|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|

PEMILU
Angka "9" SBY
Oleh : Yoseph Tugio Taher | 27-Jul-2008, 21:48:03 WIB
|
KabarIndonesia - Pertengahan tahun lalu, ketika Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono (SBY), akan melakukan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu, banyak Menteri Kabinet yang "ketakutan" akan tergeser. Lantas secara sembunyi-sembunyi pergi ke Dukun.
Menurut Kesaksian Ki Gendeng Pamungkas dan Ki Joko Bodo, seperti yang diberitakan oleh situs Rakyat Merdeka, 24 April 2007, tidak kurang dari 13 Menteri yang mencoba "cari selamat" dan "perlindungan" dari reshuffle melalui bantuan Dukun.
Kendatipun Presiden SBY telah mengeluarkan ucapan "Jangan ke Dukun", (myRmnews 3/6/07), namun nampaknya trend ke dukun, percaya terhadap hal-hal mistik, klenik dan karut, masih menjiwai bukan saja sebagian besar bangsa kita, bahkan juga para Menteri dan pemimpin Partai Politik.
Apalagi menjelang Pemilihan Umum Tahun 2009 ini, nampak hal-hal yang berbau mistik dan klenik, seperti menganggap sesuatu sebagai keramat dan lain sebagainya mulai bermunculan lagi.
Sebagai contoh, Partai Demokrat mengatakan bahwa 9 adalah angka keramat buat Partai tersebut. Sebab pendiri Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudoyono, lahir tanggal 9, bulan 9, tahun 1949; Partai Demokrat didirikan tanggal 9 bulan 9; SMS SBY juga menggunakan angka 9949; Pemilu mundur dari tanggal 5 menjadi tanggal 9 April 2009. Semua menggunakan angka 9.
"Semoga kami beruntung karena angka keramat ini" kata Adjie Massaid, anggota DPR dari Partai Demokrat (myRmnews 5/7/08).
Anehnya, kendatipun SBY pernah mengatakan "Jangan Ke Dukun", namun nampaknya dia juga terlalu gandrung dengan angka 9 ini, dan mempergunakan angka 9 secara istimewa, sehingga pengikutnya memistikkannya sebagai "Angka Keramat".
Akan tetapi, jangan lupa, kalau "sesuatu" terjadi terhadap angka 9 ini, ketabrak atau tunggang balik misalnya, dia bisa menjadi angka 6, dan dianggap sebagai lambang kesialan hingga tidak bisa lagi dianggap "keramat". Dan kalau angka "sial" ini ditulis sampai tiga kali menjadi 666, akan menjadi lambangnya Setan. Hi, ngeri!
Sebenarnya memistikkan sesuatu benda atau angka, misalnya, bukan saja dimulai oleh Partai Demokrat. Zaman Soeharto berkuasa, para pengikut dan antek serta kroninya juga memistikkan angka 8 sebagai angka istimewa dan keramat buat Soeharto.
Ini disebabkan karena Soeharto lahir 8 Juni, usia 86 tahun, tinggal di rumah Jalan Cendana no. 8. dijatuhkan dari kedudukannya sebagai presiden tahun 1998.
Waktu sakit, sebelum meninggal awal tahun 2008, dirawat sampai 8 kali di Rumah Sakit. Bahkan, nama Soeharto juga terdiri dari 8 huruf, begitu juga kuda tunggangannya, Orde Baru, juga terdiri dari 8 huruf.
Pokoknya, angka 8 buat Soeharto adalah angka istimewa, sehingga pengikutnya memistikkan angka tersebut sebagai keramat, membawa "keberuntungan" buat Soeharto dan kroninya.
Akan tetapi, kalau kita mau bermain-main dengan angka, tanpa memistikkan dan mengkeramatkan, maka hitung-hitung, angka 8 adalah seperti dua buah angka 0 yang tumpang tindih, atas dan bawah. Kalau tidak disatukan, berarti kosong, hanya nol, tidak ada harga. Untuk mendapatkan nilai atau harga, harus dibantu, dengan menjadikan dua angka 0 menjadi satu yaitu menjadi angka 8, baru ada nilai dan kekuatan.
Begitu juga Soeharto, dengan bantuan bedil dan para militer bawahan yang mesti patuh kepada atasan karena hukum Sapta Marga, dia bisa menjadi penguasa otoriter di Indonesia selama puluhan tahun dengan senantiasa menggunakan taktik "nglurug tanpa bala", yang berarti senantiasa menggunakan orang lain untuk kepentingannya.
Tanpa itu, tanpa militer berbedil yang mesti patuh kepada Soeharto, tanpa Sapta Marga, undang-undang dan peraturan militer yang mewajibkan bawahan mesti tunduk pada atasan [walaupun atasannya salah pun mesti dipatuhi], dan tanpa bedil, Soeharto bukan apa-apa! Sama seperti angka 8, kalau dipisah akan kembali menjadi 0 atau kosong!
Nah, kalau dulu Soeharto dan kroninya memistikkan angka 8, maka sekarang SBY serta pengikutnya di Partai Demokrat menganggap angka 9 sebagai angka keramat. Adalah fakta, bahwa 9 lebih besar dari 8.
Dengan demikian para pengikut SBY dan Partai Demokrat yang "tergantung" kepada angka, apakah akan menganggap bahwa SBY "lebih besar" dari Soeharto?
Lebih dari itu, andaikata, ya, andaikata Partai Demokrat menang dalam Pemilihan Umum 2009 nanti, dan SBY kembali jadi RI-1, apakah itu disebabkan karena partai dan pemimpinnya telah bekerja keras untuk mensejahterakan dan membela kepentingan rakyat yang semenjak kekuasaan Soeharto, sampai hari ini, makin hari makin lapar, sengsara dan kere, banyak bayi kekurangan gizi? Sedangkan golongan yang kaya makin tambah kaya, berpesta pora dengan ribuan tamu di hotel mewah.
Ataukah SBY dan Partai Demokrat bakal menang hanya disebabkan karena "angka 9 yang keramat", seperti ucapan Adjie Massaid, anggota DPR dari Partai Demokrat yang "menggantungkan nasib" kepada angka tersebut dengan mengatakan "Semoga kami beruntung karena angka keramat ini". Apakah begitu? Kita lihat saja nanti!
AP Photo/ www.theage.com.au
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com//
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|