecamatan Saipardolok Hole, Tapsel. Tapi melalui jalan setapak menembus hutan belantara di lereng bukit barisan. Jalan yang paling dekat adalah melalui pekan Simangumban. Jaraknya tidak kurang dari 14 KM. Jika mau ke pekan membeli garam dan keperluan rumah tangga, warga desa harus jalan kaki. Kondisi jalan terjal dan jika musim hujan menjadi kubangan lumpur.

Pemerintah tak pernah membangun jalan desa. Kalaupun pernah diratakan dengan buldozer saja, dan itu hanya untuk kepentingan mafia kayu yang mencoba berpraktek illegal logging.

Jalan berlumpur ini memang sesekali dapat dilalui kenderaan roda empat yang oleh penduduk disebut "Mobil Perang". Yakni kendaraan jeep bergardang dua yang hari pekan (Senin) turun mengantar hasil pertanian penduduk. Tapi warga takut, karena korban berjatuhan, mobil danga-danga itu sering terjun ke jurang. Jika pun nekad dengan nyawa cadangan menaiki “Mobil Perang”, jaraknya tak jauh. Hanya sampai ke dusun Lumban Garaga, atau sekitar 5 KM dari pekan Simangumban. Dari pekan Simangumban sampai dusun Lumban Garaga, jalannya pernah dikeraskan. Tapi, kini hancur tak pernah dirawat.

Dari segi administrasi, Hopong adalah bagian dari Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban. Desa ini memiliki 4 dusun, yakni Lumban Garaga, Hapundung, Panongkalan dan Hopong. Namun kawasan ini lebih populer disebut sebagai desa Hopong.


Sudah Pasrah 

Pemkab Taput sepertinya belum membuka mata untuk membuka terisoliran desa ini. Upaya membangun jalan desa agar dapat dilalui kendaraan roda empat sama sekali belum ada tanda-tanda. Isyarat untuk menyambung jaringan listrik juga belum ada.

Warga desa juga sepertinya sudah pasrah, atau bisa jadi tak menyadari kondisi yang mereka hadapi adalah sebuah masalah besar dalam negara yang sudah memproklamirkan kemerdekaan. Dinas Pertambangan dan Energi (Pertamben) Sumut, juga tak ada program untuk membangun jaringan listrik tenaga surya di Hopong.  Padahal, jika saja listrik tenaga surya disumbangkan untuk desa Hopong, akan besar manfaatnya bagi kemajuan daerah itu. Sepertinya tahun depan, sudah wajar Dinas Pertamben Sumut membangun listrik tenaga surya di Hopong, seperti yang pernah sukses dibangun di desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang.  Dananya menggunakan APBDSU tahun 2007 silam.

Dinas Tarukim Sumut juga demikian, perlu turun tangan membantu sarana pemukiman di desa itu. Karena sebagai bagian dari NKRI, Hopong pantas dibantu. Desa itu tidak akan berubah jika Pemerintah khususnya Pemprovsu turun tangan.  Berharap bantuan Pemkab Taput, sama saja pungguk merindukan bulan. Sia-sia dan percuma.

Dari segi infrastruktur jalan, Pemprovsu juga perlu memikirkan pembukaan jalan ke desa itu agar tidak terisolir. Baik dalam bentuk program Bantuan Daerah Bawahan (BDB) maupun bantuan lain, yang bertujuan mengatasi keterisoliran desa Hopong.

Dilihat dari potensi daerah, desa Hopong adalah mutiara terpendam. Areal yang luas dan masih perawan, berpotensi dikembangkan menjadi daerah perkebunan. Daerah Hopong adalah kawasan subur yang dikelilingi bukit barisan. Sejak dahulu sampai sekarang, daerah itu adalah penghasil kemenyan, kopi dan karet di Taput.

Kondisi desa yang terisolir dengan tertutupnya akses ke dunia luar, menjadi faktor utama membuat desa itu terbelakang. Maka, jika ingin membangun Hopong menjadi daerah maju seperti daerah lain di Indonesia, kuncinya adalah membangun jalan ke desa itu.

Jika sarana jalan sudah bagus, tidak akan ada lagi durian membusuk di pohonnya, cabe dan tomat mubazir karena tak dapat diangkut ke pasar. Dengan lancarnya transportasi, diharapkan tak ada lagi alasan bagi guru-guru SD di desa itu untuk tidak bertugas.
Warga berharap, sebelum kiamat tiba, kenderaan roda empat dapat parkir mulus di halaman desa Hopong. Maka satu upaya untuk itu, pemerintah diharapkan segera membangun jalan ke desa Hopong, guna membuka keterisoliran wilayah itu. Semoga.

***

Catatan : Mayjen Simanungkalit


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com// 


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Menduniaoleh : Irwan Gunawan
19-Apr-2014, 22:28 WIB


 
  Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Mendunia Membicarakan mangga gedong gincu, yang terbayang tentu saja rasanya yang asam manis, tekstur dagingnya yang berserat, bentuknya yang bulat dan warna kulitnya yang kemerah-merahan layaknya wanita berdandan menor dan genit. Inilah kesan pertama ketika menikmati mangga yang kini makin
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu 2014 di Caledonia Baru 10 Apr 2014 11:57 WIB


 

 

 

 
Studi Banding ke Luar Negeri 25 Apr 2014 02:32 WIB

Pasar Terapung di Kalsel 06 Apr 2014 19:18 WIB

 

 
Zat Besi & Vitamin C 11 Apr 2014 21:57 WIB

Era Kualitas Kehidupan Perempuan 25 Mar 2014 21:45 WIB

 

 

 
Penyertaan Tuhan 20 Apr 2014 00:29 WIB

Satu Langkah Lagi 16 Apr 2014 16:47 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia