KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
KesehatanTak Perlu Galau Menyikapi Heboh Kasus Vaksin Palsu oleh : Wahyu Ari Wicaksono
28-Jun-2016, 15:14 WIB


 
 
Tak Perlu Galau Menyikapi Heboh Kasus Vaksin Palsu
KabarIndonesia - Terbongkarnya sindikat pemalsu vaksin untuk balita yang telah beraksi selama belasan tahun, sontak membuat banyak kalangan merasa was-was. Tak bisa dipungkiri bahwa mau tak mau kasus ini membuat hilang rasa keamanan dan kepercayaan masyarakat terhadap keaslian vaksin yang
selengkapnya....


 


 
BERITA DAERAH LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Terdiam 30 Jun 2016 17:05 WIB

Renungan Jiwa 30 Jun 2016 15:23 WIB

 
Desa Cimanggu Menuju Desa Wisata 18 Mei 2016 10:53 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
Anakku Tertular Virus Menulis 23 Jun 2016 10:38 WIB


 
 
DAERAH

Memberdayakan Petani Porang
Oleh : Hendri Wahyu Wijaya | 14-Aug-2009, 01:26:30 WIB

KabarIndonesia - Madiun, Budidaya tanaman Porang yang hidup subur di areal lahan kawasan hutan KPH Madiun seluas 5.918 hektare, memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan bagi daerah dan masyarakat pinggiran hutan. Sayangnya, Pemkab Madiun terkesan masih setengah hati memberdayakan petani Porang yang saat ini 'terseok-seok'.

Hal itu dirasakan petani Porang yang terhimpun dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Klumutan Saradan. Sani Riyanto, Ketua LMDH Sumber Rejeki setempat mengaku, sejak kerja sama antara Perhutani dan LMDH berkait budidaya Porang dijalin, dua tahun terakhir ini belum pernah merasakan bantuan dari Pemkab Madiun.

"Sejak pemerintahan Bupati Muhtarom ini, belum pernah kami dapat bantuan. Baik itu, bibit, obat-obatan, pupuk, terlebih bantuan dana. Padahal, petani Porang sudah terseok-seok. Karena untuk budidaya Porang, petani kesulitan dari sisi modal dana awal," kata Sani Riyanto, Kamis (13/8).

Sesuai SK Bupati Madiun Nomor 256 tahun 2006, di Kecamatan Saradan sedikitnya ada tujuh kelompok tani hutan. Di antaranya, di Klumutan luas lahan 317 hektare, dua kelompok di Sugihwaras (612 h dan 318 h), Tulung (512 h), Sumberbendo (566 h), Bandungan (227 h) dan Klangon (675 h).

"Selama ini, semua kelompok hanya dapat bantuan dari Perhutani saja," ujar Sani.

Menurutnya, tanaman dengan nama latin Amorphophallus Onchophyllus tersebut, juga sudah go international. Hasil produksi, satu hektarnya minimal 4 ton per hektare dan bila dibudidaya lebih intensif dapat mencapai 8-9 ton per hektare.

Penghasilan petani pada satu kali panen yang bersih bisa mencapai Rp 5,5 juta, dari hasil tanam seluas 2.043 hektare. Sedangkan, rantai distribusi pemasaran dan pendapatan petani menjual ke tengkulak. Porang basah Rp 1000/kg, kering Rp 1.500/kg), pengepul Induk-kering Rp 2.500,/kg, pabrik-tepung Porang Rp 10.000/kg), industri makanan Rp 15.000/kg.

"Apabila pemberdayaan masyarakat pinggiran hutan ditingkatkan, maka sosial ekonomi warga setempat akan terangkat.  Oleh karena itu, Pemda harus memberi bantuan modal. Apalagi, harga saat ini mencapai Rp 2.500 per kilogram dan kering Rp 12 ribu per kilogram," jelasnya.  

Diketahui, hasil olahan Porang ini digunakan untuk pencampur atau sebagai katalis makanan seperti jelly, ice cream, sosis, dan mie. Digunakan juga untuk bahan kosmetik. Pemasarannya selain untuk kebutuhan dalam negeri, juga diekspor ke Jepang, China, Eropa dan Kanada. Jepang adalah negara utama pengimpor Porang dari Indonesia.  Porang tersebut diolah menjadi makanan Konyaku (tahu) dan Shirataki (mie). **


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Ragam UKM di Masyarakatoleh : Zulkarnaen Syri Lokesywara
13-Jun-2016, 12:58 WIB


 
  Ragam UKM di Masyarakat Harjono, 64 tahun, adalah salah satu pengrajin payung kertas yang masih bertahan di Desa Kwarasan, Juwiring-Klaten. Menurut Pak Harjono di rumahnya, 22/5, serbuan payung lawa/kelelawar -sebutan payung kain berwarna hitam produk China- menyurutkan kejayaan payung kertas Juwiring. Kini para pengrajin
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
TNI Tanggap Bencana 24 Jun 2016 12:59 WIB

 

 
 

 

 
Sayur untuk Hidup 13 Jun 2016 09:27 WIB


 

 

 

 

 

 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia